Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 77


__ADS_3

Laura butuh beberapa saat untuk memberanikan diri menuruni mobil bersama Sabiel. Sorot matanya terpaku pada pintu apartemen yang masih tertutup. Kemarin setelah negosiasi panjang dengan suaminya dan para tenaga medis, akhirnya Laura bisa bernafas lega. Ia diijinkan pulang setelah beberapa hari menjadi pasien disana.


"Ayo sayang" ajak Sabiel pada Laura yang masih termangu menatap pintu.


Dia tidak bisa memungkiri, masih ada rasa cemas yang menggelayuti hatinya sejak keluarganya memutuskan untuk tinggal sementara bersama mereka. Sabiel sendiri tak ambil pusing dengan keputusan itu, dia malah memanfaatkan kesempatan itu untuk membuktikan bahwa ia dan Laura adalah satu kesatuan yang tidak mungkin bisa dipisahkan.


"Sayang?"


Sabiel memanggil Laura sekali lagi dengan nada heran. Lelaki itu meremas jemari istrinya, meyakinkan bahwa segalanya akan membaik. Laura mengawasi suaminya yang keluar dari dalam mobil dan berjalan memutar menuju pintunya. Lelaki itu membukanya perlahan, tangannya langsung ia ulurkan untuk Laura.


Laura menghela nafasnya dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia mengangguk mengenyahkan segala gundah akan hal apa yang menantinya di balik pintu itu. Sabiel merangkul bahu Laura mesra, ia sisipkan kecupan ringan di pipi wanita itu.


"Kemarin aku meyakinkanmu, sekarang kau menguatkanku" ucap Laura tersenyum tipis.


"Itulah gunanya pasangan. Kita bisa saling menguatkan satu sama lain. Jadi, ayo kita hadapi bersama. Lagipula ayahmu sudah tak semarah saat awal bertemu dengan kita" balas Sabiel.


Mereka berjalan bersama menuju pintu apartemen. Membukanya perlahan dan melangkah melewati ambang pintu.


"Kalian sudah pulang?"


Pertanyaan paman Ali membuat keduanya menoleh pada sumber suara. Mata Laura bertabrakan dengan mata sang ayah yang ternyata sedang duduk berdua di ruang keluarga.


"Kalian sudah pulang? Mengapa tak memberitahu kami?"


Pertanyaan lain datang dari bibi Dina. Wanita bermata sendu itu berjalan dari arah dapur. Menghampiri Laura dan Sabiel sembari mengelap jemari basahnya pada appron yang ia kenakan. Sementara kedua pembantu Laura terlihat sedang sibuk membuat kudapan.


"Iya paman, bibi. Laura memaksa ingin pulang tiba-tiba. Jadi aku terlalu sibuk sampai tidak sempat memberitahu kalian" Sabiel menjelaskan.


"Alah, memang kalian tidak menganggap kami. Jadi kalian tidak merasa memiliki kewajiban untuk mengabari kami" nada suara mencemooh keluar keras dari mulut ayah Laura.


"Ayaaahh" Laura memberanikan diri mendekati orangtua itu. "Bukan begitu maksud kami. Sabiel tadi benar-benar sibuk harus mengurus segala berkas kepulangan Laura. Makanya tak sempat mengabari ayah"


Raut wajah ayah Laura terlihat malas mendengar pembelaan dari putrinya. "Alasan, kalian memang selalu pintar menutupi segalanya dari kami" ucapnya sembari memalingkan wajah.


Sabiel berjalan menghampiri ayah Laura, diikuti bibi Dina. "Maafkan Sabiel ayah" ucapnya lirih.


"Sudah sudah.. Kalian baru saja datang. Sabiel, lebih baik kau bawa Laura ke kamar. Biarkan dia beristirahat dulu" suara menenangkan bibi Dina membuat Sabiel menggenggam jemari istrinya kembali.


"Ayah, maafkan Sabiel. Jika ayah masih ingin marah. Tumpahkan semuanya pada Sabiel. Laura sama sekali tak bersalah" ucap Sabiel mencoba mengalah. Tak berselang lama, lelaki itu menarik Laura untuk ikut bersamanya.


Ketiga pasang mata itu melihat kepergian Sabiel dan Laura. "Sampai kapan kau akan keras kepala begitu? Laura baru saja kehilangan anaknya. Kasian dia" paman Ali menatap wajah dingin kakaknya.


"Laura dan Sabiel tampak bahagia saat ini, apa kakak ipar tidak bisa merasakannya? Lihat mata Sabiel, pandangannya akan selalu berubah lembut jika sedang menatap Laura" Kali ini bibi Dina yang mengutarakan isi hatinya.


Awalnya ia pun sama marahnya dengan ayah Laura, namun setelah beberapa hari tinggal bersama dengan mereka, bibi Dina perlahan bisa memaklumi sikap Sabiel dan Laura yang memutuskan untuk menyembunyikan fakta pernikahan siri mereka. Terutama ketika bibi Dina melihat hampir setiap pagi, Sabiel pulang dari rumah sakit hanya karena ingin membuatkan sarapan untuk Laura. Melihat hal itu hati bibi Dina melembut, dan kemarahan menghilang di hatinya tanpa bekas.


Berbeda dengan kakak iparnya. Ayah Laura meskipun dalam hatinya ia mengakui bagaimana sikap lembut dan penuh kasih sayangnya Sabiel terhadap Laura. Rasa gengsi berbalut emosi masih saja membuatnya berhasil mengeluarkan kata-kata keras pada anak dan menantunya. Namun jauh dalam relung hatinya, lelaki tua itu sebenarnya menerima kehadiran Sabiel sebagai suami anaknya.


"Aku masih belum terima mereka membohongiku, ayahnya sendiri" dengus Rama kesal.


Malam semakin larut, lewat tengah malam Sabiel keluar dari kamarnya. Lelaki itu melangkah menuruni tangga dan berjalan menuju dapur. Tak berselang lama, Laura muncul dari pintu kamar. Wanita itu berjalan menghampiri suaminya disana.


"Kenapa kau keluar, sayang?" tanya Sabiel yang baru menyadari Laura di belakangnya.

__ADS_1


Wanita itu melingkari pinggang suaminya yang tengah membuat sesuatu dengan adonan pancake. Laura mengintip dari balik punggung Sabiel. Aroma pancake yang sedang dibuat merebak membuat lidahnya berdecak tak karuan.


"Sayang, tambahkan madu" ucap Laura ketika Sabiel menuangkan madu pada pancake yang tersusun dua lapis di piring bundar.


Tanpa kata Sabiel menambahkan madu itu, "Sayang, lepaskan dulu tanganmu. Aku kesulitan membawa ini" ujarnya


Laura menggeleng manja, wanita itu malah semakin membenamkan kepalanya di punggung Sabiel. Sabiel yang merasakan gelengan kepala di belakangnya, gemas dengan tingkah istrinya yang semakin manja. Jika tidak mengingat Laura baru saja sembuh dari perawatannya, mungkin saat ini lelaki itu sudah menerjang buas tubuh mungil istrinya.


Momen itu memutar kilas balik perjalanan cinta mereka. Sabiel masih saja tidak menyangka, bahwa istrinya yang semula sangat keras, kasar, dan mudah menjadi sosok menyebalkan. Kini berubah menjadi seorang istri yang lembut, penuh kasih, dan manja. Sikap manis Laura setiap hari serasa bertambah dari waktu ke waktu.


Sabiel berjalan perlahan, dengan sebelah tangan membawa piring berisi pancake. Sementara Laura masih memeluknya dari belakang, wanita itu menempeli Sabiel seperti gulma dalam sebuah tanaman.


"Apa rencanamu siang nanti? tanya Sabiel sembari menyuapi Laura yang duduk disebelahnya.


Laura tampak berpikir, "Sepertinya aku akan mengerjakan novelku. Mumpung sedang libur semester" jawabnya dengan mulut sibuk mengunyah pancake buatan suaminya.


"Kau baru sembuh sayang, jangan terlalu capek"


Laura mengangguk mengerti. Perhatiannya tertuju pada potongan pancake yang Sabiel makan untuk dirinya sendiri. "Berhenti memakan pancakeku. Itu tinggal sedikit" dengus Laura sebal.


Sabiel tersenyum geli, tatapan matanya berubah dalam mode jahil. "Aku yang membuat, pantas jika aku memakan lebih banyak" ucapnya seolah tak peduli.


Laura merebut garpu yang suaminya pegang, "Aku masih lapar. Kau bisa menghabiskan semuanya" gersah Laura sambil memotong pancake dan menyuapi untuk dirinya sendiri.


Sabiel menyeringai gemas, lelaki itu merangkup kedua pipi istrinya. Bola mata legamnya menatap penuh gairah, "Kau menggemaskan. Lekaslah pulih, aku tak tahan ingin bercinta denganmu"


Sabiel mencondongkan tubuhnya, lelaki itu hampir saja bisa mencicipi rasa madu dari sela bibir mungil istrinya, jika deheman keras tidak membuat mereka tersentak kaget tiba-tiba.


"EHEM! EHEM!!"


"Apa kamar kalian tidak cukup luas untuk bermesraan? Sampai aku harus melihat perbuatan mesum kalian hanya karena ingin melepas dahaga" ucapnya mencemooh.


"Ayaaahh" Laura tertunduk malu. Begitupun dengan Sabiel.


"Anak zaman sekarang memang berbeda" sindir Rama menggelengkan kepala sambil berjalan menuju kamarnya.


Ketika pintu kamar tertutup, Sabiel dan Laura mulai bisa bernafas lega. Laura mendelik pada suaminya, ia menyikut perut liat Sabiel sembari mendengus. "Dasar mesum!"


Sabiel hanya membalas dengusan istrinya dengan mengangkat bahu sambil terkekeh menahan malu.


🍁🍁🍁


Pengalaman di pagi hari yang hangat itu baru pertama kali Laura rasakan. Paman, ayah dan suaminya duduk bersama di sofa ruang keluarga. Sementara ia dan bibinya sibuk membuat makanan di dapur. Jarak dapur dan ruang keluarga yang cukup dekat dan tak bersekat membuat Laura berulang kali melirik kearah pada lelaki berharga dalam hidupnya.


Senyumnya mengembang ketika melihat ayahnya mendengus kesal karena kalah bertanding catur dengan adiknya. Sementara Sabiel memperhatikan pertandingan keduanya seperti seorang juri.


"Jangan curang ayah!" ucap Sabiel memperingati kecurangan mertuanya yang sangat kentara.


"Memang apa yang aku lakukan?! Seenaknya saja kau mengatakan aku curang" bantah Rama melengos.


Sabiel memijit pelipis kepalanya, "Ayah mengganggu konsentrasi paman. Ayah sengaja bukan?!" tanyanya penuh curiga.


"Biarkan saja Sabiel, aku sudah biasa menghadapi kecurangannya" timpal Ali.

__ADS_1


"Apa-apa kalian, kalian sengaja bersekongkol menjatuhkanku?" Rama menatap bergantian pada adik dan menantunya. "Hei kau, bilang saja jika kau takut aku mengalahkanmu" matanya memicing menatap seringai jengah sang adik.


"Mana bisa kau mengalahkanku? Sejak zaman dulu kau tidak pernah menang dariku, kak" ledek Ali pada kakaknya.


"Kali ini kau akan kalah" ujar Rama tak terima.


"Hei kalian! Berhenti bermain, makanan sudah siap. Ayo makan selagi hangat!"


Seruan bibi Dina membuat mata para lelaki tertuju padanya. Wanita itu terlihat sibuk mengatur beberapa piring di meja bersama Laura. "Sayang, ayo!" panggilan Laura membuat Sabiel tersenyum lega mendengarnya. Lelaki itu lebih baik segera berhenti menjadi juri,


daripada harus lelah menghadapi kecurangan mertuanya yang tidak ingin dikoreksi.


"Mau kemana kau?!" tanya Rama pada menantunya yang berdiri.


"Laura memanggilku ayah. Aku harus segera menghampirinya sebelum ia memarahiku" ujar Sabiel menatap mata tajam mertuanya.


"Sabieeeel!"


"Lihat! Ayah dengar sendiri bukan?!" sambungnya ketika Laura memanggilnya setengah berteriak kembali.


"Sebentar sayaaang" seru Sabiel dengan nada dibuat-buat.


Mata Rama mengikuti pergerakan Sabiel yang memutari sofa tempatnya duduk. Sementara paman Ali tersenyum tipis melihat wajah kecut kakaknya yang tak berhenti memperhatikan menantu dan anaknya di meja makan sana.


Dalam hatinya, paman Ali bersyukur. Sepertinya kakak keras kepalanya ini mulai melunakkan hatinya pada dua keponakannya itu.


"Apa kau lihat-lihat?!" sergah Rama ketika menyadari tatapan adiknya.


Ali mengangkat bahunya seolah tak peduli, "Lebih baik aku ikut Sabiel, daripada lelah menghadapi kecuranganmu" ejeknya seraya berdiri dan melangkah menuju meja makan.


"Astaga! Mengapa mereka menjadi semakin menyebalkan saat ini?!" gumamnya seorang diri.


Tak berapa lama, lelaki tua itu beranjak dari duduknya setelah ia mengacak bidak catur karena kesal. Langkahnya santai menghampiri semua anggota keluarga yang tengah siap menikmati menu sarapan pagi.


"Ayah mau makan apa?" tanya Laura ketika ayahnya mulai duduk si kursi paling ujung diapit paman dan bibinya. Sementara Laura duduk bersebelahan diapit paman dan suaminya.


"Ayah ingin mencoba makanan seperti suamimu. Apa itu?!" tunjuk Rama pada beberapa tangkup sandwich tuna di piring bundar.


Dina dan Ali saling berpandangan dengan mengulum senyumnya masing-masing. Sandwich di pagi hari adalah hal yang janggal yang baru kali ini mereka saksikan. Ayah Laura sama seperti kebanyakan orang, lelaki itu akan selalu mengawali pagi harinya dengan sarapan menu lengkap seperti nasi beserta lauk pauknya. Namun entah apa yang sedang terjadi dalam dirinya, tiba-tiba ia ingin makanan yang sedang di nikmati menantunya sendiri.


"Kenapa diam?! Kau tidak ingin membagi makanan suamimu dengan ayah?"


Ucapan Rama menyadarkan Laura dari keterpakuannya. Dengan gerakan kikuk, ia mengambilnya beberapa tangkup sandwich. "Tentu tidak ayah, Laura hanya terkejut dengan menu sarapan baru ayah" ucapnya menyeringai jahil.


Rama menerima piring berisi sandwich itu sambil mendengus. Ekor matanya melihat adik dan adik iparnya tengah berusaha menahan diri untuk tidak tersenyum.


"Berhenti menatapku. Aku hanya ingin mencoba karena penasaran" kilah Rama tak peduli tatapan aneh keluarganya.


Lelaki itu menggigit sandwichnya. Alisnya terangkat ketika lidahnya mencecap rasa yang nikmat dari perpaduan roti dan tuna. Sementara di bawah meja sana, jemari Sabiel menjalin erat jemari istrinya. Mereka berpegangan seolah menyalurkan rasa bahagia atas sikap tak terduga dari ayah Laura. Sabiel merasa ayah Laura mulai menerimanya menjadi bagian dari keluarga. Hatinya menghangat hanya dengan berpikir seperti itu.


🍁🍁🍁


Hai semuanya, 👐

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca ya.. 😍😍


Oh ya, Author ingin menyampaikan sesuatu nih buat para reader tersayang tercinta termanis ter lainnya hihihi. Besok, Author tidak bisa up dulu, tapi sebagai gantinya. Hari minggu akan Author ganti. Jadi seminggu tetap 6 kali up. Ok? Ok lah hihi 😉👍


__ADS_2