
From. Bimasakti.
Laura yang cantik nan baik hati,
Terima kasih atas pertemuan tak terduga kita kemarin. Aku menantikan pertemuan selanjutnya. Asal kau tahu, ini nomor ponselku.
Fans fanatik garis keras ilalang.com 😉
Kemarin setelah melakukan perjuangan yang cukup menguras tenaganya karna berulang kali harus memohon bahkan merayu pada Laura, lelaki itu pada akhirnya berhasil mendapatkan nomor ponsel Laura. Dan pagi ini lelaki aktivis itu mengirimi pesan pada Laura.
"Fans fanatik?! Ada-ada saja." Laura bergumam sambil terkekeh.
"Laura..." suara ayahnya memanggil.
Laura yang tadinya hendak membalas pesan itu, mengurungkan niatnya dan berjalan menuju ranjang pasien memenuhi panggilan ayahnya. Dia berdiri disamping ayahnya.
"Ada apa ayah?" tanya Laura mencondongkan tubuhnya pada ayahnya yang terbaring.
"Kapan ayah bisa kembali ke rumah?" Rama tidak betah berlama-lama di rumah sakit. Mencium bau obat setiap hari membuatnya mual.
"Dokter yang menangani ayah mengatakan jika hari ini ayah semakin membaik, maka besok lusa sudah bisa pulang." ucap Laura tersenyum sambil mengingat kembali kemarin saat visit sore, dokter yang bertugas mengatakan hal demikian.
"Ayah ingin cepat pulang." keluh Rama memandang sayu putrinya.
"Pasti ayah akan pulang, sekarang ayah harus berusaha untuk lebih sehat." ujar Laura penuh pengertian. Dia hafal betul bagaimana ayahnya itu tidak menyukai berada di rumah sakit. Laura ingat bagaimana ayahnya dengan keras kepala ingin melakukan rawat mandiri saja di rumah, padahal saat itu sakit yang di deritanya sudah harus mendapatkan pengobatan intens dari rumah sakit.
Tak berapa lama, kelopak mata ayahnya kembali terkatup. Laura bergerak membenarkan posisi selimut yang sedikit berantakan. Setelahnya ia kembali duduk di sofa. Laura mengambil ponselnya, dibukanya kembali pesan yang ia dapat dari Bimasakti. Kemudian ia membalasnya.
To. Bimasakti.
Kau pikir blog-ku seperti idola? Yang karena kemolekannya memiliki fans fanatik.
Pesan terkirim.
Laura melihat jam di ponsel menunjukan pukul sepuluh pagi hari, seharusnya paman dan bibinya sudah datang. Tapi kemana mereka?, Laura ingin segera membersihkan diri.
Tring!
Laura tersenyum ketika mendengar bunyi pesan masuk.
From. Bimasakti.
Ilalangmu itu bukan hanya idola, tapi ia adalah kitab. Yang dengannya aku temukan kedamaian.
__ADS_1
Laura terkekeh geli membaca jawaban absurd dari Bimasakti. Hampir saja ia akan membalas kembali pesan itu, sebelum kemudian panggilan Sabiel masuk mengacaukan rencananya.
"Akh! Sial!" umpat Laura lirih sambil memutar bola matanya malas.
"Halo?" sapanya pada Sabiel diseberang sana.
"Laura, sedang apa kau sekarang?" tanya Sabiel ceria. Andai saja Laura tahu, bagaimana binar kebahagian terpancar dari bola mata hitam Sabiel saat mendengar suaranya.
"Aku sedang menunggu paman dan bibiku di ruang inap ayah. Kau?"
"Aku sedang di ruang dosen, menunggu jam kuliah mulai. Bagaimana kondisi ayahmu?" tanya Sabiel penuh perhatian. Matanya melihat pada jadwal mengajar yang ada di layar laptopnya.
"Sejauh ini kondisinya sudah membaik. Besok lusa jika kondisinya memungkinkan, beliau sudah bisa pulang." Laura menjelaskan sembari matanya melirik sekilas pada ayahnya yang terbaring.
"Syukur kalo begitu. Lalu kapan kau berencana kembali ke Bandung?"
"Mungkin sehari setelah ayah pulang." Laura tampak berpikir. "Aku harus pastikan terlebih dulu bahwa ayahku dalam kondisi baik." sambungnya.
Laura sebenarnya ingin menghentikan obrolan itu, dia ingin segera membalas pesan dari Bimasakti, tapi tidak demikian dengan Sabiel. Dosen muda beristri itu tampak tak ingin lekas menyudahi obrolannya, dia terus saja bertanya tentang banyak hal terkait kesehatan ayah Laura, dia juga membagi beberapa tips dari yang ia ketahui untuk membantu pengobatan jantung ayah Laura. Laura hanya mengangguk sambil mengiyakan semua yang Sabiel katakan.
Laura sendiri sangat menghargai niat baik dan bentuk perhatian Sabiel pada dirinya. Terkadang Laura sering merenung memikirkan betapa perhatiannya Sabiel pada hidupnya. Lelaki itu juga selalu membantu Laura dalam banyak hal, terutama dalam hal pelajaran. Laura yang tidak memiliki prasangka apapun terhadap sikap Sabiel, menerima semua bentuk perhatian itu dengan beranggapan bahwa Sabiel melakukannya atas dasar perasaan sebagai orang terdekat Laura. Dan Laura pun sejauh ini nyaman dengan kedekatannya dengan Sabiel. Ia merasa seperti memiliki kakak jika Sabiel berada didekatnya. Apalagi kondisi Laura yang tinggal di kota Bandung seorang diri sebagai anak rantau.
Sambungan itu akhirnya terpaksa terhenti ketika Laura melihat kembali ayahnya terbangun. Laura menutup ponselnya setelah mengucapkan pamit pada Sabiel.
Dia kembali menghampiri ayahnya yang terbangun. Matanya sayu seperti setengah tersadar.
"Ayah merindukan ibu?" tanya Laura seraya duduk disisi ranjang dekat paha ayahnya.
"Sangat." ucapnya lirih. "Dulu, jika ayah sedang sakit. Ibumu pasti tidak akan tidur tenang." Rama mengenang bagaimana mendiang istrinya merawat dirinya ketika sakit dulu.
"Lalu besok paginya, Laura akan melihat ibu tertidur sambil memeluk ayah." Laura jadi ikut mengingat moment bahagia itu.
"Kau benar. Dia sok kuat, padahal tidak kuat." ucap ayahnya menegaskan.
Mata mereka berdua berembun ketika mengingat setiap kenangan yang mereka lalui bersama orang yang paling mereka cintai. Betapa kehangatan dan kebahagian selalu melingkupi hidup mereka, ketika Tuhan dengan ke Maha Pengasihannya mengirim satu malaikat tak bersayap yang begitu tulus mencurahkan kasih sayang dengan perhatian yang tiada batas. Hingga mereka merasa menjadi ayah dan putri yang paling bahagia di dunia.
Kini setelah Tuhan membawa malaikat itu kembali kesurga-Nya, yang tersisa hanyalah mereka berdua bersama kenangan. Laura melihat kerinduan dari tiap tetes air mata ayahnya. Ia tersenyum sembari mengusap lembut air mata itu.
"Dulu ibu selalu mengatakan 'Jaga kesehatan dimana pun kau berada. Sehat itu penting!" Laura memeragakan mimik muka ibunya ketika menasehati mereka berdua.
Ayah Laura terkekeh geli melihat betapa miripnya Laura dengan istrinya itu. Bahkan Laura bisa membuat wajahnya bermimik sama seperti ibunya.
"Hanya orang yang tidak bersyukur lah yang malas menjaga kesehatannya!" Laura dan ayahnya kompak mengatakan ucapan pamungkas yang biasanya menjadi akhir dari nasehat panjang ibunya. Mereka terkekeh bersama.
__ADS_1
Tanpa mereka sadari paman dan bibi Laura menyaksikan kerinduan yang terpancar dari gelak tawa ayah dan anak itu. Mereka terdiam menahan haru yang menyeruak dalam dadanya.
🍁🍁🍁
Ayah Laura sedang tertidur ketika Laura meminta paman dan bibinya untuk menjaga selama Laura kembali ke rumahnya untuk membersihkan diri.
Tadi setelah cukup lama melupakan ponselnya, Laura baru teringat kembali bahwa ia sedang berbalas pesan dengan Bimasakti. Laura segera melihat ponselnya kembali, ia khawatir jika Bimasakti mengirimnya pesan sedangkan ia tidak bisa membalasnya tadi.
Khawatir?!
Tiba-tiba pertanyaan besar menyusup dalam rongga kepalanya. Ada apa dengan dirinya? mengapa ia khawatir jika Bimasakti mengiriminya pesan?!
"Astaga, Laura apa yang kau pikirkan. Kau bahkan baru sekali bertemu dengannya." gumam Laura dalam hati.
Laura membuka ponselnya sambil menggeleng tak percaya atas apa yang terlintas dalam benaknya. Tak berapa lama, senyuman terbit diujung bibirnya, ketika matanya menemukan dua pesan dari lelaki yang tadi ia pikirkan.
Pesan pertama,
From. Bimasakti.
Hanya karna kau tak membalas pesanku dalam waktu yang lama, aku didera banyak tanya. Laura?
Laura tersenyum ketika ia sadar, Bimasakti ternyata menunggu balasannya. Lalu Laura membaca pesan yang kedua.
From. Bimasakti.
Aku ingin bertemu.
Entah kapan.
Ingin hati segera,
Namun urusan t*tek bengek buruh membuatku menundanya.
Tunggulah..
Aku akan temui kau segera.
Laura menghembuskan nafasnya malas. Dia tidak bisa bertemu lelaki itu dalam waktu dekat. Kenyataan bahwa Bimasakti adalah salah satu orang penting di ormasnya membuat Laura harus memahami bahwa lelaki itu memiliki segudang agenda yang harus ia kerjakan, dibanding menghabiskan waktu bertemu dengannya.
Laura tak bisa mengabaikan kedua pesan yang ia dapat cukup lama itu, ia mencoba menghubungi Bimasakti, namun sayang panggilannya hanya tersambung pada mailbox. Ponsel Bimasakti mati. Itu membuat Laura tak bersemangat dalam seketika. Entah kapan bisa bertemu kembali dengan lelaki itu.
Laura mengantongi ponselnya ketika ia melihat taksi yang tadi ia pesan berada tepat di hadapannya. Laura pergi dari rumah sakit itu, dengan perasaan yang mendadak sendu. Saat ini benaknya hanya mampu mengulang kembali pertemuannya dengan Bimasakti.
__ADS_1
"Ternyata kau tidak terlalu buruk." gumamnya dalam hati ketika mengingat wajah dan penampilan Bimasakti yang cukup bisa di golongkan pada golongan lelaki tampan.
🍁🍁🍁