
Bimasakti terbangun dan samar-samar ia mendengar suara seseorang tak jauh darinya. Tangannya meraba kedua bola matanya yang kini tertutup kain berbahan seperti kassa. Ia juga merasa tubuhnya segar seperti habis dimandikan.
"Kau tidak boleh banyak bergerak dulu"
Suara bariton asing membuatnya menolehkan kepala dengan tergesa. Mencari tempat yang tepat dimana suara itu berasal.
"Kau aman disini. Kami sudah melakukan perawatan untuk semua luka di sekujur tubuhmu" ujarnya dengan suara tenang. "Matamu sudah kami bersihkan. Tapi kami tak bisa mengembalikan penglihatanmu itu. Mereka terlalu kejam memberi sayatan tepat pada retina matamu" sesal seseorang yang kini tengah duduk di hadapan Bimasakti.
"Siapa kau? Dan dimana aku?!" sejak tadi Bimasakti tak tahan ingin menanyakan hal itu. Dia merasa berada di tempat asing dengan orang-orang yang tidak ia kenali.
"Saya dokter Fey. Yang ditugaskan untuk merawat anda" ucap dokter itu memperkenalkan dirinya.
"Siapa yang menyuruhmu?" tanya Bimasakti curiga.
Dokter Fey terdiam. Ia tidak bisa mengatakan siapa yang telah menugaskannya untuk merawat semua luka penyiksaan yang lelaki itu dapatkan di penjara busuk sana.
"Mengapa kau diam?!" tanya Bimasakti merasa tak sabar dan curiga dengan keterdiaman dokter itu. "Siapa yang menyuruhmu? Dan dimana ini?" tanyanya kembali.
Dokter Fey tanpa terduga menggenggam tangan Bimasakti. Ia menepuk-nepuk punggung tangan pemuda itu seperti orangtua yang tengah menenangkan kegusaran anaknya.
"Saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda. Seseorang meminta saya untuk merahasiakan tentang dirinya. Yang harus anda ketahui kini, di tempat ini anda akan merasa lebih baik. Kami sedang menunggu donor mata untuk mengembalikan penglihatan anda" ujarnya penuh pengertian.
Donor mata?! Siapa orang-orang ini? Atas alasan apa mereka sampai mau membantu pemuda yang tidak ada hubungan apapun dengan mereka untuk mendapatkan kembali penglihatannya. Bimasakti dilanda rasa penasaran yang besar.
Pemuda itu terdiam dengan benak penuh berisi pertanyaan. Ucapan dokter itu sungguh diluar dugaannya. Namun ia tidak menampik bahwa ada perasaan haru yang muncul perlahan dalam hatinya ketika ada seseorang yang ingin membantu dirinya untuk bisa kembali melihat.
Dokter Fey mengawasi raut wajah Bimaskati yang mudah ditebak. Dengan wajah penuh keriput, dokter itu tersenyum tipis. "Mari kita berharap agar anda bisa secepatnya mendapatkan donor mata" ujarnya pada Bimasakti yang masih diam.
Ia mengambil sebuah tongkah khusus untuk orang buta yang sejak tadi ia sandarkan di tembok dekat jendela. Kemudian ia genggamkan tongkat itu pada tangan Bimasakti.
"Apa ini?" tanya pemuda itu sembari meraba ujung tongkat bertali.
"Selama menunggu donor mata, ada baiknya anda melatih diri untuk belajar mengenali tempat ini dengan tongkat" ujar Dokter Fey. "Ruangan ini sengaja dibuat selapang mungkin, agar anda bebas berjalan tanpa khawatir akan menabrak sesuatu" ia merentangkan tangannya meski Bimasakti tidak mungkin melihatnya.
"Apakah ini kamarku?" tanya Bimasakti.
"Bukan. Ini ruang kesehatan tempat dimana saya akan merawat luka-luka anda secara rutin" sahut Dokter Fey.
"Lantas dimana kamarku?" tanya Bimasakti. Kamar adalah tempat pertama yang harus ia temukan.
"Sebelah kiri setelah anda keluar dari ruangan ini, kamar anda dekat dengan kaca patri. Anda bisa menyusuri tembok sambil menggunakan tongkah anda" sahut Dokter Fey memberi saran.
Bimasakti berjalan dengan susah payah. Tongkat dalam pegangannya diketukkan beberapa kali guna memastikan lantai yang sedang ia pijak, dalam kondisi aman. Lelaki itu melangkah dalam kegelapan mesti diluar matahari begitu terik bersinar. Bayangan dapat melihat kembali menari-nari dalam otaknya. Dalam hatinya, ia berjanji bahwa seumur hidupnya, seseorang yang begitu baik ini tidak akan pernah ia lupa.
🍁🍁🍁
__ADS_1
BANDUNG dengan senja berpendar megah.
Aroma disinfektan merebak memenuhi satu ruangan. Laura duduk tafakur menatap mata lelakinya yang terpejam beberapa saat yang lalu. Rasa nyeri dalam hatinya baru saja ia lewati dengan dramatis. Kesal dan kecewa memang tak pernah menyenangkan untuk dibiarkan terlalu lama. Laura tak menyangka, Sabiel begitu tega membohongi dirinya. Lelaki itu dengan seenak hati menutupi apa yang tengah ia hadapi tanpa niat sedikitpun untuk berterus terang pada Laura.
Ingatan Laura berkelana pada obrolannya dengan dokter. Wanita itu terkejut dengan apa yang dokter katakan mengenai kondisi suaminya. Ia bahkan menangis ketika dokter mengatakan Sabiel sedang dalam proses pengobatan. Dan apa yang terjadi hari ini, memang efek samping dari pengobatan yang tengah dijalani suaminya.
Setengah mati Laura menahan diri untuk tidak berteriak meredakan kesedihan yang tetiba muncul dalam dirinya. Laura sedih, dia merasa dikhianati oleh sikap Sabiel yang mencoba menutupi hal ini dari dirinya. Apa yang Sabiel lakukan lebih membuat Laura sakit daripada kenyataan penyakit itu sendiri.
"Mengapa kau berbohong, sayang? Apa kau tidak menganggapku sebagai istrimu?" keluh Laura sembari membelai kening Sabiel.
Matanya menyusuri wajah tampan yang kini kehilangan rona segarnya itu. Perlahan Laura merunduk dan melabuhkan kepalanya di dekat dada Sabiel yang tengah naik turun dalam ketenangan alam bawah sadar.
"Aku membencimu, Sabiel. Teganya kau berbohong padaku..." ucap Laura kesal.
Laura menitikkan air matanya sendu. Kondisi Sabiel yang tengah berjuang melawan kanker membuatnya merasa sedih. Laura sedih karena Sabiel memutuskan untuk menghadapi penyakit itu seorang diri, tanpa melibatkan dirinya yang berstatus seorang istri.
Ditengah suasana yang menyesakkan, Laura merasa sebelah tangan Sabiel tempatnya menyandarkan kepala, tengah bergerak. Seketika Laura menegakkan tubuhnya. Ia usap air matanya dengan kasar. Tak rela jika Sabiel menemukannya sedang bersedih.
Bola mata coklat Laura tampak awas memperhatikan pergerakan bola mata Sabiel yang masih terpejam. Tak berapa lama, mata legam menunjukkan keindahannya. Sabiel terbangun. Matanya sayu menatap wajah Laura yang sendu dengan seulas senyum tipis di sudut bibirnya.
"Apa masih sakit?" tanya Laura lembut
Lelakinya mengangguk. Ia menarik nafasnya dalam dan mengeluarkannya perlahan. Seringai lebar menghiasi wajah Laura, sejenak ia merasa Sabiel telah berubah menjadi biksu shaolin yang sedang berlatih kungfu dengan mengatur diagframa pernafasan. Seringai itu menular pada Sabiel. Lelaki itu tersenyum hangat menatap wajah istrinya yang masih terlihat cerah. Ia tak tahu, bahwa Laura sedang berusaha menekan hatinya agar tidak menunjukkan kesedihan yang sebenarnya pada dirinya.
"Jangan pernah menyembunyikan apapun dariku" ucapnya tepat di bibir Sabiel yang berubah lembab dan basah.
Sabiel tersenyum penuh sesal. Ia menggenggam tangan Laura yang masih memegangi pipinya. "Maafkan aku. Aku hanya tak ingin kau bersedih" sahutnya menyesal.
Laura menegakkan kembali tubuhnya, "Aku lebih sedih jika kau menyembunyikan hal penting seperti ini dariku" dengus Laura dengan mulut cemberut.
Wanita itu berhasil mengubah rasa sesak dalam dadanya menjadi obrolan ringan yang ia harap akan saling memberi kekuatan untuk Sabiel dan dirinya. Dokter mengatakan bahwa selama pengobatan, Sabiel mengalami jatuh bangun. Sewaktu-waktu kondisinya menurun, tapi dilain waktu kondisinya amat sangat membaik. Satu hal yang wajar jika seseorang masih dalam masa pengobatan.
"Berjanjilah untuk tidak menyembunyikan apapun lagi dariku?" pinta Laura.
"Aku berjanji" Sabiel mengangguk sambil tersenyum.
Laura duduk di tepian ranjang Sabiel. Ia meletakkan tangan Sabiel yang bebas dari tali infusan pada perutnya yang rata. Pandangan keduanya bertemu saling mengikat. "Kau harus berjuang sayang. Aku yakin Tuhan akan melihat usahamu, dan menyembuhkanmu. Jangan pernah putus asa, karena aku dan anakmu akan selalu menunggumu" ucap Laura menguatkan jiwa Sabiel yang rentan.
Sabiel tertegun mendengar nada optimis yang terlontar dari bibir Laura. Hatinya menghangat menerima suntikan semangat yang membuatnya kembali bergairah.
"Kemarilah, mendekat padaku" titah Sabiel tersenyum senang.
Laura menurut. Ia mendekatkan kepalanya dihadapan Sabiel. "Apa?" tanyanya penasaran.
"Aku ingin kau menciumku seperti tadi, tapi aku ingin lebih lama" pintanya tanpa tahu malu.
__ADS_1
Laura sedikit memberi jarak kepalanya dari wajah Sabiel. Tatapannya mengejek ucapan vulgar suaminya itu, sementara Sabiel terkekeh menyadari ejekan yang tampak jelas di wajah istrinya.
"Aku sedang sakit. Apa kau tidak mau memanjakanku?!" dalihnya seperti bocah tengil.
"Lihatlah nak! Ayahmu selalu pandai memanfaatkan situasi" gumam lirih Laura pada jabang bayi yang tentu tidak dapat mendengar gerutuan ibunya.
Sabiel tersenyum senang ketika Laura mulai merundukkan kembali kepalanya. Lelaki itu tak menghiraukan selang infus yang membentang di satu sisi tangannya. Ia merangkup pipi Laura begitu wajah cantik itu hanya berjarak beberapa jengkalan tangan dari wajahnya.
"Aku mau sedikit lebih lama" ucapnya memancing rona merah merambat pada wajah Laura.
"Berhenti membuatku malu, Sabiel" geram Laura sebelum wanita itu kembali menautkan bibirnya pada bibir Sabiel yang serakah.
Oh Tuhaan, selalu ada kenikmatan dalam setiap penderitaan. Ciuman Laura yang hangat membawa Sabiel pada satu ilusi yang penuh gairah. Membawa dirinya terbang oleh rasa senang yang sempurna. Penglihatan Sabiel mulai kabur, bibir manis Laura membuatnya hilang ingatan akan rasa sakit yang beberapa saat lalu menderanya habis-habisan.
"Sudah. Kau sedang sakit" Laura melepas paksa bibirnya yang merekah akibat sesapan Sabiel.
Raut wajah Sabiel mengkerut tak rela dengan sikap sadis Laura yang memutus kenikmatannya begitu saja. Sabiel menarik lengan Laura untuk mendekat kembali. Seketika wajah cantik itu berada tepat dihadapannya.
"Kau tahu, orang bilang bermesraan adalah obat paling ampuh untuk mengobati sakit seseorang" ujarnya sok tahu.
Laura memicingkan matanya. Kedua bola mata Sabiel menatapnya menggoda. "Alasan" dengus Laura.
Sore keemasan dengan hasrat Sabiel yang hampir lepas landas meneguhkan diri Laura untuk mengikuti kemana gairah membawa.
Setelah memastikan tak kan ada siapapun yang masuk dalam ruang perawatan VVIP itu, Laura menaiki ranjang Sabiel. Sabiel menggeser tubuhnya demi memberi ruang untuk istri tercintanya. Mereka tidur saling berhadapan. Sabiel tak ingin ada jarak dari Laura. Ia merapatkan tubuhnya pada tubuh Laura yang halus dan hangat seperti senja di langit luar sana.
"Kau sedang sakit, Sabiel" Laura dengan segala keinginannya untuk menampung gairah suaminya, kembali mengingatkan.
"Hanya sebentar. Aku ingin meredakan rinduku pada tubuh istriku" ujarnya mengelus pipi Laura.
Laura kehilangan kata ketika Sabiel dengan segala kehati-hatiannya mencoba untuk mencumbu dirinya. Lelaki itu begitu lihai mengawasi selang infus sembari ******* mesra bibir Laura.
Satu kebohongan besar jika Laura tak mengakui bahwa gairah yang mengungkung jiwa Sabiel sama besarnya dengan gairah yang menjeratnya saat itu. Aroma obat-obatan yang menguar dari mulut Sabiel tak melenyapkan sisi sensual dirinya.
Lelaki itu menerobos batas kesabaran Laura untuk tidak kembali masuk dalam pusaran gairah erotis. Nafasnya yang sedikit terengah membuat Laura merasa berdosa karena membuat lelakinya berusaha begitu gigih untuk meraih kepuasannya dalam kemungilan tubuh Laura yang utuh.
Laura tak bisa menjelaskan dorongan apa yang membuatnya kini berada di atas tubuh Sabiel dan tengah sibuk memberi sentuhan di sekujur tubuh lelaki itu. Sabiel terpejam menikmati sentuhan yang begitu memabukan. Ia nyaris menangis dan memohon agar Laura tetap mempertahankan sentuhan hangat itu di tubuhnya. Dalam kesakitan yang terus mendera, sentuhan sensual Laura bagai air dingin yang membasuh jiwa Sabiel yang membara.
Laura memperhatikan selang infus yang tetap tenang meski guncangan di ranjang itu semakin bertalu. Ada keinginan untuk mentertawakan aksi nekat mereka saat itu. Perasaan menggelitik akibat benak Laura yang terus berpikir bagaimana caranya agar lelakinya merasa tetap puas meski percumbuan itu sebatas sentuhan.
Seekor kupu-kupu terbang melintasi benak Sabiel yang tengah berpusat pada bibir Laura. Bibirnya tersenyum dalam keheningan suasana sensual yang sakral. Ciuman Laura bagai hukuman panjang bagi birahinya yang tersiksa. Ia ingin hancur. Melebur bersama dengan aroma tubuh Laura yang anggun.
Tidak ada kebohongan dalam semangat seksualnya. Gerakan Laura yang indah dengan kemurnian rasa Sabiel yang agung menciptakan getaran syahdu dalam dawai peri-peri asmara. Mereka iri setengah mati, pada dua manusia yang tengah mempermainkan takdir dengan cara yang sempurna.
🍁🍁🍁
__ADS_1