
Halo semuanya π
Terima kasih masih setia membaca kisah percintaan Laura dan Sabiel hingga saat ini.
Hari ini Author akan double up lagi untuk kalianπ€π€
Semoga tetap suka ya dengan jalan cerita yang sudah mendekati akhir ini π
Selalu dukung Author dengan memberi Like dan Koment di tiap episodnya ya.. π
Happy Reading Guys! ππ
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Kebahagian yang tengah dirasakan Sabiel membuatnya melupakan bahwa waktu terus berjalan, dan beberapa minggu telah terlalui dengan baik.
Sejak terbongkarnya perselingkuhan Intan, Sabiel langsung meminta Tomi untuk kembali mengurus pengajuan cerainya langsung ke pengadilan. Kali ini ia tidak perlu kesepakatan dengan Intan untuk berpisah. Bukti yang ia miliki akan menjadi senjata paling ampuh untuk memaksa Intan menyetujui perceraian.
Sabiel duduk di kursi ruang kerjanya, matanya melihat surat panggilan dari pengadilan untuk sidang pertamanya.
"Saya sudah meminta pihak pengadilan untuk mengirim surat panggilan nyonya Intan langsung ke Singapura" ucap Tomi yang berdiri diseberang meja Sabiel.
Sabiel menyeringai dengan sorot mata memicing, "Dia pasti akan langsung datang kemari. Aku jadi tidak sabar ingin membongkar perselingkuhannya tepat dihadapan wanita itu" ujar Sabiel tanpa melihat Tomi.
"Apa saya harus menyuruh beberapa orang untuk menjaga apartemen ini, Tuan?" tanya Tomi kemudian.
Sabiel menolehkan kepalanya, "Tidak perlu, biarkan Intan masuk dan kita lihat sendiri bagaimana reaksinya melihat bukti yang kita miliki" ucap Sabiel menatap Tomi. "Yang perlu kau lakukan, tetap dampingi Laura ketika aku tidak sedang bersamanya. Aku khawatir Intan akan menyakiti Laura nanti"
"Baik Tuan" Tomi mengangguk sopan.
Ceklek.
Pintu ruang kerja terbuka. Laura berdiri di ambang pintu dengan appron yang masih melekat di tubuhnya. Tatapan Sabiel berubah menjadi lembut.
"Makanan sudah siap" ujarnya tersenyum hangat.
Sabiel berdiri dari kursinya, "Baiklah, Tom ingat apa yang aku perintahkan" ucapnya sambil berjalan menghampiri Laura.
"Kau juga makan disini saja, bersama kami" timpal Laura menatap Tomi.
Belum sempat Tomi menjawab, Sabiel yang berdiri menghalangi pandangan Laura langsung berkata, "Dia banyak pekerjaan sayang. Tidak bisa makan bersama kita, benarkan Tom?" Sabiel melirik pada Tomi yang mengangguk paham.
"Benar nyonya, saya tidak bisa ikut makan bersama" ucap Tomi tersenyum melihat Sabiel yang terus menghalangi pandangan Laura. Lelaki itu masih saja bersikap kekanakan dengan tak membiarkan Laura berhubungan dengan lelaki lain.
"Padahal aku sudah buatkan makanan untukmu" sahut Laura sembari menggeser tubuh kokoh suaminya agar dapat melihat Tomi.
Sabiel mendelik penuh isyarat pada Tomi, "Jangan memaksanya sayang" ujarnya langsung merangkul pundak Laura dan memaksa Laura membalikkan badan berjalan keluar ruangan. Tomi mengikuti dibelakang.
"Kau masak apa sayang?" tanya Sabiel saat menuruni tangga.
Laura menolehkan kepala padanya, "Aku sedang ingin makan seafood, jadi aku buat beberapa hidangan seafood. Apa kau suka?" Laura menanya balik.
Sabiel tersenyum, lelaki itu mengecup pipi Laura sekilas. "Aku selalu suka apapun yang kau masak untukku" ujarnya
"Tuan, saya permisi dulu" pamit Tomi ketika mereka telah sampai dilantai satu.
"Kau pulang sekarang Tom?" tanya Laura ingin tahu.
__ADS_1
Tomi mengangguk, ia mulai berjalan keluar saat Sabiel memberi isyarat padanya untuk segera keluar.
πππ
S I N G A P U R A
Intan meninggalkan area belakang panggung ketika ponselnya berdering nyaring. Wanita itu berjalan menuju ruangan lain yang lebih sepi untuk menerima panggilan. Langkahnya sedikit tergesa hingga beberapa kali ia menyenggol pada kru dan model fashion show yang tengah sibuk menyiapkan peragaan busana selanjutnya.
"Halo" ucap Intan mencoba menajamkan pendengarannya.
"Halo Nyonya?" suara pembantu apartemen lama Intan terdengar.
"Ya. Ada apa kau menghubungiku? Apa kau tidak tahu aku sedang sibuk?!" Intan langsung meluapkan amarahnya.
Diseberang sana, pembantu itu terkesiap mendengar nada bicara majikannya yang bernada tinggi. Tiba-tiba mulutnya menjadi keluh.
"Itu Nyonya... Itu" ucapnya terbata.
Intan membuang nafas kasar, matanya melihat beberapa model yang sudah siap mengantri untuk kembali melenggok di atas panggung.
"Ada apa?!!" bentak Intan
"Itu Nyonya, tadi ada kiriman surat dari Indonesia untuk nyonya" ucapnya dalam setarikan nafas.
Intan langsung memicingkan mata, "Surat? Surat apa?" selidik Intan.
"Surat dari pengadilan negeri..... "
Intan membelalakan mata, "Simpan surat itu. Aku akan mengambilnya nanti" Intan langsung memotong ucapan pembantunya.
"Sabiiiiiiel" gumamnya menggeram sembari mengepalkan tangan.
Ia kembali ke belakang panggung. Langkahnya tegas penuh dengan amarah. Wajah angkuhnya terangkat memandang murka seseorang yang menabraknya di jalan. Intan sedang terbakar emosi. Wanita itu ingin segera menyelesaikan fashion show hari ini dan langsung pergi ke apartemen lamanya. Hatinya tak sabar ingin mengetahui dengan pasti surat apa yang ia terima itu.
Hampir tengah malam acara fashion show itu akhirnya selesai juga. Intan keluar dari balik panggung dengan langkah kaki gemulai, diiringi tepukan tangan dari pada undangan yang hadir. Rancangan Intan diluar dugaan telah berhasil memukau banyak pasang mata. Wanita itu tersenyum cantik sembari melambaikan tangannya menatap para undangan yang terpesona dengan karyanya. Di sisi sebelah kiri, pada barisan kursi paling depan. Intan melihat Dato' Faisal bertepuk tangan bangga atas apa yang telah ia capai. Lelaki itu tersenyum puas melihat kemampuan Intan sebagai desainer muda berbakat. Matanya mengerling menggoda Intan yang tengah menatap balik pada dirinya. Intan tersipu malu. Wanita itu menerima karangan bunga dari Dato' Faisal dengan memberikan elusan lembut di punggung tangan Dato'.
"Nanti kau pulang bersamaku" bisik Dato' ketika ia menjabat tangan Intan sebagai bentuk penghargaan atas karyanya.
Intan tersenyum senang, tanpa membalas ucapan Dato', wanita itu mengangguk perlahan. Riuh sorak para tamu undangan dan para model yang mengelilingi Intan, menyamarkan isyarat diantara mereka. Namun tidak bagi seseorang yang berdiri dibarisan belakang para undangan.
Lelaki bertopi buckethat itu menatap atasan dan bawahan yang tengah berbaur bersama dengan sorot mata menyelidik. Tanpa disadari oleh siapapun, ponsel ditangannya merekam interaksi Intan dan Dato' Faisal sejak desainer muda itu keluar dari balik panggung.
Setelah dirasa cukup dengan hasil rekamannya, jemarinya langsung mengirim rekaman itu pada seseorang. Matanya masih setia menatap kedua orang pengkhianat yang kini sedang tertawa bersama.
"Tamat riwayat kalian" desisnya seperti bergumam.
Drrtt... Drrttt.. Drrtt..
Ponsel lelaki itu berdering, jemarinya cekatan membuka satu pesan yang masuk.
From. 0XXXXXXXXXX
Lanjutkan penyelidikan.
Lelaki itu menyeringai mengerikan menatap jijik pada pasangan tak tahu malu di atas panggung megah itu. Ia segera membalikkan badan, berjalan menuju pintu keluar gedung dengan perasaan puas atas keberhasilan pengintaian yang ia lakukan beberapa minggu terakhir ini.
πππ
__ADS_1
Asap cerutu mengepul dari hembusan nafas Dato' Faisal yang tengah duduk bersandar di dalam mobil mewahnya, sementara disampingnya Intan sedang bergelayut manja menyandarkan kepala di bahu lelaki paruh baya itu.
Di balik kemudi, supir pribadi Dato' melirik sesekali pada majikannya melalui kaca spion. Keberadaan kekasih gelap majikannya di dalam mobil, membuatnya melajukan kendaraan itu ke arah apartemen mewah yang biasa majikannya datangi di waktu-waktu tertentu.
Jalanan Singapura lenggang karena malam sudah sangat larut. Hanya beberapa kendaraan saja yang masih terlihat lalu lalang di jalanan.
Raut wajah Intan tertunduk lesu, dia baru saja menceritakan perihal masalah surat dari Indonesia itu kepada Dato'.
"Aku harus bagaimana Dato'? surat itu pasti berasal dari pengadilan negeri agama" keluh Intan.
Dato meremas jemari Intan ketika ia mematikan cerutunya. "Kau belum tahu pasti bukan? kau bahkan belum melihatnya" sahut Dato menenangkan kegundahan simpanannya.
"Tidak perlu melihat pun aku tahu surat itu pasti dari pengadilan agama" ucap Intan yakin. "Suamiku ternyata tetap ingin menceraikanku, apa yang harus aku lakukan Dato'?" Intan merasa usahanya tempo hari percuma.
Dato' Faisal menegakkan tubuh Intan dari posisi bersandar, lelaki itu memegangi kedua bahu Intan dan menatap bola mata simpanannya itu dengan percaya diri, "Jika benar dia ingin menceraikanmu, biarkan dia melakukannya. Kau bisa tetap tinggal disini bersamaku"
Bola mata Intan tampak tak rela, "Tapi aku..."
"Apa yang membuatmu tak ingin melepasnya, Intan? Apa kau masih mencintainya?" tanya Dato' menyelidik.
Intan menggeleng, "Aku tidak mencintainya, tapi aku membutuhkannya" ucap Intan sendu.
Dato membuang nafasnya yang berat, lelaki itu melepaskan pegangannya pada bahu Intan. "Apa yang kau butuhkan darinya? Tidakkah keberadaanku sudah mencukupi segala kebutuhanmu?" tanya Dato'.
Intan tampak bingung menjawabnya, kepalanya terlalu letih memikirkan jawaban untuk pertanyaan dari selingkuhannya itu. Sorot mata Dato' mengawasi raut kebingungan yang terpatri dalam paras cantik Intan. Lelaki itu menyandarkan punggungnya di kursi.
"Lepaskan dia Intan. Untuk apa kau menahannya sementara ada lelaki lain yang begitu memuja dirimu" ucap lelaki paruh baya itu.
Intan menolehkan kepalanya, "Sebesar apapun Dato' memujaku, Dato' tidak akan menikahiku, bukan? Aku akan tetap menjadi bayangan dalam hidup Dato'" dengus Intan.
Lelaki itu tersenyum lebar, dia menarik bahu Intan untuk bersandar di dadanya. "Jadi itu yang kau risaukan?" tanyanya.
Intan mengangguk cepat. "Meskipun aku setuju untuk bercerai darinya, Dato' tidak mungkin menikahiku bukan? dan aku harus rela hanya berperan sebagai orang ketiga. Sebagai simpanan yang bisa Dato' tinggalkan kapanpun" keluh Intan terang-terangan.
"Hahahahaha" Dato' tertawa puas mendengar keluhan Intan. "Kau tenang saja, Istriku sedang sakit parah. Saat ini saja dia sudah tidak berdaya, hanya bisa duduk di kursi roda. Kita tunggu sampai malaikat maut membawanya pergi, baru setelah itu kunikahi kau" ucap Dato' Faisal yang kemudian menerbitkan senyuman kelegaan diwajah Intan.
Supir pribadi Dato' yang tengah mengemudi tampak terkejut mendengar apa yang majikannya ucapkan. Pemuda itu melirik sekilas pada kaca spion, merasa malu ketika matanya melihat Dato' Faisal sedang meremas payudara Intan dibelakang sana.
"Baiklah, jika Dato' sudah mengatakan hal itu. Aku tidak khawatir lagi harus bercerai dari suamiku. Aku malah dengan senang hati menerima perceraian itu, karena aku akan menjadi milik Dato' selamanya" ujar Intan tanpa tahu malu.
Benaknya mulai membayangkan betapa membahagiakan menjadi istri sah dari seorang lelaki kaya raya yang sangat berpengaruh di negeri jiran sana. Kemewahan gaya hidup dan penghormatan yang ia akan dapatkan dari orang-orang mulai membutakan matanya.
Dato' yang melihat rona bahagia dari wajah Intan, ikut tersenyum lebar. Hari-harinya yang membosankan hidup bersama istri yang bahkan sudah tak sanggup melayaninya secara seksual membuatnya lupa bahwa sang istrilah yang membuatnya dapat merasakan segala kemewahan dan gaya hidup bak seorang raja.
Kekayaan dan garis keturunan ningrat istrinya lah yang selama ini menjadi penopang Dato' Faisal hingga ia bisa berdiri dengan angkuh para setiap orang yang mengenalnya sebagai bagian dari keluarga terhormat. Lelaki itu lupa, bahwa tanpa keberadaan istrinya. Dia hanyalah anak dari veteran angkatan laut malaysia yang hidup pas-pas an.
"Ah Intan" desah Dato' Faisal ketika Intan tiba-tiba membelai kejantananya.
Intan menyeringai menggoda, "Kau membuatku tak sabar ingin melayanimu, Dato'. Malam ini aku akan melupakan masalah perceraian itu, dan melayanimu sampai puas" ucapnya sebelum mencium kuat bibir beraroma tembakau itu.
Dato' tersenyum lebar menikmati ciuman kasar yang menggairahkan dari Intan. Lelaki paruh baya itu membiarkan Intan menyusuri lehernya dengan bibir mungil lembutnya. Sementara tangannya mulai menjamah bagian-bagian tertentu tubuh sintal Intan.
"Aku ingin menghabisi tubuhmu" bisik setengah parau Dato' di telinga Intan.
Intan semakin menyeringai menggoda, "Maka lekas kau habisi aku malam ini. Aku rela hancur lebur dalam gairah erotismu itu" ucapnya mendesah dengan tubuh semakin merapat.
πππ
__ADS_1