
Rasa letih menghampiri Laura siang hari itu. Dia mengusap kedua matanya yang terasa perih setelah cukup lama berkutat dengan laptop di ruang keluarga. Laura mengangkat kedua tangannya untuk merenggangkan tubuhnya yang terasa pegal. Ekor matanya menangkap Sabiel sedang menuruni tangga.
"Belum selesai cerpennya?" tanya Sabiel mengampiri Laura.
"Sepertinya sebentar lagi. Aku sedang memikirkan ending cerpen yang kubuat" sahut Laura.
Sabiel duduk disamping Laura, "Jangan terlalu membuat tubuhmu letih sayang. Ingat, kau sedang hamil" ujar Sabiel mengingatkan.
Laura mengecup kening suaminya sekejap, senyum terulas manis dalam bingkai wajah jelitanya. "Aku baik-baik saja" timpalnya menenangkan hati Sabiel.
Beberapa hari setelah paman Laura pergi, Sabiel semakin berubah menjadi seorang suami yang protektif pada Laura. Segala sesuatu yang menurutnya akan membuat Laura letih, segera ia singkirkan. Terkadang sikap Sabiel yang seperti itu membuat Laura selalu mengulum senyumnya karena tak tahan melihat ekspresi cemas suaminya yang terlihat menggemaskan.
"Seorang editor dan penerbit menawarkanku untuk membuat novel. Bagaimana menurutmu?" tanya Laura kemudian.
"Aku tidak akan suka jika itu akan memporsir tenagamu sayang" Sabiel menyelipkan rambut Laura dibelakang telinga. "Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang membuatmu dan anakku dalam bahaya"
Laura mendelik dengan mulut mengerucut, "Menulis naskah tidak akan membuatku kehabisan tenaga, sayang!" dengus Laura sebal.
"Tapi itu akan menguras pikiranmu" sanggah Sabiel menjawil hidup mancung Laura. "Membuat cerpen saja kau sering tidur larut malam, apalagi jika membuat novel" ungkap Sabiel.
"Bukankah bercinta denganmu juga membuatku tidur malam? Bahkan terkadang sampai dini hari" Laura memicingkan mata mengingat kelakukan suaminya. "Berarti kau lebih membahayakan daripada novel, sayang" tuduh Laura.
Sabiel merangkup pipi Laura gemas, ia mendekatkan hidungnya pada hidung Laura sampai kedua ujung hidung itu beradu. "Begadang karena bercinta lebih bagus daripada begadang karena memikirkan jalan cerita novelmu" sahut sabiel sebelum mencium mesra bibir mungil Laura.
"Alasan macam apa itu?! Begadang tetap begadang, tidak baik untuk kesehatan. Kau tanyakan saja pada Rhoma Irama, dia pasti setuju" ucap Laura menatap Sabiel yang meninggalkannya di ruang keluarga.
Lelaki itu langsung terkekeh geli mendengar ucapan Laura. Langkahnya yang hendak menuju dapur terhenti dan langsung menoleh pada istrinya. "Tidak mau, aku takut bernasib sama dengan Inul Daratista, harus berlutut dan memohon maaf padanya" timpal Sabiel membuat Laura ikut terkekeh dengan obrolan absurd mereka.
"Kau ingin rasa apa?" tanyanya ketika hendak mengeluarkan susu ibu hamil dari rak kitchen set.
Laura mendongah melihat dua dus susu coklat dan vanila yang Sabiel keluarkan, "Coklat sayang!" serunya.
Sabiel segera membuatkan Laura susu coklat, "Cepat matikan laptopmu, sayang. Setelah minum susu, bersiap-siaplah. Aku ingin makan malam diluar hari ini" ucap Sabiel yang kini tengah membawa susu buatannya pada Laura.
Laura menerima susu itu sembari menyeringai menatap suami di hadapannya, "Apa kita akan kencan hari ini?" tanya Laura menaik turunkan alisnya.
Sabiel mengulum senyumnya, "Kau ingin berkencan denganku?" Sabiel menggoda balik. "Berkencan denganku akan selalu berakhir dengan begadang nanti malam. Setuju?" ucap Sabiel usil.
Rona merah merambat di wajah Laura, "Setuju!" sahut Laura tersipu malu dan langsung menghabiskan minumannya.
🍁🍁🍁
Belum terlalu sore saat Sabiel dan Laura akhirnya keluar dari apartemen. Sabiel masuk kedalam mobil begitu ia mempersilahkan Laura masuk lebih dulu.
"Kau ingin makan apa?" tanya Sabiel sambil memasang seatbelt istrinya.
Laura tampak berpikir sejenak, sementara Sabiel mulai menyalakan mobilnya dan langsung meninggalkan teras apartemennya. "Aku ingin sushi" putus Laura.
"Oke. Kau akan mendapatkannya, sayang" sahut Sabiel tanpa menengok pada Laura.
Jalanan Bandung di weekend hari memang selalu padat. Banyaknya destinasi wisata di kota itu membuat orang-orang datang berbondong-bondong dari tempat asalnya masing-masing untuk memuaskan diri dengan objek wisata yang ditawarkan kota kembang tersebut. Dari balik jendela Laura melihat beberapa mobil berhenti di bahu jalan, dari nomor polisinya Laura menduga mereka adalah para wisatawan dari luar kota.
__ADS_1
Sabiel menolehkan kepalanya pada Laura, "Bulan depan kau akan ujian semester kan sayang?" tanyanya
"Iya. Memang kenapa?" tanya Laura dengan pandangan masih setia melihat jalanan.
"Setelah ujian aku ingin mengajakmu ke makam orangtuaku" ucap sabiel.
Laura segera menolehkan kepalanya, "Kenapa harus menunggu ujian? Kau bisa mengajakku sekarang. Saat ini juga" sahut Laura.
Sabiel tersenyum lembut, tangannya menggenggam jemari Laura dan mengecupnya kilat. "Makam orangtuaku di luar pulau. Tidak bisa hanya dengan sehari untuk kesana"
"Dimana itu?" tanya Laura penasaran.
Sabiel melirik Laura yang tengah menatapnya, "Kau akan tahu nanti" ucapnya kemudian.
Drrttt... drrttt... drttt...
Pandangan Laura dan Sabiel beralih pada ponsel hitam yang bergetar tanda sebuah pesan masuk. Tangan Sabiel segera meraih ponselnya yang ia taruh di atas dasboard. Satu pesan Tomi di bukanya.
From.Tomi
Tuan, orang-orang saya di Singapura mengirim email berisi rekaman cctv yang kita pasang di apartemen baru Nyonya Intan. Saya sudah mengirimnya pada email Tuan. Silahkan dibuka.
"Sayang, ada apa?" tanya Laura penasaran menatap raut wajah suaminya yang tampak serius secara tiba-tiba.
"Sayang, tolong ambilkan notebook di kursi belakang" ucapnya membuat Laura semakin penasaran.
Laura memutar tubuhnya ke belakang, matanya langsung tertuju pada tas notebook berwarna hitam disana. Diambilnya notebook itu.
"Tolong dinyalakan sayang, lalu buka email-ku. Password-nya tanggal lahirmu" ucapan Sabiel membuat Luara menoleh padanya.
Laura tersenyum, tiba-tiba ia mencondongkan tubuhnya kearah Sabiel lalu mengecup pipi suaminya cukup lama. "Hei, ada apa ini? Kau ingin mencuri start lebih dulu, huh?!" Sabiel tak tahan ingin mengembangkan senyumannya.
"Sejak kapan kau tahu tanggal lahirku?" tanya Laura sambil menyalakan notebook.
Sabiel melirik sekilas, dia tahu darimana asal kecupan tiba-tiba tadi. "Sejak aku jatuh cinta padamu" ucapnya tanpa ragu.
"Oh ya? Lalu kapan tepatnya kau mulai jatuh cinta padaku?" tanya Laura semakin penasaran.
"Sejak kau menabrakku dihari pertama kuliahmu" ungkap Sabiel terus terang.
Laura membelalakan matanya terkejut dengan satu fakta lain yang baru ia ketahui. Hari pertama kuliah itu bahkan masih jauh dari masa kedekatan mereka sebagai teman.
"Kau tidak percaya?" tebak Sabiel memperhatikan bola mata Laura yang membulat sempurna.
"Bagaimana bisa? Apa kau mengidap cinta pandangan pertama padaku?" Laura didera rasa tak percaya.
Sabiel menyeringai, "Aku tidak begitu paham konsep cinta pandangan pertama. Yang aku tahu, saat pertama kali menemukanmu duduk ditengah barisan itu, hatiku berdesir oleh rasa yang aku tak ketahui. Hingga pada akhirnya rasa tertarik membuatku memutuskan mendekatimu. Namun sialnya, ketika aku mendekatimu aku terjebak oleh perasaanku sendiri" ungkap Sabiel mengingat masa lalu. "Kau sayang! Kau menjeratku dengan rasa ingin memiliki yang begitu sulit aku tahan" ucap Sabiel menatap istrinya yang kembali terkejut.
"Sudahlah, lupakan itu. Aku merasa malu jika mengingatnya" ucap Sabiel. "Sudah kau buka?" tanyanya lagi.
Pipi Laura terasa panas mendengar ucapan Sabiel, entah mengapa hatinya begitu tersentuh dengan perasaan cinta Sabiel yang begitu menggebu. "Aku tidak bisa bayangkan jika teman sekelas mengetahui hubungan kita saat ini" Laura berandai sembari membuka email Sabiel.
__ADS_1
"Mereka akan tahu. Tapi nanti, diwaktu yang tepat" timpal Sabiel menatap jalanan yang padat. "Ada email dari Tomi, coba kau buka" pinta Sabiel menoleh sekejap pada Laura.
Laura membuka dengan santai satu dari beberapa file yang Tomi kirim disana. "Apa ini?" tanyanya heran melihat tampilan video yang gelap dengan sekelebatan dua orang manusia.
Sorot mata Sabiel menoleh bergantian pada Laura dan jalanan. Lelaki itu memutuskan untuk menepi di bahu jalanan yang sepi karena penasaran dengan apa yang Tomi kirim padanya.
"Hah!? Sabiel!!" seru Laura terkejut melihat tampilan video yang kini telah memperlihatkan sosok Intan dengan seorang lelaki berbadan gemuk.
Sabiel langsung ikut melihat isi video itu setelah ia mematikan mobilnya. Seringai menakutkan muncul perlahan disudut bibirnya. Mata keduanya terus menyaksikan apa yang terekam disana.
Sabiel menutup mata Laura dengan telapak tangannya dan mengambil notebook itu dari pangkuan Laura, saat adegan erotis mulai dilakukan oleh pasangan mesum itu. "Matamu terlalu suci untuk menyaksikan adegan hina ini, sayang" ucap Sabiel.
Laura yang masih dilanda perasaan kaget, terperangah dengan apa yang baru saja ia lihat. Intan benar-benar berselingkuh disana. Wanita itu bahkan sampai melakukan hubungan intim dengan selingkuhannya.
Sabiel masih terus melihat video vulgar itu, sorot matanya menyisir adegan demi adegan menjijikan yang tertampang nyata disana. Gerahamnya mengetat tak kala menyaksikan Intan yang merangkak mencumbui tubuh besar itu, rasa mual merambat naik di teggorokannya begitu matanya menelisik raut wajah Intan yang terlihat menikmati seks oral yang ia berikan pada lelaki paruh baya.
"Kau meneriakiku telah berselingkuh, padahal kau sendiri menjajakan tubuhmu pada lelaki lain. Jalang!" gumam penuh murka Sabiel.
Sabiel tak menghiraukan elusan tangan Laura di lengannya, matanya terlalu sibuk melihat bukti perzinaan yang akan memuluskan jalannya untuk lepas dari Intan. Dalam hatinya Sabiel tak sabar melihat reaksi Intan jika wanita itu mengetahui tentang rekaman cctv ini.
"Sayang, sudah jangan dilihat lagi" ucap Laura. Entah mengapa perbuatan Intan malah membuatnya merasa malu sendiri.
Sabiel tersenyum lembut menatap istrinya, tak berapa lama ia mengecup kening Laura. "Sebentar sayang, aku masih ingin melihat sejalang apa Intan disana" ucapnya sembari menyeringai puas.
Laura segera merebut notebook dipangkuan Sabiel, dia menyembunyikannya di sisi lain pinggang yang berhimpitan dengan pintu mobil. "Jangan lihat lagi. Kau sudah tahu inti bahwa Intan berselingkuh. Tidak perlu melihat hal kotor lain lagi darinya" ucapnya tegas tanpa bantahan.
Sabiel tersenyum mengerti maksud Laura, lelaki itu mengusap lembut rambut istrinya. "Baiklah nyonya muda, jadi mari kita lanjutkan kencan kita" ujarnya sembari menyalakan mobil, sementara Laura mematikan notebooknya.
Sabiel merenung kembali, tatapannya yang mengancam mengarah pada bayangan Intan di Singapura. Setelah melalui perjalanan panjang yang menguras emosinya, akhirnya Sabiel bisa merasa lega. Kali ini, bukti perselingkuhan itu tidak akan membuat Intan berkutik. Wanita itu akan dipaksa mundur sampai ia tersungkur oleh perbuatannya sendiri.
Dalam keheningan Sabiel tersenyum tipis.
"Kekalahanmu tinggal didepan mata, bit*h!" gumamnya dalam hati membayangkan Intan.
🍁🍁🍁
J A K A R T A
Kepada Laura,
Maafkan aku jika catatan ini mengusik kebahagiaanmu bersama lelaki itu. Beberapa hari yang lalu aku bertemu pamanmu. Kami terlibat obrolan ringan tentangmu. Ada rasa penasaran yang akhirnya menggangguku di malam-malam berikutnya. Hingga catatan ini aku buat, benakku terus saja membuat praduga-praduga tentangmu. Tentang pernikahanmu.
Nomormu telah lama aku hapus, jika kau membaca catatan ini. Aku harap kau sudi untuk membalasnya. Atau jika kau mungkin masih menyimpan nomor ponselku, aku berharap kau menghubungiku.
Laura, aku ingin bertemu kembali denganmu. Beberapa pertanyaan terasa menyiksa batinku. Aku harap kau mau melepaskanku dari siksaan itu. Aku hanya ingin bertanya mengenai pradugaku padamu, mengenai pernikahanmu yang hingga detik hari ini belum bisa aku terima.
Laura, aku sungguh menunggumu.
Jemari Bimasakti mengakhiri pesan yang ingin ia kirim melalui inbox laman blog Laura. Jantungnya berdegup cepat, berharap Laura membaca dan membalasnya. Kebingungan dan rasa penasarannya akan pernikahan Laura, membuatnya nekat untuk menghubungi kembali wanita itu. Ia tidak peduli akan bagaimana nanti jika ia bertemu Laura, yang ia inginkan saat ini adalah kepastian akan segala hal yang meragukan dari pernikahan wanita itu.
Setelah menghabiskan jus jeruknya, pemuda itu beranjak dari meja kerjanya. Langkahnya santai menghampiri meja kerja Laras di dekatnya.
__ADS_1
Lelaki itu menyandarkan tangannya di tepian meja, "Kapan aku bisa cuti lagi?" tanyanya menatap Laras dengan lekat.
🍁🍁🍁