
Hai Guys! 👐
Hari senin nih, awal minggu yang sendu karena diguyur hujan. Hari ini Author akan up 2 episode, seneng kan kaliaaaan??!! 😍😘😉
Silahkan dibaca, dinikmati, diresap dan jangan lupa like, koment di setiap episode nya oke?!
Happy Reading Guuuyyyss! 😉📚
Yuk ah, Cap Cus..
...----------------...
Intan mondar mandir dengan gelisah di dalam ruang kerja Sabiel yang luas. Pagi hari itu, orang yang ia suruh untuk menemukan Sabiel datang untuk memberikan laporan atas pengintaian yang Intan tugaskan padanya.
"Jadi kemungkinan Sabiel sudah tahu bahwa aku yang menyuruhmu mengintainya?" tanya Intan pada Jonny, lelaki suruhannya.
Sebelum berhasil menemukan Sabiel keluar dari salah satu apartemen warisan orangtuanya itu, Jonny berdasarkan instruksi dari Intan melakukan pencarian terlebih dulu di sekitaran kampusnya.
Lelaki itu mencari tahu keberadaan Sabiel dengan bertanya pada beberapa mahasiswa disana. Dan informasi yang ia dapatkan adalah bahwa lelaki yang harus ia temukan itu, ternyata sudah dua hari tidak masuk untuk mengajar.
Setelah melaporkan perihal ketiadaan Sabiel di kampus pada Intan. Intan langsung mengarahkannya untuk mulai mencari di villa dan aparatemen orangtuanya. Entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa Sabiel pasti ada di salah satu tempat itu. Intan kemudian memberikan alamat-alamat tempat itu pada Jonny, dan lelaki itu segera mengecek keberadaan Sabiel di beberapa tempat tersebut.
Setelah menghabiskan waktu seharian penuh. Akhirnya Jonny menemukan orang yang sedang dicarinya. Sabiel berada di salah satu apartement paling mewah diantara apartemen lain yang ia miliki. Malam itu Sabiel keluar dari apartemen mewahnya, Jonny mengintai dari jarak yang cukup jauh namun tak mengurangi ketajaman penglihatannya. Dia melihat Sabiel keluar bersama seorang wanita cantik.
Jonny mengikuti Sabiel dengan hati-hati. Namun sepertinya Sabiel mengetahui bahwa dirinya sedang diikuti, hingga lelaki itu membuat jalanan kota Bandung malam itu menjadi area balap. Aksi kejar kejaran terjadi tanpa terelakkan, hingga tiba di satu persimpangan jalan mobil Sabiel harus berhenti mendadak dan membuat Jonny berhenti mendadak pula dibelakangnya. Benturan pada bumper mobil Sabiel terjadi. Jonny tampak panik, ia takut jika Sabiel tiba-tiba keluar dan menghampirinya. Maka dari itu, sebelum terjadi perkelahian, lelaki suruhan itu berhenti mengejar Sabiel dengan memutar kemudi dan berjalan mendahului mobil Sabiel.
Ketika ia melewati kaca mobil buruannya, ia menoleh tepat pada saat Sabiel dan wanita cantik misterius di sebelahnya melihat padanya, mereka bersitatap sesaat. Lelaki itu sampai bergidik ngeri melihat sorot mata Sabiel berkilat murka menatapnya tajam.
"Maafkan saya Nyonya" Jonny tertunduk lesu. Malam itu, seharusnya ia tidak tertantang untuk mengejar Sabiel. Karena tugasnya hanya memastikan keberadaan Sabiel dimana.
"Tidak apa-apa. Itu justru bagus. Dengan begitu, Sabiel akan datang menghampiriku" Intan menyeringai licik. "Setidaknya sekarang dia tahu, bahwa aku bisa sangat nekat untuk menghabisi wanitanya"
Brak!
"Siapa yang ingin kau habisi?!" Sabiel masuk dalam ruang kerjanya setelah membuka paksa pintu. Matanya menyala oleh bara api, menatap murka Intan yang tersenyum licik padanya.
Mata Sabiel langsung bersiroboh dengan lelaki yang menguntitnya semalam. Dia melangkah lebar menghampiri lelaki yang tampak gemetar ketakutan.
Sabiel menyeringai. Tangannya langsung mencengkram erat kerah baju lelaki itu dan meninju wajahnya tanpa peringatan.
Buk! Buk! Buk!
"Sabiel!" bentak Intan berusaha menghentikan Sabiel. Ia terperangah ngeri melihat Jonny tersungkur di lantai setelah dipukuli suaminya. Sudut bibir Jonny langsung mengeluarkan darah.
Sabiel masih belum puas, ia melangkah menghampiri Jonny kembali dan menarik kerah bajunya untuk kedua kalinya. Tangannya sudah terkepal erat siap untuk melabuhkan tinju mematikan pada wajah Jonny yang sudah kesakitan.
"Kau membuat istriku hampir celaka, bodoh!" ucap Sabiel dingin menatap Jonny yang sudah terkapar dilantai ruangannya dengan berdarah-darah.
Intan tampak gemetar melihat kebrutalan suaminya. Wanita itu melangkah mundur ketika matanya bertabrakan dengan mata Sabiel yang murka. Lelaki itu berjalan perlahan mendekatinya.
"Kau yang duluan Sabiel!" suara Intan terdengar bergetar melihat sorot mata Sabiel menggelap. Wanita itu merasa terintimidasi. "Kau menduakan aku dengan menikahi wanita lain, kau yang menyakiti lebih dulu Sabiel!!!" Intan mulai berteriak.
__ADS_1
Sabiel terus melangkah mendekati Intan yang merasa terpojok.
"Tomi, masuk!" seru Sabiel pada Tomi yang ternyata menunggu di depan ruang kerjanya.
Lelaki itu melangkah membawa berkas yang tadi diminta tuannya, ekor matanya melihat Jonny terkapar sambil memegangi hidungnya yang terasa patah. Tomi melangkah sembari memberi tanda pada Jonny agar lelaki itu keluar dari ruangan.
"Ini tuan" ucap Tomi menyerahkan berkas yang ia pegang.
Sabiel mengambilnya, ia membuka pembungkus berkas itu dan meletakkannya di meja kerja. Intan tampak mencoba melihat isi berkas itu dari posisinya yang sedikit jauh dari meja.
"Tanda tangani itu. Aku benar-benar sudah ingin berpisah denganmu" ucap Sabiel sembari melangkah menjauhi meja.
Intan mengawasi langkah Sabiel yang sudah menjauh, Ia kemudian memberanikan diri untuk menghampiri meja dan melihat apa yang Sabiel letakan disana.
"Cerai?!" nada suara Intan meninggi kembali. Tangannya meremas ujung berkas yang sedang ia pegang. "Sampai kapanpun aku tidak akan bercerai denganmu" ucap Intan tegas. "Apa salahku? Hingga kau ingin bercerai dariku"
"Kau pikirkan saja sendiri" ucap Sabiel tak peduli. "Aku beri kau waktu satu minggu Intan"
"Cih! Kau beri waktu aku berapa lamanya pun akan sama saja Sabiel. AKU TIDAK AKAN BERCERAI DARIMU!" ucap Intan setengah menggeram. "Ternyata wanita itu sudah berhasil merubahmu, dia membuat kau lupa pada janji-janjimu dulu saat orangtuaku masih hidup" Intan kembali mengingatkan janji terkutuk itu.
Sabiel yang sedang duduk di sofa tengah menopangkan kakinya dengan santai. Telinganya sudah kebal mendengar hal itu terus Intan ulang setiap saat.
"Kenapa kau tidak ingin bercerai dariku?" tanya Sabiel tak peduli.
"Karena...karena aku masih mencintaimu, Sabiel" Intan mulai mengiba. Wanita itu menghampiri Sabiel yang duduk disofa.
"Aku tidak ingin kita berpisah. Aku tidak ingin kehilanganmu, sayang" rajuk Intan dengan mata mulai berkaca-kaca.
"Sudahlah Intan. Aku tahu apa yang sebenarnya kau tangisi" Sabiel mendelik bersiap memberikan kejutan lain pada Intan. "Tom, kau bawa berkas itu?" tanya Sabiel pada Tomi yang setia berdiri dibelakang sofanya.
"Bawa Tuan, sesuai permintaan anda" Tomi memberikan berkas dalam map coklat.
Sabiel mengangkat berkas itu di hadapan Intan, dia langsung membantingnya diatas meja sofa. "Itu yang kau tangisi"
Intan terkejut dengan apa yang coba Sabiel perlihatkan padanya. Dengan ragu tangannya bergerak untuk mengambil berkas itu, dan membukanya perlahan. Hatinya mulai gelisah, wanita itu merasa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Dan ternyata hal buruk itu benar terjadi. Lembaran yang ia genggam erat hingga kusut di tepiannya, adalah laporan keuangan dari outlet-outlet yang Sabiel miliki. Dalam laporan keuangan itu, pendapatan setiap outlet yang mencapai miliaran dalam satu tahun, telah dialirkan pada rekening gelap yang berhasil Tomi selidiki sebagai rekening Intan. Angka yang tertera disana sangat fantastis, dan membuat Intan menatap dengan gugup pada Sabiel.
Sabiel menaikkan alisnya, memandang rendah apa yang coba Intan sembunyikan darinya.
"Itu bukan yang kau tangisi? Kau takut akan kehilangan dana gelapmu dari outlet-outletku" ucapnya dingin.
"Sejak kapan kau mengetahuinya?" tanya Intan terbata.
Sabiel menyeringai menikmati raut wajah pias Intan, "Sejak lama. Sejak pertama kali kau suruh staffku disana, mengalirkan dana pemasukan itu sedikit demi sedikit"
Intan menjadi gamang, matanya nanar menatap lembaran laporan kecurangannya disana.
"Apa kau pikir staffku akan diam saja? Mereka lebih lama bekerja dengan keluargaku Intan, mereka tidak akan bertindak bodoh dengan mengkhianatiku hanya karenamu" Sabiel menyunggingkan sudut bibirnya. Intan sudah tak bisa berbuat apapun. Kedoknya yang selama ini Sabiel tutupi, terbuka sudah. Tak menyisakan apapun selain rasa malu dan takut.
"Aku..aku melakukan itu karena terpaksa" Benak Intan berusaha mencari alasan. "Aku sadar, telah banyak mengecewakanmu sebagai istri. Maka dari itu aku melakukannya, aku takut sewaktu-waktu kau akan mengabaikanku"
__ADS_1
Sabiel memutar bola matanya malas. "Ayolah Intan, kau tidak harus beralasan seperti itu. Aku akan dengan senang hati memberikan kekayaanku padamu, jika itu yang kau mau. Tapi dengan syarat kita berpisah" Sabiel berdiri dari duduknya. Menatap Intan yang masih duduk dengan sorot mata lesu.
"Kau tanda tangani perceraian kita. Maka aku akan mengurus harta yang kau inginkan" sambung Sabiel sembari berjalan meninggalkan Intan yang masih diam menatap kosong lembaran kertas di tangannya.
Ketika Sabiel sudah mendekati pintu, lelaki itu menengok kembali pada Intan.
"Intan, aku juga tahu saat ini yang sedang kau incar adalah saham dan villa-villaku, bukan? Aku bisa membaginya denganmu. Asalkan kau mau berpisah baik-baik denganku" Sabiel melangkah keluar ruangan tanpa melihat ekspesi terkejut Intan atas apa yang sudah ia katakan.
Wanita itu mengeratkan genggamannya pada lembaran kertas laporan keuangan. Matanya berkilat penuh amarah.
"Brengsek!! Ternyata selama ini dia sudah tahu!" umpat Intan meremas kertas itu menjadi gumpalan bola lalu melemparnya sembarang.
Diluar ruangan, Sabiel melihat Jonny sedang berdiri dengan luka yang sepertinya sudah ia obati selama Sabiel berada di dalam. Langkah Sabiel langsung berhenti tepat di muka Jonny yang kembali pucat.
"Aku akan membunuhmu, jika sekali saja kau mengusik wanitaku disana!" ucap Sabiel mengultimatum Jonny yang gemetar ketakutan.
Sabiel kembali berjalan, menuruni tangga dengan Tomi yang mengikutinya.
"Tom, bagaimana perkembangan penyelidikanmu di Singapura? Apa yang kau temukan disana?" tanya Sabiel tanpa menoleh pada Tomi.
"Orang-orang saya belum menemukan apa-apa Tuan. Saat ini mereka sedang menyelidiki apartemen baru tempat tinggal Nyonya Intan" ucap Tomi.
"Apartemen baru? Apa maksudmu? Dia memiliki apartemen baru selain apartemen yang aku belikan untuknya?" ujar Sabiel penasaran dengan informasi Tomi.
Kedua lelaki itu berhenti tepat di depan mobil Sabiel yang terparkir sembarang di teras. Tomi tampak berpikir, benaknya mulai membuat simpulan kasar atas beberapa informasi yang Ia dapat dari anak buahnya disana.
"Tomi, jangan membuatku semakin penasaran. Apa yang sebenarnya kau temukan huh?!" Sabiel menuntut penjelasan.
"Jika apa yang saya sangka sudah seratus persen benar, saya akan langsung melaporkannya Tuan" ucap Tomi yang memilih menunda laporannya.
"Kau harus segera menyelesaikannya Tom. Aku tidak ingin wanita itu terus berkilah untuk tetap menjadi istriku. Aku yakin saat ini pasti dia sedang merencanakan sesuatu untuk membatalkan perceraian" ujar Sabiel
"Baik Tuan. Saya akan usahakan semuanya tepat waktu" Tomi mengangguk sopan.
"Baiklah, sekarang kau pulang saja. Aku akan menunggu Laura di kampus" ucap Sabiel sebelum masuk dalam mobilnya.
Tomi hanya membungkuk mempersilahkan Sabiel masuk dalam mobil. Dia masih berdiri disana ketika mesin mobil dinyalakan dan roda-roda itu bergerak meninggalkan kediamannya dulu. Tomi menatap rumah majikannya yang mewah dengan pandangan sulit diterka.
"Nyonya, jika benar apa yang terjadi di Singapura itu. Saya harap anda kuat menanggung resikonya" Tomi bergumam lirih.
Sementara di dalam ruang kerja, Intan tampak berpikir keras. Benaknya sibuk mencari cara untuk membatalkan keinginan Sabiel. Meskipun tawaran Sabiel terdengar menggoda baginya, ego dalam diri wanita itu tak mau menerima kekalahan dengan melepaskan Sabiel begitu saja. Intan menolak untuk dibuang. Dia tak sudi membiarkan wanita asing merebut posisinya dengan mudah.
"Tinggal satu cara yang tersisa. Tampaknya aku harus melakukan itu" Matanya memicing menatap berkas perceraian yang tadi ia sobek-sobek.
Drrrttt... Ddrrrttt... Ddrrrtt..
Intan tersenyum menatap ponselnya yang berdering, ia berdehem sebelum mengangkat panggilan itu.
"Halo, Dato' sayang" nada suara manja keluar dengan cara menjijikan dari bibirnya yang tersenyum licik.
🍁🍁🍁
__ADS_1