
Laura tengah mengaduk-ngaduk minuman dalam gelas yang sedang ia pegang untuk mengisi kekosongan selama menunggu mata kuliah selanjutnya dimulai. Matanya lurus menatap laptop yang terbuka di meja.
Saat itu dia sedang berada di kantin. Ulah Sabiel tadi membuatnya melewatkan kuliah pagi dan memilih menghabiskan waktu dengan duduk sambil membuat tulisan untuk blog-nya.
Ya. Sejak ia mendapatkan kembali laptopnya, Laura ingin aktif kembali menulis. Kini beberapa tulisan sedang ia rampungkan untuk ia publish nanti di rumah keduanya itu.
"Bisa kau menjauh dariku, Tomi?" Laura bicara pada Tomi yang berdiri di sisinya. "Orang lain sibuk memandangiku karnamu." ekor matanya menjelajahi ekspresi orang-orang yang berada di sana.
"Maaf Nyonya. Tapi tadi Tuan berpesan untuk mendampingi Nyonya" ucap Tomi sopan. Sebenarnya dia juga agak risih dengan mata orang lain yang terus melirik kepadanya. Namun karena perintah Tuannya, Ia tidak bisa berbuat apapun.
"Setidaknya kau duduk santai di sampingku, bukan berdiri kaku dengan tampang sangarmu itu." cela Laura.
Akhirnya Tomi menuruti ucapan majikannya itu. Ia duduk setelah menunduk hormat sambil mengucapkan terima kasih. Laura menyugar rambutnya gemas, sikap hormat Tomi bisa menambah tatapan aneh orang lain yang melihat mereka.
Laura mengangkat tangannya ketika ia melihat seorang penjual minuman melintas di hadapannya.
"Kau mau minuman apa?" tanya Laura menolehkan kepala pada Tomi.
"Terserah Nyonya saja." sahutnya sopan.
"Jika aku pesankan racun kau akan meminumnya?" Laura menatap tajam.
Tomi sedikit terkejut, ia menegakkan tubuhnya merasa janggal dengan ucapan majikannya.
"Hidup itu penuh pilihan. Begitu pun masalah sepele seperti minuman, tidak ada kata terserah. Semua ada karena pilihan kita sendiri." ujar Laura bijak. "Jadi minuman apa yang kau pilih?"
"Kopi" putus Tomi sembari tersenyum mendapat nasehat singkat dari majikan mudanya.
Laura menatap kembali pada lelaki penjual, mengatakan apa yang diinginkan Tomi sebelum matanya kembali tertuju pada barisan kata yang sedang ia buat.
Jemari mungilnya menari indah di permukaan keyboard, sesekali matanya menatap langit Bandung yang begitu muram. Entah kapan hujan lebat akan turun, yang pasti udara sekitar sudah cukup dingin menyapa kulit Laura.
Jemari Laura terus saja menari, bunyi ketikan terdengar seperti suara tapak para prajurit perang yang sedang berlarian. Begitu cepat dan tergesa.
Ekor matanya melirik sekilas pada Tomi yang ternyata sedang memperhatikannya. Lelaki itu melirik dengan rasa segan yang kentara pada Laura dan tulisannya.
"Ini caraku membunuh rasa bosan" ucap Laura tanpa melihat kearah Tomi.
Tomi terkesiap merasa keingintahuannya sudah mengusik Laura.
"Nyonya suka menulis?" tanyanya pada akhirnya.
Laura memperhatikan kopi yang akhirnya disuguhkan oleh lelaki penjual tadi, sebelum ia menjawab pertanyaan Tomi.
"Ya. Menulis sudah menjadi kebiasaanku sejak dulu" sahutnya santai. "Menulis membuatku tenang karena sebagian besar isi kepalaku tertuang disana"
Tomi mengangguk memahami maksud ucapan majikannya. Matanya melirik kembali pada tulisan yang sedang dibuat.
"Ini masih mentahan. Belum sempurna untuk menjadi sebuah tulisan?" Laura menjelaskan, sementara Tomi memiringkan sedikit kepalanya sebagai isyarat tak mengerti. "Maksudku ini masih tulisan kasar, garis-garis besar saja. Nanti akan aku rangkai lagi menjadi tulisan yang lebih detail" Laura sebisa mungkin ingin membuat Tomi mengerti.
Raut wajah Tomi tetap saja terlihat bingung. Mentahan? Tulisan kasar? Garis besar? Lelaki paruh baya itu terlalu bodoh untuk memahami bahasa penulis.
"Ah sudahlah, kau terlalu tua untuk mengerti apa yang aku katakan" Laura jadi kesal sendiri melihat kebingungan Tomi.
Tomi hanya membalas ucapan sarkas itu dengan seulas senyum lebar. Hingga memperlihatkan rentetan giginya yang bersih, meski ia adalah seorang perokok aktif.
Pada akhirnya Laura menutup kembali laptop miliknya. Jam kuliah selanjutnya beberapa menit lagi akan dimulai.
"Tom, apa Tuanmu masih disini?" tanya Laura sembari membereskan laptopnya.
"Tuan akan masuk mengajar di kelas Nyonya" ucap Tomi enteng.
"Apa?! Maksudmu dia akan menjadi dosen pengajarku hari ini?! Saat ini?!" ucap Laura mulai panik.
Tomi mengangguk pasti. Sebenarnya tadi saat berangkat kuliah, di mobil ia sudah memberitahukan hal itu pada Nyonya mudanya ini. Namun, respon panik yang diberikan Nyonya Laura membuat lelaki itu yakin seratus persen bahwa ucapannya tadi pagi tidak disimak dengan baik oleh Nyonya Laura.
"Kenapa kau baru memberitahuku sekarang?!" Laura memukul lengan atas Tomi. Raut wajah kesalnya membuat Tomi ingin memutar bola matanya malas.
__ADS_1
"Saya sudah memberitahu anda Nyonya" ujarnya.
"Kapan? Kapan kau memberitahuku, huh?" Laura gemas melihat wajah datar Tomi.
"Saat pagi di mobil. Mungkin Nyonya sibuk memikirkan hal lain, sehingga pemberitahuan saya tidak Nyonya simak"
Laura terdiam sesaat, mengingat saat-saat ia masih berada di mobil. Matanya terbelalak ketika ingat suara tak jelas Tomi yang ia abaikan.
Buk!
Pukulan mendarat lagi di lengan Tomi.
"Seharusnya kau mengingatkanku kembali!" ucap Laura membela diri.
Tomi langsung berdiri tegak dan membungkukkan setengah badannya pada Laura yang duduk menatap dirinya penuh tanda tanya.
"Maafkan saya Nyonya." ucap Tomi.
"Bodoh! Apa yang kau lakukan? Kau membuatku menjadi pusat perhatian Tomi!!" bisik Laura kesal.
Ia menarik lengan Tomi untuk duduk kembali.
"Berhenti bersikap kaku seperti itu. Aku tidak nyaman" perintah Laura. "Sekarang lebih baik kau jelaskan lagi apa yang kau katakan tadi pagi, oke?!" pinta Laura sembari tersenyum lembut menatap wajah kaku Tomi.
Tomi akhirnya mengulangi ucapannya tadi pagi sesuai keinginan majikannya itu. Laura mendengarkan dengan seksama. Tanpa mereka ketahui, dari jarak beberapa meter di sisi sebelah kiri, Sabiel menatap geram pada Laura dan Tomi yang justru tampak dekat seperti seorang teman.
Lelaki itu sedang berjalan bersama beberapa rekan dosen dan kepala dekanat menuju gedung rektorat karena ada rapat dadakan yang akan dilangsungkan disana.
Tangannya merogoh saku celana, menatap ponsel yang baru ia keluarkan dan mulai mengetik pesan disana.
🍁🍁🍁
From: Tuan Sabiel
Aku menyuruhmu untuk mengawasinya, bukan menjadi dekat dengannya, Tomiiiiii!!
Wajah Tomi menjadi pucat pasi ketika membaca pesan dari Tuannya. Matanya berpencar menelisik setiap sudut ruangan terbuka itu. Mencari sosok majikannya yang pasti sedang melihat mereka di kantin.
Laura menatap penuh keheranan, kepala Tomi yang menoleh sana sini membuatnya tak tahan ingin bertanya.
"Ada apa?" tanya Laura sembari mengikuti Tomi mengedarkan pandangannya.
Tiba-tiba Tomi berdiri tegap lagi. Wajahnya kembali kaku dengan tatapan mata lurus.
"Sepertinya sudah waktunya Nyonya kembali ke kelas." suara beratnya terdengar lebih kaku dari biasanya.
"Tomi, ada apa?" Laura semakin penasaran.
"Tidak ada apa-apa Nyonya" sahutnya datar. "Lebih baik Nyonya segera ke kelas, akan lebih aman jika Nyonya disana" ujarnya
"Aman? Memang disini tidak aman?" untuk kesekian kalinya Laura mengedarkan pandangannya.
"Mari Nyonya" Tomi tak menggubris pertanyaan Laura. Lelaki itu segera membawa tas ransel majikannya dan mempersilahkan Laura untuk berjalan mendahuluinya.
"Aneh. Kau berlebihan Tom" Laura mengambil tas ranselnya sebelum ia memutuskan untuk berjalan.
Tomi menghembuskan nafas leganya, melihat punggung majikan yang berjalan mendahuluinya.
"Suami anda yang aneh dan berlebihan, Nyonya" gumamnya dalam hati sembari mengedarkan kembali pandangannya.
Laura terus berjalan, melintasi beberapa gedung di kampusnya. Ia tak peduli dengan keberadaan Tomi di belakangnya. Pikirannya saat ini sibuk memikirkan Sabiel yang akan kembali mengajar setelah lama mengambil cuti. Ini pertama kalinya ia mendapatkan dosen pengajar yang tak lain adalah suaminya sendiri. Diam-diam hatinya merasa cemas, bagaimana jika Sabiel dengan cerobohnya bertingkah yang membuat teman sekelasnya curiga?
Laura langsung menghempaskan tubuhnya dikursi kosong samping Destri, begitu ia sudah berada di dalam kelas.
"Laura!" Destri terkejut mendapati Laura berada di sampingnya, Rena yang duduk di samping Destri yang lain menengok ke arah Laura yang mendesah kasar.
"Kemana kau tadi? Tidak masuk kuliah pagi" tanya Rena
__ADS_1
"Kesiangan" sahut Laura singkat.
"Laura, kau tahu tidak. Dosen tampan pujaan hati para mahasiswi di kampus ini akan mengajar hari ini. Saat ini juga" Destri tampak antusias.
Laura semakin menghela nafasnya kasar, mendengar informasi yang sudah ia tahu itu. Telinganya dengan jelas mendengar nada kegembiraan dan antusias dari mahasiswi lain di kelasnya. Sinar mata mereka berbinar tak sabar ingin segera bertatap muka dengan dosen favorit mereka.
"Ya. Aku sudah tahu" ucap Laura cuek. Dia merogoh tasnya, mengeluarkan diktat dan bolpin.
"Rena, mana buku yang aku pinta itu?" Laura menengok pada Rena.
"Ini, kembalikan sebelum ujian semester" Rena menyodorkan buku tulis untuk disalin Laura.
"Laura, aku dan Rena akan pergi makan bersama. Kau ikut ya?" Destri menatap penuh harap pada Laura.
"Kemana?"
"Salah satu rumah makan andalanku" Rena menimpali. "Kau pasti suka" gadis itu menyeringai menatap kedua temannya.
"Ikut ya?" pinta Destri setengah memohon.
"Kita lihat nanti saja, oke?!" putus Laura pada akhirnya.
"Selamat siang semua"
Suara berat mengalihkan fokus semua mahasiswa di dalam kelas. Mereka serentak menolehkan kepalanya pada arah pintu masuk.
Sabiel berdiri gagah dengan stelan jas monocrome, lelaki itu berjalan dengan wajah sumringah, melewati para mahasiswa yang terperangah takjub dengan kehadirannya yang tiba-tiba.
Tak berapa lama kondisi kelas kembali ricuh. Mereka menyambut dosen tampan itu dengan antusias, sebagian memilih berdiri dari duduknya, bertepuk tangan memberi sambutan hangat kembalinya sang dosen muda nan tampan.
🍁🍁🍁
Lelaki itu berdiri dengan tangan berada di ujung meja sebagai penopangnya. Mata hitamnya menyusuri wajah-wajah muda yang masih bersemangat ditengah cuaca mendung Kota Bandung.
"Lama tidak bertemu" ucapnya mengawali sesi kuliah siang itu.
Di kursi lain, Laura mendadak gugup. Matanya menatap Sabiel dengan tatapan harap-harap cemas.
"Jangan lihat aku. Jangan lihat aku. Jangan lihat aku" Laura merapal mantra agar dirinya menjadi tembus pandang dan hilang dari penglihatan Sabiel.
Namun sayang, gayung tak bersambut. Mata Sabiel yang menyisir seluruh wajah mahasiswa disana, sudah terpaku menatap kecantikan istrinya yang memukau diantara banyaknya gadis lain disekitarnya.
Lauraku. Seolah ada cahaya yang terpancar dari dalam dirinya yang membuat mata Sabiel tak berkutik untuk menatap lama parasnya.
"Apa kabar Laura?" sapanya dengan sengaja.
Seisi kelas hening menunggu jawaban Laura. Jika saja saat itu tidak ada hubungan apapun antara ia dan dosen itu, maka sapaan hangat itu akan terasa menjadi sapaan sewajarnya seorang guru pada muridnya.
Masalahnya kini ia adalah istri dari dosen itu. Ditambah lagi pagi tadi lelaki itu baru saja mencumbunya. Otomatis sapaan sewajarnya menjadi aneh bagi Laura.
Laura mencoba menutupi kegugupannya. Ia tersenyum hangat menatap dosen gila di hadapannya. Menganggukkan kepala sekilas sambil berucap.
"Kabar saya baik pak. Lama tidak bertemu juga" kata-katanya mulus keluar dari bibir mungil itu.
Sabiel tersenyum sembari melempar kembali pandangannya ke arah mahasiswa yang lain, mengenyahkan segala prasangka yang mungkin terlintas di benak salah satu mahasiswanya.
"Bapak harap kalian semua baik-baik juga" ucapnya penuh kehangatan.
Beberapa mahasiswi terdengar menyahuti, mereka memberi bermacam pertanyaan seputar cuti Sabiel yang tiba-tiba, dan kembali juga dengan tiba-tiba.
"Bapak sedang belajar menjinakkan beruang betina" sahut Sabiel menjawab pertanyaan salah satu mahasiswi terkait apa yang ia lakukan selama cuti. Sontak para mahasiswa itu tertawa mendengar kelakarnya.
Ekor mata Sabiel melirik pada Laura, kemudian tersenyum tipis ketika melihat lipatan bibir Laura semakin kencang karena menahan rasa kesal.
"Manis sekali" gumam Sabiel dalam hati.
🍁🍁🍁
__ADS_1