
Dari seluruh isi ruangan serba putih itu, kilatan tak percaya terpatri dalam bingkai bola mata legam. Matanya mendelik tak suka melihat sosok dokter lelaki yang sejak lama sudah menjadi dokter keluarganya, tengah membaca hasil pemeriksaan fisik yang beberapa saat lalu Sabiel lakukan. Sabiel enggan berucap apapun di sepanjang penuturan sang dokter. Pikirannya terasa kosong tak mampu mencerna omong kosong yang keluar dari mulut dokter itu.
Tomi yang berdiri di belakang Sabiel, mengawasi dengan gelisah sambil mengepalkan tangannya. Kondisi fisik Sabiel yang tampak bugar setiap waktu berhasil mengecohnya. Penyakit yang dahulu menggerogoti tubuh ayah Sabiel, ternyata berhasil bersemayam pula pada tubuh atletis keturunannya.
"Anda harus segera melakukan pengobatan, Tuan Sabiel. Kanker stadium empat akan sangat sulit ditangani jika dibiarkan begitu saja" saran dokter Andri bagai petir di siang bolong.
"Aku tidak mengerti. Apa maksud dokter? Aku hanya datang kemari untuk meminta vitamin karena aku sering merasa lelah" Sabiel tak mau percaya dengan vonis yang baru saja dokter itu berikan.
Dokter Andri membuka kacamatanya, kedua tangannya terjalin menutupi bagian dagu. Sebelum mengeluarkan ucapan, dokter itu melirik terlebih dulu pada Tomi. "Apa Tomi tidak menceritakan apapun mengenai kesehatan ayah anda, sebelum beliau mengalami kecelakaan tragis itu?" selidik dokter Andri.
Sabiel mengernyitkan dahinya, perlahan ia menolehkan kepalanya pada Tomi yang tetap diam memperhatikan. "Apa maksudnya Tom? Apa yang kau sembunyikan mengenai kematian orangtuaku?"
"Tuan.." Tomi tampak ragu untuk mengungkap sesuatu.
Sabiel memejamkan mata sembari menahan amarah, "Jangan coba-coba berbelit denganku. Katakan apa yang dokter ini maksud?" Sabiel mengepalkan tangan di atas meja.
"Tuan Humbert, mengidap kanker jauh sebelum kecelakan itu terjadi"
Sabiel mengernyitkan keningnya, dia merasa bingung dengan apa yang dokter dan Tomi ucapkan. Ayah mengidap kanker? Bagaimana bisa ia tidak tahu mengenai hal itu?
"Tuan dan Nyonya besar menyembunyikan hal itu dari Tuan muda. Saat itu Tuan muda masih sekolah di luar negeri. Keduanya tidak ingin membuat Tuan muda cemas" sambung Tomi.
"Lalu mengapa kau tidak memberitahuku?" tanya Sabiel sinis.
Sabiel berdiri dari duduknya. Langkahnya lebar menghampiri Tomi yang tertunduk. Sementara dokter Andri ikut keluar dari balik mejanya, berusaha menghentikan apapun yang akan Sabiel lakukan pada Tomi. Namun usahanya sia-sia, lengan Sabiel sudah lebih dulu menekan leher Tomi dengan kuat dan menempelkannya di tembok. Sorot matanya menggelap melihat Tomi yang tak juga bicara.
"Katakan, bodoh! Mengapa kau menyembunyikan hal ini?" nada kasar Sabiel membuat Tomi menatap kedua matanya dengan tatapan penuh sesal.
"Berhenti menatapku seperti itu! Aku tidak sudi dikasihani olehmu" bentaknya kemudian.
"Tuan Sabiel. Tenang Tuan tenang..." Dokter Andri tergopoh-gopoh mencoba menarik lengan Sabiel yang menekan leher Tomi. "Tomi sudah melakukan apa yang dia bisa untuk mencegah penyakit itu datang pada Tuan" ucapnya membela Tomi.
Sabiel tak juga puas. Ia masih menekan leher Tomi hingga raut wajah Tomi berubah kemerahan akibat pasokan oksigen yang semakin menipis.
"Tuan, tolong hentikan. Biarkan dia menjelaskan lebih dulu kejadian yang sebenarnya mengenai hal ini. Dia hanya mengikuti permintaan ayah Tuan untuk menyembunyikan penyakit turunan ini, Tuan" ujar dokter Andri tergesa.
Lengan Sabiel perlahan mengendur, dada Tomi mulai bergerak naik turun ingin meraup semua oksigen yang ada di ruangan itu. "Jangan membuatku hilang kesabaran, Tom. Katakan apa yang sudah terjadi" Sabiel mencoba untuk mengendalikan emosinya.
Tomi membuka kancing kemejanya, untuk melepaskan sesak akibat tekanan tadi di lehernya. "Sejak Tuan Humbert mengidap kanker, beliau sudah mengantisipasi agar penyakit ini tidak turun pada Tuan. Beliau meminta rekan bisnisnya di Tiongkok untuk dibuatkan obat herbal. Tuan ingat, ketika masih sekolah dulu saya mengantarkan beberapa obat dalam tabung vitamin untuk Tuan minum? Itu adalah obat herbal yang dipercaya akan mencegah tumbuhnya sel kanker. Meskipun saat itu sel kanker tidak ada di tubuh Tuan. Tapi ayah Tuan sangat khawatir bahwa suatu saat Tuan akan mengidap penyakit yang sama..."
"Kanker adalah penyakit yang tingkat penularan pada gen-nya begitu cukup kuat" potong dokter Andri menambahkan ucapan Tomi.
Sabiel masih diam membiarkan kedua orang itu saling berbicara menjelaskan asal penyakit yang tiba-tiba muncul dalam tubuhnya. Tomi juga menceritakan bahwa pada saat kematian orangtua Sabiel dulu, Sabiel yang jatuh sakit selama seminggu lebih, langsung menjalani pemeriksaan general check up, dan pada saat itu, Tomi bernafas lega karena ternyata tubuh Sabiel dalam kondisi bersih dari sel kanker. Dia lupa bahwa sel kanker itu bisa tumbuh kembali di waktu yang tidak terduga.
Sabiel tampak berpikir keras mengingat semua hal yang pernah terjadi berdasarkan cerita Tomi. Benaknya mengingat kembali ucapan Tomi yang saat dulu sering mengingatkannya agar ia tidak lupa untuk menenggak obat-obat herbal itu. Dan Sabiel mulai paham alasan kenapa dahulu orangtuanya itu lebih sering pergi ke Tiongkok daripada menengoknya di Inggris.
Mendengar semua runtutan masalah itu, Sabiel merasa terpukul. Dadanya terasa sesak harus terpaksa menerima kenyataan pahit kembali yang Tuhan berikan padanya. Tiba-tiba bayangan Laura hadir dalam ingatannya. Vonis penyakit ini pasti akan menghilangkan kebahagian istrinya dalam sekejap waktu.
Langkahnya goyah ketika ia mendekati kursi. Belum berhasil ia melabuhkan bok*ngnya disana, tubuhnya lebih dulu ambruk. Tangannya gemetaran memegangi alas kursi. Perasaan takut itu kembali menyiksa jiwanya. Bukan kematian yang Sabiel takutnya, lebih dari itu Sabiel takut memberikan luka baru untuk kekasihnya. Untuk belahan jiwanya.
__ADS_1
Laura. Apa yang akan terjadi padanya ketika Sabiel pergi untuk selamanya. Ya Tuhan, apa lagi ini? Apa yang sebenarnya Kau inginkan dariku? Tidak cukup puaskah Engkau membuatku menderita dengan kehilangan bayiku? Kini Kau uji aku kembali dengan penyakit ini.
Tubuh Sabiel bergetar, air mata mulai membasahi rahangnya yang tegas. Tomi mencoba menghampiri Tuannya. Dia berjongkok dan mengusap lembut punggung Sabiel. "Anda harus menjalani perawatan Tuan. Tuhan ingin melihat sejauh mana anda akan berjuang...Demi Nyonya" ujar Tomi meruntuhkan pertahanan Sabiel.
"Belum terlambat untuk memulai semua usaha, lebih cepat diobati akan semakin tinggi peluang untuk sembuh" timpal dokter Andri.
"Cih! Peluang?" Sabiel berdecih menertawakan diri. "Aku merasa hidupku seperti perjudian. Hanya ada peluang menang dan peluang kalah" ucap Sabiel ironis, ia menghapus kasar air matanya."Baiklah. Demi Laura. Jika Tuhan ingin melihat usahaku, maka akan aku tunjukan padaNya. Bagaimana aku akan bertahan hanya untuk hidup lebih lama bersama wanitaku" ucap Sabiel sembari berdiri dari posisinya.
Tomi berdiri berhadapan dengan Sabiel. Sekuat tenaga, ia menahan air matanya agar tetap bersembunyi. Seulas senyuman getir terlihat dari ujung bibir Sabiel yang ditarik paksa untuk menutupi kesedihan luar biasa dalam hatinya. Bayangan dirinya terbaring menunggu ajal dengan Laura yang berderai air mata muncul mengusik sanubarinya. Laura tidak akan kuat menanggung kabar buruk ini. Sabiel harus menyiapkan sesuatu sebagai kompensasi kematiannya yang akan datang tiba-tiba.
"Tom, aku harus membahas sesuatu denganmu. Dan aku harap kau tutup mulutmu sampai batas waktuku berakhir" pinta Sabiel dengan bola mata tajam menatap Tomi.
🍁🍁🍁
Di antara pergantian siang malam aku termangu.
Kabar duka darimu mengusik sanubariku.
Dimana dirimu, aku tak tahu.
Namun kenangan ini begitu mengganggu.
Tuhan hanya satu.
Namun sayap malaikatnya beribu.
Bahagiaku menjadi lesu.
Laura mengisi kekosongan menunggu suaminya pulang dengan membaca kembali prosa yang beberapa saat lalu ia buat. Sekian lama rentang waktu yang terlewati, akhirnya blog itu kembali dengan tulisan baru. Menghilangnya Bimasakti membangkitkan gairah puitisnya dalam sekejap mata. Alhasil, satu prosa berjudul Hilang selesai ia buat.
Laura melihat langit jingga dari balik jendela kamarnya. Matahari sebentar lagi akan pamit, namun Sabiel belum juga kembali. Kemana ia? Lelaki itu tak biasanya pulang terlambat tanpa mengabari Laura.
Laura memutuskan beranjak dari ranjang. Kakinya membawa ia untuk singgah di jendela yang sengaja masih dibuka. Tak berselang lama, senyuman merekah indah menghiasi wajahnya. Mobil suaminya terlihat tengah memasuki teras apartemen.
Melihat itu, Laura bergegas keluar kamar. Laptop yang semula menyala, mati dengan sendirinya. Langkahnya semakin tak sabar ketika ia menuruni tangga. Pakaian santai model sabrina dengan rumbai disepanjang garis bahu berkibar seiring derap langkahnya yang menggebu.
Sabiel langsung tersenyum riang berdiri di ambang pintu, melihat Laura berjalan cepat menghampirinya. Matanya menelisik dengan seksama keseluruhan tampilan Laura yang begitu cantik. Ia menyimpan potret wanita sempurna itu dalam rongga kepalanya.
"Darimana saja baru datang?!" dengusan manja menggelitik pendengaran Sabiel.
"Kau merindukanku?" Sabiel bertanya balik.
"Ish. Kau belum menjawab pertanyaanku" mata Laura mulai memicing.
Sabiel menyeringai jahil, "Aku terlalu senang dengan akta perceraian ini" Ia mengibaskan berkas perceraian yang telah final. "Dan karena nya aku mengajak Tomi untuk membantuku mencari ini" tangannya yang lain merogoh saku celana dan mengeluarkan kotak persegi berbahan bludru dengan warna merah maroon.
Tomi yang berada di belakang mengambil berkas cerai dari tangan Sabiel. Tak berapa lama ia membalikkan badan meninggalkan majikannya untuk menikmati penghuju senja dengan adegan romantis.
"Apa itu?" tanya Laura tak sabar.
__ADS_1
Sabiel tersenyum lembut, ia mengecup kening Laura sebelum membuka kotak itu perlahan. Mata Laura membulat ketika melihat dua pasang cincin terdapat di dalam kotak tersebut. Satu cincin berukuran kecil dengan satu mutiara di bagian tengahnya. Di bagian dalam cincin itu terukir inisial L+S\=F.
"Laura dan Sabiel selamanya" Sabiel mengatakan arti dari inisial itu pada Laura. "Aku ingin segera menikah resmi denganmu, sayang" ucap Sabiel kemudian.
"Kau membuatku terharu Sabiel" ujar Laura dengan mata berkabut. "Jadi kapan kau akan menikahiku lagi?" tanya Laura menyeringai, ia membiarkan Sabiel menyematkan cincin itu di jari manisnya.
Sabiel tersenyum sendu melihat cincin itu melingkari jari istrinya. Kedua tangannya merangkup sisi pipi Laura, dan mencium mesra bibir ranum yang suatu saat nanti akan sangat ia rindukan itu.
"Secepatnya sayang" bisiknya tepat dipermukaan bibir Laura yang lembab. "Secepatnya, sebelum kematian memisahkanku darimu" Sabiel melanjutkan ucapannya dalam hati.
🍁🍁🍁
Sabiel menatap bayangan dirinya yang tampak lusuh di depan cermin kamar mandinya. Sebelum pagi menjelang lelaki itu sudah terbangun dari tidurnya. Sementara Laura masih tampak lelap bergumul nyaman dalam selimbut.
Sabiel mengeluarkan obat yang diresepkan dokter padanya kemarin. Beberapa pil ia telan dalam waktu singkat. Berharap obat-obat itu bisa membantunya melawan sel kanker yang menggerogoti tubuhnya perlahan. Siang ini sesuai dengan kesepakatan kemarin, ia akan memulai terapinya, dan itu tanpa sepengetahuan Laura.
Sabiel sudah mengultimatum Tomi untuk tutup mulut tentang penyakitnya pada Laura. Laura tidak boleh tahu. Dia tidak boleh kembali bersedih karena mengetahui suaminya sedang mengidap penyakit mematikan.
Sabiel mengusap wajahnya dengan kasar. Perlahan wajah tampan ini akan hilang, digantikan oleh wajah pesakitan yang pucat dan menyedihkan. Hari-hari melelahkan, perawatan penuh derita dan siksa baru akan ia jalani. Dalam penderitaannya, Laura akan menjadi satu-satunya suntikan tenaga agar ia selalu merasa pantas untuk berjuang.
"Sayang?"
Sabiel terkesiap ketika menoleh pada ambang pintu dan melihat Laura berdiri disana. Dengan gerakan kaku, ia mencoba merapikan kembali tabung obat-obatannya.
"Apa yang sedang kau lakukan?" Laura mendekati Sabiel.
"Tidak ada. Aku tadi hanya bermimpi buruk" Sabiel beralasan sembari meletakan kembali obat-obatan yang ia simpan dalam tabung vitamin dengan cara sealami mungkin.
"Obat-obat apa itu?" tanya Laura menunjuk pada obat yang Sabiel simpan kembali di kotak obat.
"Vitamin. Aku merasa lelah maka dari itu aku meminum vitamin ini" Sabiel kembali beralasan.
"Aneh. Tadi kau bilang mimpi buruk, sekarang kau bilang lelah. Apa kau baik-baik saja, sayang?" Laura meletakan telapak tangannya di kening Sabiel. Mencoba merasakan suhu tubuh suaminya.
Hati Sabiel menghangat menerima sikap lembut istrinya, ia menggenggam tangan Laura yang masih menempel di keningnya. "Tadi aku mimpi di kejar hantu sampai kelelahan. Aku sengaja minum vitamin, agar jika bermimpi buruk lagi, aku tidak merasa lelah saat bangun" ujar Sabiel asal.
Laura menatap wajah tampan yang kini tengah menyeringai jahil di hadapannya. Alasan bodoh apa itu? Jelas sekali kalau itu semua hanya bualan suaminya. Siapa juga yang akan percaya.
"Kau semakin pandai membual" sindir Laura.
Sabiel terkekeh menatap wajah istrinya yang menggemaskan. Tiba-tiba ia mengangkat tubuh Laura untuk duduk di atas washtafel.
"Kita sama-sama terbangun, bagaimana jika aku mencoba menyebar benih lagi sekarang?" goda Sabiel berbalas pukulan manja di pundak oleh Laura.
"Kau bilang lelah. Menyebar benih akan membuatmu semakin lelah" ujar Laura tersipu.
"Jika aku lelah, kau bisa mengambil alih bukan?!" tantangan vulgar berhasil membuat Laura membelalakan mata karena malu.
Tanpa peringatan Sabiel mulai mencumbu Laura. Menyentuhkan tangannya disegala sisi tubuh mungil itu. Dalam benaknya lelaki itu ingin mengingat setiap jengkal tubuh Laura. Menyimpannya sebagai satu kenangan berharga untuk ia bawa ke liang lahat.
__ADS_1
"Laura, aku sangat mencintaimu. Mencintaimu sampai di tarikan nafas terakhirku nanti" gumam Sabiel dalam hati, dengan bibir bergetar ******* bibir Laura.
🍁🍁🍁