Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 51


__ADS_3

Pagi yang cerah terasa lebih indah kali ini. Hujan semalaman berhasil membawa pergi udara kotor dan menggantinya dengan udara yang lebih segar untuk dihirup. Dedaunan dan bunga-bunga ditaman terlihat lebih berseri, seolah mengucapkan rasa syukur pada Sang Pencipta atas hujan semalam yang menjadi rahmat bagi sekalian makhluk.


Di dapur sebuah apartement mewah itu, tiga orang wanita sibuk bersitegang. Dua diantara mereka dengan raut wajah sungkannya menolak uluran tangan majikan muda yang ingin ikut menyiapkan menu sarapan.


Wanita itu sudah memakai appron, menatap kedua wanita tua yang berdiri dihadapannya.


"Biar aku saja yang memasak hari ini" ucapnya setelah sekian kali.


"Jangan Nyonya, nanti Tuan marah, lagipula memasak sudah menjadi tugas kami" ujar Mbok Yayu sembari merundukkan kepalanya.


"Aku akan tanggung jawab. Dia tidak akan marah" Laura membalikkan badannya pada kompor dengan segala lauk serta sayur mayur yang sebelumnya sudah dikeluarkan Mbok Suti dari kulkas.


Kedua pembantu itu saling bertatapan, cemas dengan apa yang akan Tuannya lakukan jika melihat Nyonya mereka memasak sendiri.


"Hari ini Mbok istirahat saja, aku ingin membuat makanan sendiri" ucap Laura santai.


"Tidak Nyonya, jangan seperti itu. Nanti kami yang kena marah" Mbok Suti mengambil pisau dan nampan berisi sayuran dari hadapan Laura.


Keributan pagi hari di dapur, membuat Sabiel terbangun dari tidurnya. Lelaki itu bergegas turun dari tempat tidur ketika menyadari istrinya sudah menghilang. Sabiel menuruni tangga perlahan, entah mengapa sejak semalam senyuman begitu sering terlihat dari bibirnya. Senyuman itu bahkan semakin merekah ketika suara Laura mulai terdengar jelas.


Sabiel langsung menengok ke arah dapur. Tanpa harus menunggu penjelasan apapun, lelaki itu tahu apa yang sedang terjadi disana. Laura, istri mudanya itu pasti ingin memasak, dan kedua pembantunya disana sedang berusaha mencegahnya.


Sabiel tak bisa berhenti merasakan letupan kebahagiaan, sikap Laura mulai membuatnya semakin hangat.


Ditengah perdebatan itu, kedua pembantu Sabiel terkesiap ketika ekor mata mereka melihat kehadiran Tuannya yang sedang berjalan menghampiri mereka di dapur. Laura yang membelakangi Sabiel, menolehkan kepalanya mengikuti arah pandang kedua pembantu itu.


"Saya sudah melarang Nyonya memasak Tuan" suara Mbok Yayu terdengar bergetar.


"Nyonya ingin membuat sarapan sendiri" suara Mbok Suti tak jauh beda dengan temannya.


Laura memperhatikan kedua pembantu yang tertunduk lesu. "Aku..aku yang memaksa ingin memasak sendiri" ucapnya membela kedua pembantu itu.


Sabiel tersenyum. Dia menghentikan langkahnya ketika sudah berada dalam jarak serentangan tangan di hadapan ketiga wanita itu. "Mulai hari ini, biarkan istriku melakukan apapun yang ia inginkan" ucap lelaki itu pada kedua pembantu di hadapannya. "Kecuali jika dia ingin pergi, kalian harus melaporkan itu kepadaku" mata Sabiel melirik wajah Laura yang tertunduk sembari menggigit bibir bawahnya.


"Baik Tuan" sahut Mbok Yayu dan Mbok Suti bersamaan.


"Sekarang kalian boleh pergi. Hari ini dapur akan diambil alih sementara oleh istriku"


Setelah mendengar Tuannya, kedua wanita paruh baya itu kembali ke area belakang apartemen. Mereka memilih menyibukkan diri membersihkan pekarangan belakang dan membiarkan kedua majikannya menikmati sarapan pagi buatan mereka sendiri.


Laura sendiri langsung kembali melanjutkan acara masaknya. Hari ini ia akan memasak nasi goreng sayur dan omelete sederhana.


"Kau sedang memasak apa, sayang?" Sabiel bertanya sembari menengok sayuran yang Laura potong dari balik bahu Laura.


"Sarapan" ucap Laura singkat. "Nasi goreng dan omelete. Kau suka? Apa ada makanan yang ingin kau makan selain itu pagi ini? aku akan buatkan" ucap Laura sambil terus menyiapkan sayuran dan beberapa butir telur.


"Aku akan makan apapun yang istriku buatkan" ujar Sabiel seraya mengecup puncak kepala Laura. "Aku akan membantumu memasak" sambungnya.


Laura menengokkan kepalanya cepat begitu mendengar ucapan Sabiel barusan, ia melihat suaminya itu sedang berjalan mengambil appron yang tergantung di tembok dekat saklar lampu.


"Kenapa?" tanya Sabiel melihat raut wajah Laura yang tampak keheranan.

__ADS_1


"Kau bisa memasak?" raut wajah polos Laura membuat Sabiel merasa gemas dan mengecup ujung hidungnya.


"Kau manis sekali" ucap Sabiel sembari mengambil posisi dibelakang Laura. "Aku tidak bisa memasak, jadi kau harus mengajariku" ucapnya kemudian.



🍁🍁🍁


Pagi hari yang cerah di apartement pasteur, tak sama dengan pagi yang muram di kediaman Sabiel yang lain.


Intan duduk di kursi meja riasnya. Matanya tajam menatap bayangan dirinya dari pantulan cermin, memikirkan keberadaan Sabiel yang hingga hari ini belum ia ketahui. Lelaki itu dengan tega mematikan ponselnya. Hingga Intan tak dapat menghubunginya.


Bibir yang sering tersenyum menggoda itu kini terkatup rapat, rahangnya yang tirus mengetat akibat kuatnya ia mengeratkan gerahamnya. Intan sedang menahan amarahnya.


"Beraninya dia mengabaikanku! Dia pasti sedang bersama wanita iblis itu sekarang. Kurang ajar! Kau bermain-main denganku Sabiel. Kau pikir kau bisa menyingkirkanku begitu saja?! Aku akan cari tahu wanita sundalmu itu. Akan aku hancurkan dia, hingga kau tak lagi mempunyai pilihan selain kembali padaku" Intan bergumam sembari menatap tajam bayangannya. Wanita itu menyunggingkan senyuman licik, membayangkan kehancuran wanita yang telah merebut Sabiel darinya.


Intan berdiri dari duduknya, wanita itu berjalan santai menghampiri jendela kamar yang terbuka. Menghirup dalam-dalam udara pagi yang terasa sesak olehnya, sebelum kemudian menempelkan ponsel yang ia genggam pada telinganya.


"Halo? Kau dimana? Aku butuh bantuanmu" ucapnya pada seseorang diseberang sana.


"Siap Nyonya! Bantuan apa yang bisa saya lakukan?" sahut seseorang disana.


"Temukan suamiku dimana pun ia berada, laporkan padaku segera" perintah Intan pada orang suruhannya. "Dan satu lagi, kau mulai pencarian itu di tempatnya mengajar, aku curiga ada sesuatu disana" Intan memicingkan mata mengingat wanita yang bersama Sabiel di dalam kelas.


"Baik Nyonya. Saya laksanakan!" ucap suruhan tersebut sebelum mengakhiri panggilannya.


Intan memandang jauh suasana ramai di balik jendela itu, kedua tangannya bersilang di depan dada dengan angkuh. Keberanian Sabiel menikah siri, memaksa Intan untuk membuka topeng sifat aslinya yang licik dan pendendam. Hatinya terbakar oleh amarah. Dia tidak akan pernah sudi, membiarkan wanita lain merebut posisinya.


🍁🍁🍁


Bimasakti bangun dengan rasa sakit dan kaku disekujur tubuhnya. Luka yang diberikan Sabiel terasa semakin menyakitkan setelah semalam ia biarkan begitu saja tanpa diobati.


Bimasakti menatap langit penginapan murah yang ia sewa, pandangannya datar menatap plafon bernoda bekas rembesan air disana. Hari ini, ia berencana untuk kembali ke Jakarta. Tak ada lagi yang ia bisa lakukan disini. Laura telah menikah, wanita itu meninggalkannya dengan perasaan yang ia bangun megah dalam hati Bimasakti.


Wajah lelaki itu begitu lesu, seolah sinar kehidupan redup dalam jiwanya. Ia tak ingin merasakan sakit lebih parah lagi, jika ia berlama-lama tinggal di kota ini. Pengkhianatan Laura, membuatnya merasa tak sudi jika harus berbagi udara ditempat yang sama dengan wanita itu.


Luka yang dalam terus menguasai bathinnya. Membuatnya ingin berteriak kencang, menumpahkan kekesalan di dadanya. Bimasakti mengusap wajahnya kasar, lelaki itu bangkit dari posisinya. Menatap tas ransel yang ia taruh asal di kaki tempat tidur. Ia mengambil tas itu.


Matanya langsung mendapati notebook didalam sana. Ia mengeluarkannya perlahan.


Dengan bantuan hotspot sadapan, lelaki itu membuka laman blog Laura.


Matanya mulai berkaca ketika melihat betapa dulu kenangan berbalas prosanya masih setia berada disana. Ungkapan rindu yang malu-malu, janji untuk bertemu yang tak pernah surut, dan bermacam ungkapan lainnya, membuat hati lelaki itu merasa tersayat. Jika Laura hanya berniat mempermainkannya, maka dia telah berhasil. Dia mempermainkan perasaan Bimasakti dengan sangat sadis.


Bimasakti membuka akunnya. Ia terpaku pada kotak pesan, tempat dimana ia sering mengirimi wanita itu puisi-puisi picisan miliknya.


Satu kali lagi. Ya. Lelaki itu akan mengirimi Laura satu pesan terakhir. Sebelum ia benar-benar menghilang, dan melupakan wanita yang ia cintai itu, meskipun ia yakin akan sangat sulit.


Jemarinya mulai ia letakkan di permukaan keyboard, benaknya menjadi lebih fokus memikirkan apa yang akan ia ucapkan sebagai kata perpisahannya.


To. Laura.

__ADS_1


Sayang (maaf masih memanggilmu seperti itu), aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi kemarin. Dadaku berdebar kencang berharap apa yang aku dengar dari lelaki itu adalah omong kosong. Namun ketika aku melihatmu tertunduk dengan layu, aku tersadar bahwa apa yang ia katakan benar adanya.


Sayang.


Sayangku, aku tak menyangka pertemuan kita kali ini harus berakhir dengan sangat menyakitkan. Maksudku, menyakitkan bagi diriku yang sudah terlanjur menjadikanmu cintaku, gairah hidupku.


Berulang kali otakku yang bodoh ini berpikir, bagaimana bisa secepat itu kau menjadi milik lelaki lain? Tapi hingga tubuhku lelah, aku tak juga menemukan jawabannya selain kau telah mengkhianatiku mentah-mentah.


Lihatlah sayang, betapa jahatnya kau. Mempermainkan hati seorang lelaki yang menaruh harapan yang besar akan hubungan ini. Lihatlah hasil pengkhianatanmu ini, hatiku terasa perih seperti teriris. Aku terluka, disaat kau sedang berbahagia.


Aku merasa sedang berada ditengah lautan, dan kau adalah pusaran yang melenyapkanku dalam sekali hisapan.


Kau mencintainya?


Betapa naasnya nasibku, kekasih yang aku cintai ternyata mencintai lelaki lain.


Aku membencimu, Laura! Aku sungguh membencimu.


Aku akan pergi dari hidupmu, mendoakan kebahagiaanmu yang kau dapat dengan cara menyakitiku. Betapa bodohnya aku, menganggap kau adalah wanita yang pantas aku cintai. Semalaman aku merutuki kebodohanku itu, kebodohan yang membuatku tersesat pada cinta palsu yang kau perlihatkan.


Ku sampaikan padamu,


Hari ini adalah hari terakhir aku mengingatmu. Hari terakhir aku mengatakan cinta dan benci padamu. Hari terakhir aku menangisi kepergianmu. Dan hari terakhir aku terpuruk karenamu.


Esok dan dimasa yang akan datang. Aku janji, bahwa aku akan lebih bahagia daripada kau dan suamimu itu. Suatu saat nanti, kau akan menyesal karena mempermainkanku, Laura.


Dari hati yang kau patahkan.


Bimasakti mengakhir pesannya dengan hati dirundung duka. Hanya itu yang ingin ia ucapkan pada Laura, setidaknya Laura akan tahu bahwa dirinya bukanlah lelaki lemah yang akan merapati kepergian seorang wanita. Meskipun sesekali perasaan sakit menerjang ulu hatinya, tapi itu bukan berarti ia akan hanyut dan tenggelam dalam kubangan luka yang berkepanjangan.


Setelah mengirim pesan itu, Bimasakti merapikan semua barang miliknya. Kereta jurusan Jakarta beberapa jam lagi akan segera berangkat, ia tak ingin terlambat. Sudah sesak dadanya berdiam diri di kota penuh luka itu. Dia harus segera hijrah. Menyibukkan diri dengan pekerjaannya, membunuh setiap kenangan yang mencoba memerangkap dirinya.


Tubuh Laura bergetar dalam diam. Matanya berkabut membaca pesan yang sedang ia lihat dari inbox laman blognya. Dia menutup wajahnya dan mulai terisak. Suasana sepi kamarnya mendukung ia untuk menumpahkan semua perih yang kembali ia rasakan. Wanita itu mengingat kembali ucapan pak tua di dalam taksi. Bahwa apa yang menimpanya kini adalah jalan takdir yang harus ia lewati.


Bimasakti terluka. Lelaki itu membencinya, tanpa tahu apa yang sedang Laura alami. Laura dilanda perasaan bersalah yang pekat, kebencian Bimasakti harus bisa ia terima. Itu adalah bagian dari konsekuensi dari pilihan yang ia buat. Dia memejamkan matanya karena tak tahan dengan rasa pusing yang menyerang kepalanya.


"Sayaaang"


Sayup-sayup terdengar suara suaminya dari arah luar. Laura harus menghentikan isakan dan menajamkan pendengarnya untuk memastikan suara yang memanggilnya itu.


"Sayaaang, bisa kau kebawah sebentar?" Sabiel memanggil Laura dari tangga bawah. Kepalanya mendongah menatap lantai dua, menanti istrinya keluar dari kamar.


"Ya. Sebentar" sahut Laura sembari bergegas merapikan laptop dan wajahnya yang kusut masai.


Wanita itu menelan ludahnya, berusaha menetralkan kembali suaranya agar tak terdengar seperti orang yang baru menangis.


"Kau memang harus membenciku, Bimasakti. Bencilah aku. Dan cari kebahagiaanmu sendiri, karena aku tak mampu memberikannya untukmu" Laura membatin mengingat isi pesan kemarahan yang Bimasakti kirim untuknya.


Ia melangkahkan kakinya perlahan, melihat suaminya sedang berdiri sembari tersenyum lembut menatapnya yang berjalan menuruni tangga. Laura menaikkan alisnya penuh tanda tanya.


"Ada apa, sayang?" tanyanya pada Sabiel yang mengulurkan tangan untuknya.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2