Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 47


__ADS_3

Suara bising kereta yang datang dan pergi dari stasiun mengawali pagi hari Bimasakti di Kota Bandung. Ia melangkahkan kakinya dengan santai, hendak turun dari kereta yang sudah berhenti sempurna. Hiruk pikuk kesibukan manusia langsung menjadi pemandangan pertama yang ia temui. Sepagi ini stasiun Kota Bandung sudah tampak sibuk.


Gerbong-gerbong berjejer rapi dengan seorang masinis yang siap beranjak membawa penumpang, menyusuri jalan berkerikil dengan beberapa jalur keberangkatan yang berbeda.


Bimasakti mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, menggeliat dan merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah tiga jam lebih jarak tempuh yang harus ia lalui demi kekasih hatinya.


Bibirnya mengulas senyum, tak sadar dengan pertemuan yang sebentar lagi akan terjadi. Setelah sekian lama berkutak dengan masalah buruh, akhirnya waktu berbaik hati pula mengijinkannya pergi untuk melepas rindu pada kekasihnya.


Lelaki itu melangkah diantara deru mesin kereta yang menyala, menanti dengan sabar para penumpang. Dinginnya udara Kota Kembang, membuatnya mengeratkan kembali jaket hitam bertudung yang saat itu sedang ia kenakan.


Pandangannya berpencar, melihat papan petunjuk jalan di beberapa sisi yang akan memandunya menemukan pintu keluar stasiun.


Sesampainya di gerbang pintu keluar, beberapa supir taksi datang menghampirinya, menawarkan jasa antar kemana pun tempat yang akan ia tuju. Bimasakti tak merespon. Ia diam sejenak, mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Dan menghubungi seseorang.


"Laura? Aku baru saja sampai di Bandung. Kau dimana?" wajah sumringah tak pernah hilang dari raut wajah tampannya.


🍁🍁🍁


Laura terbangun dari tidurnya dengan rasa asam dan pahit di mulutnya. Wanita itu langsung berlari ke kamar mandi, ketika ganjalan di tenggorokkannya terasa menekan ingin dikeluarkan.


Sriiiiiinnngg


Bunyi air yang keluar dari kloset menyapu bersih muntahan yang Laura keluarkan. Rasa pahit yang getir dan pekat memenuhi mulutnya. Laura menyeka bibirnya sembari melihat pantulan dirinya dari kaca kamar mandi.


Perpaduan mata sayu dengan rona wajah yang pucat menandakan tubuh Laura sedang bermasalah pagi ini. Ia keluar dari kamar mandi, langkahnya agak lunglai karena merasa lemas sehabis muntah-muntah.


Langit sudah bersinar cerah diluar sana, ketika Laura menyibakkan gordennya dan membuka jendela. Wanita itu tersenyum meresapi angin pagi yang membelai mesra rambutnya yang menjuntai.


Ini weekend, hari yang tepat untuk dirinya bersantai dan bermalas-malasan.


Drrttt... Drrrttt.... Drrrttt...


Laura menengokkan kepalanya begitu dering ponsel terdengar. Ia melangkah menghampiri ponsel di atas nakas.


Bimasakti?


Mata wanita itu melebar. Kekasih hatinya sepagi ini sudah menghubunginya. Laura tampak terdiam, ia berpikir sejenak. Benaknya teringat pada pesan di inbox blog-nya yang beberapa waktu lalu ia dapatkan. Tanpa sadar, Laura mengelus dadanya yang berdebar hebat. Dia mencoba mempersiapkan diri dengan apa yang akan lelaki itu ucapkan nantinya.


"Halo?"


"Laura? Aku baru saja sampai di Bandung. Kau dimana?" wajah sumringah tak pernah hilang dari raut wajah tampannya.


Deg!


Jantung Laura seperti dilolosi dari tulang rusuknya. Persiapan dirinya gagal total ketika lelaki itu mengatakan keberadaan. Mendadak, Laura gagap. Bibirnya keluh tak mampu mengeluarkan kata.


Lelaki itu disini. Dikota yang sama dengan dirinya. Laura tampak kalang kabut, ia berjalan mondar mandir tak jelas sambil menempelkan ponselnya di telinga.


"Laura, kau dimana?" Bimasakti mengulang pertanyaan.


"Hmm..aku..aku di kamar" pernyataan yang konyol keluar akibat kegugupannya.


"Kau di asrama? Baiklah, aku akan kesana sekarang"


"Tidak tidak! Jangan kesana!" ucap Laura tergesa. Diseberang sana Bimasakti terkesiap mendengar nada suara Laura yang terkesan buru-buru. "Aku sudah tidak tinggal disana" sambung Laura.


"Lantas kau dimana sayang? Kau ingin kita bertemu dimana, huh?" tanya Bimasakti penuh pengertian.


"Hmm.. Kita bertemu di jalan Ganesha saja. Kau tahu? Disitu ada taman, kita bertemu disitu" ucap Laura.

__ADS_1


"Aku tahu. Baiklah, kita akan bertemu disana" Bimasakti tersenyum hangat. "Jangan membuatku menunggu terlalu lama sayang, aku sedang didera rindu"


"Ah ya, aku tidak lama" sahut Laura perlahan sebelum ia mematikan ponselnya.


Laura menempelkan ponsel dalam genggamannya itu pada dadanya. Pikirannya mengawang. Keputusannya untuk melepas Bimasakti sudah di depan mata, menunggu eksekusi. Dulu ketika Bimasakti berjauhan dengannya, ia merasa tersiksa oleh rindu ingin bertemu. Namun kini, jika Laura boleh jujur, ia lebih memilih untuk tidak bertemu lelaki itu lagi. Kehadiran Bimasakti hanya akan membuat Laura dilanda rasa tertekan pada satu pilihan yang tidak bisa lagi ia tawar.


Dengan nada suara yang sedih, Laura bergumam lirih sembari menatap langit.


"Pantaskah aku mendapatkan rasa rindu darimu, sayang?"


Laura berjalan seperti melayang, jiwanya hampa memikirkan sebuah pertemuan yang akan berakhir dengan perpisahan sebentar lagi.


Wanita itu masuk ke dalam kamar mandi, memaksa diri untuk bersiap menemui Bimasakti.


Ketika Laura berada di dalam kamar mandi, ditempat berbeda, dua bola mata hitam legam menatap tajam pada layar ponselnya. Lelaki itu menyaksikan apa yang terjadi dengan Laura dari kejauhan. Pikirannya tertuju pada ponsel dan raut wajah sendu istri mudanya. Siapa yang sedang berbicara dengannya tadi? Hingga membuat wajah cantik itu terlihat bersedih.


Bola mata tajam itu berubah curiga ketika satu bayangan melintas dalam benaknya. Selama ini Laura akan menunjukan raut wajah sedihnya hanya karena dua hal. Pertama, ayahnya. Dan kedua?


Sabiel menggelengkan kepala, tidak ingin mempercayai apa yang benaknya simpulkan. Lelaki itu terus memperhatikan tampilan cctv yang menunjukkan Laura tengah bersiap untuk keluar kamar. Tidak! Wanita itu akan keluar rumah. Pakaian dan riasan wajahnya menunjukan bahwa sebentar lagi dia akan pergi.


Dan benar saja, wanita itu keluar sambil membawa tas selempang di bahunya.


Dada Sabiel bergerak naik turun dengan cepat. Nafasnya memburu karena geram memikirkan kemungkinan akan kemana istri mudanya itu pergi. Jemarinya bergerak cepat mencoba menghubungi Tomi.


"Tom, ikuti Nyonya Laura sekarang juga. Cepat!"


Sorot mata Sabiel mendelik penuh prasangka, aura mengerikan tak bisa lagi ia tahan untuk tidak keluar dari tatapannya. Entah apa yang akan ia lakukan nanti, yang jelas kini ia harus mengejar Laura.


🍁🍁🍁


Langkah kaki Sabiel tak mungkin melambat jika itu terkait dengan Laura. Wanita itu pagi ini telah membuat hatinya tak tenang. Dia setengah berlari menuruni tangga, langsung berpapasan dengan Intan yang memandangnya dengan heran.


"Aku ada urusan dulu" Sabiel mencoba menyingkirkan tubuh Intan di hadapannya.


Namun wanita itu dengan sigap memegang lengan Sabiel dengan erat.


"Kemana? Urusan apa?" Intan semakin penasaran. Raut wajah suaminya yang gelisah menerbitkan kecurigaannya kembali.


"Intan, aku mohon. Nanti aku jelaskan oke?!" Sabiel mencoba melepas genggaman Intan, namun Intan tak ingin melepaskannya.


"Aku ikut!" tuntutnya.


"Tidak. Ini bukan urusanmu. Kau diam disini, nanti aku akan kembali" Sabiel masih mencoba melepaskan genggaman Intan.


"Aku ikut!" suara Intan meninggi, sorot matanya berubah murka.


"Tidak" Sabiel segera berjalan cepat ketika genggaman Intan terlepas.


Intan berusaha mengejarnya, "Sabiel, aku ikut!" ia berteriak pada Sabiel yang sudah berada di dalam mobilnya.


Sabiel tak bergeming, ia mengabaikan teriakan Intan dengan menjalankan mobilnya tanpa ia panasi dulu.


"Sabieeelll!" suara Intan membahana disekitar teras rumah yang luas. " Aaarrghh! Sialan! Brengsek kau!" umpat Intan kesal melihat Sabiel yang mengacuhkannya.


Tak berselang lama, wanita itu berjalan cepat ke dalam rumah. Ia berlari mengambil kunci mobil lainnya dan segera menghampiri mobil di garasi.


"Akan kemana kau, Sabiel!" ucapnya sembari menjalankan mobil hendak mengikuti Sabiel dari belakang.


Pagi yang cerah itu, akan menjadi titik awal segala perasaan yang ada di hati keempat orang disana. Bimasakti dengan rasa rindunya pada Laura, tanpa tahu akan tujuan Laura memintanya untuk datang ke Bandung. Laura dengan perasaan bersalahnya pada Bimasakti, karena harus mengakhiri hubungannya. Sabiel yang perlahan mulai berubah menjadi suami posesif bagi Laura, yang masih merasa takut dibayangi Laura yang nekat lari darinya. Dan Intan, yang merasa terancam dengan keberadaan Laura. Hingga pada akhirnya berusaha menyingkirkan Laura dari kehidupan suaminya.

__ADS_1


Rumit? Ya!


Jalan cinta memang selalu rumit. Tak ada akhir bahagia tanpa perjuangan. Tak ada akhir bahagia tanpa pengorbanan. Hidup membuat kita kuat dengan segala resiko dari setiap pilihan yang kita buat.


Hanya satu yang harus selalu terpatri dalam hati mereka ataupun kita. Bahwa seberat apapun pilihan, menerima dan sabar adalah mutlak.


🍁🍁🍁


Di taman itu, Bimasakti menunggu seorang diri. Matanya melihat sekeliling area hijau disana, beberapa orang terlihat sedang berjalan santai menikmati kesegaran udara pagi yang masih suci dari bermacam asap dan debu.


Lelaki itu duduk disebuah kursi besi taman, dibawah pohon rindang berhadapan dengan barisan tanaman yang tertata rapi membentuk tulisan GANESHA. Terdapat bunga bougenville dengan aneka warna disepanjang jalan kecil taman tersebut, jalan yang biasa dilalui oleh para pengunjung taman.


Biasanya diakhir pekan seperti saat itu, taman ganesha menjadi alternatif warga untuk berolahraga dipagi hari atau sore hari. Namun karena ada beberapa bagian taman yang sedang direnovasi, membuat pagi itu taman tersebut sepi pengunjung.


Bimasakti menatap layar ponselnya, ini sudah hampir satu jam berlalu dari terakhir kali ia menghubungi Laura. Namun wanita itu belum jua menampakkan batang hidungnya.


Perasaan bahagia dalam hatinya, karena akan bertemu dengan kekasihnya itu membuat ia menjadi lelaki tak sabaran. Jemarinya mengetuk-ngetuk lengan kursi disamping dengan berirama.


Senyuman secerah matahari pagi perlahan muncul di parasnya, ketika sosok wanita itu cantik muncul dari kejauhan. Wanita itu berjalan untuk semakin mendekatinya.


Bimasakti berdiri dari duduknya, ia berjalan mendekati Laura ketika wanita itu tinggal berjarak beberapa meter saja dari tempatnya.


"Akhirnya kau datang sayang" Lelaki itu langsung memeluk Laura erat.


Laura tak membalas pelukan itu, tangannya berada tepat dikedua sisi paha, tergenggam erat melawan keinginan untuk memeluk balik lelaki di hadapannya.


Gelombang perasaan yang saling bercampur baur menjadi satu muncul dalam hati Laura. Dia merasa terombang-ambing di laut lepas, terbawa arus entah kemana.


Laura memejamkan mata sejenak, meresapi bau pelukan yang lama ia rindukan. Benaknya langsung mengingat bahwa pelukan lelaki itu baru beberapa kali saja ia dapatkan, dari terakhir kali mereka bertemu.


"Bagaimana kalau kita pergi sarapan?" Bimasakti melepas pelukannya dan menatap Laura penuh kerinduan.


"Bimasakti, aku harus mengatakan sesuatu padamu" ucap Laura perlahan.


"Iya, nanti kita bisa bicara sambil sarapan. Aku baru datang, dan sangat lapar" keluh lelaki itu.


Mengetahui itu, Laura tak tega membiarkan Bimasakti harus menahan lapar lebih lama. Dia terdiam, mengikuti langkah Bimasakti yang membawanya keluar dari taman.


Genggaman tangannya masih sama seperti dulu. Terasa kuat namun tak menyakitkan. Laura membiarkannya, ia tak bisa membohongi dirinya, bahwa ia pun merindukan genggaman itu.


Bimasakti membawa Laura pada sebuah warung makan sederhana yang berada di bagian belakang taman, warung itu berjejer memanjang seperti kantin di sekolahan dan berseberangan dengan salah satu kampus terkenal di Bandung.


Sepanjang acara sarapannya, Bimasakti tak henti-hentinya bercerita tentang banyak hal. Laura sesekali menimpali, dengan pikiran yang terasa gamang. Ia menerima suapan makanan dari lelaki itu dengan ragu. Namun tak ayal, makanan itu ia makan pula.


"Kau kenapa sayang?" tanya Bimasakti ketika mereka memutuskan berjalan kembali setelah menyelesaikan acara sarapannya.


Lelaki itu bukan tak merasa akan sikap Laura yang amat ganjil sepagian ini. Ia hanya mencoba mengabaikan perasaan tak nyaman sejak pertama kali melihat raut wajah Laura yang tampak tak bersemangat. Bahkan Bimasakti menyadari, beberapa kali Laura tampak melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.


Laura menghentikan langkahnya, diikuti Bimasakti. Ia melihat pada jemari mungilnya yang lelaki itu genggam. Bimasakti diam memperhatikan. Jauh di dalam hatinya, ia merasa takut akan apa yang ingin Laura ucapkan.


"Bima..... "


"Laura!!"


Suara berat bercampur emosi menghentikan ucapan Laura. Jantungnya berdenyut cepat mendengar suara yang ia kenali itu berada di belakang telinganya. Nyaring, penuh penekanan. Laura dan Bimasakti menengok pada sumber suara. Laura tak bisa menahan lagi rasa terkejutnya, bola matanya melebar seiring mendekatnya lelaki itu ke arah mereka. Bimasakti menatap penuh tanya, matanya memicing melihat sosok lelaki yang berjalan setengah berlari menghampirinya.


"Lepaskan tanganmu, dia istriku!" ucap Sabiel setengah menggeram menahan murka. Ia menghempaskan genggaman Bimasakti pada Laura. Dan menarik Laura masuk dalam pelukannya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2