
Laura melambaikan tangan dari balkon lantai dua asramanya. Tatapannya lembut memandang lelaki yang berada di seberang gerbang pintu masuk, mereka bertatapan dari kejauhan.
Setelah menghabiskan waktu bersama sejak sore hari tadi hingga malam menjelang, Laura masih merasa belum puas ingin terus berduaan dengan lelaki yang kini telah resmi menjadi kekasihnya itu.
"Tidur yang nyenyak." ucap Bimasakti dengan isyarat tubuh yang mudah dimengerti Laura. Gadis itu mengangguk cepat sembari tersipu.
Hati kedua manusia itu saat ini sedang berbunga-bunga. Tadi saat pergi bersama, akhirnya Bimasakti mengutarakan perasaannya pada Laura. Dia mengatakan perasaannya sambil menggenggam erat jemari Laura. Mengatakan kesungguhannya atas perasaan yang hadir di hatinya. Laura tidak bisa lagi menyembunyikan kenyataan bahwa ia pun memiliki perasaan yang lebih pada Bimasakti. Akhirnya setelah mereka saling mengutarakan isi hati, kedua manusia itu dengan yakin mengproklamirkan diri sebagai sepasang kekasih.
Laura melirik gelang manik yang tadi Bimasakti berikan padanya. Dia ingat ucapan Bimasakti yang mengatakan bahwa gelang itu terbuat dari biji kelapa sawit, lelaki itu meminta secara khusus pada kawan sesama aktivis di Perabumulih untuk dibuatkan gelang berinisial namanya untuk ia berikan pada Laura. Laura senang mengetahui hal itu.
"Besok, sebelum aku kembali ke Jakarta. Aku akan menemuimu." ucap Bimasakti pelan. Dia khawatir suaranya akan mengganggu penghuni asrama yang lain.
"Iya. Aku tunggu besok." sahut Laura sambil mengerucutkan bibir mengingat Bimasakti harus kembali ke Jakarta besok.
"Masuklah." Bimasakti menyuruh Laura untuk segera masuk ke dalam kamarnya. Tapi gadis itu tak juga masuk, mata Bimasakti memperhatikan Laura yang malah membuka ponselnya dan mengetik sesuatu disana.
Tak berselang lama, ponselnya bergetar.
To. Bimasakti.
Aku mencintaimu.
Lelaki itu tersenyum senang membaca pesan Laura. Dia langsung menengadahkan kepala memandang syahdu kekasihnya dari jarak yang cukup jauh. Laura tersipu malu di atas sana. Andai jarak itu tak begitu jauh, pasti Bimasakti akan melihat ada rona merah yang semakin jelas di kedua pipi Laura.
"Sudah. Aku masuk ya!" ucapnya pelan namun tegas. Bimasakti mengangguk sambil terus tersenyum. Laura membalikkan badan dengan tak rela, sesekali ia melihat lagi Bimasakti yang masih setia berdiri memperhatikan dirinya masuk kedalam kamar. Sampai akhirnya tubuh mungil itu hilang dibalik pintu, Bimasakti tergerak untuk membalas pesan Laura tadi.
To. Ilalang Liar.
Aku ragu apakah aku bisa tidur malam ini? Rasanya ingin segera esok, ingin segera bertemu kembali dengan kekasihku.
Aku mencintaimu juga, Laura.
Lelaki itu menyimpan kembali ponselnya di dalam saku, kemudian melangkahkan kaki menyusuri malam yang ingin segera ia akhiri. Hati yang sedang melambung oleh rasa bahagia, membuat langkahnya ringan seolah tanpa beban, bahkan nyaris terasa melayang.
🍁🍁🍁
Prang!!
Sabiel melempar ponselnya murka. Beberapa saat yang lalu orang yang di bayar untuk membuntuti Laura, mengiriminya foto selama Laura pergi bersama lelaki yang tidak Sabiel ketahui.
Rahang Sabiel mengeras ketika matanya melihat betapa rona kebahagiaan terpancar dari raut wajah kedua orang itu.
Laura begitu manis mengenakan setelan baju berwarna pink dengan seutas pita yang terjuntai di sisi kerahnya. Sedangkan lelaki yang sedang bersamanya, mengenakan pakaian casual dengan jaket merah delima bermotif loreng. Sepintas mereka tampak serasi seperti sepasang kekasih yang sedang menghabiskan malam dengan berkencan.
Sabiel menyeringai penuh rencana menatap tajam ponselnya yang tergeletak di lantai dekat meja kerjanya.
"Kau sudah menyepelekan perasaanku Laura. Kau tunggu saja, begitu semuanya telah siap. Akan aku ikat kau dengan erat." janjinya
Tok..tok..tok...
__ADS_1
Pintu ruang kerja Sabiel diketuk pelan.
"Masuk!" ucap Sabiel lugas. Dia kembali mencoba menenangkan dirinya.
"Tuan memanggil kami?" salah satu pembantu rumah tangga Sabiel bertanya dengan sopan. Sedangkan pembantu yang lain tampak menundukkan kepala penuh rasa sungkan. Kedua wanita paruh baya itu melihat ponsel Tuannya yang tergeletak di lantai. Tiba-tiba perasaan cemas menghinggapi keduanya.
"Mulai besok kalian akan saya tugaskan untuk tinggal di Pondok Kenanga." ucapnya memberi perintah pada kedua pembantu yang membelakan matanya terkejut.
Pondok Kenanga adalah nama dari rumah utama orangtua Sabiel di daerah pegunungan sebelah barat kota Bandung. Semasa hidupnya, orangtua Sabiel tinggal dan menyepi disana. Kondisi pegunungan yang sunyi dan jauh dari perkampungan membuat orangtua Sabiel betah menghabiskan waktunya disana. Sedangkan Sabiel sendiri memiliki rumah pribadi di pusat kota Bandung yang saat ini ditinggalinya bersama Intan.
Sepeninggalan orangtuanya, rumah itu tempati oleh sepasang suami istri tua yang bekerja untuk merawat rumah dan perkebunan mini yang orangtua Sabiel buat semasa hidupnya. Kini Sabiel memerintahkan rumah itu untuk dibersihkan dan disiapkan oleh pembantu-pembantunya, karena kelak dirumah itu lah ia akan membawa Laura untuk hidup bersama dengannya.
"Bukankah pondok itu kosong, Tuan?" tanya pembantu lebih tua yang biasa dipanggil Mbok Yayu.
"Tidak. Pondok itu akan diisi nanti." ucap Sabiel yakin. "Aku akan membawa nyonya baru kalian kesana, aku ingin kalian mengurus semua keperluannya nanti."
Ucapan Sabiel bagai bom atom bagi kedua pembantu yang kini saling bertatapan karena terkejut.
Nyonya baru? Apa maksudnya?
Benak kedua pembantu itu terus saja bertanya-tanya, namun mereka tak berani untuk menanyakan kejelasan mengenai nyonya baru yang Tuannya maksud. Hanya anggukan lah yang kemudian mereka berikan atas tanda kesanggupan mereka menerima instruksi baru terkait pekerjaannya.
Kedua pembantu itu keluar dari ruang kerja Sabiel dengan hati diliputi tanda tanya. Sebelum keluar, seorang pembantu yang bernama Suti mengambil ponsel Sabiel di lantai dan meletakkannya kembali di meja.
Suti dan Mbok Yayu berjalan menuruni tangga dengan benak yang terisi penuh oleh pertanyaan. Bagaimana dengan nyonya Intan? Apa yang sedang Tuan Sabiel rencanakan? Siapa nyonya baru itu? Semua tanya itu, mereka biarkan menumpuk dalam benaknya. Sampai masanya nanti, mereka akan tahu sendiri jawaban dari semua teka teki Tuan Sabiel.
Desir hawa panas meliputi hati Sabiel. Bayangan senyum manis Laura yang gadis itu perlihatkan pada lelaki lain menyalakan nada peringatan di hatinya. Lelaki itu bangkit dari duduknya, berjalan menuju jendela ruangan. Pandangannya menerawang gelapnya malam, mencoba memperhitungkan kembali rencana besar yang akan ia tempuh untuk mendapatkan Laura. Dia tidak bisa terlalu lama menunggu. Laura harus segera menjadi miliknya. Harus segera!
Ponsel diatas meja kerja hanya berbunyi sekejap, karena Sabiel langsung merebutnya dan menjawab panggilan yang sedang ia tunggu itu.
"Tuan, semua telah siap..."
"Bagus! Besok segera lancarkan. Bawa dia ketempat yang sudah disiapkan. Kita bertemu disana." nada suara tak sabar langsung keluar begitu mendengar laporan dari orang suruhannya. Lelaki itu langsung menutup panggilannya dengan mata yang berkilat buas, dia memandang kembali foto Laura dalam ponselnya. Menatapnya lamat-lamat sebelum kemudian bergumam lirih.
"Selamat bertemu kembali, sayang!" Sabiel menyeringai
🍁🍁🍁
Langit cerah membawa Laura pada satu harapan akan sebuah keajaiban agar terjadi hari ini. Sesuai rencana awal, hari ini Bimasakti akan kembali ke Jakarta, meninggalkan kekasih barunya dalam kurun waktu tak menentu. Laura berharap ada keajaiban yang membuat Bimasakti menunda kepergiannya. Dia tak rela harus melepas kepergian lelaki yang baru saja terikat dengannya.
Gadis cantik itu melihat tampilan bayangannya dari cermin besar seukuran badan yang terletak di dekat lemari Gisel. Dia menghela nafasnya kasar, membayangkan hari-hari kelabu akan kembali ia rasakan tanpa kehadiran Bimasakti disisinya. Jika sudah seperti ini, ingin rasanya ia segera wisuda dan kembali ke Jakarta, tanpa harus merasakan hubungan jarak jauh yang menyiksa.
Laura memperhatikan kembali pulasan bedak dan lipsglos di wajahnya. Sementara Gisel duduk di atas ranjang dengan tatapan menggoda yang ia arahkan pada temannya itu.
"Tenang saja Laura, wajahmu tidak akan berubah jelek." ledek Gisel terkekeh geli melihat kegugupan dari sikap Laura.
"Sial-an kau!" dengus Laura. "Setidaknya aku harus memberi penampilan terbaik untuk mengucapkan perpisahan sementara padanya." sambungnya lesu.
"Aku tidak menyangka akhirnya kau malah berpacaran dengan aktivis itu." Gisel menggelengkan kepalanya pelan. "Aku jadi sedikit kasihan pada Sabiel, dosen yang mendekatimu itu." sambungnya
Laura sedikit tertegun ketika Gisel mengingatkannya kembali pada Sabiel. Lelaki itu, entah sedang dimana ia. Lebih dari seminggu ini, Laura sama sekali tidak mendengar kabarnya.
__ADS_1
"Aku tidak bisa bayangkan, bagaimana perasaan dosen itu ketika tahu kau sudah memiliki kekasih. Bagaimana kabarnya, Laura?" Gisel terus saja berbicara tentang Sabiel.
"Dia baik-baik saja." Laura tampak gugup ketika Gisel tiba-tiba menanyakan kabar Sabiel. Sejak kejadian tempo hari bersama Sabiel, Laura memang tidak menceritakan apapun terkait hal itu pada Gisel. "Lagipula untung apa kau memikirkan perasaannya, kau lupa bahwa dia telah beristri?!"
"Memiliki istri atau tidak, jika ternyata hatinya telah terisi oleh wanita lain. Apa boleh buat." ucap Gisel santai.
"Kau gila." Laura menggelengkan kepalanya menatap Gisel yang menyeringai jahil. "Sudah ah, untuk apa membahas suami orang. Aku keluar sekarang, Bimasakti sudah menunggu dibawah." Laura melihat pesan Bimasakti di ponselnya.
"Baiklah. Selamat bersenang-senang menyambut perpisahan." Gisel dengan nada penuh ledekan berhasil membuat Laura mendengus sebal sambil menghentakkan kakinya keluar kamar asrama.
🍁🍁🍁
Jemari tangan Laura semakin erat menggenggam tangan Bimasakti dipangkuannya. Matanya lurus menatap gerbong-gerbong kereta yang datang dan pergi bergantian. Keramaian stasiun Kota Bandung membuatnya gundah, kereta yang akan memisahkan dirinya dengan Bimasakti sebentar lagi akan tiba.
Lelaki berhodie abu itu tersenyum lembut memperhatikan raut wajah sendu menghiasi paras cantik kekasihnya. Ia mengusap punggung tangan Laura yang menggenggam erat jemarinya, berusaha meyakinkan gadis itu bahwa perpisahan bukanlah hal yang harus ditakuti.
"Nanti aku akan datang kembali." ucapnya menenangkan.
Gadis itu menoleh padanya, dengan bibir yang memberengut ia menyandarkan kepalanya di bahu Bimasakti.
"Bagaimana bisa kau meninggalkanku sehari setelah kita resmi menjadi kekasih. Kau jahat!" dengus Laura kesal.
Bimasakti terkekeh, sikap manja Laura yang baru saat itu ia dapati membuatnya merasa senang. Dengan sebelah tangan yang lain, ia mengusap kepala Laura, lelaki itu juga mendaratkan kecupan singkat di pelipis Laura. Membuat senyuman terbit di bibir Laura tanpa ia ketahui.
"Kabari aku setiap hari." ucapnya singkat.
"Seharusnya aku yang mengatakan hal itu. Kabari aku sesibuk apapun dirimu disana." ujar Laura. "Aku akan merindukanmu."
Ditengah suasana romantis perpisahan, terdengar nyaring pengumuman mengenai keberangkatan kereta menuju Jakarta yang akan segera berangkat. Laura menegakan tubuhnya, Bimasakti langsung berdiri tegap setelah menyampirkan tas ransel di pundaknya.
"Aku akan berangkat. Jaga dirimu." ucapnya seraya menyematkan kecupan kembali di kening dan pipi Laura. Ketika lelaki itu hendak mencium bibir mungil Laura, gadis cantik itu mendorong pelan dada Bimasakti. Matanya mengingatkan Bimasakti bahwa mereka sedang berada di tempat umum.
"Ah. Sial!" umpatan Bimasakti mengundang kekehan lembut dari bibir Laura.
"Sana. Keretamu akan berangkat." ucap Laura mengingatkan.
"Laura, perlu kau ingat. Aku pasti akan selalu merindukanmu." Bimasakti menatap lembut kekasihnya. "Aku akan datang kembali kemari." janjinya
"Aku akan menunggumu. Dan kau juga harus tahu, bahwa aku pun akan merindukanmu disini." Laura tersipu malu menatap hangat Bimasakti.
Tepat dengan mulai bergeraknya kereta, Bimasakti menghilang dari pandangan Laura. Gadis itu terdiam melihat kereta kurang ajar yang telah membawa pergi kekasihnya. Dia menghembuskan nafasnya yang berubah berat, mencoba menyiapkan diri menjalani hari dengan penuh siksaan rindu di hati.
Setelah cukup lama berdiam diri, Laura membalikkan badan dari tempatnya. Gadis itu berjalan lunglai diantara kerumunan manusia yang memenuhi stasiun. Dia menyeret langkahnya untuk segera keluar dari sana.
Tiba-tiba matanya memicing curiga, melihat beberapa lelaki berbadan atletis menghadangnya tak jauh dari lokasi pintu keluar. Belum sempat Laura bertanya, lelaki yang berdiri paling sisi bersebelahan dengan Laura membekap mulutnya dengan sesuatu. Matanya membulat sempurna ketika ia merasa kakinya lemas setelah menghirup aroma aneh dari balik bekapan itu. Tubuh Laura hampir saja ambruk jika tak segera disanggah oleh lelaki lain yang berada di depannya.
"Tuan, target sudah kami lumpuhkan." lelaki asing dari sisi lain terlihat berbicara dengan seseorang melalui sambungan seluler.
"Bagus. Bawa dia kemari." ucap Sabiel menyeringai licik memandang jalanan kota Bandung yang padat dari atas balkon sebuah hotel mewah.
🍁🍁🍁
__ADS_1