Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 43


__ADS_3

Laura terbangun setelah mendengar ketukan pada pintu kamarnya. Semalam, setelah ia berpikir keras mengenai ide gila nya itu, Laura tertidur di dini hari.


"Ya?" suara serak Laura menjawab ketukan itu. Matanya memandang atap kamar dengan tatapan hampa.


"Nyonya, ini sudah siang. Apa Nyonya tidak akan pergi kuliah?" pertanyaan Mbok Yayu mengingatkan Laura akan jadwal kuliah paginya. Wanita itu melirik pada jam dinding, masih ada waktu satu jam menjelang dimulainya perkuliahan.


"Ya Mbok, aku segera bersiap-siap." ujar Laura sembari menyusupkan kembali kepalanya dibalik selimbut.


Rasanya pagi ini ingin sekali ia meliburkan diri, tubuhnya masih membutuhkan waktu untuk beristirahat. Namun mengingat bahwa dirinya sudah banyak tertinggal pelajaran, membuatnya dengan terpaksa bangkit dari tempat tidur.


Laura mengerang sebelum kemudian menyibak selimbutnya. Suara Mbok Yayu masih terdengar olehnya, kata-kata terakhir yang Laura tangkap sebelum si Mbok pergi adalah bahwa Tomi sedang menunggunya di bawah.


"Masa bodo!" pikir Laura


Laura melangkahkan kaki telanjangnya melintasi lantai berkarpet bulu yang halus. Dia menatap sekilas parasnya yang cantik di depan cermin meja riasnya. Ada lingkaran hitam di bawah matanya, samar namun tampak jelas bagi Laura. Tidur di dini hari memang selalu membuat mata siapapun akan memiliki penampilan buruk. Dan Laura merasakan itu pagi ini.


"Oh Shit!" umpatnya sambil mencondongkan tubuhnya kearah cermin, mengelus sepanjang lingkaran mata panda itu.


Tak lama, Laura berjalan kembali. Kali ini ia melangkah untuk masuk ke dalam kamar mandi.


Dibawah siraman shower, Laura terlihat merenung. Matanya terpejam meresapi tetesan air hangat yang menerpa tubuhnya. Ia memikirkan kembali ide kabur yang tercetus secara spontan tadi malam. Kelebatan bayangan dirinya terbebas dari Sabiel, membuat ide itu terlihat menggoda untuk dicoba. Namun begitu benaknya mengingat akan sosok ayah beserta keluarganya di Jakarta, Laura menghembuskan nafasnya dengan pasrah. Kelebatan bayangan kebebasan itu hilang, tersapu air shower dan masuk ke dalam lubang pembuangan.


Jika ia berhasil kabur, itu artinya sama saja dengan ia mengantarkan malaikat pencabut nyawa pada ayahnya. Orangtua satu-satunya itu bisa kembali masuk ke rumah sakit atau bahkan meregang nyawa.


"Seharusnya foto itu tidak ada!! " pikir Laura


Ya! Mata Laura berkilat antusias ketika memikirkan foto-foto vulgar itu bisa ia musnahkan. Sabiel tidak akan memiliki sesuatu untuk dijadikan sebagai kelemahannya.

__ADS_1


"Tapi dimana dia menyembunyikan foto-foto itu?" tanya Laura pada diri sendiri.


Ia segera menyudahi acara mandinya dengan tergesa, benaknya kini tertarik untuk mencari keberadaan foto sialan itu. Sambil berpikir dimana Sabiel menaruh foto, Laura mengambil pakaian dan memakainya dengan cepat. Namun gerakannya terhenti tiba-tiba, ketika benaknya lagi-lagi terbentur pada satu fakta yang semalam ia peroleh langsung dari Sabiel. CCTV!


"Sial! Tempat ini penuh dengan cctv. Jika aku mencoba mencari foto-foto itu, sudah pasti lelaki itu akan mengetahuinya." keluh Laura dalam hati.


"Oh Tuhan, bukankah kau selalu menyertai masalah dengan solusi? Lantas solusi apa yang harus aku lakukan?" Laura menatap langit kamar seolah ia sedang bertatapan dengan Tuhan.


Bagaimanapun ia tidak bisa membohongi perasaannya. Hatinya masih dipenuhi oleh Bimasakti, tak ada sedikit pun tempat yang tersisa untuk Sabiel disana.


"Nyonya, sudah waktunya anda sarapan." suara Tomi mengaburkan segala sekelumit pikiran Laura yang bimbang.


Wanita itu memeriksa penampilannya sekali lagi sebelum akhirnya berjalan menghampiri pintu kamar dan membukanya.


Laura menatap Tomi yang berdiri tegap di ambang pintu, lelaki itu meskipun usianya sudah cukup terbilang tua, namun jejak ketampanan masih terpancar dari aura maskulinnya. Rambutnya tersisir rapi, gaya berpakaiannya pun terbilang trendy. Laura bertaruh, pasti diluaran sana tidak sedikit para gadis muda terpikat oleh ketampanan Tomi.


"Aku tahu." sahut Laura datar sembari melangkahkan kaki menuruni tangga dengan Tomi berada dibelakangnya.


"Tom, ada berapa banyak cctv yang Tuanmu pasang disini?" Laura bertanya sambil terus berjalan.


Tomi tak segera menjawab. Ia ragu, karena sesuai dengan perintah Tuannya, Nyonya Laura tidak boleh tahu akan adanya cctv disini. Tapi kenapa pertanyaan Nyonya mengisyaratkan bahwa ia sudah tahu perkara cctv. Apa ini pertanyaan jebakan untuknya? Atau memang Nyonya Laura sudah menyadari keberadaan cctv itu?


"Ah sial! Tuan pasti marah besar." gumam Tomi dalam hati. "Tapi bagaimana Nyonya bisa menyadarinya? Padahal cctv itu sudah ia pasang ditempat-tempat yang sangat tersembunyi" sambungnya.


Laura menghentikan langkahnya ketika Tomi tak juga menjawab pertanyaannya. Dia menolehkan kepalanya ke belakang, menatap seolah ia tahu arti dari keterdiaman Tomi.


"Katakan saja, aku sudah tahu disini ada cctv. Tuanmu sudah memberitahuku." ungkap Laura santai.

__ADS_1


Ia melanjutkan kembali langkahnya menuruni tangga, enggan melihat ekspresi kaget dan lega yang bersamaan muncul di wajah Tomi. Laura terus melangkah sambil menunggu jawaban pasti dari orang kepercayaan suami sirinya itu.


"Lebih dari 50 buah Nyonya."


Laura tersentak. Bola matanya seperti akan keluar saking kagetnya. Ia menolehkan kepala dengan cepat, menatap Tomi yang tertunduk dihadapannya.


"Apa Tuanmu benar-benar sudah tidak waras?!" suara tinggi Laura membuat Tomi semakin tertunduk dalam. "Dimana cctv itu kau pasang?!" tanyanya kemudian.


"Tomiiiii!! Kau ingin aku menghajarmu pagi ini, huh?!" Laura kesal melihat Tomi yang memilih diam.


"Hampir disemua tempat, Nyonya. Saya tidak bisa mengatakannya." ucapnya terus terang.


Udara disekitar mereka mendadak terasa pengap bagi Laura. Dadanya naik turun dengan berat. Lelaki itu memasang begitu banyak kamera di apartemen ini. Benaknya sibuk membayangkan cctv yang terpasang dimana-mana. Jangan-jangan di kamar mandi juga ada cctv? Bagaimana dengan diruang ganti? Apa dia memasangnya juga??


"Oh My Looord! Itu artinya Sabiel selama ini selalu melihat dirinya tanpa busana" Laura merapatkan mulutnya, geram dengan asumsi yang ia duga.


"Nyonya, sarapannya.." Tomi mengingatkan.


Laura yang diingatkan malah memberi tatapan tajam pada lelaki itu. Pandangannya sinis menatap wajah Tomi yang tampak serba salah. Rona merah padam di wajahnya menyebar membuat Tomi semakin waspada.


"Tuanmu itu..." Laura mencoba mengatur nafasnya. "DASAR PENGUNTIT MESUM!!!" ucap Laura setengah berteriak sebelum ia menghentakkan kakinya menuju meja makan.


Sementara itu, Tomi yang sejak tadi tertunduk, terperanjat kaget mendengar umpatan nyaring dari nyonya mudanya. Lelaki itu membelalakan matanya, merasa ngeri dan geli mendengar kejutan di pagi hari berupa umpatan dari seorang istri yang tertawan.


"Dengan kepribadian Nyonya yang menarik seperti itu, pantas saja Tuan Sabiel tergila-gila sampai mengikat Nyonya dengan pernikahan siri" gumam Tomi pelan sambil menatap nyonya Laura yang duduk di kursi meja makan dengan raut wajah kesal.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2