
Singapura,
Wanita cantik dengan rambut tergerai indah duduk manis di sebuah restoran Singapura. Matanya tampak cemas melihat sekeliling restoran mewah itu, mencari seseorang yang sudah berjanji temu dengannya.
Wanita itu terlihat mengeluarkan sebuah cermin kecil dari dalam tasnya, dia memeriksa kembali riasan wajahnya yang sudah rapi.
Tak berselang lama, senyumnya terbit ketika melihat seseorang yang dinanti telah terlihat berjalan menghampiri meja makan nya. Lelaki berusia akhir 40 tahunan itu, terlihat gagah dengan setelan jas abu-abu yang menekat di tubuhnya. Perutnya sedikit terlihat buncit namun itu tidak mengurangi kegagahannya dalam melangkahkan kaki.
"Dato' Faisal.." sapa wanita itu sopan sembari berdiri.
"Aduh maafkan aku Intan, maaf aku membuatmu menunggu lama." ucap lelaki yang dipanggil Dato' itu seraya menggeser kursi untuk ia duduki. Matanya memandang dengan tak enak hati pada pegawai baru di perusahaannya.
"Tidak apa-apa Dato'." Intan kembali duduk setelah melihat Dato' Faisal duduk.
"Kau sudah memesan?" tanyanya kemudian.
"Belum Dato', saya menunggu anda." Intan berseri senang melihat orang dengan jabatan tertinggi di perusahaannya berada tepat di hadapannya.
"Kita sedang diluar, lagi pula kita cuma berdua saja. Tak perlulah kau bersikap formal seperti itu." ucap Dato' Faisal dengan bahasa melayu yang kental.
"Tapi kedudukan anda mengharuskan saya untuk bersikap sangat sangat formal." Intan menekankan ucapannya. Ia tersenyum manis menatap lelaki paruh baya dihadapannya.
Sejak awal kehadirannya di perusahaan itu, Intan sudah mendapat apresiasi yang baik dari para pimpinan. Mereka menyukai hasil kerja Intan yang terbilang sangat bagus. Sampai ketika Intan melakukan persentasi atas design nya untuk kesekian kalinya, ia mendapat undangan tak terduga dari Direktur Utama perusahaan yang tak lain adalah Dato' Faisal.
Tentu saja ini adalah kesempatan baik untuknya, orang nomor satu di perusahaannya mengundang dirinya untuk makan malam berdua disebuah restoran mewah. Bawahan mana yang tidak tergoda mendapat tawaran menggiurkan seperti itu?Siapa yang tahu, bermula dari makan malam ini, Intan akan mendapatkan banyak kemudahan untuk menunjang karirnya.
Dalam hati, Intan tak sabar menanti saat-saat dirinya mencapai puncak karir yang gemilang.
Dato' Faisal mengangkat tangannya pada seorang waiter yang berdiri di dekat bufet dengan buket bunga indah di atasnya.
"Steak Sirloin dua dan wine." Dato' Faisal menyebutkan makanan yang hendak dipesan.
Setelah mencatat pesanan, waiter itu kembali menuju dapur sambil membungkuk kan badan sopan pada Dato' Faisal.
"Aku senang dengan hasil kerja yang kau buat." puji Dato' Faisal sembari menatap lembut wanita cantik yang tersipu malu dihadapannya.
Matanya menatap bergairah memandang keseluruhan pakaian sedikit sexy yang melekat erat ditubuh sintal Intan, dia menyeringai ketika menyadari bahwa Intan memperhatikan apa yang sedang menarik perhatiannya.
"Ehem.." Intan berdehem untuk menetralkan kegugupannya.
Dia merasa beruntung mendapat perhatian dari orang berpengaruh ini. Siapa yang tidak kenal dengan Dato' Faisal?. Pengusaha kaya raya asal Malaysia yang bermukim di Singapura. Memiliki beberapa perusahan besar di bidang textile dan pangan, menjadikan Dato' Faisal salah satu pengusaha yang disegani oleh banyak orang. Belum lagi gelar kehormatan yang melekat di namanya, menunjukan status sosial kelas atas yang dia dapatkan berkat darah bangsawan yang mengalir dalam nadinya.
Hari itu menjadi hari bersejarah bagi Intan. Bisa berbincang berdua dengan Dato' Faisal, menjadi kebanggaan tersendiri untuknya.
Saat itu mereka menikmati makanan dengan perbincangan yang mengalir begitu saja, dari perbincangan seputar pekerjaan sampai mengarah pada kehidupan pribadi mereka sendiri. Tak terkecuali perihal kehidupan sex yang mereka rasakan dari pasangan mereka. Dato' Faisal menceritakan dengan tak tahu malu urusan ranjangnya yang tak mampu dipenuhi secara maksimal oleh istrinya yang sudah mulai memasuki usia menopause. Intan yang mendengar, terkekeh geli membayangkan rasa frustasi Dato' Faisal ketika bercinta dengan istrinya itu.
"Beliau istrimu Dato', tak pantas menertawakan ketidakmampuannya melayani hasrat Dato'. ucap Intan disela kekehannya.
Intan tersenyum menggoda ketika mata lelaki paruh baya itu terlihat terus memperhatikan gerak bibirnya ketika berucap. Intan tahu, Dato' Faisal menginginkan hal yang lebih dari sekedar makan malam berdua seperti saat ini.
Hal itu lebih dipertegas dengan belaian lembut tangan Dato' Faisal pada jemari tangan Intan yang sejak tadi berada di atas meja. Intan sudah terlampau dewasa untuk merasa terkejut dan berpura-pura polos dengan maksud tersirat lebaian itu. Dia tersenyum manis mengerling menggoda ketika hendak memasukan potongan terakhir steak kedalam mulutnya dengan gerakan yang penuh dengan muatan sensual, secara sengaja ia menyapu bersih saus yang tercecer disudut bibir dengan lidahnya yang menjilati permukaan bibirnya yang merekah.
__ADS_1
Dato' Faisal menelan ludahnya pelan, dia merasa mendapat undangan untuk melakukan hal yang lebih intim bersama pegawai barunya itu.
Dato' Faisal meminum wine yang ada di hadapannya perlahan, tanpa memutus pandangannya pada Intan yang tersenyum mesra.
"Apakah aku harus memesan hotel setelah acara makan kita kali ini?" Dato' Faisal tidak menutupi gairahnya lagi dihadapan Intan.
Intan tersenyum penuh kemenangan, dia tahu akan kearah mana makan malam ini berakhir.
"Hanya jika anda memiliki banyak waktu, Dato'." ucapnya penuh isyarat.
🍁🍁🍁
"Apa maksudmu Sabiel?" tanya Laura heran dengan pertanyaan tiba-tiba dari Sabiel.
"Bagaimana aku dimatamu, Laura?" lelaki itu mengulangi pertanyaannya.
Laura tampak berpikir, dia melirik pada atap mobil sambil bergumam lirih mengira-ngira apa yang akan ia ucapkan sebagai jawaban atas pertanyaan Sabiel.
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan itu?" Laura mendelik curiga.
Sabiel yang melihat mata Laura memicing ke arahnya terkekeh karna gemas dengan mimik muka yang ditunjukkan Laura padanya.
"Aku hanya ingin tahu. Bukankah kau tinggal menjawabnya saja Laura?!" Sabiel tak sabaran dibuatnya.
"Hmm.. Kau baik, pintar, tampan, sedikit tertutup, dan hmmm... Apa lagi ya?" Laura berpikir keras. Dia tak memperhatikan Sabiel yang tersenyum senang mendengar ucapannya.
"Mungkin sedikit angkuh." lanjut Laura setelah menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan sikap dingin Sabiel di awal perkenalannya sebagai dosen itu.
"Hey, Orang angkuh mana yang sadar jika dirinya angkuh?!" tanya Laura setengah mendengus.
"Aku tidak angkuh, tapi cool." ucap Sabiel dengan pongahnya.
"Cih," Laura berdecih meledek.
Pletak.
Sabiel menyentil kening Laura dengan tangan kirinya. Sementara tangan kanan memegang erat kemudi mobil.
"Berani kau berdecih, huh?!" Sabiel memelototi Laura yang mengaduh sambil mengusap keningnya. Laura tiba-tiba mendongahkan kepala menatap Sabiel penuh tantangan.
"Cih cih cih cih... " Laura berdecih terus menerus sembari memajukan tubuhnya ke arah Sabiel. Sontak Sabiel membelalakan matanya menatap gemas pada gadis cantik disampingnya. Dia berusaha keras menahan seringai lebar yang ingin keluar dari dua sudut bibirnya.
Tanpa pikir panjang, Sabiel merangkul leher Laura hingga menempel pada dada atasnya. Tangan kirinya bergerak untuk membungkam mulut Laura yang terus berdecih penuh ejekan. Sedangkan matanya menatap bergantian pada jalanan dan Laura yang ia benamkan dalam dekapnya. Laura mencoba meronta dengan memukul pelan punggung atas Sabiel yang mampu digapainya. Sementara Sabiel, semakin mengeratkan kepala Laura pada dadanya. Sabiel tersenyum menyadari betapa dekat jarak dirinya dengan Laura. Bahkan ia bisa mencium samar aroma wangi yang berasal dari rambut gadis itu.
Laura yang tak kehabisan akal merubah strateginya ketika Sabiel terus membungkam mulutnya. Tanpa Sabiel duga, Laura menjulurkan lidahnya hingga menyentuh telapak tangan Sabiel yang membungkam mulutnya. Dia bubuhi telapak tangan itu dengan saliva yang langsung terasa oleh Sabiel. Mata lelaki itu membulat sempurna seraya melepaskan bungkaman mulut dan rangkulan tangannya dari tubuh Laura. Laura langsung bergerak mundur sambil menjulurkan lidah pada Sabiel.
"Jorok!!" pekik Sabiel ketika ia melihat telapak tangannya basah oleh saliva Laura.
"Rasakan!" Laura terkekeh senang melihat tatapan jijik dari Sabiel.
__ADS_1
Sabiel tak menyangka gadis cantik itu ternyata masih memiliki sikap kekanakkan. Pertempurannya tadi dengan Laura menyisakan getar hangat yang merambat naik dalam hatinya. Perasaan sayang yang memenuhi seluruh rongga di dadanya, hingga ia merasa begitu bahagia hanya dengan bercanda tawa dengan gadis itu. Sabiel merasa senang dengan kehadiran Laura disisinya. Dan yang lebih penting, pertempuran tadi berhasil mengalihkan pertanyaan Laura akan Intan, istrinya.
Perjalanan panjang menuju Bandung adalah saat yang tepat bagi Sabiel untuk terus berdua selama berjam-jam di dalam mobil dengan gadis yang telah berhasil mencuri hatinya. Mengobrol dengan Laura membuat Sabiel menemukan kembali kegembiraan dalam hatinya yang lama mati rasa. Mereka berdua terlihat nyaman satu sama lain untuk saling bercerita. Meskipun dalam hal ini Laura lah yang lebih banyak menjadi pencerita.
Setiap kali Laura membuka cerita baru, Sabiel selalu terlihat antusias. Dia senang ketika Laura bisa menceritakan banyak hal padanya. Namun kesenangannya akan sirna tiba-tiba ketika cerita Laura berputar kembali pada Bimasakti. Pada saat seperti itu Sabiel mengingatkan dirinya sendiri, untuk segera mengalihkan perhatian Laura dari lelaki asing itu kepadanya. Tidak ada cerita tentang lelaki lain ketika ia bersama dengan gadis cantiknya.
Mobil yang dikendarai Sabiel berhenti tepat di depan gerbang kampus. Mereka sampai pada saat hari bersiap menunjukkan keindahan senja di langit yang jingga. Langit Bandung kala itu bertolak belakang dengan Jakarta. Tidak ada rintik hujan yang turun, tidak ada awan mendung yang menggelayut manja di cerahnya langit.
Sabiel menengok pada Laura yang masih tertidur di kursi sebelahnya. Ternyata bercerita adalah cara terampuh untuk menstimulus otak secara perlahan agar tenggelam dalam bunga tidur. Itulah alasannya mengapa banyak orang yang selalu menginginkan dongeng sebelum tidur.
Setelah mematikan mobilnya, Sabiel mengalihkan perhatiannya untuk memandangi wajah Laura yang sedang terlelap. Tatapannya berubah lembut ketika matanya menyusuri lekuk garis wajah gadis itu. Mata bulat itu terpejam. Bulu mata lentiknya tampak indah, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa iri. Mata Sabiel terus menyusuri bagian per bagian dari paras itu. Matanya memandang lamat-lamat pada area bibir mungil yang sedikit terbuka.
Sabiel tersenyum malu, ketika benaknya langsung saja membayangkan bagaimana rasanya mencecap kelembutan bibir Laura disana. Sesuatu yang pasti akan membuatnya ketagihan untuk terus mengulang dan mengulangnya lagi.
Mata Sabiel tampak awas, ketika bola mata yang terkatup rapat mulai bergerak ke kiri dan kanan, seperti sedang bersiap untuk kembali terbuka. Dan ya!. Tepat saat mata gadis itu terbuka, Sabiel segera mengalihkan pandangannya pada arah depan mobilnya. Dia berdehem untuk menetralkan rasa grogi yang mendadak hadir karna rasa takut tertangkap basah oleh Laura.
"Sudah sampai." ucap Laura sambil merenggangkan tubuhnya.
"Ya, kita sudah sampai." Sabiel melirik singkat pada gadis yang sedang merapikan penampilannya itu. "Tidurmu berisik sekali, Laura. Kau mendengkur." ucap Sabiel jahil.
"Apa? Aku tidak mendengkur." bantah Laura sembari mengangkat bahunya tak terima.
"Kau mendengkur sampai membuatku hampir kehilangan fokus menyetir." tambah Sabiel semakin jahil.
"Kau berbohong." selidik Laura.
"Mana ada orang mendengkur yang sadar kalo dirinya mendengkur." Sabiel mengikuti cara bicara Laura saat gadis itu mengatainya angkuh.
"Ish!" dengus Laura sebal. " Kau ingin merasakan serangan dariku lagi?" Laura melipat tangannya di depan dada, melihat Sabiel dengan sorot mata menantang.
Sabiel menyeringai melihat sikap menggemaskan yang sering tanpa sadar Laura tunjukkan padanya.
"Tunggu sampai aku memiliki cara menangkis seranganmu, gadis serbuk sari." Sabiel mengingatkan Laura pada cerita bibinya kemarin.
"Hey! Kau.." Laura memicingkan matanya.
Sabiel tergelak tak bisa menahan tawa lagi, ekspresi wajah Laura yang sedang menahan rasa marah dan malu secara bersamaan membuatnya merasa senang karna berhasil memancing sisi kekanakan dari gadis itu.
Melihat Sabiel yang tertawa puas membuat Laura mendengus sebal sambil melemparkan kotak tisu yang berada di dasboard mobil. Untung saja Sabiel sigap menangkap lemparan Laura, jika tidak dapat di pastikan lemparan itu akan tepat mengenai tubuhnya.
"Sudah ah, aku akan kembali ke asrama. Terima kasih sudah memberi tumpangan." ucap Laura setengah menahan jengkel karna melihat Sabiel yang masih menyeringai penuh ejekan pada dirinya.
"Lain kali tumpanganku tidak akan gratis." ucap Sabiel pada Laura yang sudah berdiri di depan pintu.
Laura yang mendengar ucapan Sabiel, membuka kembali pintu mobil itu. Dia menatap jengah pada Dosen Muda yang entah sejak kapan begitu senang menggodanya.
"Kau menyebalkan!" ucapnya sebelum menghentakkan kaki berbalik arah meninggalkan Sabiel yang kembali terkekeh melihat kekesalannya.
🍁🍁🍁
...Hai, para kesayangan.. ...
__ADS_1
...Gimana ceritanya? semoga semakin menarik ya.. Author ingin ingatkan, jangan lupa sematkan like, vote dan koment kalian.. ...
...terima kasih banyak sudah membaca cerita receh ini. I love you, all 😍😍😍...