
Senyuman hangat mengembang di bibir Sabiel, ketika mendapati dirinya sedang berada di meja makan dengan suasana menyenangkan di pagi hari.
Seorang istri cantik tengah menyibukkan diri membuatkannya sarapan di dapur, tanpa halangan dari kedua pembantu yang berada di sisi kiri dan kanan wanita itu.
Sabiel duduk memperhatikan istri mudanya, dadanya menghangat ketika menyaksikan Laura turun tangan langsung mengurusi kebutuhannya. Wanita itu persis dengan apa yang selama ini ia perkirakan, ia mampu memerankan diri sebagai seorang istri dengan amat sangat sempurna, meskipun usianya masih terbilang muda.
"Sabiel, hari ini kau akan pergi mengajar?" tanya Laura sembari menghidangkan sandwich tuna dan segelas jus wortel pada suaminya.
Laura saat ini mulai mengerti kebiasaan Sabiel yang tidak memakan nasi di awal hari. Lelaki itu, entah dari kapan sudah menjalankan gaya hidup sehat. Pantas saja di usianya sudah hampir kepala empat, kondisi fisiknya justru semakin terlihat bugar. Paras tampannya pun terbilang awet muda. Dalam hatinya Laura merasa kagum, karena kemarin saat dirinya memasak menu sarapan nasi goreng dan omelete, Sabiel melahap habis makanan itu. Bahkan diakhir makannya lelaki itu memberi pujian bahwa makanan buatan Laura sangat enak. Diam-diam Laura merasa sedikit terharu dengan sikap manis suaminya, yang memilih menghargai usaha Laura membuatkannya sarapan, tanpa mengatakan bahwa sarapan yang dibuat Laura tidak cocok dengan seleranya.
"Tidak. Aku sudah minta asistenku untuk pergi menggantikan" ungkap Sabiel setelah meminum jus wortel buatan Laura. "Hari ini kau kuliah jam berapa?" tanya Sabiel pada Laura yang hendak duduk disampingnya. Menu makanan nasi lengkap dengan lauk pauknya, terhidang di meja.
Semalam ia sudah membicarakan perihal kuliah Laura, dan mulai hari ini Laura akan kembali berkuliah.
"Sekitar jam sepuluh. Kenapa?" tanya Laura sambil menyuapkan makanan pada mulutnya.
Sabiel mengelap sudut bibir Laura dengan ibu jarinya. "Aku akan mengantarmu" ucapnya kemudian.
"Lalu apa yang akan kau lakukan ketika sudah mengantarku?" Laura menyuap makanannya kembali, mengunyahnya sambil menatap Sabiel yang sedang menggigit sandwichnya.
"Aku akan menemui Intan" ucap Sabiel terus terang disela kunyahannya.
Sementara Laura langsung menghentikan kunyahannya. Jemarinya menggenggam jemari Sabiel yang berada di atas meja.
"Jangan terlalu marah padanya" ujar Laura. Benaknya teringat kejadian kejar kejaran tadi malam.
Si penguntit itu hampir membuat Sabiel dan Laura celaka karena mobil yang ia tumpangi disengaja atau tanpa disengaja berhasil menyusul dan membentur bumper mobil Sabiel. Tanpa rasa bersalah, si penguntit itu malah langsung pergi meninggalkan mobil Sabiel yang masih terhenti.
Akibat hal itu, dinner mereka benar-benar tak bisa mereka lakukan. Laura syok dengan aksi tabrak lari itu, pandangannya nanar menatap jalanan yang mulai padat. Melihat raut wajah Laura, Sabiel memutuskan untuk kembali ke apartemennya. Lelaki itu terus menggenggam jemari Laura, mencoba menenangkan ketakutan istrinya.
"Semalam kita hampir celaka, sayang" Sabiel menatap lekat Laura.
"Iya aku tahu. Tapi kita selamat bukan?" ucap Laura. "Jadi jangan terlalu marah, kau harus mewajarkan sikapnya"
"Mewajarkan? Aku tidak akan pernah bisa mewajarkan seseorang jika sampai melukai dirimu" ucap Sabiel tegas.
Laura menghembuskan nafasnya pasrah. "Intan begitu hanya karena dia sedang melindungi miliknya" ujar Laura bijak.
"Aku bukan miliknya. Aku hanya milikmu, selamanya akan begitu" timpal Sabiel keras kepala.
"Setidaknya statusnya sebagai istri sah-mu, membuatnya berhak memilikimu" Laura menatap Sabiel penuh pengertian. "Ayolah, aku tidak ingin kau meluapkan amarahmu. Lalu melakukan kesalahan yang akan membahayakanmu" tatapan Laura berubah cemas.
Melihat kecemasan hadir di raut wajah istrinya, Sabiel melembut. Sekali lagi, pagi hari ini Laura membuatnya merasa hangat. Lelaki itu mengecup jemari Laura yang sedang menggenggam jemarinya. Sorot matanya bersinar oleh rasa cinta yang tulus.
"Kau mengkhawatirkanku sayang?" tiba-tiba nada suara menggoda itu mengusik keseriusan Laura.
Laura mengambil kesempatan itu untuk membuat Sabiel menuruti kata-katanya. "Ya. Aku mengkhawatirkanmu. Jadi jangan bertindak gegabah" ucap Laura menatap tajam bola mata genit suaminya.
Sabiel tersenyum senang. Dia bahagia karena Laura mengkhawatirkannya. "Baiklah, aku akan turuti kemauanmu. Akanku tahan amarahku, semampuku" ucapnya sebelum mencondongkan tubuhnya, mengecup bibir berminyak Laura.
__ADS_1
"Sayang, sepertinya kita harus segera memberitahu pernikahan kita pada keluargamu" ucap Sabiel tiba-tiba membuat Laura tersedak makanannya.
Kejadian beruntun yang menimpahnya, membuat wanita itu lupa bahwa statusnya kini masih menjadi rahasia bagi keluarganya. Melihat Laura tersedak, Sabiel buru-buru memberinya minum dan mengelus lembut punggung Laura.
"Mereka harus tahu pernikahan kita, agar tidak kaget ketika kau hamil nanti" ucapannya kali ini kembali membuat Laura tersedak dan menyemburkan minumannya.
Sabiel terkesiap melihat respon Laura yang malah tampak terkejut. Dia membantu istrinya dengan mengusap bibir dan tumpahan air yang tercecer kemana-mana.
"Bisakah kau berhenti mengatakan sesuatu yang mengejutkan?" Laura mendelik menatap Sabiel yang justru memandangnya heran.
"Yang mana yang mengejutkan? Memberitahu keluargamu atau kau hamil" tanya Sabiel dengan wajah innocentnya.
Laura bingung mengatakannya, karena baginya kedua hal itu masih terasa mengejutkan. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika keluarganya tahu ia telah menikah. Dan lagi, tentang hamil itu, Laura sebenarnya belum siap untuk mengandung anak Sabiel. Dia ingin menuntaskan pendidikannya sebelum memutuskan memiliki anak. Tapi, entah mengapa melihat wajah Sabiel yang begitu mendambakan kehamilannya, Laura terpikir untuk mempertimbangkan kembali keinginannya.
"Aku takut" ungkap Laura. "Kau tahu sendiri ayahku mengidap penyakit jantung, aku takut jika tiba-tiba aku mengatakannya. Ayah justru akan kembali sakit" Laura mengungkapkan keresahannya.
"Kita harus memberitahu mereka pelan-pelan" Sabiel menggenggam kembali tangan Laura. "Aku ingin mereka tahu, bahwa kau istriku"
"Dengan statusku sebagai istri sirimu?" Laura menatap Sabiel memastikan.
"Tidak. Aku berencana tidak akan memberitahu mereka jika aku memiliki istri lain"
Laura tampak tak setuju. Ia mengerutkan dahinya. "Kau akan membohongi keluargaku?"
"Untuk sementara, iya" jawab Sabiel.
Laura menggelengkan kepala. "Aku tidak ingin kau berbohong. Menutupi kebohongan dengan kebohongan hanya akan membuat kita celaka. Aku tidak suka" bantah Laura tegas. Ia berdiri dari duduknya, membawa serta piring sarapan yang telah tandas mereka santap.
"Lalu menurutmu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Sabiel. "Aku tidak ingin terus menyembunyikan hubungan kita"
Suara Sabiel yang tampak murung, menggugah hati Laura untuk mengusap lembut kepalanya. "Selesaikan masalah kita satu per satu. Kau bilang kau ingin menceraikan Intan, maka mulai dari sana" ujar Laura memberi masukan. "Urusan keluargaku dan kehamilan, sementara coba kita tahan dulu"
"Maksudmu kau tidak ingin hamil?!" Sabiel melepaskan pelukannya dan membalikkan badan Laura.
Oh Tuhan, hati Sabiel berdenyut perih. Dia tak siap jika Laura akan mengikuti sikap Intan yang enggan memberinya keturunan, sampai membuat Sabiel jengah dan hilang minat padanya.
"Sayang, tolong jangan memberi cacat pada kesempurnaanmu dengan menolak memberikan anak padaku" Sabiel membathin menatap Laura.
"Bukan begitu" Laura menatap lembut kegusaran suaminya. "Maksudku yang jadi fokus utamamu kali ini adalah masalah Intan. Masalah keluargaku dan kehamilanku itu bisa kita pikirkan sambil berjalan"
"Tapi kau tidak akan menolak untuk hamil bukan?" tiba-tiba Sabiel berlutut di hadapan Laura. Lelaki itu menempelkan telinganya pada perut Laura seolah ada bayi yang ingin ia rasakan disana.
Tanpa Laura sadari, ia tersenyum hangat sembari mengusap lembut rambut suaminya.
"Aku tidak akan menunda apalagi menolak kehamilanku"
Ucapan Laura membuat Sabiel langsung mendongahkan kepalanya. Lelaki itu merasa kata-kata istri mudanya seperti angin surga yang mengenyahkan segala kegundahan yang sempat ia rasakan. Ketakutan yang tersirat tadi mulai berubah menjadi sebuah harapan besar akan rumah tangga bahagia impiannya.
"Benarkah? Kau janji?" Sabiel menatap penuh harap.
__ADS_1
Laura tersenyum lembut sembari merangkup kedua sisi pipi Sabiel. Ia mengangguk tegas "Aku janji"
Sabiel tersenyum puas. Anggukan tegas Laura membawa jiwa murungnya berkelana di langit lepas. Mengudara pada hamparan awan serupa kapas, melayang menikmati kemegahan angkasa biru yang indah.
Laura adalah cahayanya. Laura adalah titik temunya pada sebuah kebahagian tak terperi dalam hidupnya. Sabiel tak tahan dengan lonjakan kegembiraan yang menyerang hatinya dengan cara masiv itu. Spontan, lelaki itu menyibakkan baju Laura, memasukkan kepalanya kedalam baju itu, dan mengecupi dengan tak sabar permukaan perut Laura yang datar.
Laura yang merasa kegelian, memukul pelan bahu suaminya. Kedua pipinya merona ketika Sabiel memberikan kecupan dalam di bagian bawah pusarnya.
"Segeralah hadir sayang, kami menantimu" gumam Sabiel dalam hati.
Tanpa mereka duga, kebahagiaan mereka disana menerbitkan pula kebahagiaan di hati dua pembantu yang melihat mereka dari arah ruang binatu. Posisi ruangan yang hanya terpisah beberapa meter saja, membuat kedua pembantu itu dapat mendengar jelas pembicaraan majikannya. Keduanya saling bertatapan, tanpa bicara sepatah katapun karena khawatir aksi curi dengarnya ketahuan. Namun sorot mata kebahagiaan jelas nampak dari raut wajah keriput keduanya.
🍁🍁🍁
Entah sejak kapan, mobil Sabiel begitu fasih untuk menemukan tempat parkir tersembunyi jika ia sedang mengantar Laura ke kampusnya. Lelaki itu memarkirkan mobilnya di belakang pohon besar yang rimbun. Kondisinya yang tak terlihat memudahkan Laura untuk turun tanpa merasa canggung akan tatapan mahasiswa lain yang mungkin melihatnya keluar dari sebuah mobil.
"Sabiel, ingat janjimu. Jangan terlalu marah pada Intan" Laura mengingatkan sebelum ia keluar dari dalam mobil.
"Berhenti memanggilku dengan nama, sayang" protes Sabiel. "Panggil aku seperti aku memanggilmu" pintanya
Laura gugup, sebenarnya bukan tidak mau ia memanggil suaminya dengan panggilan mesra. Hanya saja, Laura belum merasa terbiasa. Lidahnya keluh setiap ia hendak mengatakan kata 'sayang' sebagai panggilannya untuk Sabiel.
"Aku belum terbiasa" aku Laura sedikit ragu.
"Maka biasakan" Sabiel tersenyum lembut. "Coba katakan" pintanya kembali.
Keraguan bercampur rasa malu berhasil membuat raut wajah Laura menjadi serba salah. Wanita itu mencoba menarik nafasnya perlahan. "Sayang, aku pergi kuliah dulu" ucapnya dengan terbata. "Ah sudahlah, kau senang sekali membuatku gugup" nada suara Laura tiba-tiba menjadi gusar. Wanita itu melihat suaminya terkekeh geli atas kecanggungan yang terjadi padanya.
Sabiel menarik lengan Laura, ketika istri mudanya itu hendak membuka pintu. "Aku tak tahan ingin menciummu" ucapnya tak tahu malu. "Beri dosenmu ini ciuman, sayang" Sabiel merangkup wajah Laura dan mencium bibir Laura dengan lembut.
Laura terkesiap, ciuman lembut yang Sabiel berikan itu berubah menjadi kuat. Suaminya dengan tak tahu sopan santun, menghisap ujung lidahnya. Menjelajahi rongga mulut Laura dengan lidahnya yang basah hingga menimbulkan suara decak tak beraturan. Bulu kuduk Laura sudah meremang sejak tadi. Sensani ciuman vulgar nan seksi menciptakan keinginan lain dalam jiwanya.
"Sayang, stop! sudah. Aku harus kuliah" Laura mendorong tubuh Sabiel hingga melepaskan ciuman itu.
Sorot mata Sabiel berubah sayu, usahanya untuk menetralkan nafas tampak percuma. Mencium Laura dengan cara tadi adalah kesalahan fatal yang ia lakukan di tempat umum. Karena hal itu akan berdampak pada gairahnya yang tiba-tiba muncul dan membuatnya hilang kendali, kalau saja Laura tak menghentikannya.
"Hampir saja aku akan membawamu bercinta kilat disini, sayang" ucap Sabiel menyeringai jahil.
Laura mendelik mengejek sikap tak tahu malu suaminya. "Dasar kau dosen mesum!" ia mencondongkan tubuhnya untuk mengecup bibir Sabiel yang lembab. "Aku pergi ya"
Sepersekian detik Sabiel tercengang, melihat Laura berjalan mengitari mobilnya sebelum wanita itu akhirnya berjalan memasuki area kampus. Kecupan Laura, membuat Sabiel menyunggingkan senyumannya. Ini kedua kalinya wanita itu bersikap romantis seperti tadi, setelah malam saat ia pulang dengan basah kuyup.
Ya Tuhan. Sudah cukup Kau menciptakan Laura dengan kesempurnaan fisik yang memukau. Kini Kau kembali membuat Sabiel tersentuh hanya dengan menaruh sedikit sisi romantis dalam dirinya. Dan itu berhasil membuatnya terkapar dalam lautan nikmatMu yang tak bertepi.
Oh Astaga. Apa Kau Sedang memberi lelaki itu hadiah? Atas semua kesabarannya menghadapi sosok wanita setengah siluman yang mengurungnya seperti seorang tahanan perang yang gagal dalam misinya. Jika benar, maka Laura adalah hadiah termegah yang Kau berikan padanya. Sabiel mensyukuri itu.
Sabiel menyalakan mesin mobilnya. Dengan perasaan bahagia yang tak ditutupinya, ia meninggalkan tempat persembunyian itu. Benaknya kini kembali memikirkan istri sah-nya. Dia harus melakukan sesuatu pada Intan, agar wanita itu tak lagi mengusik kebahagiaan yang sedang ia alami saat ini.
"Tom, siapkan berkas perceraian. Aku akan coba mengajukannya lagi" ucap Sabiel pada Tomi diperjalanan menuju kediamannya bersama Intan.
__ADS_1
🍁🍁🍁