
Halo semuanya, 👐
Akhir pekan ini Author bakal double up lagi!!
Yeaaaay!! 😁😁
Senangkan dirimu? dirimu? dan dirimu?! 😉
Jangan lupa sematkan like dan koment di setiap episode ya! 😉😘
Happy Reading Guys! Selamat berpetualang dalam dunia imajinasi! 📚😍
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dibalik mejanya, mata lelaki itu menatap layar ponsel dengan pandangan menyelidik. Dia melihat Intan dan Laura tampak beradu mulut di tangga apartemennya. Entah apa yang kedua wanita itu bicarakan, namun melihat raut wajah keduanya yang tampak tegang, membuat Sabiel berpikir bahwa pembicaraan itu pasti mengacu pada status keduanya. Tampaknya mereka berdua saling memprovokasi. Hal itu terlihat dari seringai puas yang secara bergantian hadir di raut wajah keduanya.
Mata Sabiel berubah menyelidik. Lelaki itu mendekatkan layar ponselnya pada wajahnya, ketika melihat Intan yang merogoh saku dan melihat ponselnya dengan raut wajah mencurigakan.
Benak Sabiel langsung berpikir, dia penasaran siapa yang menghubungi Intan hingga membuat Intan seolah menyembunyikan ponsel itu dari Laura. Sabiel bergegas mengganti tayangan cctv diruangan itu dengan tayangan cctv yang berada dikamar Intan.
"Ah! Sial!" Sabiel mengumpat kesal merutuki cctv yang ia pasang tidak dilengkapi dengan audio. Sehingga pembicaraan Intan dengan seseorang yang menghubunginya tak dapat ia dengar.
Mata Sabiel jeli mempelajari raut wajah Intan yang sangat mencurigakan. Wanita itu tampak kesal dan marah di awal panggilannya. Namun berubah senang saat panggilan itu akan berakhir. Sabiel bergegas menutup tayangan itu. Dan mencari nomor kontak Tomi.
"Tom, kau dimana?" tanyanya cepat.
"Saya di apartemen Tuan. Menunggu Nyonya Laura" jawabnya sopan. Keningnya berkerut ketika menyadari nada suara tergesa dari Tuannya.
"Lekas antarkan Laura, lalu datanglah ke ruang kerjaku. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan" ucap Sabiel.
"Baik Tuan" sahut Tomi.
"Aku sudah siap. Ayo berangkat Tom"
Tiba-tiba terdengar suara Laura sambil melangkah mendekati Tomi. Tomi mengangguk dengan ponsel masih menempel di telinganya.
"Berikan ponselmu pada istriku" ucap Sabiel yang mendengar suara Laura.
"Baik Tuan" ucap Tomi sambil menyerahkan ponsel pada Nyonya mudanya.
Laura menaikkan alisnya, mulut kecilnya bergumam tanpa suara. "Siapa?" tanyanya.
Tomi tersenyum melihat gerakan bibir dan raut wajah Nyonya mudanya yang tampak menggemaskan. "Suami Nyonya" jawabnya singkat.
Laura menempelkan ponsel itu di telinganya. "Halo? Sabiel?" ucapnya
"Berhenti memanggil suamimu dengan nama, sayang" nada suara ketus menyambut pendengaran Laura.
Laura tersenyum lembut, "Maaf sayang" ucap Laura mendayu.
Bibir Sabiel melengkung lebar diseberang sana. "Apa kau baik-baik saja?" Sabiel teringat tayangan cctv tadi.
"Ya. Aku baik-baik saja" jawabnya, "Ada apa sayang?" Laura mendengar kecemasan dari nada suara suaminya.
"Aku melihat cctv di tangga, apa yang dilakukan Intan padamu?" tanyanya penasaran.
Laura tampak malas untuk membahas masalah itu, dia melanjutkan langkahnya ketika melihat Tomi sudah membukakan pintu mobil untuknya. "Biasalah, pertengkaran dua istri" jawabnya malas. Laura masuk kedalam mobil setelah mengatakan terima kasih pada Tomi dengan isyarat.
"Kau di dorong oleh wanita itu, sayang?" tanya Sabiel yang sebenarnya pernyataan.
"Iya. Tapi tidak apa-apa. Aku baik-baik saja" ucap Laura menenangkan.
"Berjanjilah kau tidak akan terpancing oleh kata-katanya" pinta Sabiel gelisah.
Laura memutar bola matanya, "Aku sudah berjanji semalam, sayang" ucapnya mengingatkan.
"Aku ingin kau berjanji lagi. Aku benar-benar tidak tenang ada Intan disana" Sabiel memijit pelipisnya. Kepalanya terasa sakit memikirkan cara menyingkirkan Intan dalam hidupnya.
"Apa kita pindah saja sayang. Kita bisa pindah ke apartemenku yang lain. Meskipun tidak seluas apartement itu, tapi akan terasa luas jika tak ada Intan didalamnya, bukan?!" usul Sabiel.
__ADS_1
"Tidak. Aku tidak mau" jawab Laura tegas.
"Kenapa?" tanya Sabiel kecewa.
"Kemana pun kita pindah, istri sah-mu...."
"Sayaaang" Sabiel menggeram mendengar panggilan itu lagi.
Laura terkekeh, "Maaf aku lupa" ucapnya menyadari kekesalan suaminya. "Kemana pun kita pindah, dia pasti akan mengganggu kita, sayang. Karena memang itu niatnya" Laura melanjutkan ucapannya.
Sabiel membuang nafasnya yang terasa berat, "Sepertinya aku harus berbaikan dengannya. Agar dia segera kembali ke Singapura secepatnya" putus Sabiel dengan berat hati.
Laura diam mendengarkan. Dia teringat cerita Sabiel semalam mengenai rencananya bersama Tomi.
"Sayang?"
Panggilan Sabiel menyadarkan Laura dari lamunannya. "Ya?"
"Kau jangan berpikir macam-macam, oke?! Jangan cemburu jika aku terlihat sedang berdua atau bersikap baik pada Intan" Sabiel mewanti-wanti Laura kembali.
"Baiklah, lakukan apa yang terbaik menurutmu" ucap Laura pada akhirnya. "Sayang, sore ini aku akan pulang terlambat"
"Ada apa?" tanya Sabiel langsung.
"Aku ingin membeli beberapa bibit tamanan untuk taman belakang"
"Baiklah, nanti aku akan antar. Kita pulang bersama dan makan diluar. Oke?" ucap Sabiel tak menerima bantahan.
"Oke" sahut Laura sebelum mengakhiri panggilannya.
Dia mengembalikan ponsel itu pada Tomi yang langsung mengambilnya. Matanya kembali melihat jalanan menuju kampus.
🍁🍁🍁
Sore menjelang dengan pendar jingga keemasan di langit. Angin berhembus membelai surai rambut Laura yang tergerai indah. Pandangan matanya tampak tak sabar menunggu mobil Sabiel untuk menghampirinya. Ini sudah hampir tiga puluh menit berlalu, namun lelaki itu tak juga nampak.
Laura memandang ponselnya dengan kesal, beberapa kali dihubungi, panggilannya tak juga mendapat jawaban dari Sabiel.
Tak berapa jauh dari posisinya, Sabiel melihat Laura yang sedang menunggunya di tempat parkir itu dari balik kaca mobilnya. Lelaki itu melambatkan laju kendaraannya dengan sorot mata lekat menatap Laura dari kejauhan.
"Sayang, ada apa?" ucap Intan yang duduk manis di sebelahnya. Wanita itu mengikuti arah pandangan suaminya. Dan seringaian langsung muncul ketika melihat Laura duduk sendiri di kursi bawah pohon besar.
Dengan sekali lihat saja, Intan tahu bahwa wanita itu pasti sedang menunggu Sabiel. Tiba-tiba benak liciknya kembali bekerja.
"Itu Laura, sayang?!" tanya Intan pura-pura kaget. "Dia menunggu apa disitu?" tanya kembali.
Sabiel terus menjalankan mobilnya tanpa menghiraukan pertanyaan Intan. Lelaki itu dengan ragu menghentikan mobilnya tepat di depan Laura. Kaca mobil yang tidak tembus pandang membuat Laura tidak mengetahui keberadaan Intan di dalamnya. Sabiel membuka pintu, lelaki itu turun dari mobil dan langsung disambut Laura yang berdiri memandangnya kesal.
"Kau terlalu lama" keluhnya seraya menghampiri Sabiel.
Sabiel tampak tak tega melihat wajah Laura yang lelah menantinya. "Sayang" ucap Sabiel ragu.
"Ada apa? Ayo berangkat. Aku lelah menunggumu" ucapnya tak menghiraukan raut wajah kaku suaminya.
Ketika Laura hendak melangkah menuju pintu kursi penumpang, tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam. Laura terdiam di tempat, sorot matanya berubah dingin ketika Intan tersenyum lebar keluar dari dalam mobil.
"Hai Laura, tadi aku menjemput Sabiel di kantornya. Kami ingin pergi makan malam. Apa kau mau ikut?" ucapnya dengan nada suara dibuat-buat.
Laura menoleh pada Sabiel, sorot matanya terlihat jelas sedang menyimpan emosi. "Kenapa tidak sejak tadi kau katakan kalau kau bersama dengannya?"
"Aku tidak sempat, sayang. Maafkan aku" ucap Sabiel penuh sesal.
Tak berapa lama, mobil Tomi datang mendekat. Lelaki itu menghentikan mobilnya di belakang mobil Sabiel.
Mata semua orang tertuju pada lelaki yang baru saja keluar dari dalam mobil. Dia berdiri tegap menatap ketiga majikannya.
"Tadi aku menghubunginya, dia akan mengantarmu" tutur Sabiel.
"Kenapa tidak ikut dengan kita saja, sayang" Intan memainkan perannya sebagai istri baik yang mempersilahkan madunya untuk ikut pulang bersama. Wanita itu tersenyum menatap Sabiel yang tampak menggeram menatapnya tajam.
__ADS_1
Tiga puluh menit Laura menunggu. Bokongnya sudah terasa panas karena duduk sejak tadi dengan gelisah. Laura kesal karena Sabiel tidak memberitahunya sejak tadi. Wanita itu merasa waktunya terbuang sia-sia.
Laura menatap Sabiel malas, kekesalan tidak bisa ia tutupi. Sementara Sabiel, sudah sejak tadi menahan diri untuk tidak memeluk erat istri mudanya itu. Dia merasa sangat bersalah membuat Laura menunggu dan berakhir penuh kecewa. Kedatangan Intan yang tanpa diduga, membuatnya harus berdebat panjang dulu dengan wanita itu, sebelum akhirnya ia terpaksa untuk mengalah ketika rencana berbaikan dengan Intan, mengingatkannya seperti bunyi alarm.
Laura melangkahkan kakinya menghampiri Tomi tanpa berucap apapun pada Sabiel. Wanita itu menghela napasnya dan berusaha menguatkan diri dihadapan Intan yang terus memandanginya dengan senyum kemenangan. Sabiel terpaku pada raut wajah sendu Laura, lelaki itu bahkan tak mengalihkan pandangannya sampai mobil Tomi berjalan meninggalkan tempat parkir membawa Laura pergi.
"Sayang, mau sampai kapan kau disana? Ayo pergi"
Ucapan Intan membuat dadanya sesak. Dengan tampang malas, Sabiel membalikkan badannya, berjalan memasuk mobil dan langsung menjalankannya tanpa kata.
🍁🍁🍁
Drrrt... Drttt... Drrtt...
Ponsel Laura bergetar nada pesan masuk.
Jemarinya bergerak untuk membuka pesan itu.
From. Sabiel
Kau marah sayang?
Isi pesan itu membuat Laura malas untuk membalasnya. Dia memasukkan kembali ponselnya. Dan matanya kembali beralih melihat jejeran tanaman yang terlihat menyejukkan hati dan pikirannya. Tomi berdiri dibelakangnya.
"Jadi mau ambil yang mana neng?" tanya penjual bunga sopan.
"Yang ini, ini, ini ditambah itu pak" Laura menunjuk beberapa pohon buah-buahan yang ditanam di media drum kecil.
Drrt... Drrt... Drrrttt... Laura menoleh pada Tomi ketika mendengar bunyi ponsel Tomi berdering nyaring. Matanya langsung menatap tajam lelaki itu. Membuat Tomi sedikit terkesiap ketika hendak mengangkat panggilan Sabiel.
"Halo Tuan?" sapanya
"Beri ponselmu pada Laura, cepat!" perintah Sabiel buru-buru.
Laura menggelengkan kepala ketika Tomi menyodorkan ponsel di hadapannya.
"Katakan aku sedang sibuk" bisik Laura pelan.
Dengan ragu Tomi menyampaikan apa yang Laura katakan. Tak berapa lama panggilan itu mati. Tomi memasukkan lagi ponselnya ke dalam saku, Laura mengawasinya.
"Jika dia menghubungimu lagi, katakan seperti tadi" pintanya sembari memperhatikan penjual tanaman yang mulai sibuk menyiapkan tanamannya. "Biar dia tahu bagaimana rasanya menunggu" gumamnya lirih.
Tomi mengangguk sembari tersenyum tipis, mendengar gumaman bernada kesal yang dilontarkan Nyonya mudanya. Tak berselang lama, ponselnya bergetar. Satu pesan masuk dari Tuannya.
From. Tuan Sabiel
Kirimkan aku foto Laura.
Tomi membaca pesan itu sambil melirik pada majikannya yang tengah sibuk memilih tanaman lainnya. Wajah kesal tadi berangsur hilang ketika wanita itu terlibat pembicaraan dengan penjual tanaman. Sayup terdengar, penjual itu sedang memberi tips pada nyonyanya tentang bagaimana bercocok tanam sayuran. Tomi melihat, tangan Laura menggenggam beberapa plastik kecil berisi beberapa bibit sayuran.
Melihat majikannya tengah tenggelam dalam pembicaraan itu, Tomi langsung memotretnya beberapa kali dengan sembunyi-sembunyi. Lelaki itu langsung mengirim hasil jepretan itu pada Tuannya.
Di tempat yang berbeda, Sabiel menatap foto kiriman Tomi sambil tersenyum. Rona wajah Laura yang tampak senang menular ke dalam hatinya. Beberapa foto menampilkan senyuman indah Laura ketika wanita itu sedang berbicara dengan seorang penjual.
"Dasar. Aku sudah mengingatkanmu untuk tidak marah jika aku berdua dengan Intan. Tapi apa itu tadi? Kau pergi bahkan tanpa memberi senyuman padaku" gumam Sabiel dalam hati. "Bersiaplah nanti malam, aku akan menghukummu sayang" matanya berbinar senang menatap foto-foto itu.
"Apa yang kau lihat?"
Pertanyaan Intan mengalihkannya dari foto Laura. Sabiel menoleh pada Intan yang berjalan mendekatinya di meja. Wanita itu baru keluar dari toilet setelah beberapa saat membuat Sabiel duduk sendiri di dalam restoran.
"Tidak ada. Ayo makan, aku lelah. Ingin segera pulang" ucapnya sembari meletakkan kembali ponselnya di meja dan mulai memakan hidangan yang sejak tadi sudah tersaji.
Tanpa curiga, Intan duduk sambil tersenyum senang. Hatinya menjadi berbunga karena rencana makan berdua dengan suaminya berhasil ia lakukan.
"Sayang, nanti malam kau tidur denganku ya?"
"Uhuk!" Sabiel langsung tersedak mendengar ucapan Intan. Dia menepuk-nepuk dadanya perlahan. Sementara Intan menyodorkan gelas berisi minuman padanya. Sabiel menerimanya dengan mata berair menatap Intan yang terlihat cemas.
"Apa maksudmu?!!" tanyanya curiga.
__ADS_1
🍁🍁🍁