
Sore yang sama di negeri yang berbeda.
Semua mata audiens tertuju pada wanita cantik yang berdiri di depan sebuah layar proyektor dengan setelan kantor bernuansa edgy melekat ditubuhnya yang indah. Sebagian dari mereka menganggukkan kepala mendengar penjelasan mengenai proposal fashion show yang akan di lakukan beberapa waktu mendatang.
Intan tersenyum bangga, menatap wajah-wajah puas yang tampak jelas disana. Di kursi paling tengah, Dato' Faisal menyeringai senang pada kinerja Intan sebagai desainer baru di perusahaannya.
Tidak bisa ia pungkiri, kepiawaian Intan membuat desain-desain pakaian patut diperhitungkan. Anemo para konsumen begitu baik dalam menyambut produk-produk keluaran terbaru, dimana Intan menjadi penanggung jawab desain didalamnya. Pakaian hasil rancangan Intan, yang sebagian besar mengambil tema retro itu laris dipasaran. Hal itu membuat Dato' Faisal semakin senang, karena Intan telah berhasil ikut mendulang pemasukan yang besar di perusahaannya.
Saat ini Dato' Faisal dengan para bawahannya sedang merencanakan untuk menggelar Fashion Show dengan menjadikan desain Intan sebagai tajuk utama. Tentu saja Intan merasa antusias dengan rencana itu. Fashion show adalah salah satu jalan cepat agar nama dan rancangannya mulai dikenal luas oleh orang lain.
"Kami rasa sudah cukup penjelasannya, kami sepakat dengan apa yang sudah anda paparkan tadi." salah satu orang penting perusahaan memberi tanggapan mewakili para petinggi perusahaan diruangan itu.
"Baiklah, setelah semua setuju. Saya rasa kita harus mulai menyiapkan semua kebutuhan acara itu." suara berat Dato' Faisal membuat Intan menatapnya dengan sumringah.
"Akhirnyaaaa..oh Tuhan, ternyata ini rasanya memiliki backing-an orang berkuasa di perusahaan. Segalanya tampak mudah, tampak lancar seperti apa yang aku inginkan." Intan kegirangan dalam hatinya.
Rapat berakhir ketika malam sudah bersiap siaga mengambil alih angkasa. Semburat senja perlahan pudar berganti warna gelap. Rapat itu pada akhirnya menghasilkan kesepakatan yang membuat Intan lebih bersemangat. Saat semua orang sudah keluar dari ruangan, ajudan Dato' Faisal menghampiri Intan yang sedang membereskan berkas persentasinya bersama beberapa rekan kerja.
Lelaki tegap itu berdiri disamping Intan, mencondongkan sedikit nadannya untuk berbisik pada telinga Intan.
"Direktur menunggumu di ruangannya." bisiknya lirih.
Intan tersenyum senang, tanpa mengeluarkan kata, wanita itu menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti apa yang harus ia lakukan.
🍁🍁🍁
"Jadi kau akan kembali ke Indonesia?" tanya Dato' Faisal sedikit terkejut menatap Intan yang berdiri di depan meja kerjanya.
"Betul Dato', saya harus kembali terlebih dulu." ucap Intan. "Ada suami yang harus saya temui disana."
"Ckck..." Dato' Faisal berdiri dari duduknya. Lelaki paruh baya itu berjalan menghampiri jendela ruangan yang besar, melihat jalanan Singapura yang sibuk dari puncak gedung perusahaannya. "Kenapa kau tidak menetap saja disini." ucapnya tanpa melihat Intan.
Intan tersenyum lembut mendengar hal itu.
"Saya tidak bisa Dato', suami saya melarang. Dia tidak ingin kami pindah kesini." ungkapnya sambil sedikit merunduk.
Dato' Faisal menengokkan kepalanya memandang Intan, lelaki itu berjalan perlahan mendekati simpanannya itu. Ia berdiri tepat dibelakang Intan. Rapat, hingga perut buncitnya menyentuh bagian belakang Intan. Intan masih menundukkan kepala, namun seringaian mulai berkembang di sudut bibirnya.
"Berapa lama kau disana? Bukankah kau harus segera menyiapkan kebutuhan fashion show itu?" tanyanya beruntun.
"Hanya sebentar Dato', saya juga tidak betah berlama-lama disana." ujar Intan, wanita itu melirik kedua tangan Dato' yang sedang menggerayangi tubuhnya perlahan.
"Kenapa tidak kau tinggalkan saya suamimu." bisik Dato' dibelakang telinga Intan.
Intan menegakkan kepalanya, membalikkan badan menghadap Dato' Faisal. Wajah cantiknya mendadak sendu, seolah ingin mengungkapkan kesedihan dalam hatinya.
"Tidak bisa Dato', suamiku tidak akan terima jika aku ingin bercerai dengannya. Dia pasti akan mengurungku di ruangan bawah tanahnya." Intan ingin mendapat simpati lebih dari Dato' Faisal.
"Cih. Lelaki macam apa dia?!" Dato' berjalan kembali menghampiri mejanya. Dia dudukan bokongnya di tepian meja dengan sebelah kaki menjuntai dan sebelah lagi menjadi penopang.
"Kemari Intan." Dato' Faisal merentangkan tangannya pada Intan. Intan berjalan menghampiri Dato'. Lelaki itu langsung menarik Intan begitu Intan menyambut uluran tangannya.
__ADS_1
"Dato'!!?" pekik Intan terkejut ketika Dato' Faisal menarik tangannya hingga Intan terperangkap diantara kaki Dato'. Lelaki itu malah menyeringai jahil melihat raut wajah Intan yang terkejut.
"Aku disini memanjakanmu dengan berlimpah harta, apa yang suamimu lakukan untukmu?" Dato' Faisal menempelkan bibirnya di permukaan wajah Intan. Dengan gerakan perlahan bibir itu menyusuri sebelah pipi Intan hingga pada bagian leher.
"Tidak ada." ucap Intan sembari terpejam merasa nikmat dengan apa yang Dato' Faisal lakukan. "Tidak ada yang dia lakukan untukku Dato'. Dia...dia hanya menginginkan tubuhku." ucap Intan terbata.
"Tubuhmu?" Dato' Faisal kini meletakkan tangan Intan di resleting celananya. Lelaki itu sambil terus menyusuri wajah Intan dengan bibirnya, ia menaik turunkan tangan Intan disana. Seperti meminta Intan untuk memberikan sentuhan pada kej*ntanannya. Intan mengikuti dengan sukarela. Wanita b*nal itu mengelus menggoda kej*ntanan Dato' Faisal yang mulai tampak mengeras.
"Sehebat apa permainannya? Apa dia lebih hebat dariku?" tanyanya kemudian.
Intan membuka matanya, dia terkekeh mendengar pertanyaan atasannya itu.
"Tidak ada yang lebih hebat daripada Dato' Faisal." ucapnya sembari tersenyum. Dato' Faisal menyeringai dengan rasa bangga. Lelaki itu kemudian menghentikan cumbuannya, ia mendekatkan wajahnya pada telinga Intan.
"Kau merasakannya bukan?" tanya Dato' merujuk pada bagian bawahnya yang sudah menegang. Intan mengangguk pelan. "Bagaimana jika aku membenamkannya pada mulut seksimu?!" bisiknya lagi tanpa tahu malu.
"Dengan senang hati, Dato'." jawab Intan seraya bersiap membungkukkan badan.
🍁🍁🍁
Malam datang lebih awal di pegunungan. Matahari sudah sejak tadi tenggelam, meninggalkan langit yang bersih tanpa awan. Kabut tipis merambati pepohonan di sejauh mata memandang. Udara berubah menjadi dingin, cukup untuk memberikan rasa menusuk pada permukaan kulit.
Bersama malam, bintang hadir mengisi kekosongan angkasa. Berkelip manja seolah mengajak siapapun yang memandangnya untuk terbuai dalam keheningan malam.
Kedua manusia itu berdiri di tepi balkon ruang kerja. Memandang syahdu harmoni alam pegunungan yang khas dengan bebunyian kumbang sebagai melodinya. Laura menyelipkan rambutnya yang tertiup angin ke belakang telinganya. Sabiel berdiri disampingnya, memandang istri tercinta dengan tatapan terhangatnya.
"Aku tidak mengaktifkan ponselnya sejak kita berada di hotel." ucapnya pada Laura yang akhirnya dapat memegang kembali ponsel sitaan Sabiel.
Drttt.. Drrrtt.. Drrtt.. Drrrtt.. Drrrtt...
Entah berapa kali ponsel itu berdering. Pesan yang tidak tahu kapan dikirim itu, masuk beruntun dalam ponsel Laura. Ia mencoba membukanya, tanpa sadar Sabiel sudah bergeser untuk berdekatan dengannya. Lelaki itu sedikit memundurkan tubuhnya dari Laura, ia penasaran pesan dari siapa saja yang masuk dan memenuhi kotak pesan di ponsel istrinya.
From. Rena.
Laura, berhari-hari kau tak masuk. Apa kau baik-baik saja? Aku dengar kau sedang berada diluar kota.
"Aku memberitahu pihak kampus bahwa kau sedang menjenguk orangtuamu." Sabiel menjelaskan, meskipun Laura tampak tak peduli. Tentu saja Laura sudah pasti berpikir Sabiel akan mengurus ketidakhadirannya di kampus.
Laura membuka pesan yang lain, kali ini dari teman sekamarnya.
From. Gisel.
Laura sayaaang, kenapa kau tidak bisa dihubungi huh?! Apa kau sedang berkencan lagi dengan aktivis-mu itu? Hihihi
Laura menghembuskan nafasnya berat. Gisel mengingatkannya pada Bimasakti. Jemarinya perpindah lagi pada pesan yang dikirim oleh ayahnya.
From. Ayah.
"Sayang, kau baik-baik saja? Bagaimana kuliahmu? Kemarin Sabiel menghubungi ayah, dia mengatakan akan datang ke rumah untuk memberitahu sesuatu. Kau tahu apa itu nak? Ayah hanya khawatir.
Laura mendelik kesal pada Sabiel dibelakangnya. Gara-gara bedebah gila itu, ayahnya harus mengkhawatirkan sesuatu.
__ADS_1
"Tenang saja, aku tidak akan mengatakan apapun tentang foto kita. Aku akan mengatakan hal yang lain." ucap Sabiel ketika melihat sinar kemarahan dari bola mata Laura.
"Apa yang akan kau katakan nanti pada ayahku?" tanya Laura sinis.
"Apapun. Kecuali foto dan pernikahan kita." Sabiel menyeringai jahil, dia gemas melihat wajah kesal istrinya hingga mengigit ujung telinganya sedikit.
"Hentikan!" sergah Laura menyikut lemah pinggang Sabiel.
Matanya kembali fokus membaca pesan-pesan di ponselnya. Sampai pada pesan Bimasakti. Mata Laura melebar, hatinya didera kerinduan pada lelaki itu. Dengan tak sabar Laura membuka pesan kekasihnya, atau lebih tepatnya lelaki yang akan menjadi mantan kekasihnya. Mengingat kini ia sudah menikah dengan seorang dosen gila.
From. Bimasakti.
Malam terasa mencekam tanpa kabar darimu. Tidurku selalu dipenuhi teror mimpi busuk. Aku rindu, dan merasa kesal karna harus menunggu.
Mata Laura mulai berkabut, bulir air mata menggantung di kelopak matanya. Siap terjun bebas mengaliri kedua pipi. Ia baca lagi pesan Bimasakti yang lain.
From. Bimasakti.
Semalam aku mimpi buruk. Aku ingat kamu. Ingin memelukmu. Demi Tuhan Laura, aku sekarat menanti kabar darimu.
Laura mulai terisak. Jemarinya tergesa membuka pesan yang lain.
From. Bimasakti.
Sayang, kau tahu Laras? Dia memberiku banyak sekali pekerjaan. Dia bilang aku harus banyak bekerja, agar kerjaku tak hanya satu. Menunggumu.
Laura tak tahan. Hatinya perih membaca pesan-pesan kerinduan dari lelaki itu. Gadis itu terisak, tangisnya pecah menodai keheningan malam. Sebelah tangannya menggenggam erat teralis besi balkon kaca. Kepalanya tertunduk dengan pasrah.
Apa yang harus dia lakukan? Bahkan untuk membalas kerinduan kekasihnya pun ia menjadi ragu. Statusnya menghalangi keinginannya untuk membalas semua pesan itu. Dia ingin mengatakan rindu. Tapi apakah itu pantas? Nyatanya kini ia memiliki lelaki lain. Lelaki yang baru saja resmi menjadi suaminya.
Sabiel yang melihat Laura menangisi pesan dari kekasihnya, memeluk Laura dari belakang. Lelaki itu mewajarkan tangisan Laura, dia sadar bahwa dialah yang merebut paksa Laura dari tangan Bimasakti.
"Cukup hari ini saja aku biarkan kau menangisi lelaki lain, sayang." gumamnya dalam hati.
Ditengah sedu sedan tangisnya, Laura yang merasakan lengan Sabiel memeluk erat pinggangnya berreaksi, dia melepas paksa lengan Sabiel dan berbalik badan berhadapan dengan wajah suaminya.
"Kau jahat!"
Sambil berderai air mata, tangan mungil Laura memukul lemah dada Sabiel. Sabiel tak bergeming, dibiarkannya Laura menumpahkan kemarahannya.
"Kau jahat Sabiel! Kau jahat!" pukulan Laura mulai sedikit menguat. Sabiel masih tetap membiarkannya, ia menautkan kedua lengannya untuk berpegang pada teralis besi, di sisi kanan dan kiri tubuh Laura. Laura terus menangis, tangisannya berubah semakin kencang.
"Kau memaksa aku berpisah dengannya. Kau jahat!" tiba-tiba pukulannya kembali melemah, tubuhnya hampir saja terjatuh jika Sabiel tidak langsung merengkuhnya dalam dekapan. Laura tak kuat, kesedihan yang ia alami membuatnya lunglai tak bertenaga.
Masih terdengar isakan dan gumaman dari mulut Laura, ketika Sabiel dengan perlahan mengangkat tubuh mungilnya untuk ia gendong. Laura memeluk leher Sabiel, menenggelamkan tangisannya pada ceruk leher suaminya. Sementara itu, Sabiel mulai melangkah meninggalkan pemandangan malam yang indah sembari membawa istrinya yang terluka.
Sedikit pun, tak ada raut penyesalan dalam wajah tampan innocent lelaki itu. Dia sudah memprediksi akan ada masa nya Laura menangis karena dipaksa terjebak dalam sangkar yang ia buat. Dia sudah siap dengan hal itu.
🍁🍁🍁
__ADS_1