Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 31


__ADS_3

Esok harinya,


Tidak ada yang lebih diinginkan Laura saat itu selain pergi dari pondok kenanga, tempat dimana ia dipaksa duduk diam menjadi mempelai wanita berkebaya putih lengkap dengan rambut tersanggul sederhana dihadapan penghulu.


Gadis cantik itu membisu dengan gurat wajah sendu duduk bersebelahan dengan Sabiel, sang mempelai pria.


Pernikahan itu benar-benar terjadi, sesuai dengan rencana Sabiel. Lelaki itu ternyata begitu pintar mempersiapkan semua keperluan pernikahan tanpa Laura ketahui. Saksi dan wali yang Sabiel bayar duduk khidmat di sisi lain Laura.


Semua pekerja Sabiel ikut menjadi saksi pernikahan siri itu. Mbok Yayu dan Suti terlihat saling berbisik membicarakan sesuatu di belakang Laura, sayup terdengar pembicaraan mereka oleh telinga Laura.


"Semoga nyonya Laura tidak seperti nyonya Intan yah." Mbok Yayu berbisik nyaris seperti gumaman.


"Iya, sudah saatnya Tuan Sabiel mendapatkan kebahagiaannya." Suti menyahuti.


Apa? Kebahagiaan? Mereka hanya memikirkan kebahagian lelaki gila itu tanpa memikirkan bagaimana perasaanku?!


Tanpa Laura sadari, jemarinya terkepal kuat di pangkuannya. Dadanya bergemuruh menahan amarah yang ingin ia luapkan. Gadis itu tertunduk dengan mata terpejam ketika Sabiel memulai ijab kabul dihadapan semua orang.


Laura menulikan telinganya ketika semua orang yang berada disana berkata 'sah' serentak. Menandakan Sabiel telah berhasil mengikat dirinya sebagai seorang istri kedua.


Istri kedua? Cih. Mungkin lebih tepatnya tawanan!


Laura membuka matanya seketika. Pandangannya nanar menatap cincin yang tersemat apik dijari manisnya. Matanya mulai berkabut, ketika ia memperhatikan gelang pemberian Bimasakti masih melingkar di pergelangan lengannya.


Bagaimana bisa pemberian dua lelaki berbeda, melekat di tubuhnya?!


Hancur sudah hatinya. Sabiel telah merusak semua mimpi indah yang coba dibangun oleh Laura dan Bimasakti. Bayangan lelaki itu berseliweran dalam benak Laura. Dia ingat saat dirinya dipaksa menjawab pesan Bimasakti oleh Sabiel di hotel tempo hari. Laura mengatakan bahwa ia baik-baik saja, dan ia juga terpaksa berbohong bahwa ponselnya harus ia perbaiki, hingga ia menyarankan Bimasakti untuk tidak menghubunginya lebih dulu. Lelaki itu pasti beberapa hari ini gelisah menanti kabar dari dirinya.


Oh Tuhan, bagaimana bisa jalinan cintanya yang baru seumur jagung, harus tandas dengan segera?


"Sayang?"


Suara berat Sabiel membuat Laura mengusap air matanya kasar. Dia menengok pada lelaki yang kini menjadi suaminya.


Suami? Laura ingin tertawa mengatakannya. Hatinya tak sudi menerima keberadaan Sabiel yang tiba-tiba merangsek masuk dalam hidupnya.


Dalam ego dirinya, ingin sekali Laura memuntahkan semua kekesalan dalam hatinya dengan menampar keras pipi lelaki itu. Namun ketika benaknya membayangkan sosok ayah, ia sadar pilihannya saat ini hanyalah meredam segala ego itu mentah-mentah, terlebih lagi ketika matanya melihat orang-orang yang berada disekitarnya sedang memandang dirinya dengan penuh tanya. Mereka memperhatikan wajah sembab Laura disana.


"Ah, maaf. Aku hanya terharu." suara serak Laura menjawab tanya tanpa suara orang-orang itu.


Sabiel menyeringai licik. Lelaki itu tentu saja tahu mengapa wajah cantik Laura berubah sembab dengan bulir air mata yang masih tertinggal di sudut-sudut mata coklatnya.


Acara pernikahan siri itu usai sudah. Menyisakan rasa bahagia dihati Sabiel dan rasa pilu di hati Laura.


Kedua manusia itu kini berada di dalam kamar mereka. Laura tampak sibuk menghapus riasan tipis di wajahnya sebelum ia membuka pakaian pengantinnya di hadapan cermin besar. Sabiel duduk di tepi tempat tidur, mengawasinya dengan penuh hasrat. Gerakan Laura membuka pakaian tertahan ketika ekor matanya melihat Sabiel terus memandanginya dari kejauhan. Gadis itu tidak rela membiarkan mata lapar Sabiel menelanjangi tubuhnya.


Sabiel tidak tahan hanya mengawasi Laura yang tak kunjung selesai berganti pakaian, ia beranjak menghampiri istri mudanya, lalu berdiri dibelakang Laura. Sontak Laura langsung melihat pada lelaki itu dari pantulan cermin. Gadis itu terperanjat ketika tangan Sabiel berusaha membuka resleting kebaya putih dipunggungnya. Laura membalikkan diri, berhadapan langsung dengan dua bola mata hitam yang memandangnya liar.


"Aku lelah Sabiel. Bisakah kau memberiku waktu untuk istirahat?" pinta Laura. Gadis itu sungguh tak siap dengan apa yang akan suaminya perbuat kepada dirinya.


Sabiel tersenyum penuh pengertian. Dia tahu Laura pasti masih membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri sebagai seorang istri. Lelaki itu membalikkan kembali tubuh Laura pelan.


"Baiklah, kau bisa istirahat sayang. Tapi setelah aku membantumu membuka pakaian ini." ucapnya sembari membuka resleting kebaya dan menyibakkan kedua bagian yang terbuka.

__ADS_1


Punggung putih mulus Laura membuat Sabiel menelan kasar ludahnya. Lelaki itu ingin menciumnya, lalu memutuskan untuk melakukannya. Ia menundukkan kepalanya, menyentuhkan bibirnya pada permukaan halus punggung Laura. Tubuh Laura menegang! otaknya langsung memberi peringatan. Istri muda itu hendak membalikkan badan, siap untuk mendorong paksa tubuh Sabiel. Namun belum sempat ia membalik tubuhnya, secepat kilat Sabiel menahan agar tubuh itu tetap pada posisinya.


"Sssttt!" desis Sabiel tegas dan penuh tuntutan.


Bibir Sabiel menyapu garis punggung Laura. Mengendusnya sepenuh gairah. Kecupan demi kecupan membakar kulit lembab Laura, meninggalkan bunyi decak saliva yang tertinggal disana. Bibir Sabiel terasa keras, panas, dan basah di belakang sana. Lelaki itu begitu meresapi keharuman Laura. Ia sadar Laura sudah tak nyaman dengan aksinya itu, tubuhnya menggeliat ingin mengusir bibir Sabiel dari punggungnya.


Bukan! Laura bukan hanya ingin mengusir bibir Sabiel, ia ingin Sabiel tidak melakukan kontak fisik apapun pada dirinya.


Menyadari ketidaknyaman Laura, Sabiel akhirnya menyudahi aksi liar tiba-tibanya, ia memberikan puncak dari aksinya dengan menjulurkan lidahnya, menyusuri garis punggung Laura sekali lagi hingga menciptakan sensasi dingin yang basah pada punggung itu. Kecupan kuat di tengkuk Laura, menjadi bagian akhir dari cumbuannya. Lelaki itu harus merasa puas dengan hanya noda merah yang membekas di tengkuk istrinya.


"Aku akan keluar sebentar. Kau istirahatlah." Sabiel mengecup pundak Laura lembut, sebelum ia membalikkan badan keluar dari dalam kamar.


Laura membuang nafasnya kasar, begitu Sabiel menghilang dari balik pintu. Tubuhnya menggigil merasakan perbuatan Sabiel tadi. Air mata kembali jatuh ketika ia meratapi bayangan dirinya dari balik cermin.


Saat ini seharusnya ia sedang berbahagia dengan Bimasakti, kekasihnya. Saat ini seharusnya ia sibuk bertukar kabar membahas kapan pertemuan selanjutnya bisa mereka lakukan. Tapi apa yang kini terjadi? Sabiel merebut paksa kebahagiaannya. Lelaki itu dengan egois menjadikan Laura tawanannya.


Oh Tuhan, takdir apa ini?


Laura terseok dalam keping hati yang patah. Gadis itu terkapar di dasar nelangsa yang dalam. Merutuki takdir yang mempermainkannya dengan cara yang kejam.


Laura berlari kencang menuju kamar mandi. Menguncinya dan mulai menangis histeris di dalam sana. Dadanya sesak harus menerima status baru sebagai istri muda dosennya sendiri. Tangannya bergetar menutupi wajah cantik yang kini hilang rona cerianya. Tangisan pilu tak ingin lagi ia tahan, Laura terisak dengan tubuh meringkuk dibawah kucuran shower. Tanpa ia ketahui, Sabiel berdiri di luar pintu kamar mandi. Mendengar isaknya dengan hati sendu.


"Teruslah menangis sayang. Sampai hatimu puas, dan bosan untuk menangis lagi." Sabiel beranjak dari sana, meninggalkan kembali Laura dan tangisannya.


🍁🍁🍁


"Lauraaaa!"


Bimasakti bangun dari tidurnya dengan keringat membanjiri wajahnya. Matanya membulat meneriakkan satu nama gadis cantik yang beberapa hari lalu telah menjadi kekasihnya.


Mimpinya kali ini menyisakan rasa takut di hatinya. Bayangan Laura yang menjerit ketakutan karena hanyut terbawa ombak besar di bibir pantai kembali ia rasakan. Mimpi itu entah mengapa terasa amat nyata.


Laura di lalap gulungan ombak di hadapan matanya. Kaki Bimasakti yang terbenam dalam pasir pantai membuatnya tak sanggup menolong kekasih hatinya. Teriakannya tak berguna ketika melihat Laura hilang tertelan ombak.


"Laura." gumam lirih Bimasakti.


Lelaki itu bangun dari tidurnya, melihat seisi kamar berukuran kecil dengan poster-poster aktivis dan tokoh kenamaan yang tertempel acak di dinding kamar. Pandangannya berpencar ingin menemukan ponsel yang entah dimana ia taruh.


Sial! Banyaknya dokumen-dokumen hasil sortiran seharian di lantai kamarnya, membuat benda kecil itu luput dari penglihatannya.


Lelaki itu berdiri, mulai menyisir lembaran dokumen dengan sebelah kakinya. Setelah beberapa saat, ponsel itu dapat ia temukan. Terselip di tumpukkan dokumen yang siap untuk masuk dalam tong sampah.


Bimasakti membuka ponselnya. Dengan tak sabar, ia mencari nomor Laura untuk ia hubungi.


"Nomor yang anda tuju sedang...."


Belum selesai operator busuk itu menamatkan pemberitahuannya, jari Bimasakti lebih dulu memutus panggilan.


Dia baru ingat pesan Laura, gadis itu mengatakan bahwa ponselnya sedang diperbaiki.


Sungguh sial Bimasakti dini hari ini. Beberapa hari tak bertukar kabar, membuat ia bermimpi buruk tentang kekasihnya.


Dengan malas, ia meraih beberapa anak panah yang tersimpan rapi di rak dinding. Pandangannya lurus ke arah poster Joseph Stalin yang tertempel erat di dinding. Ia menggunakan poster pemimpin diktator Uni Soviet itu sebagai dartboard panahannya.

__ADS_1


Sret!


Anak panah tepat menancap di kumis lebat Stalin. Bimasakti mengulanginya lagi. Ia melesatkan anak panah berikutnya, dan tepat mengenai mata serta kening orang nomor satu di Uni Soviet.


Puas dengan panahan, lelaki itu kembali merebahkan diri di tempat tidur. Mencoba berdamai dengan malam agar memberinya sedikit saja mimpi yang indah.


Keesokan harinya. Kening Bimasakti berkerut melihat tumpukan berkas yang tersusun menggunung di meja kerjanya.


Di meja lain, Wisman dan Laras tampak sibuk membaca laporan bulanan ormas yang akan segera di bacakan saat pertemuan rutin anggota.


Bimasakti berjalan menuju meja Laras dengan secangkir kopi tubruk di tangannya.


Dia meniupi kepulan asap di cangkir kecil itu, sebelum menyeruput minumannya sambil berdiri di hadapan pimpinan ormas.


"Apa kau tidak salah, memberiku banyak sekali pekerjaan?" Sabiel merujuk pada tumpukkan berkas dimejanya.


Laras menengadahkan kepalanya perlahan. Menatap Bimasakti dengan malas.


"Apa kau tidak salah, menanyakan hal yang sudah kau ketahui pasti jawabannya?" Sorot mata Laras berubah menggoda. Dia tahu, Bimasakti kesal karena banyaknya dokumen yang harus ia kerjakan, membuat lelaki itu kesulitan untuk meliburkan diri.


"Sial. Tidak cukup semalam aku bermimpi buruk. Sekarang aku bekerja dengan pemimpin yang buruk." ledeknya santai.


Laras terlalu biasa dengan ledekan itu. Di kantor buruh itu, memang Laras dan Bimasakti lah yang selalu membuat ricuh dengan lemparan ledekan dan sindiran. Namun keduanya sama-sama mengerti bahwa ledekan atau sindiran itu tak pernah ada yang bermuatan serius. Semua atas dasar keinginan untuk menggoda satu sama lain.


"Manusia sepertimu itu, seharusnya sudah diberi mimpi saja sudah bersyukur." balas Laras.


"Aku akan lebih bersyukur lagi, jika mimpiku itu mimpi basah." Bimasakti menyeringai jahil.


"Ckckck kasihan sekali. Lama tak memiliki kekasih membuat kau berharap mendapat mimpi basah." Laras menggelengkan kepala seolah prihatin.


"Eiitss, kau salah. Aku sudah memiliki kekasih." ucap Bimasakti pongah.


Laras menatapnya jahil. Wanita itu melipat kedua tangannya di dada, dan bersandar santai pada sandaran kursi.


"Muslihat apa yang kau lakukan padanya?" Laras mengingat gadis yang beberapa waktu lalu terlihat intens dihubungi Bimasakti.


Bimasakti meletakkan cangkir kopi di meja Laras dan menyilangkan tangannya menyamai wanita di hadapannya.


"Ketampananku ini muslihatnya." ucap Bimasakti menyombongkan diri.


Tawa renyah pecah dari bibir tebal Laras. Wanita itu mengusap pelan wajahnya, menatap raut wajah bodoh Bimasakti yang berlaga bak pangeran negeri dongeng.


"Aku yakin matanya bermasalah." ledeknya disela tawa.


Bimasakti baru akan mengeluarkan sanggahan lain, tapi Wisman berteriak lantang dari mejanya.


"Hey! Kerjaan kita masih banyak. Berhenti membuang waktu dengan berkelakar." Wisman menatap malas pada kedua makhluk yang terlihat seperti jelemaan Tom and Jerry. "Hei bung, selesaikan tugasmu. Aku tidak ingin lembur lagi karena kau membuang waktu kerjamu." ucapnya mengarah pada Bimasakti yang masih berdiri di depan meja Laras.


Bimasakti menatap tajam Laras yang mengangkat bahunya dengan raut wajah meledek.


"Rasakan!" bisik Laras sebelum ia terkekeh melihat kekesalan Bimasakti.


"Akan ku balas kau nanti." ucapnya sebelum membalikkan badan dan kembali ke meja kerjanya.

__ADS_1


🍁🍁🍁



__ADS_2