
Di dalam restoran yang menghadap langsung ke arah pantai, Laura memperhatikan Sabiel yang duduk disebelahnya. Lelaki itu tampak menekuk wajahnya. Dahinya berkerut sementara mulutnya terkatup rapat.
Sampai makan siang tersaji, lelaki itu masih betah memasang wajah kecut pada istrinya. Laura mengernyitkan dahi, memikirkan hal apa yang tengah membuat suaminya kesal. Padahal tadi saat bertemu dengan Bimasakti, lelaki itu terlihat hangat. Bahkan saat ia menjemput kembali Laura untuk berpamitan, ia menjabat tangan Bimasakti seperti seorang kawan. Lantas apa yang membuat awan mendung menaungi dirinya saat ini?
"Silahkan dinikmati makanannya Tuan, Nyonya" seorang pramusaji mempersilahkan mereka berdua untuk menyantap hidangan yang disajikan.
"Sayang" panggil Laura
"Hmmm" Sabiel hanya berdehem sambil mulai menyantap makanannya.
"Ada apa denganmu? Apa kau sedang marah padaku?" Laura tidak betah dengan sikap dingin suaminya.
Sabiel mendelik menatap wajah bingung Laura. "Berapa lama kau berpegangan dengannya?" tanya Sabiel sinis.
Laura masih tampak kebingungan. Benaknya berusaha keras mencoba memahami apa yang ditanyakan oleh suaminya. "Berpegangan? Apa maksudmu?"
"Itu tanganmu. Kalian saling berpegangan lama saat berbicara, bukan? Dia bahkan mengusap perutmu" Sabiel memberengutkan bibirnya. "Anakku jadi ternoda oleh jejak mantanmu"
Plak! Laura memukul bahu lengan Sabiel.
"Jaga ucapanmu!" Laura mengelus perutnya sebal. Dia menyendok makanannya dengan kasar. Mengunyahnya sambil menatap tajam suaminya.
"Aku tidak suka melihatmu berpegangan tangan dengannya" dengus Sabiel mengingat kejadian saat Laura dan Bimasakti saling bercerita.
"Ya ampun sayang. Tadi aku hanya terbawa suasana. Lagipula aku langsung melepas tanganku begitu teringat padamu" Laura membela diri. Dia merasa apa yang tengah dikeluhkan Sabiel terasa kekanak-kanakan.
Sabiel masih kesal, "Tetap saja aku tidak suka milikku dipegang orang lain. Seharusnya kau berjaga jarak dengannya tadi"
Laura menggelengkan kepala dengan tatapan mata jengah melihat sikap merajuk Sabiel yang berlebihan. "Kau cemburu hanya karena itu?"
Sabiel menghentikan suapannya, dia merasa sedikit tak nyaman dengan ucapan Laura. Sangat jelas bagi dirinya bahwa tidak ada satupun yang boleh menyentuh Laura kecuali dirinya sendiri. Disaat seperti ini, jiwa posesifnya kembali keluar.
"Itu bukan sekedar 'hanya' sayang" ucap Sabiel penuh penekanan. Raut wajahnya sengaja dibuat semakin keruh.
Laura mengangkat alis sambil tersenyum tipis melihat wajah suaminya yang terlihat menggelitik. Diambilnya satu daging lobster dengan lelehan keju diatasnya. Lalu disodorkannya pada mulut Sabiel.
"Buka mulutmu. Kewarasanmu harus dikembalikan oleh makanan" ledek Laura.
Sabiel tidak tahu sihir apa yang Laura gunakan padanya. Meski dalam kondisi kesal sekalipun, ia malah menuruti ucapan Laura. Sabiel membuka mulutnya, dengan wajah mengkerut. Matanya mendelik ketika melihat Laura terkekeh setelah memasukkan lobster ke dalam mulutnya.
"Apa yang kau tertawakan?" tanyanya heran.
Laura semakin terkekeh. Dia menyeka ujung bibir suaminya, dan mengecupnya singkat. "Wajah cemburumu menggemaskan" ujarnya menghentikan kekehan.
__ADS_1
Ucapan Laura menerbitkan senyuman tipis di bibir suaminya. Lelaki itu terus mengunyah sambil menatap senang wajah Laura yang cerah. Tangannya merangkul pundak Laura, membuat Laura menoleh padanya.
"Kau senang jika aku cemburu, huh?" ucap Sabiel menggoda.
"Hmm, ya. Itu sedikit menyenangkan. Dan akan menyebalkan jika cemburumu berkepanjangan" sahut Laura.
"Dasar wanita!"
Laura terkekeh kembali. Mereka meneruskan acara makan siang ditengah suasana ramai para turis di sekitaran pantai. Langit yang cerah terasa begitu pas dengan laut yang biru. Udara air asin menambah kekhasan suasana pantai. Dari kejauhan terlihat beberapa turis asing berdiri tangguh diatas papan surfing. Melawan ombak dengan kelihaiannya masing-masing.
🍁🍁🍁
Di tempat yang berbeda, Bimasakti duduk sendirian di dalam kamarnya. Pandangannya lurus mengarah pada jendela yang dibiarkan terbuka. Desir angin laut menyapu helaian rambutnya. Dari kejauhan sayup terdengar suara deburan ombak yang saling berkejaran menggapai pesisir pantai. Kebutaan membuat langit yang cerah dengan laut yang banyak menyimpan misteri tak dapat ia saksikan. Pemuda itu termangu dengan perasaan yang tak menentu.
Ucapan Laura berputar-putar dalam benaknya. Apa yang keluar dari mulut wanita itu, membekas kuat pada ingatan Bimasakti. Runtutan kejadian di awal pernikahan siri Laura, yang kemudian dapat diterima Laura dengan ikhlas. Perselisihan dengan istri sah suaminya yang berujung pada tragedi keguguran. Bahkan sampai pada aksi heroik Sabiel yang memulai pencarian dan penyelamatan Bimasakti dengan bantuan tangan kanannya, begitu mengusik jiwa pemuda itu. Ditengah kesendiriannya, Bimasakti merenungi apa yang terjadi.
Dia mengingat suara Laura yang berpendar bahagia ketika wanita itu bercerita mengenai kehamilannya yang kedua. Dari wanita itu juga, Bimasakti tahu mengenai penyakit yang beberapa waktu lalu menggerogoti tubuh Sabiel, hingga membuat lelaki yang telah mencuri Laura darinya itu, merasa putus asa sampai ingin mendonorkan mata untuk dirinya.
Entah perasaan apa yang melanda hatinya saat ini. Semuanya terasa bercampur padu merusak ritme detak jantungnya sendiri. Rasa sesak dan emosi karena menyadari hati Laura bukan lagi untuknya, berbaur dengan rasa haru atas apa yang suami Laura lakukan untuk menyelamatkan hidupnya. Seharusnya Sabiel tidak sebaik itu. Lelaki itu menghilangkan kesempatan Bimasakti untuk menarik kembali Laura kesisinya.
Tiba-tiba ucapan dokter Fey berkelebatan dalam benak aktivis itu. Dokter tua itu mengatakan bahwa seseorang yang memerintahkan dirinya untuk merawat Bimasakti sedang berupaya mendapatkan donor mata. Bimasakti kehilangan kata ketika menyadari bahwa seseorang yang dimaksud dokter Fey adalah suami dari wanita yang sempat ia miliki. Sabiel! Lelaki itu telah membuat Bimasakti kehilangan alasan untuk merebut kembali Laura.
Air mata mulai menggenang di kelopak mata yang kehilangan cahayanya itu. Dadanya terasa perih seperti diremas, meratapi kebahagiaan Laura yang ternyata bukan lagi berasal dari dirinya. Melainkan dari orang yang telah menjadi penyelamat hidupnya.
"Apa yang ingin Kau tunjukkan padaku, Tuhan? Tidak bisakah Kau tunjukkan dengan cara yang lebih sederhana? Mengapa semuanya terasa rumit? Kau bangun perasaan dalam hatiku dengan begitu megah untuk Laura. Tapi kau tak biarkan aku memilikinya" gumamnya seorang diri.
"Bagaimana aku bisa melawan orang yang justru sudah menyelamatkanku? Lelaki itu bahkan merawatku tanpa aku sadari" Bimasakti meremas rambutnya. Dia tidak suka dengan cara Tuhan mengobrak ngabrik hatinya.
Rasa kecewa dan marah bergumul dalam jiwanya, ketika tubuhnya bergetar meresapi sembilu yang merambat naik. Benaknya ingin mengingkari apa yang terjadi, namun hatinya berkata lain. Cinta terkadang memang hanya sebatas rasa yang tak mesti harus mengikat. Ia hadir hanya sebagai pelengkap, agar hidup manusia berwarna. Begitupun dengan Laura. Cinta Bimasakti pada Laura, hanya satu dari sekian banyak warna yang ingin Tuhan tunjukkan padanya.
Bimasakti mengusap wajahnya kasar. Menyadari tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima. Bibirnya perlahan menyeringai kaku, membayangkan Tuhan yang sedang mengukir telak kekalahannya dalam bentangan garis takdir yang Dia buat.
Dalam hidupnya, Bimasakti tak menyangka akan ada saatnya ia harus melepaskan segenap perasaannya untuk Laura. Ia berpikir pertemuannya dengan paman Laura di waktu yang lalu, akan menjadi awal yang baik untuk ia dapat menjadikan kembali Laura sebagai kekasihnya. Namun waktu ternyata mampu merubah segalanya. Ia lupa bahwa Tuhan bisa saja membuat hati Laura berubah padanya seiring berjalannya waktu. Dalam kegelapan yang melingkupi dirinya, Bimasakti benci harus meyakini bahwa Laura memang bukan takdirnya.
Dalam ruang kerinduannya yang sendu, Bimasakti membayangkan wajah cantik Laura yang tengah tersenyum padanya. "Laura, aku mencintaimu. Tapi Tuhan ingin aku melepaskanmu" gumamnya sebelum meninggalkan jendela yang tetap ia biarkan terbuka.
🍁🍁🍁
Laura sangat menikmati waktunya sendiri kala senja mulai membayang di ufuk sana. Ia membasuh air pada rambutnya dan mencoba berenang-renang kembali di kolam renang pondok mewah itu. Sebuah gerakan menarik perhatiannya pada Sabiel yang berdiri di tepi kolam dengan handuk yang ia pegang. Laura mendongak menatap wajah tampan yang tertimpa sinar senjakala.
"Sudah sayang. Nanti kau kelelahan" ucapnya meminta Laura menyudahi sesi renangnya.
Laura melipat tangannya di tepian, mengusap wajahnya sebentar lalu tersenyum pada suaminya. "Airnya segar. Aku ingin berenang sebentar lagi" ujarnya.
__ADS_1
Sabiel berjongkok tepat di sebelah Laura. "Kau sudah berenang sejak tadi"
"Sebentar lagi Sabiel. Aku sedang berlatih pernafasan untuk nanti melahirkan" wanita pembangkang itu beralasan sambil menjauh dari tepian.
"Laura, kau akan kedinginan nanti" seru Sabiel pada Laura yang malah menyelam dan muncul kembali dengan santai.
Sabiel berkacak pinggang memperhatikan istrinya yang tengah berbalik badan dengan rambut menutupi wajahnya. Wanita itu tidak akan mau berhenti sebelum dipaksa berhenti. Tiba-tiba Sabiel menyeringai menemukan sebuah ide gila untuk memaksa Laura keluar dari dalam kolam. Pada saat Laura menyelam kembali, lelaki itu menarik kaus hitam yang melekat di tubuhnya ke arah atas, melemparnya sembarang dan mulai melucuti celana panjangnya. Hingga kini ia berdiri hanya dengan menggunakan celana pendek sebatas paha.
Sinar senja membuat tampilan Sabiel menjadi lebih terlihat seksi, meski otot perut six pack itu belum terbentuk sempurna akibat kanker yang menguras habis tubuh atletisnya. Laura tersenyum lebar ketika baru menyadari Sabiel sedang berancang-ancang untuk segera terjun ke dalam kolam.
"Kau ini memang keras kepala" Sabiel menarik pinggang Laura untuk rapat dengan pinggangnya.
"Akh! Sabiel!" pekik Laura yang merasa sesak karena Sabiel terlalu rapat menempelkan tubuhnya.
"Kau cantik sekali sayang" ucapnya lirih sembari merapikan rambut basah Laura.
"Jangan mulai, Sabeil!" Laura memperingati ketika matanya menangkap niat gila Sabiel dari kilatan mata legam itu.
Sabiel terkekeh. Laura sudah terlalu paham akan dirinya. Tanpa mengatakan apapun wanita itu bisa tahu apa yang ingin ia lakukan. Sabiel merundukkan wajahnya disaat ia mengangkat dagu Laura agar menghadapnya. "Kita belum pernah mencoba sesi vulgar di kolam renang, bukan?" ujar Sabiel mengecup sekilas bibir Laura.
"Jangan macam-macam" Laura kembali memperingatkan.
Sabiel tersenyum menggoda, "Aku tidak macam-macam, sayang. Aku hanya ingin mencoba suasana baru" bisik Sabiel sebelum mencium bibir Laura lembut.
Pada akhirnya ciuman Sabiel yang berubah liar pada bibir dingin Laura memberi efek mematikan pada hati Laura yang memanas. Bibir keras itu membuat gerakan yang tak mampu Laura abaikan. Lidahnya terjulur tak sabar ingin menyapa lidah suaminya. Sabiel menyeringai puas, merasa Laura sudah mulai masuk dalam rayuan sensualnya. Riak kecipak air kolam menjadi pengiring dua bibir yang terpagut dalam gairah.
Dada Sabiel yang menutupi dada Laura, mendesak Laura untuk mengalungkan tangannya di leher lelaki itu. Dengan mempertahankan sisi liarnya agar tetap terkendali, Sabiel mengusap perut Laura. Mengantarkan sensasi hangat pada jabang bayi yang meringkuk di dalam kantung rahim istrinya. Usapan itu terus melingkari pinggang Laura, menyusuri bokong sintal istrinya dan meremasnya perlahan.
Panas tubuh keduanya membuat percumbuan itu semakin bergelora. Laura merasa puncak payudaranya mengeras karena jemari Sabiel yang terus menggerayangi tubuhnya. Dalam suasana senja yang semakin temaram, sesuatu yang terus mendesak membuat keduanya gelisah. Perasaan erotis memenuhi setiap inci tubuh mereka.
Sabiel mengerang ketika bibir Laura dengan gerakan sensual menyusuri rahangnya. Jemarinya semakin liar menyusuri tubuh basah istrinya.
"Aaakh, sayang" Sabiel mengerang dengan nikmat.
Jemari lentik Laura yang serampangan melintasi tubuhnya, semakin terasa menyiksa. Mendadak Sabiel merasa kulitnya begitu sensitif setiap menerima sentuhan dari jemari itu. Pandangan matanya segera menjadi sayu menatap bola mata coklat di hadapannya. Laura tersenyum, begitu ia melihat kepasrahan suaminya yang meminta dirinya untuk memenuhi hasrat naluriah.
"Bawa aku ke kamar" ucap Laura sambil mengalungkan kembali tangannya di leher Sabiel.
Sabiel tak bisa lagi berpikir apapun selain membawa tubuh dingin dan menggoda kekasihnya untuk keluar dari dalam kolam. Ia segera menggendong Laura seperti bayi koala. Mata bertemu mata. Bibir bertemu bibir. Sabiel harus mempertahankan langkahnya agar tetap aman untuk Laura, ia menaiki tangga kolam dengan waspada. Sementara Laura... Oh Ya Tuhan, wanita itu terlalu lancang menyiksa Sabiel dengan kecupan seringan bulunya. Sabiel mengerang ketika merasakan lidah Laura menjilati lehernya.
"Kau ingat hutang malam erotismu, sayang?"
Sialan! ucapan Laura membuat gairah seksual Sabiel mencapai puncaknya. Lelaki itu gusar ingin segera sampai di dalam kamar. Ia tak sabar ingin menuntaskan birahinya pada sang induk semang.
__ADS_1
🍁🍁🍁