
Di hari Laura terkapar, di ujung timur kota Jakarta Bimasakti menatap beberapa pasang mata yang duduk melingkar bersamanya di sebuah basecamp para buruh pabrik kain. Wajah-wajah itu terlihat keruh memikirkan polemik baru yang tengah mereka hadapi.
Seorang buruh pabrik yang ikut aksi turun ke jalan beberapa hari kemarin, menghilang entah kemana. Seorang kawan mengatakan ada beberapa lelaki kekar berpakaian hitam yang menarik buruh itu untuk ikut dengan mereka, menuju sebuah mobil yang bersembunyi di pagar batas aparat keamanan. Saksi mata itu juga melihat beberapa kali seorang lelaki kekar menghantam wajah peserta aksi sebelum akhirnya ia seretnya untuk masuk kedalam mobil dan pergi dari kerumanan massa.
Dahi Bimasakti berkerut memikirkan dalang dari aksi penculikan tersebut. Pemuda itu yakin bahwa penculikan yang dilakukan pasti berasal dari satu komando yang sama. Pihak perusahaan! Para kapitalis rakus yang enggan mendengar keluhan pada pekerjanya.
"Itu pasti antek-antek perusahaan" Laras yang sejak tadi mendengarkan akhirnya menyimpulkan dugaan kuatnya.
Empat orang lelaki berseragam buruh dihadapannya mengangguk setuju. "Sudah bisa kita tebak" salah seorang dari mereka menimpali.
"Apa yang harus kita lakukan?" seorang lelaki yang lebih muda bertanya dengan mimik wajah gelisah.
Laras dan Bimasakti saling berpandangan, "Jalur hukum. Kita laporkan dulu pada komisi HAM. Dari situ pasti mereka akan mengarahkan kita pada jalur hukum" Bimasakti menyampaikan usulan.
Keempat buruh yang cemas atas menghilangnya rekan kerja mereka saling menatap satu sama lain. Salah satu dari mereka memegang tangan Bimasakti dengan erat, "Apa akan baik-baik saja? Aku yakin antek-antek itu pasti langsung membekuk kami jika kami membuat laporan" ucapnya ketakutan.
Laras menatap penuh keyakinan, "Kita akan usahakan agar itu tidak akan terjadi. Kita minta perlindungan hukum atas saksi mata"
"Hukum bisa dibeli. Apa kalian lupa itu?" tanya seorang lelaki berambut ikal. "Mereka bisa dengan mudah melenyapkan siapapun yang mengganggu mereka" sambungnya.
"Kita tidak pernah mengganggu, kita hanya menagih hak kita sebagai pekerja. Kalian harus camkan itu!" gersah Bimasakti dengan tegas.
Kondisi buruh Jakarta pasca aksi turun ke jalan meninggalkan beberapa masalah yang harus mereka tangani. Ditengah kepadatan jadwal pekerjaan Bimasakti, lelaki itu masih sempat memikirkan Laura. Beberapa hari berlalu sejak ia mengirim pesan di laman blognya, namun hingga detik ini belum juga mendapat balasan.
Ada apa dengan wanita itu? Apa ia memang sudah tidak peduli lagi dengan rasa sakit yang masih membekas di hati Bimasakti? Padahal Bimasakti hanya ingin meminta penjelasan atas apa yang membuatnya bingung, apakah itu hal yang sulit untuk Laura lakukan?
Perasaan pemuda itu berkecambuk karena tak mendapat balasan dari mantan kekasihnya. Terbersit keinginan untuk mendatangi Laura langsung di Bandung, namun kondisi permasalahan buruh di Ibukota masih saja menahannya untuk melenggang pergi.
"Laura, kemana kau?!" gumam Bimasakti dalam hati, ditengah perdebatan alot para rekan kerjanya.
🍁🍁🍁
Intan terbelalak dengan apa yang ia pikirkan ketika melihat darah segar mengaliri bagian bawah Laura. Kepalan tangannya tak mampu membuat getaran tangan itu berhenti. Matanya berubah waspada, melihat sorot mata cemas Sabiel dan kedua pembantu yang sedang mengerumuni tubuh Laura membelakangi posisinya.
"Sayang! Bangun sayang!" Sabiel menggoyangkan bahu Laura. Sementara Intan melangkah mengendap-ngendap menuruni tangga.
"Mbok, panggil Tomi. Suruh dia menyusulku ke rumah sakit" perintah Sabiel pada Mbok Suti sembari mengangkat tubuh Laura perlahan. Dadanya merasa sakit ketika ia melihat darah mengalir dari area sensitif Laura. "Mbok Yayu, ikut denganku" sambungnya pada Mbok Yayu yang siap siaga.
Langkah kakinya setengah berlari menuju mobil di teras, Mbok Yayu mengikutinya dari belakang. Raut wajah cemas, khawatir, gelisah, tidak hilang dari wajah keduanya. Tiba-tiba langkah Sabiel berhenti seketika, ia langsung membalikkan tubuhnya dan menabrakan bola matanya dengan mata Intan yang ketakutan.
"Ini belum berakhir Intan. Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti. Kau ingat itu jalang!!!" bentak Sabiel melumpuhkan kaki Intan yang berdiri di tempat tubuh Laura terkapar.
Setelah mengatakan ancaman itu, Sabiel bergegas kembali membawa Laura ke dalam mobil. Ia meminta Mbok Yayu menopang kepala Laura di pangkuannya dan menjaga Laura di kursi belakang, sementara dirinya mengemudikan mobil.
Di detik deru mobil Sabiel terdengar, di detik itu pula Intan limbung dan menjatuhkan diri di lantai. Tubuhnya bergetar ketika ia mengingat dengan jelas ancaman yang keluar dari mulut Sabiel. Sorot mata hitam legam itu membuatnya bergidik ngeri.
Ia tak tahu bahwa Laura sedang hamil. Jarak tangga Laura berdiri cukup jauh dari lantai dasar. Tentu itu akan berdampak pada kehamilannya, terlebih lagi darah segar mengalir dari selangk*ngan Laura. Memikirkan hal itu membuat sorot mata Intan berpendar oleh rasa takut yang mulai memerangkapnya. Sabiel tidak akan melepaskannya begitu saja. Jika lelaki itu sampai kehilangan bayinya, entah hal mengerikan apa yang akan Intan dapatkan nanti.
Ditengah kegelisahannya, Intan langsung tersadar. Ia harus bergegas pergi dari tempat ini. Bukan! Ia harus pergi dari Indonesia. Ia tidak siap menerima pembalasan Sabiel padanya. Dengan gemetaran, Intan merogoh saku celananya. Tangannya menggenggam ponsel dan mulai menghubungi seseorang.
__ADS_1
"Pesankan aku tiket pesawat. Tujuan Singapura. Cepat!" seru Intan tergesa.
Jonny yang mendapat perintah tiba-tiba, hanya mampu menatap layar ponselnya yang telah mati sebelum akhirnya ia bergerak untuk melakukan perintah majikannya itu.
🍁🍁🍁
Derap langkah kaki Sabiel membuat beberapa pasang mata menatap heran padanya, lelaki itu terus saja mondar mandir di depan ruang pemeriksaan Laura sejak beberapa jam lalu. Nafasnya berhembus dengan gelisah, beberapa kali lelaki itu menyugar rambutnya dengan kasar. Wajah tampannya kusut dan dadanya terasa sesak menanti para tenaga medis mengobati istrinya.
Tubuh Laura terbaring lemah disana, wanita itu begitu pucat karena mengeluarkan banyak darah. Sabiel cemas akan kondisi istrinya. Ia juga khawatir akan kondisi janin Laura. Tomi yang berdiri bersandar pada tembok dekat posisi Tuannya disana, langsung menyentuh bahu Sabiel perlahan.
"Tuan tenangkan diri anda. Nyonya sedang ditangani oleh dokter terbaik" ucapnya menenangkan kegusaran Sabiel.
"Mana bisa aku tenang Tom! Laura dan bayiku dalam bahaya, bagaimana bisa kau memintaku untuk tenang?!" ucap Sabiel penuh emosi.
Tak berselang lama pintu pemeriksaan terbuka. Seorang dokter wanita berkacamata keluar setelah membuka maskernya. Beberapa perawat dibelakangnya terlihat sibuk mengerumuni tubuh Laura di brankar.
"Dokter, bagaimana istri saya?!" Sabiel mendekati dokter itu.
"Anda suaminya?" tanya dokter yang ber-nametag dokter Rinjani.
"Iya dok. Saya...Saya suaminya. Bagimana kondisi istri saya? Anak saya?" pertanyaan Sabiel memburu.
Dokter Rinjani menatap mata Sabiel yang cemas. Pandangannya tiba-tiba merunduk penuh sesal. "Kami sudah berusaha semampu yang kami bisa Tuan...."
"Tidak! Jangan katakan" Sabiel menggeleng kuat kepalanya. Demi Tuhan, dia tidak sanggup untuk merasa kehilangan. Urat sarafnya menegang hanya karena melihat ekspresi sesal yang memenuhi wajah dokter itu.
"Nyonya sudah melewati masa kritis, hanya saja....." dokter itu tampak ragu untuk mengatakannya.
Dokter itu menghembuskan nafasnya dengan berat, "Kami tidak bisa menyelamatkan janinnya Tuan. Nyonya mengalami keguguran"
Dalam sekejap, Sabiel merasakan kakinya melunak. Lelaki kekar itu ambruk dibawah kaki dokter Rinjani. Air mata deras mengaliri kedua pipinya. Tubuh Sabiel bergetar, dadanya bergemuruh oleh rasa sakit, pedih dan hancur mendengar kabar buruk atas kepergian jabang bayi yang dinantinya.
Jantungnya seperti ditarik paksa keluar dari rongga dada lalu diremas dengan kuat hingga lebur. Sabiel terpuruk. Hatinya hancur harus merelakan bayi yang bahkan belum lama bersemayam dalam rahim Laura.
Tomi dan Mbok Yayu yang menyaksikan, diam tergugu oleh rasa sakit yang sama seperti apa yang Tuannya rasakan. Mereka tahu pasti bahwa kehadiran jabang bayi itu begitu dinanti oleh Tuannya. Sekian lama lelaki itu terjebak dalam biduk rumah tangga yang tak membahagiakan, kini disaat kebahagian itu sedikit demi sedikit mulai ia rasakan, lelaki itu kembali harus merasakan kepahitan.
"Anakku...." rintih Sabiel mengundang mata Tomi dan Mbok Yayu berkabut.
"Tuan" Tomi mendekati Sabiel yang bersimpuh di kaki dokter Rinjani. Sementara dokter Rinjani berjongkok dihadapan Sabiel dan mencoba menenangkannya.
"Sabar Tuan. Ini ujian dari Tuhan" ucapnya menenangkan.
"Dokter, dimana bayiku?" tanyanya penuh luka.
🍁🍁🍁
Sabiel membuka ruang perawatan Laura, matanya langsung bersirobok dengan bola mata coklat yang menatapnya sendu. Laura melipat bibirnya kuat-kuat, menahan tangis yang hampir pecah. Mata indahnya tampak kehilangan cahaya, Sabiel merasakan itu.
Lelaki itu melangkah dengan tegar, dadanya sengaja ia busungkan. Pandangannya melembut ketika ia melihat Laura mencoba tersenyum di tengah luka yang melubangi hati keduanya. Bibir mungil kesayangan itu bergetar dalam senyuman indah yang ia tampilkan dengan percuma.
__ADS_1
"Sayang.." ucapnya berupa bisikan yang amat pelan.
Sabiel berjalan semakin dekat, lelaki itu duduk di tepi ranjang Laura. Jemarinya bergerak merapikan rambut Laura yang kusut. "Bagaimana kondisimu saat ini?" tanya Sabiel menahan luka.
Laura tersenyum getir, "Aku merasa lebih baik ketika melihatmu" ujarnya dengan bibir bergetar.
Tangan Laura tergerak untuk mengelus perutnya, dan hal itu berhasil membobol pertahanan kelopak matanya untuk tak menjatuhkan air di pipi pucatnya.
"Anak....anak kita?" mata Laura berkaca-kaca menatap suaminya.
Sabiel tak kuasa melihat kesedihan itu, ia langsung memeluk erat Laura dalam dekapannya. Tubuh keduanya bergetar mengingat kepergian jabang bayi yang begitu cepat.
Laura terisak hebat dalam pelukan hangat suaminya. Perawat yang menanganinya mengatakan perihal keguguran yang baru saja ia alami. Bayinya hilang. Calon anak mereka pergi untuk selamanya.
Sabiel mengelus punggung Laura, sementara air mata masih setia membanjiri pipinya. Lelaki itu mengingat saat-saat terakhir ia melihat bayinya. Sesaat setelah menanyakan perihal jasad bayi mungilnya. Sabiel bergegas menghampiri ruangan dimana bayinya berada. Di ruangan itu ia terpaku melihat sosok kecil dibalut kain putih yang disodorkan padanya oleh tangan seorang perawat.
Mata Sabiel fokus melihat bungkusan yang bahkan tak lebih dari panjang telapak tangannya. Lelaki itu menengadahkan telapak tangannya untuk menerima janin itu.
Dengan air mata yang tertumpah ruah membasahi wajah tampannya, Sabiel meminta Tomi mengantarkannya untuk mengebumikan bayi mungil dalam balutan kain putih itu.
"Anak kita sudah berada di tempat yang indah, sayang. Anak kita sudah berada disurga" ucap Sabiel terbata. "Tuhan sedang bersamanya disana" sambungnya lirih mengingat saat-saat ia mendekap bayi itu dalam dada sebelum akhirnya tanah merampasnya.
Tangisan Laura semakin terdengar menyakiti gendang telinga, isaknya tak mampu lagi ia tahan. Dengan kerapuhan yang kini mendera keduanya, tangan mereka saling memeluk erat. Mengantarkan kekuatan satu sama lain. Musibah ini harus mereka lalui bersama. Laura dan Sabiel mengerti itu.
"Aku akan pergi mencari Intan" nada suara geram tiba-tiba mengganggu pendengaran Laura.
Wanita itu melepaskan pelukannya. Matanya menatap bola mata hitam Sabiel yang berkilat oleh aura keji. Lelaki ini pasti akan melakukan sesuatu yang kejam pada Intan. Laura menggelengkan kepala ketika benaknya mulai berpikiran buruk.
"Dia membunuh anak kita, Laura. Aku bersumpah tidak akan membiarkannya hidup" ucap Sabiel penuh tekad.
Laura tetap menggelengkan kepala, "Aku mohon. Jangan balas perbuatan buruknya dengan keburukan juga. Aku tidak ingin melihatmu mengotori kedua tanganmu Sabiel"
"Demi anak kita, aku rela mengotori tanganku sayang. Aku akan membuatnya merasakan sakit yang lebih parah dari yang kita rasakan" benak Sabiel mulai membayangkan hal mengerikan apa yang harus Intan rasakan.
"Jangan sayang. Aku mohon. Mengotori tanganmu, tak kan mengembalikan anak kita. Biarkan hukum yang memberinya pelajaran. Kau pasti bisa menjerat Intan di penjara. Aku mohon jangan kotori tanganmu, aku tak ingin kedua tanganmu yang biasa memelukku bernoda darah wanita itu" ujar Laura putus asa.
Sabiel menggelengkan kepala, tak sepakat dengan apa yang Laura katakan. Intan harus mati ditangannya. Dia harus merasa kesakitan saat nyawanya sudah diujung tanduk.
"Kau berisirahatlah disini, tadi aku menghubungi paman. Menceritakan kondisimu, dia mengatakan akan segera kemari" Sabiel berdiri dari duduknya.
Laura segera meraih tangan Sabiel. "Sayang, aku mohon. Jangan membuat dirimu sama dengan wanita itu" Laura menatap memelas pada suaminya yang tampak tak menghiraukan ucapannya.
"Aku akan keluar dulu sebentar. Aku harus menghubungi Tomi. Besok sidang pertamaku akan dilakukan" ucapnya sambil berjalan dan memalingkan wajah dari Laura.
"Kau tidak ingin menciumku?"
Ucapan Laura memaksa Sabiel untuk menghentikan langkahnya dan kembali menghampirinya. Lelaki itu rangkup wajah istrinya. "Mana mungkin aku tidak menginginkan bibir ini" bisiknya sebelum ia melabuhkan bibirnya pada bibir Laura.
Laura menerima ciuman lembut itu. Kedua lengannya melingkari leher Sabiel, untuk memperdalam ciuman mereka. "Anak kita, tidak akan suka melihat ayahnya melakukan sesuatu yang buruk" bisik Laura ketika mengakhiri ciumannya.
__ADS_1
Sabiel menatap tanpa ekspresi. Lelaki itu segera melangkah setelah ia mengecup kening istrinya. Sabiel keluar dari ruangan itu dengan dendam yang membara.
🍁🍁🍁