Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 39


__ADS_3

HAPPY READING GUYS! ✌📚


Semoga tetap bersuka cita di Sabtu yang kelabu. Ingat untuk selalu bersyukur dan jangan lupa tersenyum 😉😍😍


Tetap jaga kesehatan dengan menjalankan protokol kesehatan dimana pun kalian berada ya 😷🤒 karena sehat itu nikmat, sehat itu mahal.


So, Let's go!!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah Sabiel menyelesaikan urusan apartemen untuk Laura, ia kembali ke Pondok Kenanga dan menemukan Laura sedang tertidur pulas di lantai bawah jendela. Awalnya Sabiel ingin membangunkan istrinya itu, namun ketika matanya melihat ponsel Laura tergeletak dengan menampilkan riwayat panggilan Bimasakti, ia mengurungkan niatnya. Sabiel menduga, Laura mungkin sudah menghubungi lelaki itu untuk menuntaskan hubungannya. Seberkas senyuman melintas di bibirnya.


Tanpa merasa lelah, Sabiel langsung meminta kedua pembantunya untuk bersiap. Sabiel ingin mengajak mereka untuk pindah ke apartemennya saat itu juga. Sementara Laura, tanpa membangunkannya Sabiel langsung membopong tubuh Laura untuk masuk dan duduk di dalam mobilnya.


Selama diperjalanan Laura tak bergeming dalam tidurnya. Ia tampak pulas meskipun mobil yang mereka tumpangi terkadang harus meliuk atau mengerem secara tiba-tiba. Dengan sepenuh cinta, Sabiel mendekap erat kepala Laura untuk merapat pada dadanya. Sesekali Sabiel merundukkan kepala menciumi dahi, pipi bahkan bibir Laura sekilas. Ajaibnya Laura sama sekali tak bereaksi. Hanya terdengar gumaman kecil sebagai tanda bahwa dia merasa terganggu.


Sudah sangat larut ketika Sabiel melangkahkan kaki memasuki halaman depan apartemennya di kota Bandung. Lelaki itu turun dari mobilnya dengan Laura dalam gendongan. Sementara di mobil lain yang ikut terparkir, keluarlah Mbok Yayu dan Mbok Suti dengan wajah menahan kantuk, keduanya langsung berjalan menuju bagasi hendak membawa barang bawaan dari Pondok Kenanga dibantu oleh beberapa bawahan Sabiel yang menemani perjalanan mereka.


"Tom, besok pagi-pagi sekali kau harus sudah ada disini." perintah Sabiel pada Tomi yang masih berdiri di pintu mobil. "Sekarang kau bisa langsung pulang, terima kasih untuk hari ini." ucap Sabiel sebelum ia melangkahkan kaki memasuki aparatemen, tanpa melihat lagi pada Tomi.


Mbok Suti dan Mbok Yayu berjalan mengikuti di belakang. Kedua tangan mereka penuh oleh barang bawaan.


Sabiel langsung menaiki anak tangga menuju kamar utama, tempat dimana ia dan Laura akan menghabiskan sebagian besar waktunya bersama. Laura masih terlelap dalam gendongannya, sesekali istri mungilnya itu kembali mengingau menyebut nama Bimasakti. Dan itu berhasil membuat Sabiel merekatkan rahangnya menahan kesal dan cemburu.


"Mbok, malam ini istirahat saja dulu. Barang bawaan itu biar besok dibereskan." Dari arah tangga Sabiel melihat kedua pembantunya, ia merasa kasian pada kedua pembantu yang sudah tua itu.


"Terima kasih Tuan" ucap keduanya bersamaan.


🍁🍁🍁


Fajar belum menyingsing kala itu, jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari. Sebagian besar manusia masih terlelap dibawah selimbutnya masing-masing. Sibuk menikmati mimpi indah atau sibuk bertarung dengan mimpi buruk.


Sorot mata lelaki dewasa yang duduk di kursi dekat tempat tidur tampak sendu memandangi wajah polos dan jelita dari istri mungilnya. Lelaki itu berdiri dari posisinya dan melangkah dengan perlahan menghampiri bidadari cantik yang membuat hatinya berdebar, hanya dengan menatap bibir ranumnya yang sedikit terbuka itu.


Sabiel duduk di tepian tempat tidur, matanya tak bisa melepas dari wajah lembut Laura. Begitu banyak hal yang harus ia lakukan pagi hari nanti. Istri sah-nya akan kembali dari rantauan, sementara istri sirinya hendak memulai kembali pendidikannya yang sempat ia ganggu belakangan ini.


Tangan Sabiel perlahan mengguncang bahu Laura, dia harus membangunkan Laura saat itu karena ada beberapa hal yang harus ia bicarakan dengannya.


Laura tampak gelisah dalam tidurnya, kepalanya berulang kali menoleh ke arah kiri dan kanan. Kegelisahan Laura bukan karna mimpi buruk yang datang di tengah lelapnya tidur. Namun kegelisahan itu terjadi akibat telinganya yang berhasil menangkap suara-suara samar dari mulut seseorang.


"Laura, bangun sayang.." Sabiel mengguncang pelan bahu Laura.


Suara itu semakin jelas terasa, namun entah mengapa kelopak mata Laura masih saja terpejam. Enggan untuk terbuka.


"Sayang, ada yang harus kita bahas. Ayo bangun dulu." Sabiel bersusah payah membangunkan Laura yang tertidur seperti orang pingsan.


Perlahan Laura membuka kelopak matanya dengan berat. Dentuman keras langsung terasa di ubun kepalanya, mungkin karena Laura terlalu banyak menangis kemarin. Perasaan sakit dan patah hati memang akan selalu membuat siapapun betah menangis lama, hingga membuat kepala terasa sakit. Begitu pun dengan Laura.


"Sayang, kau sudah bangun."

__ADS_1


Laura langsung merutuki nasib buruk yang menimpanya saat itu juga, begitu matanya menatap raut wajah lelaki yang merebut paksa kebebasan hatinya. Lelaki itu tampak rapi dengan kemeja pendek dipadukan dengan sweater rajut berwarna kelabu serta celana jeans.


"Ada apa?" ucapnya dingin. Laura mencoba untuk bangun dari tidurnya.


"Sayang, ada yang harus kita bahas." ujar Sabiel menatap lekat bola mata coklat istri mudanya.


"Dimana ini?" Mata Laura baru menyadari akan kondisi kamar asing yang kini ia tempati. Dia mengabaikan ucapan Sabiel.


"Ini di apartemenku. Beberapa waktu yang lalu kita baru saja sampai." Sabiel menjelaskan. "Kau, aku bawa saat sedang tertidur."


Dalam hatinya Laura mengutuk dirinya sendiri. Sepulas itukah tidurmu, Laura? Hingga kau tak merasakan Sabiel membawamu pergi. Ah, sial! Laura menyugar rambutnya.


Sabiel tersenyum lembut menatap raut wajah bingung Laura. Lelaki itu mengusap rambut Laura perlahan. "Aku ingin membahas sesuatu denganmu." ucapnya.


"Apa?" tanya Laura langsung.


"Dengarkan aku, tanpa interupsi oke?!" Sabiel menekankan kata interupsi. Dia tidak ingin Laura menyela ucapannya. Laura mengangguk.


"Sebentar lagi aku harus pulang ke rumah utamaku. Sssttt! tanpa Interupsi Laura." Sabiel kembali menekankan ucapannya, ketika istri pembangkangnya itu mulai terlihat gelagat ingin membuka suara.


"Baiklah, aku akan diam." Laura membuat gerakan mengunci mulutnya.


"Aku sudah mengurus semua kebutuhanmu. Ada orang kepercayaanku yang akan menjagamu selama aku tak ada. Dia bertugas mengantar jemputmu ke kampus, dan mengawasimu." Sabiel berhenti sejenak, lelaki itu mengamati raut wajah Laura yang mulai terlihat menyimpan banyak pertanyaan.


"Mulai nanti pagi, kau sudah bisa berkuliah. Tentu dengan pengawasan ketat dari orang-orangku. Mereka akan melaporkan apapun yang kau lakukan. Dan ingat sayang, sekali saja kau melakukan sesuatu yang membuatku marah....."


"Kau akan mengirim foto-foto vulgar itu pada keluargaku." Laura menyambung ucapan yang hendak dikeluarkan Sabiel. "Aku bosan dengan ancamanmu." ledek Laura pada suami yang tengah menyeringai menyebalkan kepadanya.


Laura menghembuskan nafasnya kasar. Sabiel benar-benar gila, dia membuat hidupnya seperti dipenjara. Bagaimana Laura bisa berkuliah dengan tenang, jika ia diawasi oleh antek-antek dosen psikopat tak tahu malu ini!


"Berapa lama Intan akan disini?" tanya Laura kemudian. "Hei, apa yang kau lakukan?!" mata Laura terbelalak waspada melihat Sabiel membuka sweater dan kemejanya. Ia memundurkan tubuhnya secara naluriah.


"Sabiel, hentikan!" Laura mulai gelisah ketika Sabiel menarik kakinya dan menekan bahunya agar ia kembali tertidur. "Sabieeelll!!" bentak Laura memukul keras punggung Sabiel yang telanjang. Lelaki itu membaringkan kepalanya pada dada hangat Laura. Dia bisa mendengar denyut jantung Laura yang berdetak cepat disana.


"Ssssttt! sayang, berhari-hari aku tidak bisa melihatmu. Jadi tolong mengertilah. Kau membuatku bergairah saat ini, maka kau harus bantu aku memadamkannya." ucap Sabiel menyeringai sebelum ia mengangkat kepalanya dan mencium habis bibir Laura. Laura terkesiap ketika lidah liar Sabiel memporak porandakan rongga mulutnya. Lelaki itu memainkan lidahnya didalam sana, menyusuri dan melilit lidah Laura yang terasa manis.


"Intaaaannn! Semoga kau lama diam disini, brengsek!" Laura berteriak kesal dalam hati.


Sabiel kembali mencumbui tubuhnya di dini hari yang sunyi. Ia menanggalkan semua pakaian yang melekat pada tubuhnya. Kepala Laura yang memang sebelumnya sudah terasa pening, bertambah pening karena terpaksa harus meladeni keliaran suami sirinya itu.


"Akh!" pekik Laura ketika Sabiel membuka pakaiannya dengan gesit dan memutar balik tubuh Laura hingga membelakanginya.


"Sabiel, kau akan terlambat. Intan menunggumu. Oh ah Sabiel!" rancauan keluar dari bibir Laura.


Sabiel terus saja menyusuri punggung Laura yang telanjang dengan bibir dan lidahnya yang basah. Rontaan Laura terhenti sudah karena Sabiel mengunci pergerakan kaki dan tangannya. Laura hanya bisa meremas seprai dengan kuat sembari mengeratkan gerahamnya menahan marah. Dadanya naik turun dengan cepat seiring kelihaian gerakan Sabiel dibelakang sana.


"Sayang, aku tidak tahan." lengkuh Sabiel sembari membalikkan kembali tubuh Laura hingga telentang. Lelaki itu menarik lengan Laura, hingga terduduk. Dengan sekali tarikan lagi, ia berhasil membuat Laura duduk diatas pangkuannya, kemudian melingkarkan kedua kaki Laura di pinggangnya.


"Aakkhh!" pekik Laura setengah mendesah ketika merasakan kej*ntanan Sabiel tertancap dalam pada pusatnya, begitu ia duduk berhadapan di pangkuan lelaki itu.

__ADS_1


"Tenang sayang, aku akan pelan-pelan oke..!?" Sabiel menciumi bibir, leher dan dada Laura bergantian sembari menggoyangkan pinggulnya dengan perlahan.


Laura pasrah. Sabiel menyerangnya disaat Laura sedang dalam kondisi baru terbangun dari tidurnya. Tenaganya langsung terkuras habis, hingga menghilangkan semua keinginannya untuk melawan. Dia membiarkan Sabiel berbuat semaunya. Tidak ada lagi yang bisa Laura lakukan selain menautkan lengannya di bahu Sabiel dan menyandarkan kepalanya di lekukan leher lelaki itu. Laura mulai terbawa dalam gairah Sabiel yang menggelora.


"Sabiel.. sudah... Aku lelah." desah Laura dengan tubuh bercucur keringat.


"Sebentar sayang..." Sabiel mempercepat gerakannya, tangannya membelai tubuh Laura dengan buas. Sampai pada satu titik, keduanya menegang sambil berpelukan erat.


"Laura, aku mencintaimu. Aku mencintaimu, sayang." bisik Sabiel lirih ketika semua badai birahinya tertumpah pada tubuh mungil istri mudanya yang terkulai lemas dalam pelukannya.


🍁🍁🍁


Setelah memadamkan gairah suaminya, Laura terbangun tepat pukul tujuh pagi hari. Sabiel sudah tak ada di kamar saat Laura membuka mata. Lelaki itu ternyata sudah pergi meninggalkan Laura pada saat ia tertidur. Kini Laura sedang menikmati sarapannya dengan suka cita, hatinya terasa begitu ringan dan tenang karena beberapa hari ke depan ia bisa bebas dari dosen gila psikopat mesum itu.


Laura terkekeh geli ketika ia merapalkan julukan khusus yang ia sematkan untuk Sabiel. DOSEN GILA PSIKOPAT MESUM!! predikat yang sangat cocok dengan lelaki itu.


"Selamat pagi Nyonya Laura."


Suara sapaan mengagetkan Laura diwaktu sarapannya yang menyenangkan. Laura menengok pada sumber suara dengan ceria.


"Selamat paa... Kau!!" Laura terjingkat dari duduknya. Ia menatap tajam lelaki paruh baya dengan pakaian serba hitam yang melekat ditubuhnya.


"Perkenalkan, saya Tomi... "


Buk buk buk...


Tiga pukulan melesat di perut dan lengan atas lelaki itu. Laura mantapnya penuh murka.


"Berani kau menampakkan dirimu dihadapanku?!" Nafas Laura memburu, menatap tajam lelaki yang telah menculiknya dan membuatnya mendekam dalam sangkar Sabiel. "Penculik!" Laura mendelik lelaki yang tertunduk sopan dihadapannya.


"Maafkan saya Nyonya. Saya hanya mengikuti perintah Tuan." ucapnya datar.


Tubuh tegap atletisnya tak bergeming menerima pukulan dari Nyonya mudanya itu. Malah, tangan Lauralah yang merasa kebas.


"Maaf?! Setelah kau menculikku, kau bilang maaf?!" bentak Laura menahan geram.


Buk buk buk!


Laura tak tahan ingin memukuli tubuh lelaki itu kembali. Namun sekeras dan sekuat apapun pukulan Laura, sama sekali tak berpengaruh pada lelaki bernama Tomi itu. Tubuhnya tetap berdiri tegap tanpa goyah sedikitpun.


Tomi melirik pada kedua pembantu yang tampak terkejut melihat amukan majikannya. Ia memberi isyarat melalui mata agar keduanya pergi meninggalkan ruang makan.


"Nyonya, ini sudah siang. Sudah saatnya anda pergi kuliah." ucap Tomi mengingatkan seperti orang tanpa dosa. Begitu ringan hingga membuat Laura memutar bola matanya jengah melihat wajah lelaki brengsek yang telah menculiknya.


Laura menggigit bibir bawahnya kuat, merasa gemas, kesal dan jengkel melihat lelaki dihadapannya.


"Kau merusak suasana hatiku!" bentak Laura sembari berbalik badan menghampiri tas ransel yang ia taruh dimeja kemudian melangkah kembali menghampiri Tomi.


"Ayo pergi! Dasar kau sial-an!" Laura menghentakkan kakinya sembari mengumpat tak karuan.

__ADS_1


Tomi tertunduk sembari tersenyum tipis, kemudian ia melangkah mengekori nyonya mudanya.


🍁🍁🍁


__ADS_2