
Laura bangun dengan rasa pegal hampir disemua badan. Matanya memandang sekeliling, dan tak ia dapati Sabiel di kamar itu. Laura mencoba merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku. Matanya terpaku pada jejak ikatan yang terdapat di pergelangan tangannya. Sabiel benar-benar manusia kejam, dengan teganya ia membuat lengan Laura memerah samar karena tali ikatan yang semalam lelaki itu buat.
Laura menghembuskan nafasnya dengan putus asa. Sabiel kembali berhasil memperkosanya. Dengan lemah ia merundukkan kepalanya, tangannya bergerak untuk mengusap bagian perutnya yang rata. Benaknya membayangkan ada jutaan benih yang telah tertumpah ruah di dalam sana.
Pikiran Laura menjadi gelisah, ketika ia membayangkan Sabiel berhasil menghamilinya. Apalagi selama menikah, baik Laura maupun Sabiel sama-sama tidak pernah memakai pengaman.
"Jangan! jangan ada satu pun dari kalian berhasil hadir di rahimku. Ku mohon jangan." Laura berbicara sendiri sembari menatap perutnya yang rata. Kegelisahan terlihat jelas pada parasnya yang cantik.
Laura mengusap kasar wajahnya, mencoba mengenyahkan bayangan kehamilan yang menghantuinya. Pandangan kembali melihat sekeliling kamar yang berantakkan akibat ulah Sabiel. Gaun tidurnya sudah tak berbentuk, teronggok di kaki tempat tidur bersama pakaian Sabiel.
Tok.. Tok.. Tok..
"Nyonya?" suara sengau Mbok Yayu terdengar.
"Ya Mbok?" Laura melilit tubuhnya dengan selimbut dan berjalan menuju pintu.
"Ada apa Mbok?" tanya Laura pada Mbok Yayu yang membelalakan matanya memandang penampilan Laura yang berantakan. Noda-noda merah membekas di leher dan bagian dadanya.
Laura menyadari arah pandang Mbok Yayu, ia kemudian menaikkan selimbut itu sampai ke bagian lehernya.
"Maaf Mbok, saya baru saja bangun." Laura malu sendiri.
"Oh, tidak apa-apa Nyonya. Saya yang harusnya minta maaf, sudah mengganggu tidur Nyonya Laura." ucap Mbok Yayu sembari tersenyum hangat penuh pemakluman. Gurat-gurat usia senja terlihat jelas dari kerutan mata dan dahinya.
"Ada apa Mbok?" Laura kembali kepertanyaannya.
"Tadi Tuan pesan sebelum berangkat...."
"Tuan berangkat? Berangkat kemana Mbok?" tanya Laura menyela ucapan Mbok Yayu.
"Ke kota. Katanya ada yang harus di urus untuk kepindahan Nyonya ke apartemennya." sahut Mbok Yayu.
"Lalu?" tanya Laura kembali.
"Tadi Tuan meminta saya untuk membantu Nyonya membereskan pakaian yang akan di bawa." ujarnya sopan mengingat ucapan majikannya sebelum pergi.
"Memang kapan kita akan berangkat?" Laura heran dengan perintah Sabiel yang terkesan terburu-buru.
"Nanti malam Nyonya."
"Hah?! Secepat itu?" Laura sedikit terkejut. "Ya sudah, saya akan membersihkan diri saya dulu Mbok. Nanti Mbok datang lagi saja kesini." ucap Laura. "Eemm sambil bawakan sarapan ya Mbok." sambungnya malu-malu
"Baik, Nyonya." sahut Mbok Yayu sembari tersenyum lembut menatap majikannya yang begitu muda.
🍁🍁🍁
Di salah satu apartemen kota Bandung.
"Sudah kau bereskan semuanya?" Sabiel bertanya pada orang kepercayaannya.
"Sudah Tuan, apartemen sudah siap untuk ditempati. Dibeberapa sudut sudah saya pasang cctv sesuai permintaan Tuan." ucap lelaki berusia empat puluh tahun pertengahan.
"Bagus, aku percaya padamu Tomi." ujar Sabiel pada lelaki yang tempo hari memimpin aksi penculikan Laura.
"Nyonya Intan benar akan kembali, Tuan?" tanya Tomi yang sudah lama menjadi orang kepercayaan di keluarga Sabiel.
__ADS_1
Lelaki itu tadinya adalah kepercayaan ayah Sabiel. Setelah orangtua Sabiel meninggal, Tomi ditugaskan untuk mengurusi bisnis outlet dan properti yang ditinggalkan orangtua Sabiel, dengan memberikan laporan berkala pada Sabiel sebagai pewaris. Sabiel sendiri sudah menganggap Tomi adalah bagian dari keluarganya, sehingga apapun yang terjadi pada dirinya, Tomi mengetahui itu dengan pasti.
"Yah. Besok dia akan kembali." sahut Sabiel lesu.
Tomi tampak menundukkan kepalanya, dia mengerti kegundahan tuannya itu. Lelaki itu juga tahu seluk beluk biduk rumah tangga Sabiel bersama Intan yang berantakan karena sifat egois dari istri Tuannya tersebut.
"Berapa lama Nyonya Intan akan di sini?" tanyanya kemudian.
"Entahlah, kau tahu sendiri bukan, bagaimana sikap Intan yang seenaknya sendiri. Dia datang sesuka hati, dan akan pergi sesuka hatinya pula." Sabiel terlihat malas jika sudah berbicara tentang istri pertamanya itu.
"Bagaimana dengan perceraian itu, Tuan?" Tomi juga tahu keinginan Tuannya untuk terbebas dari jeratan Intan.
"Sejak Intan mengancam akan bunuh diri, aku belum menemukan saat yang tepat untuk mengutarakannya kembali." ucap Sabiel.
"Kenapa tidak Tuan biarkan? Mungkin saja Nyonya hanya mencoba menggertak." usul Tomi.
"Aku tidak bisa mengambil resiko Tomi, aku telah berjanji pada orangtuanya untuk menjaga dia. Dan aku tak bisa melanggar janji itu." sesal Sabiel.
"Tuan, apa tidak sebaiknya Tuan lupakan saja janji itu? Toh sikap dan perbuatan Nyonya dalam memperlakukan Tuan selama ini bisa menjadi alasan kuat untuk menghapuskan janji Tuan." saran Tomi.
Sabiel termangu dalam pikirannya. Apa yang diucapkan Tomi mengingatkan nya pada ucapan ayah angkatnya, Sandjaya. Selama ini, meskipun Intan tak melayaninya dengan baik sebagai seorang istri. Tapi Intan sangat baik menjaga diri dan kesetiaannya. Selama tujuh tahun berumah tangga dengannya, tak pernah sekalipun Intan bermain-main di belakang Sabiel. Itu yang terkadang membuat Sabiel selalu kalah jika beradu argumen mengenai perceraian dengannya. Karena Intan, tak memiliki celah untuk Sabiel paksa mundur. Hal itu juga lah yang kemudian menjadi senjata Intan jika Sabiel kembali membahas perceraian. Wanita itu akan menyudutkan Sabiel tentang janjinya ditambah kesetiaannya, hingga akhirnya selalu berhasil membuat Sabiel tak berkutik.
"Tom, ketika Intan pergi lagi ke Singapura. Kau suruh beberapa anak buahmu untuk mengintainya." perintah Sabiel sembari memikirkan sesuatu. "Aku ingin tahu, adakah sesuatu yang bisa aku jadikan senjata untuk memaksanya mundur." sorot mata Sabiel memicing, berkilat penuh strategi.
"Baik Tuan. Akan saya laksanakan?" suara Tomi berubah menjadi bersemangat.
"Sekarang kembali pada masalah Laura. Setelah pindah kesini, dia akan aku ijinkan untuk melanjutkan pendidikannya. Aku ingin kau langsung yang memantau semua kegiatannya selama aku tak berada di sampingnya." ucap Sabiel
"Baik Tuan, anda tak perlu khawatir. Saya akan mengawal Nyonya Laura." ucap mantan kepercayaan ayah Sabiel itu sembari menundukkan kepalanya.
🍁🍁🍁
Pondok Kenanga.
Laura menatap beberapa koper yang bersimpan rapi di pojok kamarnya. Beberapa saat yang lalu, ia dibantu Mbok Yayu dan Mbok Suti telah selesai berkemas. Semua pakaian yang Sabiel belikan untuknya, dengan semua perlengkapannya telah rampung dirapikan dalam dua koper besar dan 1 koper berukuran kecil.
Laura memandang menerawang langit biru cerah lewat jendela kamar, ia membuka jendela itu pelan dan angin pegunungan langsung menerpa wajahnya.
Matanya menatap ragu pada layar ponsel yang sejak tadi ia genggam. Namun setelah lama berkutat dengan keraguan, akhirnya Laura memutuskan untuk menghubungi seseorang. Seseorang yang dirindukan olehnya.
Sebelah tangan Laura menggenggam teralis besi jendela dengan erat, kegugupan langsung menyerangnya begitu nada sambungan terdengar.
"Halo? Sayang? Laura? Halo? Laura, kau kah itu?!" Bimasakti langsung mencecarnya. Dari suaranya yang tergesa-gesa, Laura tahu bahwa lelaki itu jelas merindukannya, sama seperti dirinya.
"Bimasakti?" bisik Laura lirih.
"Oh Tuhaaaan, akhirnya..." nada suara lega berhamburan terdengar dari seberang sana. "Kau membuatku gila, sayang. Kemana saja kau, huh?!" Bimasakti dilanda kerinduan yang besar pada kekasihnya itu.
"Maaf, ponselku rusak.." Laura menutup mulutnya, tenggorokkannya mulai terasa berat dan tersekat. "Apa kau merindukanku?" ucap Laura mencoba menetralkan suaranya yang mulai terbata.
"Kau tak pantas menanyakan itu. Aku hampir mati memikirkanmu setiap saat, Laura." ucap Bimasakti yang belum menyadari perubahan suara Laura. "Sedang apa kau sekarang?"
"Aku sedang dikamar, baru saja kembali dari kampus." mata Laura perih menahan air mata yang ingin jatuh. "Apa yang kau lakukan disana?"
"Kau tahu, Laras itu memang ditakdirkan menjadi penyihir, sayang. Dia memberikan banyak sekali berkas yang harus aku pelajari sejak kepulanganku dari tempatmu." Bimasakti antusias menceritakan hari-hari nya yang terus disibukkan dengan berkas dan laporan masalah buruh. "Dia benar-benar tidak rela membiarkanku sedikit santai. Oh ya, dia ingin berkenalan denganmu sayang. Aku katakan bahwa sekarang aku memiliki kekasih, awalnya dia tidak percaya, dia bahkan mengatakan aku hanya membual." bibir Bimasakti merengut menggemaskan, andai Laura dapat melihatnya.
__ADS_1
"Dia tidak percaya?" air mata sudah jatuh membasahi pipinya. Laura menutup mulutnya rapat mencegah Bimasakti mendengar isaknya. "Penampilanmu memang sulit untuk dipercaya, Bimasakti." ucap Laura sembari menghapus kasar air mata yang semakin deras.
Lelaki itu terkekeh mendengar penilaian Laura akan penampilannya yang terkesan pecicilan.
"Kau tak meski percaya pada penampilanku sayang. Yang harus kau percayai adalah bahwa aku dan hatiku ini. Mencintaimu." Bimasakti menggaruk belakang kepalanya sembari tersipu malu, ia tak melihat diseberang sana Laura ambruk, bersimpuh di lantai sambil berderai air mata, dengan tangan memukuli dadanya perlahan.
"Kau harus ingat, penampilan akan selalu bisa menipumu. Tapi tidak dengan hati." sambung Bimasakti kemudian. "Sayang, kau mendengarkan?" tanyanya ketika tak terdengar suara Laura diseberang sana.
Laura berdehem beberapa kali, menelan ludahnya kasar sembari mengatur nafasnya yang tersenggal.
"Aku mendengarkan." sahutnya kemudian. "Ya, terkadang memang penampilan itu selalu bisa menipu. Kita tidak bisa mempercayai seseorang hanya dari tampilannya saja, bukan?!" ujar Laura.
"Ya. Kau benar." Bimasakti membenarkan. "Laura, kau baik-baik saja? Suaramu... "
"Aku sedang sakit. Sedikit flu, jadi suaraku agak sengau." Laura langsung memutus kekhawatiran lelaki itu dengan alasannya.
"Bima...."
"Ya Sayang."
"Kapan kau akan kemari?"
"Kenapa? Apa kau sudah tak kuat menahan rindu?" Bimasakti menyeringai jahil.
"Ish kau ini." Laura mencoba tersenyum mendengar kelakar kekasihnya. "Ada yang ingin aku sampaikan. Tapi harus aku katakan langsung" Laura mengepalkan sebelah tangannya.
Sungguh demi Tuhan, Laura tak siap dengan apa yang harus ia katakan nanti. Laura tak siap berpisah dengan orang yang ia cintai seperti ini. Dia tidak ingin memberikan luka pada ketulusan cinta yang lelaki itu persembahkan untuk dirinya.
Oh Bimasakti, apa yang harus aku lakukan? bahkan kini ragaku pun tak layak menerima cintamu lagi.
"Tentang apa itu sayang? Kau membuatku penasaran." Bimasakti mencoba mencari tahu.
"Aku tidak bisa mengatakannya disini. Maka dari itu aku tanya, kapan kau akan datang kemari?"
"Baiklah, akan aku usahakan sesegera mungkin. Aku juga tak sadar ingin bertemu denganmu. Hubungan jarak jauh seperti ini, ternyata sangat melelahkan." keluhnya kemudian.
"Baiklah kalau begitu. Aku harus kembali belajar. Nanti aku akan menghubungimu lagi." Laura ingin menyudahi panggilan memilukan itu. "Oh ya, ponselku akan aku matikan. Aku khawatir kau merusak konsentrasiku. Jadi jangan coba-coba menggangguku belajar. Oke?!" nada suara Laura dibuat setegar mungkin.
Kekehan terdengar dari seberang sana, Bimasakti tak sadar bahwa saat ia merasa senang, disisi lain Laura sedang merintih menahan sakit yang tak terperi. Hatinya diliputi kesedihan yang amat dalam, hingga dadanya terasa sesak seperti sedang meregang nyawa.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggumu, sayangku. Aku tunggu kabarmu." ucap Bimasakti. "Aku mencintaimu Laura, dan itu akan selalu."
"Aku juga..." Laura tak sanggup meneruskan kata-katanya, ia langsung mengakhiri panggilan itu dengan segera.
Kata-kata cinta Bimasakti memenuhi benaknya. Air mata semakin deras seiring tubuhnya yang bergetar hebat. Laura terluka. Hatinya meringis menahan sembilu. Dia menangis sembari menundukkan kepalanya.
Diseberang sana, mata Bimasakti tampak berkilat waspada. Diam-diam ternyata ia menyadari ada yang tak beres dengan kekasihnya. Suara Laura terlalu sengau untuk orang yang hanya terkena flu. Telinga lelaki itu juga ternyata mendengar sedikit isakan yang sangat samar dari bibir kekasihnya.
Tiba-tiba Bimasakti merasa gelisah. Laura, tidak dalam keadaan baik-baik saja. Gadis itu, pasti sedang menyembunyikan sesuatu.
Ia harus segera mencaritahu kebenarannya. Perasaan gelisah dan tak enak yang menggelayuti hatinya, tidak akan pernah hilang sebelum ia dapat memastikan sendiri apa yang terjadi.
"Ada apa denganmu, sayang." gumamnya lirih.
🍁🍁🍁
__ADS_1