Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 81


__ADS_3

"La-ras?" Laura tampak terkejut. Bagaimana bisa Tuhan mengabulkan keinginannya dengan begitu cepat untuk bisa terhubung pada wanita satu ini.


"Ya. Ini aku. Mungkin kau tak mengenalku. Tapi aku mengenalmu. Bimasakti sering bercerita tentang wanita yang begitu ia cintai" ujar Laras dari seberang sana.


Seketika dada Laura terasa berdentum keras. Ulu hatinya seperti baru saja menerima pukulan yang kuat hingga membuat ia lupa untuk bernafas. Bagaimana bisa Laras mengatakan hal itu dengan begitu ringan tanpa memikirkan perasaan lawan bicaranya.


"Laura? Kau masih disana?" tanya Laras ketika tak terdengar suara Laura.


"Ah ya. Maafkan aku"


"Aku yang seharusnya minta maaf. Kau mungkin bertanya-tanya mengapa aku menghubungimu saat ini" ucap Laras. "Apa kau melihat berita itu?" tanyanya langsung.


"Bimasakti menghilang?" Laura memastikan apa yang dimaksud Laras.


"Syukurlah jika kau tahu. Aku menghubungimu hanya ingin menanyakan apakah sebelum Bimasakti menghilang ia menghubungimu?" tanya Laras kemudian.


Seketika Laura mengingat pesan Bimasakti di inbox laman blog pribadinya. "Ya. Dia mengirimiku pesan, tapi aku rasa itu tidak ada kaitannya dengan kejadian menghilangnya dia" ujar Laura.


"Oh Tuhan, ini sangat ganjil" Laras meremas rambutnya.


Laura mengernyitkan dahinya, tak mengerti apa yang sebenarnya Laras katakan. "Ada apa Laras? Apa Bimasakti sudah ketemu?"


"Tidak. Dia belum kami temukan. Namun aku yakin ada seseorang yang kini menggenggam ponselnya. Kemarin aku mendapat pesan dari nomor ponselnya, dia mengatakan bahwa kami tidak perlu mencarinya. Karena dia akan pergi menemuimu dan menetap di Bandung. Tapi ketika kawan-kawan kami di Bandung berusaha melacak keberadaannya. Ponsel Bimasakti mati. Tidak bisa di hubungi"


Laura kelihatan bingung. "Bagaimana bisa? Pesan yang dia kirim padaku saja hanya sebatas pesan di laman blogku"


"Ini pasti ulah para penculik itu. Dia melihat aksi kami dan terpaksa mengirim kami pesan untuk menyuruh kami berhenti mencari Bimasakti. Kurang ajar!!" umpat Laras kesal.


"Tapi.. Bagaimana bisa mereka menjadikanku sebagai alasan. Aku bahkan tidak tahu siapa yang melakukan penculikkan itu. Mengapa situasinya seolah mengatakan bahwa mereka mengenalku?" Laura masih tak habis pikir.


"Laura, kau tidak akan pernah bisa membayangkan bagaimana pihak-pihak tertentu melacak kelemahan targetnya. Kau adalah titik lemah Bimasakti. Aku yakin mereka sudah mengincar dia sejak lama, maka dari itu mereka tahu siapa yang harus mereka gunakan untuk dijadikan kambing hitam" Laras mengeratkan gerahamnya. Dia merasa ditantang oleh para penculik biadab itu.


"Oh Tuhan, lalu bagaimana nasib Bimasakti? Aku mencoba mencari kelanjutan beritanya, namun tak mendapatkan titik terang"


"Media mudah dibungkam, Laura. Sama seperti aparat. Mereka akan lepas tangan dan tidak akan mau bersusah payah menanggung resiko berat jika satu pihak yang lebih berkuasa meminta mereka untuk menghentikan semua pemberitaan para aktivis yang dipaksa hilang" Laras mengungkapkan kenyataan pahit kehidupan aktivis yang penuh akan paradoks.


"Lalu apa yang bisa aku lakukan untuknya? Terus terang aku mencemaskan keberadaannya, aku merasa tidak tenang sebelum memastikan bahwa ia baik-baik saja" ujar Laura bersimpati.


"Kau berkata seperti itu seperti kau masih menyimpan perasaan untuknya" sindir Laras tiba-tiba.


Laura tampak gagap mendengar ucapan itu. Ia tak bermaksud untuk membuat Laras berfikir demikian. Namun kenyataan bahwa ia mencemaskan lelaki itu adalah sesuatu yang tidak bisa ia sembunyikan.


"Aku hanya..."


"Tak mengapa, Laura. Aku mengerti" potong Laras segera.


"Baiklah. Jika suatu waktu nanti nomor ponsel Bimasakti menghubungimu. Jangan lupa untuk memberitahuku. Aku berterima kasih jika kau segera melakukan itu" sambung Laras.


"Ya. Aku harap kau juga memberi kabar perkembangan pencarian Bimasakti" timpal Laura.


"Pasti akan aku kabari" ucap Laras sebelum mengakhiri panggilannya.


Laura menatap layar ponsel yang telah padam. Benaknya berputar memikirkan masalah pelik yang tengah dihadapi Bimasakti. Dia tak menyangka, kehidupan aktivis ternyata penuh dengan resiko besar.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Hari yang terus berganti, membuat Bimasakti merasa semakin tak gentar menghadapi setiap hal buruk yang ditimpakan padanya oleh orang-orang pengecut itu. Kini dia ditahan dalam satu sel kecil mirip penjara. Dari celah jendela berteralis pemuda itu hanya dapat melihat pucuk-pucuk pohon pinus. Ia menduga, penjara itu terletak di salah satu hutan yang entah dimana lokasi pastinya. Karena saat mereka membawa Bimasakti ke penjara itu, mereka menutup wajah Bimasakti dengan penutup kepala hitam.


Di penjara itu Bimasakti tidak sendiri. Di sisi kiri dan kanan penjara tersebut tinggal pula beberapa orang yang ternyata sejak lama menjadi tahanan di tempat misterius itu. Dari mereka, Bimasakti mengetahui bahwa Sukanta, buruh yang selama ini orang-orang ormas-nya cari telah tewas beberapa bulan yang lalu.


Pemuda yang tubuhnya semakin kurus itu, mengeratkan gerahamnya ketika para tahanan yang sebagian besar dari kelompok buruh pabrik itu mengatakan Sukanta meregang nyawa di kursi listrik.


Biadab!!


Bimasakti bersumpah akan membalas kekejaman dalang dari semua penculikan ini. Ia akan bertahan sekuat yang ia mampu terhadap semua penyiksaan yang mereka lakukan padanya. Sampai tiba saatnya dimana ia akan melancarkan aksi kabur bersama para tahanan lain. Meskipun itu sesuatu yang sulit, namun mencoba adalah satu-satunya pilihan.


Dari balik jeruji, para tahanan mendengar derap langkah beberapa orang dari arah pintu luar. Sorot mata mereka mulai waspada. Karena mereka yakin, sesuatu yang buruk pasti akan segera terjadi begitu pintu terbuka.


Wajah-wajah garang dengan bola mata menatap penuh hinaan, menjadi hal biasa bagi mereka. Kali ini hanya dua orang kekar seperti preman yang datang. Satu preman memiliki codet di pipi kirinya, sementara preman yang satu lagi berbadan lebih pendek dari si codet itu. Kedua preman yang berjalan memasuki ruang penjara langsung menunjuk pada Bimasakti yang tengah duduk bersila kaki. Rambut panjangnya telah lama menghilang, dan hanya menyisakan rambut hampir botak dengan model cukuran tak rata. Mereka berdualah yang menggundulinya saat tiba di lokasi penjara tersebut.


"Kawanmu keras kepala juga, bodoh!" bentak si codet menatap Bimasakti dengan tatapan mencemooh. "Kami sengaja menjadikan kekasihmu itu alasan, tapi sepertinya dia tidak percaya" sambungnya.


"Apa harus kita tangkap pula wanita yang senang sekali berteriak itu? Tubuhnya lumayan bagus untuk menjadi hiburan disini" ucap lelaki pendek disebelahnya. Lelaki itu menghembuskan asap rokok ke arah wajah Bimasakti.


"Kau benar, kita tinggal menunggu perintah bos untuk menangkapnya. Aku yakin, kekeras kepalaannya untuk terus melakukan aksi omong kosong itu, akan membuat bos jengah dan berakhir dengan menyuruh kita membereskannya" timpal lelaki dengan codet di pipi kiri, yang kini menatap licik pada Bimasakti yang memilih bungkam.


Dalam diamnya, Bimasakti merutuki kebodohan dirinya yang tidak menghapus semua catatan pribadi dari file notes dalam ponsel yang kedua orang brengsek itu rampas.


Kebiasaan semasa sekolahnya dulu untuk selalu membuat diary pribadi, masih ia lakukan hingga kini. Dalam catatan itu sebagian besar, Bimasakti bercerita tentang Laura. Puisi-puisinya yang bernada kasmaran, kemarahan, kerinduan bahkan kehilangan tergambar jelas disana. Itulah alasan mengapa kedua orang itu, meyakini bahwa wanita bernama Laura sebagai kekasih dari tahanan mereka.


Ketika kedua orang itu merampas ponselnya, dengan tidak sopan keduanya membuka semua isi ponsel Bimasakti. Segala agenda ormas, nomor kontak penting, bahkan pesan-pesan baru yang belum sempat Bimasakti buka, mereka baca semuanya. Dari sana, kedua bajingan itu dengan bodohnya mengirim pesan pada Laras dengan mengatakan dirinya baik-baik saja, dan menyambungkan alasan menghilangnya Bimasakti pada kekasihnya di Bandung.


Kedua orang bodoh yang hanya bisa mengandalkan otot itu tak berpikir, bahwa tindakannya justru memancing kawan seormas tahanannya, untuk semakin yakin bahwa Bimasakti diculik oleh oknum tertentu.


Dari celah jendela, Bimasakti mencoba menghitung hari. Ia menggores cat tembok dengan paku yang ia temukan di salah satu pojok penjara secara tidak sengaja. Setiap matahari terbit, satu garis ia buat di tembok kusam itu. Dan ketika telunjuknya mencoba menghitung banyaknya garis disana, Bimasakti tahu bahwa ia telah mendekam di tempat itu lebih dari satu bulan lamanya.


"Bung?"


Suara berat berasal dari penjara sebelahnya membuat Bimasakti berjalan mendekati arah suara.


"Ada apa pak Anggera?" tanya Bimasakti pada lelaki paruh baya yang dulu adalah aktivis buruh paling vokal di zamannya.


"Jika kau berhasil kabur dari sini, aku titipkan ini padamu" ucapnya sambil menyodorkan sesuatu di sela jeruji besi pada Bimasakti.


Bimasakti menatap lipatan kertas itu dengan penuh tanya. "Apa ini?"


"Surat"


"Surat? Surat apa?" tanya Bimasakti semakin penasaran.


"Untuk istriku. Disana ada alamat rumahku. Tolong kau sampaikan padanya surat itu" ucapnya sendu. "Aku tidak tahu akan berakhir bagaimana hidupku disini. Aku sudah pasrah menghabiskan waktuku dibalik jeruji ini. Tapi kemarin kau bercerita mengenai kesempatan kabur yang akan kau coba. Dalam hati aku berharap, semoga kau berhasil kabur dari sini. Kau tenang saja, aku tidak memintamu untuk membawa serta diriku. Karena kondisi kakiku yang sudah lumpuh akibat penyiksaan mereka akan menjadi hambatan bagimu.


Aku hanya meminta kau untuk membawa surat itu pada istriku. Anggap saja itu sebagai permintaan terakhir dariku"


Bimasakti menggenggamkan kembali surat itu pada tangan Anggera. "Kita semua akan keluar dari sini. Dan kau harus memberikan ini langsung pada istrimu"


"Tidak! Aku mohon jangan menolak bung. Kondisiku bisa saja berakhir tiba-tiba seperti Sukanta atau yang lainnya. Tapi kau masih memiliki harapan yang besar. Aku mohon terima surat ini, dan tolong salamkan rinduku pada istriku disana" ucapnya sembari memberikan lagi surat itu.

__ADS_1


Bimasakti yang tak tahu harus berkata apa lagi, akhirnya mau menerima surat itu. Dia menggenggamnya erat. "Meski begitu, aku yakin kita akan bebas bersama" ucapnya penuh keyakinan sebelum berbalik badan dan kembali duduk di tikar tipis tempatnya meringkuk.


Malam hari di penjara menjadi malam yang menyiksa bagi para tahanan. Lantai yang dingin, udara yang berhembus dari celah jendela kecil, ditambah nyamuk-nyamuk hutan yang begitu rakus membuat kondisi mereka lebih memprihatinkan.


Bimasakti yang kini meringkuk dengan menekuk lututnya, melihat kembali surat titipan itu. Dia lihat kertas kusam yang entah darimana Anggera dapatkan, juga bolpoin biru yang tampak tembus di bagian belakang kertas itu. Dalam suasana dingin malam yang menusuk, surat itu membawa benak Bimaskati berkelana pada orang yang sangat ia rindukan saat ini. Laura. Wanita bersuami itu selalu berhasil membuat hati Bimasakti sesak oleh rindu.


Lelaki itu merindukan Laura. Suara cerianya. Senyum manis yang selalu menggoda matanya. Tulisan-tulisan prosanya yang masih Bimasakti lihat meski hubungannya dengan wanita itu telah kandas. Saat-saat Bimasakti sedang dipengasingan seperti ini, sosok Laura begitu mempesona dalam bayangannya. Ia berharap waktu akan kembali mempertemukannya dengan wanita itu. Meski ia tahu, Laura sudah tidak mungkin ia miliki. Namun setidaknya ia masih bisa menikmati kecantikan Laura dengan cara yang berbeda.


Tiba-tiba Bimasakti mengingat kembali pesan yang terakhir ia kirim melalui laman blog Laura. Apakah pesan itu sudah berbalas? Oh Tuhan, Bimasakti ingin sekali melihatnya! Ia ingin berjumpa Laura, meski untuk terakhir kalinya.


Suara gemerisik dedaunan terdengar syahdu malam itu. Bimasakti menyembunyikan kembali surat titipan itu di balik tikarnya. Ia mencoba memejamkan mata dengan posisi tubuh telentang. Hatinya begitu letih merindui Laura. Sementara bait syair berlarian dalam benaknya. Ia gumamkan bait itu dalam hati, sebelum ia jatuh dalam kuasa bunga mimpi.


Oh Ilalangku.


Mari berdamai dengan tuan takdir yang keji.


Kita rayakan kebodohan kita menerka rasa.


Oh langit biru dengan kepak burung yang angkuh.


Saksikanlah tubuhku layu dimakan rindu.


Langkahku terseok mencari sesuatu.


Aku ingin berjumpa dengan gadisku.


Meski hanya lewat celah tembok ratapan kami bertemu.


Tuhan yang selalu bersembunyi.


Lihatlah tubuh ringkihku.


Aku rindu hangat pelukan itu.


Aku rindu aroma segar tubuh itu.


Dimana dia?


Datanglah! Bawalah ia padaku.


Aku hanyalah lebah tak tahu diri.


Yang ingin menghisap sari bunga cintanya.


Laura sayangku.


Darah dalam nadiku.


Kemarilah!


Aku ingin mendekapmu.


Meneguk bibir delimamu.

__ADS_1


Dan tertidur lelap bersamamu.


🍁🍁🍁


__ADS_2