
Laura memusatkan perhatiannya pada lelaki yang berjalan menghampirinya disebuah cafe dekat dengan toko buku besar yang ia datangi bersama Gisel.
Tadi pagi Sabiel menghubungi Laura, awalnya ia hanya ingin mengobrol via seluler dengan gadis itu. Namun ketika Laura mengatakan dia sedang berada di toko buku, secara impulsif Sabiel berkata akan datang ke tempat itu. Laura yang memang hanya berpikir Sabiel sedang jenuh karena ketiadaan istri di rumahnya, dan membutuhkan teman untuk membunuh kebosanannya tergerak untuk mengiyakan ucapan Sabiel.
Pada Gisel sendiri, Laura sudah menceritakan perihal kedekatannya dengan dosen mudanya itu. Saat Laura bercerita Gisel mengatakan pada Laura, akan kejanggalannya pada kedekatan lelaki beristri dengan gadis lain yang pasti akan menimbulkan tanya dibenak siapapun yang mendengarnya. Namun perkataan Gisel dibantah oleh Laura, dengan keyakinannya bahwa Sabiel dekat dengannya hanya sebagai teman bercerita.
"Non sense Laura, dia menyukaimu bodoh!" ucap Gisel setengah berbisik ketika melihat Sabiel berjalan semakin dekat dengan tempat mereka.
"Tidak mungkin. Aku tidak merasa dia menyukaiku." sangkalnya berbisik pula. "Dia justru sering terasa seperti seorang kakak bagiku." ungkap Laura meyakinkan.
"Bodoh! Itu karna kau tidak peka." Gisel jadi geram sendiri.
"Diam Gisel, dia semakin mendekat." Laura menyuruh Gisel untuk tidak berucap mengenai hal itu.
Gisel akhirnya diam. Namun matanya tampak menyelidik akan sosok yang berdiri dekat dengan tempat mereka. Ia mengawasi setiap gerak gerik lelaki itu, dan bermaksud untuk mematahkan pengakuan Laura yang berkata bahwa hubungan mereka hanya sebatas teman bercerita. Gisel harus jeli melihat bagaimana sikap lelaki yang tersenyum ramah itu kepada Laura. Gisel tahu betul bahwa ketika seseorang merasa tertarik atau menyimpan perasaan pada orang lain, pasti akan timbul tanda-tanda yang bisa dilihat dari gestur atau pun mimik wajah. Dan dia harus mengetahui itu dari lelaki dewasa ini.
"Sabiel." mengulurkan tangan pada Gisel.
"Gisel" menerima uluran tangan Sabiel.
Mereka memperkenalkan diri sebelum kemudian duduk kembali. Sabiel duduk dihadapan kedua gadis muda yang tampak menikmati makanannya.
"Kau sudah selesai mencari buku?" tanya Sabiel pada Laura yang tampak menikmati kue tart slice beraroma mathca di hadapannya.
"Ya, sudah." Laura mengangguk santai sambil menyuap kembali kue tart itu. "Dia teman sekamarku di asrama, jurusan kimia." ujar Laura ketika mata Sabiel menatapnya meminta penjelasan tentang gadis bongsor yang duduk disebelah Laura.
"Kau tidak akan memesan?" tanyanya pada Sabiel yang menatap lembut padanya. Mata Gisel setia mengawasi dengan lirikan lirikan singkatnya.
"Tidak. Aku sudah kenyang." tolak Sabiel. "Setelah ini kalian akan kemana?" tanya Sabiel kemudian.
"Entahlah, kami hanya ingin berjalan-jalan hari ini." ucap Laura melihat pada Gisel yang tersenyum menatapnya.
"Oke. Kalau begitu, bagaimana jika aku mengajak kalian menonton teater musikal di daerah Kiaracondong." Sabiel menawarkan pada Laura dan Gisel. Kedua gadis itu saling berpandangan, sebelum akhirnya menyetujui ajakan Sabiel.
"Oke. Kami mau." jawab Laura disertai anggukan cepat dari Gisel.
Ditengah waktunya menikmati makanan yang hampir tandas, Gisel tersenyum dalam hati melihat apa yang menjadi dugaannya mulai menunjukkan tanda terbukti. Cara Sabiel menatap Laura sudah menjadi jawaban akan tebakannya. Lelaki itu jelas memiliki perasaan yang lebih pada teman kesayangannya.
"Kau bodoh, Laura!" gumam Gisel dalam hati ketika melihat ketidakpekaan Laura akan sikap manis Sabiel padanya.
🍁🍁🍁
Gedung teater itu berada dekat dengan stasiun Kiaracondong. Untuk memasuki gedung teater, Sabiel dan kedua gadis itu harus melewati loket penjual karcis.
Mata Laura dan Gisel sejak tadi menerawang gedung teater yang terbilang sangat sederhana. Tidak seperti gedung teater musikal besar lainnya, gedung teater ini berukuran jauh lebih kecil dari gedung teater di kota-kota besar lainnya.
Ketika mereka bertiga memasuki gedung itu suasana senyap mulai mereka rasakan.
"Ini bukan teater musikal mewah yang biasa kalian lihat di tv-tv." ucap Sabiel ketika ia lihat tampang bingung dari wajah Laura dan Gisel.
Kedua gadis itu mengangguk mengerti apa maksud dari ucapan Sabiel. Mereka berjalan menyusuri kursi-kursi panjang yang membentuk undakan di depan panggung teater.
"Penontonnya tidak terlalu banyak." ujar Gisel sebelum ia duduk di salah satu kursi disebelah Laura.
"Ya. Memang, teater ini teater lokal yang dimainkan oleh anak-anak berkebutuhan khusus di seluruh SLB yang ada di kota Bandung." Sabiel kembali menjelaskan.
"Kau lihat sebelah sana." tunjuknya pada tempat sebelah panggung yang terdapat wanita berkostum burung merak berdiri tegak di pojokan.
"Sedang apa wanita itu?" tanya Laura yang berada di tengah-tengah antara Gisel dan Sabiel.
"Dia penerjemah bahasa isyarat." ungkap Sabiel tanpa melihat Laura yang menatapnya. "Hari ini yang akan pentas adalah anak dari SLB B, sekolah khusus untuk mereka para tuna rungu."
Baik Laura maupun Gisel terkejut dengan ucapan Sabiel. Mereka tak menyangka Sabiel akan mengajak mereka untuk melihat satu pentas yang disuguhkan oleh orang berkebutuhan khusus. Ini kali pertama bagi kedua gadis itu datang ketempat seperti ini.
__ADS_1
Diam-diam Laura tersenyum melirik pada Sabiel, Dia senang Sabiel membawanya pada sesuatu hal yang baru bagi dirinya.
Pentas itu tak seperti pentas-pentas yang biasa Laura lihat. Biasanya jika Laura datang ke acara teater musikal, suasana yang selalu Laura rasakan adalah keramaian dan kebisingan yang timbul karna benturan antara dialog pemeran pentas dengan musik yang mengiringinya. Semua riuh menciptakan suara-suara yang terkadang memekakan gendang telinga.
Namun berbeda dengan teater yang kali ini dia datangi, suasana sunyi senyap menjadi dominan di ruangan yang cukup luas ini. Para tokoh bergerak memerankan setiap adegan dengan berbagai kostum menarik tanpa menimbulkan suara bising di telinga. Hanya sang narator lah yang menjadi pemecah kesunyian, dia lah yang menjelaskan dialog dan adegan yang sedang di perankan oleh para tuna rungu tersebut kepada penonton.
"Drupadi?" tanya Laura memastikan judul cerita yang sedang dibawakan.
"Ya. Kau tahu?" tanya Sabiel sembari sedikit mencondongkan dirinya ke arah Laura yang fokus melihat pementasan.
"Siapa yang tidak tahu kisah Mahabrata itu?!" sahut Laura melirik sekilas pada Sabiel. "Pengorbanan seorang pandawa Arjuna yang demi baktinya pada sang ibu Dewi Kunti, harus merelakan istrinya yang bernama Drupadi, anak dari Raja Druphada untuk dinikahkan juga dengan keempat pandawa lain, yang tak bukan adalah saudaranya sendiri."
Sabiel tersenyum mendengar penuturan Laura seraya menegakkan kembali tubuhnya. Laura seorang penulis dengan hobi membaca, tentu tidak akan pernah melewatkan satu kisah epik yang melegenda itu.
Laura dan Gisel berulang kali berdecak kagum atas kepiawaian para pementas teater, jelas sekali bahwa keterbatasan mereka tidak menghalangi kelebihan lain yang mereka punya.
Mata Laura fokus menatap seorang gadis berpenampilan khas tokoh Mahabrata yang memerankan diri sebagai Drupadi. Laura terharu melihat ekspresi kesedihan Drupadi karna harus membagi dirinya dengan keempat pandawa lain selain suaminya sendiri, Arjuna.
Tanpa terasa, pertunjukan epik itu selesai setelah menghabiskan sekitar 2 jam lebih durasi waktu pementasan.
Sabiel, Laura, dan Gisel berdiri dari duduknya setelah bertepuk tangan menggunakan bahasa isyarat yang dipandu oleh sang penerjemah. Mereka segera keluar dari kursi penonton, berjalan menyusuri lorong kecil yang gelap tempat dimana mereka akan bertemu dengan pintu keluar.
Dddrrrttt... Drrrttt....
Ponsel Sabiel bergetar tanda panggilan masuk. Dia berhenti melangkah dan melihat siapa yang menghubunginya.
Intan.
"Oh Shit" gumamnya dalam hati.
"Istrimu?" tanya Laura yang melongok melihat layar ponsel Sabiel dari arah belakang. Sabiel sedikit terkejut, ia tak sadar bahwa posisi Laura berada di belakangnya.
"Ya. Istriku." ucap Sabiel datar.
"Kau tidak mengangkatnya?" tanya Laura melihat Sabiel tak kunjung mengangkat panggilan itu.
"Istrinya?" tanya Gisel yang langsung mendapat anggukan dari Laura. Mereka tampak memperhatikan Sabiel dari kejauhan.
"Wah, Laura kau berteman dengan lelaki beristri." ucap Gisel.
"Lantas?" tanya Laura cuek.
"Lantas?" Gisel membelalakan mata menatap tajam Laura. "Lelaki beristri sedang berusaha mendekatimu, kau tanya lantas?!" ucap Gisel berbisik penuh kekesalan.
"Gisel, kau terlalu berlebihan. Dia tidak sedang mendekatiku." bantah Laura
"Laura, please buka matamu. Jelas sekali dia sedang mendekatimu." Gisel gemas dengan sikap tak peka Laura. "Aku sarankan kau harus menjaga jarak dengannya, Laura. Sebelum sesuatu yang tidak diinginkan menimpamu." Gisel memperingati akibat buruk jika Laura terus membiarkan Sabiel dekat dengannya.
"Apa maksudmu?" Laura menganggap Gisel terlalu berlebihan menanggapi kedekatannya dengan dosen muda itu.
"Aku tanya, bagaimana perasaanmu padanya?" tanya Gisel. Pandangan mereka masih tertuju pada Sabiel yang terlihat gelisah saat berbicara dengan istrinya.
"Nothing." jawab Laura lugas. " Dengar Gisel, kedekatanku dengan dia, bagiku hanyalah sebatas teman. Aku tidak mungkin jatuh cinta pada lelaki beristri. Bukan tidak mungkin, tapi tidak tertarik dan tidak mau!" ucapnya tegas.
"Oke, baiklah." Gisel sedikit lega mendengar bahwa Laura tak meyimpan perasaan sedikitpun pada Sabiel. "Tapi kau harus tetap menjaga jarakmu dengan dia Laura. Karna menurut pengamatanku, dia menyukaimu."
"Pengamatanmu salah. Dia hanya memperlakukanku seperti adiknya saja Gisel. Tidak lebih." bantah Laura, karna memang itu yang Laura rasakan selama ini.
"Ya Ampuuunnn..." Gisel menepuk jidatnya kesal dengan kekeras kepalaan Laura. "Laura,..... " mulut Gisel ditutup Laura dengan telapak tangannya.
"Stop! Dia datang." Laura menghentikan ucapan Gisel karna melihat Sabiel telah menyudahi panggilannya dan sedang berjalan menghampiri mereka.
"Apa ada hal yang mengkhawatirkan? wajahmu tampak gelisah." tanya Laura memperhatikan wajah Sabiel.
__ADS_1
"Intan sekarang sedang di bandara, dia kembali tanpa memberitahuku. Aku harus menjemputnya, Laura." ungkap Sabiel merasa salah tingkah.
"Ok. No Problem. Kami bisa pulang dengan kereta." ucap Laura menenangkan.
"Lagipula stasiunnya lumayan dekat." timpal Gisel.
"Maafkan aku, ini diluar dari rencana." sesal Sabiel menatap bergantian pada kedua gadis dihadapannya.
"Tidak apa-apa, istrimu lebih utama dalam hal ini. Kau harus menjemputnya." ucap Laura sembari tersenyum dengan polosnya.
Sabiel yang mendengar ucapan itu merasa dadanya sakit tiba-tiba. Laura mengatakan bahwa istrinya lebih utama. Oh andai saja Laura tahu, saat ini tak ada yang lebih utama selain dirinya. Namun karena status suami yang melekat di diri Sabiel, mengharuskan lelaki itu menjalankan kewajibannya terhadap wanita yang berstatus sebagai istrinya.
"Baiklah, aku akan mengantar kalian ke stasiun." ucap Sabiel sembari berjalan menuju parkiran mobil setelah meminta Laura dan Gisel menunggu di depan gedung teater.
🍁🍁🍁
"Apa yang sudah kau lakukan?"
Pertanyaan penuh nada emosi keluar dari mulut mungil Intan ketika melihat suaminya berjalan menghampirinya.
"Kau membuatku menunggu lama, sayang." dengus kesal Intan.
Sabiel hanya menatapnya malas, dia tidak membalas apapun yang dilontarkan Intan pada dirinya, tangannya bergerak meraih satu tas jinjing kecil yang Intan bawa.
"Sudah waktunya kita pulang." ucapnya menghentikan semua pertanyaan tajam bernada kesal dari mulut istrinya.
Intan memicingkan mata waspada, ketika merasakan sikap dingin suaminya. Namun beberapa saat kemudian dia bertingkah masa bodo, dan melenggang santai mengikuti Sabiel yang lebih dulu berjalan menuju mobilnya.
🍁🍁🍁
Sesampainya dirumah, Sabiel langsung masuk ke dalam kamarnya untuk merebahkan diri. Sedangkan Intan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah perjalanan jauh dari Singapura ke Bandung.
Ketika Intan keluar dari kamar mandi, dia melihat suaminya tertidur di kasur. Intan tersenyum penuh siasat. Dia berjalan perlahan sembari melepaskan handuk yang ia kenakan hingga menampilkan tubuhnya yang bertelanjang bulat. Intan menaiki kasur dan menghampiri tubuh suaminya yang tertidur.
"Apa yang kau lakukan?" Sabiel mencengkram tangan Intan yang hendak membuka kancing kemejanya.
"Membuka pakaianmu sayang." jawab Intan mendayu. "Apa kau tidak merindukanku?" mata Intan mengiba. Dengan tidak tahu malunya, tangan Intan menuntun tangan Sabiel untuk meremas payudar*nya yang besar.
"Bukan seperti itu." Sabiel tak tahu apa yang harus ia lakukan. Menolak Intan sama saja memulai pertengkaran hebat kembali dengannya. Dan Sabiel sudah terlalu malas untuk bersitegang dengan istrinya itu.
Intan melanjutkan kembali apa yang ingin ia lakukan. Ia terus menuntun tangan Sabiel untuk memberikan sentuhan di seluruh tubuhnya yang sudah telanjang.
Sabiel sudah tidak bisa mencegahnya. Ia menutup matanya ketika Intan menciumi bibirnya dengan erotis.
Intan terus aja memberikan ciuman di tubuh Sabiel, kepalanya bergerak menciumi leher, dada, dan berakhir pada pusat kejantanan Sabiel. Intan melum*tnya penuh b*rahi.
Sabiel mengerang tak mampu menolak kenikmatan yang Intan berikan dibawah sana. Sekeras apapun hatinya menolak sentuhan Intan, namun reaksi tubuhnya bergerak secara naluri.
Sabiel ikut berpacu bersama derasnya kenikmatan ragawi yang diterima dari Intan. Namun kali ini, tak ada bayangan Intan dalam benaknya.
Ia mengalami aloerotisme. Bersetubuh dengan Intan tetapi benaknya membayangkan Laura. Di tengah gairah yang terus terpicu oleh gerakan erotis istrinya. Sabiel sibuk membayangkan persetubuhannya dengan Laura.
"Akhhh.. Laura." ucap Sabiel sangat pelan ditengah desahan yang kian membahana.
Intan terlalu tenggelam dalam keperkasaan Sabiel dibawah sana, hingga gumaman suaminya yang menyebut nama wanita lain tak terdengar olehnya.
🍁🍁🍁
Hai semua, terima kasih sudah membaca 😍
Jangan sampe kaya Sabiel ya sayang.. berhubungan sama pasangan eh malah yang dibayangin orang lain. 😚
Rumah tangga Sabiel disini masih ga sehat selama Intan yang menjadi istrinya, tapi tenang.. pada akhirnya Sabiel bakal punya caranya sendiri untuk bahagia 😉
__ADS_1
sampai di tahap itu, Author harap kalian sabar menanti kelanjutan kisahnya.
Jangan lupa sirami cerita ini dengan Like, Koment dan Vote kalian, salam sayang semua 😘😘😘