
Hampir satu minggu berlalu tanpa gangguan berarti dari Intan. Sabiel menjalani hari-harinya dengan suka cita bersama Laura. Sejak hari terakhir ia menemui Intan, Sabiel tidak pernah lagi merasa memiliki beban untuk menemani wanita itu selama disini. Ia membiarkan Intan memikirkan tawarannya seorang diri.
Namun meski begitu, terlintas dalam pikiran Sabiel rasa penasaran apa yang nanti Intan putuskan setelah tenggat waktu yang ia berikan untuk memikirkan tawarannya telah habis. Intan wanita yang penuh ambisi, wanita nekat yang terkadang mampu melakukan sesuatu yang bahkan tidak terpikir oleh manusia lain. Mengingat hal itu membuat hati Sabiel terselubungi oleh sedikit rasa cemas.
"Sayaaaang"
Lengkingan suara Laura membuat Sabiel langsung tersadar dari kecemasannya. Ia beranjak dari ranjangnya dan berjalan menghampiri sumber suara.
"Ada apa?" tanyanya di depan pintu kamar mandi yang tertutup.
"Kau yakin ingin aku memakai ini? Ini sangat tidak nyaman, kau tahu?!" keluh Laura dari dalam sana. Matanya menatap malu bayangan dirinya di depan cermin.
"Yakin sayang" Sabiel memegang handle pintu. Mencoba membukanya namun pintu telah dikunci oleh istrinya. "Buka pintunya sayang. Biar aku lihat"
"Tidak. Aku malu" sahut Laura
"Ayolah sayang, hanya malam ini saja"
"Aku ingin membukanya lagi. Ini membuatku... "
Sabiel membelalakan matanya tak setuju dengan apa yang akan istrinya lakukan.
"Jangan sayang! Aku mohon. Malam ini saja, aku janji tidak akan memintamu memakainya lagi" Sabiel mulai mengetuk pintu yang enggan dibuka Laura. "Buka sayang, please"
Nada suara mengiba membuat Laura dengan berat hati membuka pintu itu. Hatinya berdebar tak menentu, rasa malu yang menggelitik membuatnya berdiri dengan gelisah. Sabiel benar-benar membuatnya kalang kabut harus meladeni keinginannya yang aneh.
Ceklek.
"Aku malu. Ini sama sekali tidak nyaman Sabiel!" gersah Laura menundukkan kepalanya.
Sabiel menyeringai menatap rona merah mulai merambat menghiasi kedua pipi Laura. Sorot matanya berkobar menyalakan gairah hasrat yang terpendam. Dia merasakan bagian bawahnya menegang menyaksikan tubuh menggoda Laura yang hanya menggunakan brassiere dan.... Oh Tuhan! pilihannya memang tak pernah salah.
Kedua payudara Laura terlihat lebih menantang dari sebelumnya berkat brassiere hitam yang Sabiel belikan untuknya itu. Dada Sabiel berdesir tak sabar ingin melabuhkan kedua tangannya disana.
__ADS_1
Dan bagian bawah Laura yang membuat jakun Sabiel naik turun dengan cepat tak bisa lelaki itu abaikan. Garter belt yang menutup area sensitifnya, benar-benar berhasil memberi kesan sensual yang garang pada Laura.
Damn! Matanya melihat pada empat buah straps yang dikaitkan pada stocking paha Laura dan itu sangat terkesan seksi nan liar!
Sabiel memandang keseluruhan penampilan istrinya malam ini. Lingerie yang ia belikan ditambah wajah malu-malu Laura membuat ia yakin, malam ini akan menjadi malam yang panjang bagi mereka. Dalam benaknya, Sabiel sudah membayangkan pose-pose vulgar apa yang akan ia lakukan bersama istrinya.
"Sabiel!!"
Bentakan Laura yang sepenuh rasa malunya membuyarkan fantasi liar dalam benak Sabiel. Lelaki itu mengerjapkan matanya, menyeringai nakal sembari menghampiri Laura yang masih berdiri dengan kedua tangan berusaha menutupi area-area sensitifnya dengan percuma.
"Sayang, kau...." Sabiel tak menemukan kata yang sepadan untuk menggambarkan kesempurnaan Laura malam ini.
"Apa? Tidak bagus kan? Aku sudah katakan ini tidak akan cocok padaku" Laura memberungutkan bibir sembari merunduk memperhatikan penampilannya yang aneh.
Sabiel tak tahan dengan sikap malu-malu istrinya. Tanpa aba-aba lelaki itu langsung menggendong Laura ala bridal. Laura yang sempat terkejut, serta merta mengalungkan tangannya di leher Sabiel. Memeluk dengan cara posesif yang baru kali ini ia perlihatkan.
"Kau sempurna" bisik Sabiel membawa Laura keluar kamar mandi dan berjalan mendekati ranjang empuknya.
Sepanjang derap langkahnya, Laura membenamkan wajahnya kedalam dada bidang Sabiel. Wajahnya terasa panas mendengar pujian dan binar gairah yang ia lihat dari wajah suaminya.
Pandangan Sabiel sepenuhnya tersita oleh Laura saat itu. Lelaki itu memperhatikan tubuh mungil yang begitu pas dengan lingerie yang ia kenakan. Dada keduanya bergemuruh bersamaan, tak tahan menanti kenikmatan yang mematikan saraf otak mereka.
Sabiel mulai merunduk. Bibirnya mulai merayu bibir Laura dengan lembut. Tubuh Laura meremang ketika Sabiel menggesekkan bibirnya disana, jemarinya meremas rambut Sabiel setengah frustasi. Bibir Sabiel menguasainya. Layaknya seorang penjajah, lelaki itu mengekspansi rongga mulut Laura hingga pada bagian terkecil untuk ia kuasai.
Mata Laura tak tahan ingin terpejam, kenikmatan yang Sabiel lakukan dengan cara kasar terasa seksi bagi Laura. Lelaki itu membuat tubuhnya serasa meleleh. Sabiel tak membiarkan Laura mengambil waktu untuk sekedar beristirahat, ia melepaskan Laura dari siksaan pagutan bibirnya dan mulai menyiksa Laura dengan menjelajahi tubuhnya menggunakan bibirnya yang basah.
Laura merasakan beberapa kecupan dalam di sekujur tubuhnya, ia yakin kecupan itu pasti sudah meninggalkan noda.
"Sabiel..." desah Laura meremas udara. Matanya terbuka dan berubah sayu.
Sabiel tak mampu berpikir jernih, ditengah deru gairah yang semakin memaksanya berpacu membawa Laura dalam sensani erotis percumbuan. Laura mendesah keras, ketika lelaki itu meremas lembut kedua payudara yang menyembul karena tekanan dari brassiere yang masih ia kenakan.
Desahan Laura terdengar merdu di telinga Sabiel. Suara parau nan seksi yang Laura keluarkan, memicu jiwa Sabiel yang sudah terbakar dengan kobaran nafsu menjadi lebih bergelora.
__ADS_1
Sabiel terus bergerak turun ke bagian bawah. Kedua tangannya mengelus garter belt yang melingkar disana, melepasnya dengan tak sabar hingga terpampanglah apa yang membuatnya gila untuk menginginkan Laura lagi dan lagi. Sabiel mulai mencumbui bagian bawah Laura. Tak ada yang bisa Laura perbuat ketika bibir, lidah dan jemari suaminya bergerak serakah dibawah sana, selain melentingkan setengah tubuhnya ke udara. Sabiel membuat Laura liar dalam konteks seksual sekaligus merasa paling berharga atas sikap pemujaan Sabiel pada tubuhnya.
Oh Laura. Cintaku. Nafsu primitifku. Kau membuatku bagai seorang majusi yang menyembah api. Memujamu dengan cara gila yang belum pernah aku lakukan pada wanita manapun. Laura, api gairahku. Keutuhan jiwaku bersemayam dalam jiwamu.
Malam sunyi kala itu terasa syahdu dengan nyanyian peri-peri surga yang terdengar iri menyaksikan percintaan mereka.
Sabiel bertekad untuk melakukannya dengan cara yang lain. Ia ingin mengajak Laura untuk lebih agresif memberanikan diri menjadi pemimpin dalam kegiatan erotis mereka malam itu. Sabiel menegakkan tubuhnya dari bagian bawah Laura yang ia cumbui tadi. Ia membuka celananya sembari kembali menciumi bibir manis Laura. Lelaki itu menarik lengan Laura dan mengubah posisinya menjadi berada di atas dirinya.
Women on top. Pose itu yang sejak tadi ia idamkan. Dan kini ingin Laura lakukan.
"Aku ingin kau yang memimpin kali ini sayang" rajuknya dengan mata terpaku pada tubuh istrinya yang mulai lembab berkeringat. Kejantanannya sudah terbenam di organ vital istrinya.
Laura tampak ragu. Pengalamannya yang seujung kuku membuat ia tak percaya diri untuk memulai. "Apa yang harus aku lakukan, Sabiel?!" desah suara Laura membuat Sabiel mabuk kepayang.
Lelaki yang kini tengah menggerayangi lingerie yang melekat di dada Laura dengan gerakan sensual itu tersenyum melihat raut wajah merah istrinya yang bingung. Ia memegangi kedua sisi pinggang kecil Laura, mengoyangkannya perlahan hingga Laura merasakan kenikmatan itu lagi.
"Ikuti instingmu sayang. Kau tahu apa yang harus kau lakukan"
Laura terperangkap dalam gairah Sabiel yang semakin membara. Ia tak bisa menghentikan goyangan pinggulnya begitu saja. Rasa puas yang belum ia dapat membuatnya terus berpacu disela gerayangan jemari Sabiel yang kini telah berhasil melempar brassiere tanpa perasaan di lantai. Sabiel mempermainkan p*ting payud*ra Laura yang mengeras.
Lihatlah! Betapa liciknya ia. Dalam posisi tidur pun lelaki itu masih cukup memiliki kesempatan untuk menyiksa Laura dengan permainan jemarinya.
Laura mengerang. Matanya berkedip perlahan meresapi permainan panas di tengah dinginnya udara malam.
Sabiel menjadi tak sabar dalam satu waktu yang ia rasa tepat untuk segera mengeluarkan benihnya. Dan hal itu ternyata disambut oleh Laura. Ketidaksabaran Sabiel mematik sisi liar dalam dirinya. Wanita itu berpacu lebih cepat, seolah sedang mencari kenikmatan lebih yang ingin ia raih. Nafas keduanya tersenggal. Sabiel begitu gila merasakan keberhasilan Laura yang memuaskan dahaganya. Hingga sampai disatu titik keduanya mengerang bersama. Tubuh Laura bergidik atas reaksi naluriah dari sesuatu yang keluar dari pusatnya. Dadanya naik turun dengan mulut menganga akibat rasa lelah yang baru saja menyerangnya.
Wanita itu tersenyum melihat kepuasan dari raut wajah suaminya. "Aku tidak menyangka aku bisa seperti tadi"
Sabiel mendengar nada suara malu dari mulut Laura. Lelaki itu tersenyum mencoba meyakinkan bahwa hal yang baru Laura lakukan adalah sesuatu yang wajar.
"Aku merasa kau sedikit bin*l malam ini"
Laura terkekeh, ia merebahkan tubuhnya di atas dada Sabiel. "Entah mengapa, aku malah menyukai kebin*lan diriku saat ini"
__ADS_1
Sabiel mengusap punggung Laura yang berkeringat. "Maka lakukanlah setiap kita bercinta" ucapnya menjadi akhir dari kalimat pengantar tidur bagi kedua tubuh yang didera lelah dan nikmat.
🍁🍁🍁