Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 26


__ADS_3

Happy Reading Guys!! 😍😍


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁


Sabiel duduk sambil tersenyum senang setelah ia berhasil meyakinkan para rekan dosennya untuk membawa pulang Laura bersama dengannya. Ternyata menjadi orang terdekat dengan kepala Dekanat, membawa keuntungan tersendiri bagi dirinya.


Beberapa saat yang lalu, rombongan mahasiswa berangkat untuk kembali ke universitas mereka. Kegiatan jelajah alam berakhir setelah acara makan siang tadi.


Laura menghampiri Sabiel di dalam mobilnya, dia menyeret langkahnya dengan sedikit keraguan.


Bagaimana bisa para dosen itu percaya begitu saja ketika Sabiel mengatakan untuk mengantar Laura sendiri pulang? Bahkan hanya dengan alasan kedekatan ayah Laura dengan kepala Dekanat.


Tidak masuk akal!


Laura menggelengkan kepalanya pelan ketika ia sampai di pintu mobil Sabiel.


Tin.. Tin...


Sabiel membunyikan klakson, ketika Laura tak segera masuk kedalam mobilnya. Gadis itu malah terdiam dengan raut wajah tak terbaca memandang gagang pintu mobil.


"Masuk Laura. Langit mendung, kita harus segera pergi sebelum hujan lebat." Sabiel membuka kaca mobil agar ia dapat melihat Laura yang tampak melamun.


Mendengar hal itu Laura menengadahkan kepalanya menatap Langit. Ya. Langit memang benar-benar mendung, awan kelabu kehitaman menaungi diri mereka saat itu. Seolah siap memuntahkan air deras yang sedang dikandungnya.


Tanpa berucap, Laura membuka pintu itu dan duduk manis di sebelah Sabiel yang tersenyum senang atas kehadirannya.


Di dalam mobil yang dingin karena ac yang dibiarkan menyala, wajah Sabiel tampak sumringah mendapati Laura yang duduk dekat disisinya. Gadis itu sibuk mengunyah permen karet hasil jarahannya dari Destri sebelum gadis genit itu menaiki mini bus.


"Apa yang kau katakan hingga dosen-dosen itu mengijinkanku pergi denganmu?" tanya Laura penasaran.


"Sesuatu yang tidak akan aku beritahu padamu." ucap Sabiel penuh teka teki, kakinya langsung menginjak pedal untuk segera menjalankan mobil.


"Sebenarnya hal apa yang ingin kau katakan, hingga membuatku berada di mobilmu ini?" Laura melipat kedua tangannya di depan dada, menatap lekat Sabiel yang justru menyeringai tanpa membalas tatapannya.


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bercerita denganmu, Laura." ucap Sabiel. "Menghabiskan perjalanan dengan dosen-dosen itu melelahkan." sambungnya.


"Maksudmu?"


"Telingaku gatal setiap mereka bercerita mengenai kehidupan indahnya. Istri yang patuh, anak yang berprestasi, investasi dimana-mana, pamer kekayaan dan lain sebagainya hanya membuat aku muak." keluh Sabiel.


"Itu cara mereka untuk merayakan pencapaian dalam hidupnya. Mengatakannya kepada orang lain dengan harapan orang itu akan terkesima pada dirinya, aku rasa itu hal yang manusiawi Sabiel." ucap Laura penuh pengertian.


"Cih. Kau tidak tahu bahwa apa yang mereka sombongkan itu hanyalah kepalsuan Laura." Sabiel berdecih ketika benaknya mengingat bagaimana salah satu rekan kerjanya menutupi kebobrokan hidupnya dengan bualan. "Aku hanya tidak suka dengan kenyataan yang mereka tutupi."


"Lalu bagaimana denganmu?" Laura balik bertanya.


Ini yang Sabiel tunggu!


Sabiel terdiam sejenak, pandangannya lurus menatap jalanan yang mulai basah oleh rintik hujan yang turun tiba-tiba.


"Aku?"


"Ya. Bagaimana dengan hidupmu?" Laura mengulang pertanyaannya.

__ADS_1


Sabiel menghela nafas panjang sebelum memulai ceritanya, Laura tampak siap menyimak disebelahnya.


"Kehidupan rumah tangga, tak semanis yang terlihat Laura." Sabiel mengawali ceritanya. "Seperti kisah putri cinderella atau putri salju, apakah setelah mereka menikah dengan pasangannya, mereka hidup bahagia? Kita tidak pernah tahu." Sabiel memandang nanar mengulas kembali awal dari perjalanan rumah tangganya bersama Intan.


"Apa kau tidak bahagia? dengan istrimu?" Laura mencoba menerka arah pembicaraan Sabiel.


"Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali aku merasa bahagia." ucap Sabiel miris. "Setelah menikah, banyak hal baru yang aku temui dalam diri istriku. Sampai akhirnya aku menyadari bahwa pandangan hidup kami jelas saling bertolak belakang. Kami sering bertengkar karna perbedaan pandangan itu. Kau pasti akan terkejut jika tahu bahwa dalam sehari kami bisa menghabiskan waktu untuk saling melempar kesalahan." Sabiel melirik sekilas pada Laura yang memperhatikannya.


"Tapi kau bertahan sampai sejauh ini, bukankah itu hal yang baik?" tanya Laura.


Sabiel menyeringai sendu sebelum menjawab pertanyaan Laura.


"Aku bertahan bukan karna aku ingin Laura. Tapi terpaksa." ungkap Sabiel. "Sudah sejak lama aku ingin berpisah dengannya. Tapi dia selalu menjadikan kelemahanku sebagai alasan untuk terus bersama."


"Kelemahan?!" Laura semakin penasaran.


Jalanan ramai kota Lembang, dengan bunyi cipratan air genangan yang tergilas kendaraan menjadi saksi tertumpah ruahnya cerita dibalik lubang besar dalam hati Sabiel. Sejak ia memutuskan untuk mengatakan perasaannya pada Laura, Sabiel memang berniat untuk membuka kehidupan sebenarnya yang ia alami kepada gadis itu. Dengan harapan, Laura akan mengerti mengapa lelaki sepertinya dengan status sebagai suami orang lain bisa memiliki perasaan khusus kepada dirinya.


Laura tampak termenung membayangkan bagaimana kesulitan Sabiel menghadapi sifat istrinya. Laura jadi mengingat kembali pertemuannya dengan Intan di toko buku beberapa waktu yang lalu, dari gelagatnya dan sorot matanya yang terasa sinis, jelas Laura akui Intan pasti memiliki ego yang lebih tinggi. Dan ternyata cerita Sabiel menguatkan dugaan itu.


🍁🍁🍁


"Laura?" Sabiel menghentikan mobilnya ketika lampu merah perempatan menyala. Setelah tadi menceritakan kehidupannya pada Laura, kini Sabiel ingin mengetahui sesuatu tentang gadisnya itu.


"Ya?" jawabnya datar. Tangannya mengambil tisu di atas dasboard untuk ia pakai membuang permen karet yang sudah tak lagi manis di mulutnya.


"Apa kau sedang dekat dengan seseorang?" pertanyaan Sabiel berhasil membuat gadis itu menoleh padanya.


"Sial. Dia tersenyum." Sabiel membatin.


"Aku melihat komentar di blog-mu. Postingan mu kemarin pun seperti mengartikan sesuatu." ungkap Sabiel, dia menjalankan kembali mobilnya begitu lampu merah berganti warna menjadi hijau.


"Bimasakti. Lelaki yang bertemu denganku saat ayah dirawat dulu." Laura tersenyum menjelaskan. Membuat Sabiel mengeratkan gerahamnya murka melihat raut wajah Laura yang tiba-tiba merona ketika membahas tentang lelaki itu.


Pegangannya pada stir kemudi sudah mengerat sejak tadi, seiring hatinya yang kian memanas.


"Kau-kau memiliki hubungan dengannya?" suara Sabiel penuh antisipasi. Dalam hatinya ia harus menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk merebut Laura jika benar Laura sudah memiliki hubungan dengan lelaki itu.


"Tidak. Belum sejauh itu." ucap Laura santai. "Saat ini kami masih mencoba menerka perasaan masing-masing, meskipun aku rasa dia terlalu sering menunjukkan gejala ketertarikkannya padaku." ungkap Laura tersipu malu.


Senja mulai mengisi kota Bandung yang kecil dan indah dengan arsitektur bangunan belanda di beberapa tempat yang mereka lalui. Lampu-lampu kecil taman mulai terlihat bernyawa menerangi jalanan dengan langit kelabu. Hujan di Lembang ternyata sampai juga di pusat kota Bandung, perkiraan cuaca ternyata benar. Seharian ini Jawa Barat akan diguyur hujan, dengan intensitas sedang.


Jika mengingat waktu, seharusnya Sabiel dan Laura telah sampai di asrama kampusnya satu jam yang lalu. Namun, banjir kecil dibeberapa tempat yang mereka lalui, memaksa mereka untuk terlambat sampai ditempat tujuan.


Sabiel terus terdiam sepanjang Laura bercerita mengenai kedekatannya dengan Bimasakti. Benaknya bukan sibuk menyimak cerita itu, namun ia sibuk memperkiraan kapan waktu yang tepat untuk ia segera mengutarakan isi hatinya pada Laura. Dia tidak peduli dengan segala macam cerita Laura yang berputar pada sosok aktivis buruh itu. Dia hanya ingin Laura mengetahui perasaan yang ia simpan rapat di hatinya. Terlepas dari apapun tanggapan yang akan Laura berikan padanya.


Dia tidak berharap Laura menyambut baik perasaannya, mengingat kenyataan bahwa gadis itu ternyata sedang menyimpan perasaan untuk lelaki lain. Namun meskipun begitu, Sabiel tidak akan menyerah untuk tetap menjadikan Laura miliknya.


Persetan dengan label 'egois' yang nanti Laura sematkan pada dirinya. Tujuannya kini hanya satu. Kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu hanya bisa ia raih bila Laura menjadi miliknya.


Mobil itu berhenti sempurna ketika telah mencapai tempat tujuannya. Saat itu langit sudah gelap, hujan yang turun tak lagi deras seperti saat mereka masih di Lembang atau pusat kota Bandung. Mobil Sabiel berhenti beberapa meter dari gerbang kampus. Dia merapatkan mobilnya pada sisi sebuah pohon tua besar dengan ranting yang lebar hingga terlihat seperti sedang memayungi mobil itu.


Sabiel melihat Laura yang bersiap hendak keluar dari dalam mobil. Gadis itu memakai kembali tas ransel besar yang tadi setia menjadi penumpang tambahan di kursi belakang.

__ADS_1


"Laura." ucap Sabiel penuh perhitungan.


"Ada apa? Oh ya, aku senang hari ini. Kau akhirnya mau berbagi cerita tentang kehidupan rumah tanggamu, setelah sekian lama kita berteman dan kau selalu bungkam ketika aku menanyakan hal itu." Laura tersenyum hangat menatap Sabiel.


"Aku menceritakan hal itu karna ada alasan lain, Laura." ucapnya menghentikan sejenak tangan Laura dari keinginan membuka pintu mobil.


"Alasan apa maksudmu?" Laura tak bisa menahan rasa ingin tahu nya.


"Alasan bahwa aku ingin kau memahami keadaanku." ucap Sabiel menatap lamat-lamat gadis disebelahnya. "Laura, apa kau percaya jika aku katakan bahwa aku mencintaimu?" Sabiel meraih jemari Laura, menggenggamnya erat.


Laura tampak terkejut dengan pernyataan sekaligus pertanyaan yang akhirnya keluar dari mulut Sabiel. Hal yang ia khawatirkan ternyata terjadi. Sabiel memiliki perasaan khusus padanya.


"Oh God! Apa yang harus aku lakukan?!" gumam Laura dilanda kegelisahan.


Dia melepaskan genggaman Sabiel pada jemarinya. Setelah mencoba mengatur nafasnya yang tersekat, Laura berucap dengan yakin.


"Apa yang kau katakan?"


"Apa kau percaya jika aku mengatakan bahwa aku mencintaimu?!" Sabiel mengulang ucapannya.


"Tidak. Aku tidak percaya." Laura menggelengkan kepala.


"Tapi aku benar-benar mencintaimu." Sabiel berusaha menggenggam kembali jemari Laura. Namun Laura menepisnya.


"Jangan bercanda." ucap Luara


"Aku tidak sedang bercanda Laura. Aku serius. Aku mencintaimu." Sabiel memperhatikan gelagat Laura yang tampak tak nyaman dengan pengakuannya, dia tersenyum miris.


"Kau sudah memiliki istri Sabiel."


"Tapi kau tahu sendiri bukan kondisi rumah tanggaku?"


"Jadi itu alasannya kau bercerita panjang lebar mengenai rumah tanggamu yang tak sehat? Apa kau sedang menarik simpati dariku, agar aku menerima perasaanmu?" Laura menatap sinis pada Sabiel. Dia merasa Sabiel menjadikan kondisi rumah tangganya sebagai alasannya untuk mengkhianati istrinya.


Sabiel diam tak menanggapi ucapan beruntun Laura yang memojokkannya. Dia tak membantah bahwa memang itu tujuan dari ia bercerita. Laura menjadi kesal dengan keterdiaman Sabiel. Dengan emosi yang masih ia coba tahan, tangan Laura menggapai gagang pintu.


"Aku akan lupakan apa yang kau katakan padaku, dan aku rasa kini saatnya kita saling berjaga jarak. Aku tidak berniat menjadi orang ketiga dalam biduk rumahtanggamu." ucap Laura datar. "Lagipula kau tahu sendiri bukan?! bahwa aku tak memiliki perasaan apapun padamu." Laura mengingatkan akan cerita ketertarikkannya pada Bimasakti.


Hati Sabiel memanas mendegar ucapan Laura, sebelum Laura melangkahkan kakinya keluar pintu mobil. Dengan kasar, Sabiel menarik lengan Laura hingga terduduk kembali. Tanpa memperdulikan bentakan Laura padanya, Sabiel mencium paksa bibir Laura, dia menyapu permukaan bibir mungil itu dengan lidahnya. Rasa basah yang manis dan kobaran gairah yang bergetar langsung merasukinya. Tangan Laura berusaha sekuat tenaga mendorong dada Sabiel yang menghimpit dadanya, namun Sabiel tak bergeming.


"Sabiel, hentikan! Ah!" Laura membulatkan mata ketika merasa lidah Sabiel terbenam dalam rongga mulutnya. Membelit lidahnya di dalam sana dengan cara paling posesif yang Laura ketahui.


Jantung Sabiel berdetak cepat, tangannya tak tahan ingin membuka kancing celana panjang yang Laura kenakan. Laura merasakan itu!. Tangan Sabiel bergerak hendak melucuti celananya.


Laura kalut, tenaganya tentu tak sebanding dengan Sabiel. Lelaki itu begitu kuat ketika gairah menguasai dirinya. Laura tak hilang akal, gadis itu menggigit keras bibir bawah Sabiel yang melekat pada bibirnya. Sontak Sabiel terperanjat menahan sakit pada bibirnya, Laura berhasil membuat luka disana.


Tanpa menunggu lama, Laura segera membuka pintu. Namun lagi lagi Sabiel menahannya. Laura terduduk kembali di kursi itu, namun ketika Sabiel hendak melakukan serangan kedua Laura segera menampar pipinya kuat-kuat, hingga terdengar bunyi nyaring dan telapak tangannya memerah.


Sabiel memandang nanar pada Laura yang mulai berderai air mata. Tangannya mengusap bekas tamparan Laura.


"Kau-kau apa ini dirimu yang sebenarnya, huh?! menjijikan!" ucap Laura yang mulai terisak. Gadis itu langsung berlari keluar mobil, meninggalkan Sabiel yang menatapnya tajam dari balik kemudi.


Pipinya masih terasa panas, begitu pun hatinya. Dengan pandangan menyalang, memperhatikan Laura yang berlari semakin jauh, diam-diam Sabiel sibuk menyusun rencana untuk membawa kembali Laura kesisinya. Dia meraih ponsel dari saku celananya, mencari sebuah nama yang hendak ia hubungi.

__ADS_1


"Siapkan semuanya, lakukan tanpa cela." ucapnya memandang Laura yang menghilang di balik gedung kampus.


🍁🍁🍁


__ADS_2