
Happy Reading Guys! 😉📚
Beberapa part ini bakal melow, harap bersabar ya bacanya 😉✌
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau akan meninggalkanku lagi?" Laura mendelik tak suka melihat suaminya menuruni tangga dengan pakaian khas lelaki pekerja.
"Maafkan aku sayang, kepala dekanat menghubungiku tadi. Dia mengatakan hari ini akan diadakan rapat dengan anggota rektorat" Sabiel beralasan.
Lelaki itu berjalan tegap menghampiri istrinya di meja makan. Laura langsung menghidangkan sandwich dan segelas jeruk hangat untuk suaminya. Mereka duduk bersisian.
"Aku pikir jika masa libur seperti ini akan membuat para dosen ikut berlibur juga" ucapnya sebelum menyantap menu sarapannya.
"Jadwal dosen tidak sama dengan mahasiswanya" sahutnya sembari mengunyah sandwich.
Laura menoleh pada suaminya. "Tapi aku ingin kau disini bersamaku" dengusnya merajuk.
Sabiel tersenyum penuh pengertian. "Aku tidak akan lama, aku akan segera kembali begitu urusanku selesai"
"Pembohong! Kemarin kau mengatakan hal yang sama. Tapi apa yang kau lakukan? Hampir malam kau baru pulang" tukas Laura kesal.
"Itu karena aku terlalu lama mencari cincin untukmu"
"Alasan" Laura sebal.
Sabiel menggenggam jari Laura, mengecupnya dalam dan membelai pipi menggembung karena sedang mengunyah itu. "Apa kau begitu mencintaiku?" tanyanya tiba-tiba.
Laura merasa janggal dengan pertanyaan itu. "Mengapa kau menanyakan itu?" tanyanya heran.
"Aku hanya ingin mendengar jawabanmu, sayang. Rasanya aku jarang sekali mendengar luapan perasaanmu padaku. Terakhir aku mendengar itu, jika tidak salah saat dulu pamanmu meminta kita berpisah" ucap Sabiel mengingat-ngingat.
"Ada apa denganmu? tiba-tiba memintaku mengutarakan perasaan. Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku, huh?" tanya Laura curiga.
"Ish! Hal apa yang bisa aku sembunyikan darimu?! Aku hanya ingin mendengar perasaanmu. Apa itu hal yang sulit?" dengus Sabiel sembari melengos.
Melihat sikap merajuk Sabiel, Laura semakin ingin menggodanya. "Apa itu penting? Aku rasa mengungkapkan perasaan pada suami sendiri bukanlah sesuatu yang penting" Laura mulai memprovokasi.
Sabiel menatap tajam pada bola mata istrinya yang tampak tak peduli. Dia tidak setuju dengan ucapan Laura. Ungkapan perasaan menurutnya sama pentingnya dengan kejujuran atau sikap setia pada pasangan. Hal itu yang akan membuat hubungan suami istri akan selalu hangat meski usia pernikahan sudah sangat lama.
"Tapi bagiku itu penting. Sangat penting!" Sabiel kesal, ia menggigit sandwich buatan Laura dengan gigitan besar dan kasar. Sementara Laura tengah sibuk mengulum senyum melihat tingkah Sabiel yang kekanak-kanakan.
"I love you" ucap Laura pada akhirnya.
Sabiel menghentikan kunyahannya seketika. Perlahan ia menoleh pada Laura. Mengawasi bibir Laura yang sibuk mengunyah tanpa memperdulikan tatapan suaminya.
"Sayang, ucapkan sekali lagi" pinta Sabiel terbata.
"Apa?" Laura pura-pura tak mengerti.
__ADS_1
Sabiel jengah meladeni sikap menggoda Laura, telinganya tak bisa bersabar ingin mendengar pengulangan kalimat romantis yang jarang sekali keluar dari mulut Laura.
"Ayolah. Berhenti menggodaku" tukas Sabiel. "Katakan lagi kalimat itu"
Laura tersenyum simpul dengan kedua mata genit menatap wajah penuh harap suaminya. "Aku mencintaimu, Sabiel. Aku yang dulu tak menerimamu, kini dengan kesadaranku sebagai seorang wanita, menjadikanmu sebagai takdirku. Jalan hidup yang akan aku habiskan untuk selalu bersamamu. Setiap harapan dan mimpi yang aku buat pun, kini semua itu karenamu. Tak peduli apa yang akan terjadi esok, karena setiap hari seperti saat ini adalah hal yang luar biasa bagi hidupku. Aku akan selalu menjadi milikmu. Menjadi cintamu, selamanya" ungkap Laura yang segera memalingkan wajah dari tatapan suaminya. Tangannya menyendok kembali makanan di meja dengan gerak serampangan karena rasa malu yang tiba-tiba menyeruak hadir dalam hatinya.
Sementara Sabiel diam terpaku. Lebih tepatnya, lelaki itu terpesona sekaligus terharu dengan apa yang diungkapkan istrinya. Dunia seolah berhenti berputar. Ungkapan cinta terindah itu memenuhi hati dan benak Sabiel. Cahaya mentari berpendar menambah kehangatan yang mengelilingi dua manusia di meja makan itu. Sabiel mengamati raut wajah cantik bagai mawar yang mekar dengan malu-malu di hadapannya. Bibir mungilnya terus bergoyang menikmati sepiring nasi goreng yang hampir habis. Namun ekor matanya, melirik Sabiel dengan kadar rasa malu yang kentara.
Sabiel terlena. Ungkapan cinta Laura yang menggebu seolah memaksanya melupakan kegetiran akan penyakit yang tengah bercongkol dalam tubuhnya. Sabiel seakan memasuki keadaan dimana segalanya menjadi tidak penting. Penyakit yang berkecambuk dalam tubuhnya, menjalar dan merusak sel jaringan tubuh yang lain seolah tak berarti apapun lagi. Pagi ini, tubuhnya terasa begitu bugar. Ungkapan cinta Laura membuat tubuh Sabiel dipenuhi oleh geletar gairah yang terasa manis.
"Oh Tuhan, aku ingin hidup" gumam Sabiel dalam hati.
Tersadar dari keterpakuannya, lelaki itu meraih jemari Laura. Membuat Laura menoleh padanya dengan bola mata dipenuhi perasaan malu. "Apa?" setengah mati Laura menahan keinginan untuk tidak menenggelamkan diri dalam dekapan dada suaminya.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih atas kalimat indah yang kau berikan untukku. Hatiku begitu lapang. Begitu..."
Cup!
Ciuman ringan Laura di bibir Sabiel memangkas ucapannya. Tatapan keduanya terikat. Ada rasa saling memahami dalam kilat lembut bola mata Sabiel dan Laura.
"Mari menua bersama. Kau denganku dan anak-anak kita nanti" ucap Laura sebelum memeluk erat tubuh Sabiel yang terasa bergetar oleh rasa haru.
Jantung Sabiel terasa berhenti memompa darah. Dengan kedua tangan gemetaran, dan bola mata legam yang berkabut. Lelaki itu membalas pelukan istrinya, melesakkan wajahnya pada ceruk leher Laura yang lembut. Bagaimana bisa Laura mengatakan itu dengan santainya, sementara hati Sabiel terasa nyeri, senyeri-nyerinya. Keinginan Laura seperti mimpi yang sekuat mungkin akan Sabiel coba untuk menggapainya.
Tuhan, bagaimana aku bisa meninggalkannya? Sementara hatiku begitu terlalu serakah ingin selalu bersamanya.
"Kau menangis, sayang?" Laura melepas pelukannya ketika ia merasa mendengar isakan lirih dari bibir suaminya.
Ia mencium bibir Laura lama, bermain-main dengan dua bongkahan lembut bibir atas dan bawah Laura yang terasa begitu nikmat pagi hari ini. Kehangatan Laura begitu memikat hatinya. Sabiel tak bisa membayangkan wajah cantik ini, bibir lembut ini, bahkan pelukan hangat yang tadi Laura berikan. Suatu saat nanti, itu semua akan menghilang. Dalam lautan hasrat pertautan dua bibir, Sabiel meratapi nasibnya.
Lelaki itu tak mengerti rahasia apa yang tengah Tuhan mainkan lagi dalam hidupnya. Laura dan dirinya melewati puncak-puncak hidup dengan segala persoalan rumit yang harus mereka hadapi. Hingga kebahagiaan itu mulai tampak dan berkembang pesat seiring waktu yang tidak akan pernah habis untuk mereka saling mencinta. Namun belum sampai kebahagiaan itu mencapai puncaknya, Tuhan kembali meruntuhkan mendakian mereka. Sabiel tersungkur, dalam gelombang ketidakberdayaannya sebagai seorang hamba. Takdir adalah sesuatu yang selalu menjadi hak mutlak Tuhan. Sabiel hanya mampu untuk berusaha mengubah takdir Tuhan dengan takdir yang lebih baik. Namun apapun itu, akhir dari hidupnya Tuhanlah yang lebih tahu.
🍁🍁🍁
Sayatan di punggung dan lebam di sekujur tubuh tak membuat Bimasakti menyerah untuk terus memberi ketiga orang berjiwa kerdil di hadapannya dengan tatapan tangguh bak satria perang.
Seorang dari mereka kembali memukulkan popor laras panjang di luka sayatan punggung terbuka pemuda itu.
"Kau dan sikap sok pahlawanmu, pantas menerima hukuman ini" ucapnya sebelum melesakkan popor senjata.
Bimasakti menahan dengan sisa-sisa kekuatannya, semua rasa sakit yang terus mendera tubuh kurusnya. Tangannya yang diikat pada tiang, membuat ia tak bisa menangkis semua serangan bertubi yang menghujam bagai hujanan anak panah.
"Cuih!"
Tanpa mengurangi sedikitpun keberanian dalam jiwa pemberontaknya, Bimasakti meludah persis mengenai baju salah satu preman. Mata preman itu langsung membelalak, atas sikap berani tahanannya yang sangat kurang ajar dan bodoh.
Mata Bimasakti mengawasi tanpa rasa gentar. Ketika preman itu mulai mengarahkan lubang pistol tepat di keningnya.
"Tembak aku!" tantang Bimasakti.
__ADS_1
Ekor matanya melihat kedua teman preman itu menahan tangan temannya untuk tidak menembak mati Bimasakti. "Bos belum mengeluarkan perintah, kau bisa celaka nanti" ucapnya mengingatkan.
Bimasakti menyeringai mendengar hal itu, tatapannya mencemooh ketiga lelaki kekar yang ternyata hanyalah sebuah robot dengan remote kontrol. Mereka hanya melakukan apa yang diperintahkan.
"Cih! Benar-benar seperti kerbau yang dicocok hidungnya" gumaman Bimasakti yang terdengar samar oleh ketiganya.
Buk! Buk! Buk!
Preman yang tadi mengangkat senjata, menghantam perut Bimasakti dengan tinjunya. Bimasakti meringis kesakitan sebagai reaksi alami dari tubuhnya yang ringkih.
"Aku tidak akan membunuhmu, tapi bukan berarti aku tidak bisa membuatmu cacat!" ucap preman tersebut sambil mengeluarkan belati dari balik bajunya.
Ketenangan yang dipertahankan Bimasakti lenyap tak bersisa, ketika dingin ujung belati tersebut menempel di sisi kelopak matanya. "Aku rasa membuatmu buta akan setimpal dengan kelancangan matamu yang kau gunakan untuk melihat sesuatu yang tidak seharusnya kau lihat"
"Aaarrkkkhh"
Teriakan kencang Bimasakti membuat burung-burung yang bertengger di dahan pepohonan pinus, mengepakkan sayapnya dengan gelisah. Mereka saling berkicau dengan nyaring seolah mempertanyakan hal buruk apa yang sedang terjadi.
Belati itu berhasil membuat sayatan tipis di retina kedua bola mata pemuda itu. Dengan menahan perih, Bimasakti mendengar suara tawa kepuasan yang keluar saling bertabrakan dari mulut para bedebah gila yang membuatnya buta dalam sekejap.
"Aktivis sampah sepertimu, hanya akan berakhir menjadi onggokan bangkai yang siap di makan hewan liar diluar sana" kelakar bernada penghinaan menambah deret panjang rasa nyeri yang tidak saja terasa di kedua bola matanya yang panas. Namun merambat pula dalam hatinya yang membara.
"Bawa dia, sudah cukup kita bersenang-senang dengannya" perintah preman itu pada kedua teman bedebahnya yang kini berjalan mendekati tubuh Bimasakti yang bersimbah darah dari kedua bola matanya.
Buk!
Sambil membuka ikatan, kedua orang itu meninju wajah Bimasakti kembali. "Selamat menyambut kegelapan, aktivis kacangan!" ucapnya penuh penekanan pada telinga Bimasakti yang memar sejak tadi.
Kedua orang itu menarik tubuh Bimasakti tanpa perasaan. Mereka membiarkan kedua kakinya terseret disepanjang langkah kaki mereka untuk kembali ke dalam penjara.
Tatapan iba dan ngeri melihat teman senasibnya diperlakukan sedemikian rupa, membuat para tahanan lain mengeratkan kepalan tangannya di jeruji besi. Mereka melihat kedua orang preman itu melempar tubuh bersimbah darah Bimasakti seperti barang usang yang sudah tak layak pakai.
Anggera tak kuasa melihat pemuda militan itu terpuruk memegangi kedua matanya. Ia tahu, para bajingan itu pasti telah memberi cacat pada mata tajam bagai elang itu. Hati para tahanan disana miris ketika rintihan rasa sakit keluar lirih dari bibir pemuda itu.
"Sialan! Brengsek kalian!!" amukan amarah memecah keheningan dalam penjara. Bimasakti memukul-mukul tembok dengan tinjunya hingga buku-buku jemarinya berdarah.
Tetesan darah terasa masih mengalir membasahi pakaian lusuh yang sobek di bagian punggungnya. Titik peluh kesakitan merasuk dalam setiap sendi tubuh pemuda itu. Ada rasa yang begitu sesak dan pekat berdiam dalam relung terdalam hatinya. Perasaan marah yang mengakar atas semua perlakuan kejam yang selama ini ia terima.
Satu hal yang Bimasakti sesali dari kondisi kedua bola matanya yang rusak. Para bedebah itu membuat Bimasakti tak bisa lagi melihat kecantikan Laura. Dada pemuda itu naik turun dengan cepat, nafasnya menderu seiring sayup-sayup suara menenangkan keluar dari mulut para tahanan lain dengan percuma.
"Lauraaaaaa!!" tiba-tiba teriakan penuh amarah melenyapkan suara keprihatinan para tahanan yang lain.
"Lauraaaaa!!"
Mereka semua diam tak berani mengganggu luapan emosi pemuda yang tengah merapati kondisinya. Nama seorang wanita yang selalu diigaukan pemuda itu, terdengar menyayat hati. Dalam pendar cahaya senja, pemuda tangguh itu terkulai dengan mata berselubung gelap. Ia tak bisa lagi melihat kesombongan Tuhan dalam memberikan warna megah pada langit sore. Lebih dalam dari itu, ia tak bisa melihat wajah pujaan hatinya. Matanya tak bisa lagi menangkap bentuk nyata dari manifestasi kuasa Tuhan menciptakan bidadari dalam wujud manusia.
Laura kini tinggal dalam benaknya, sebatas bayangan yang hanya mampu ia kenang sebagai satu cahaya indah ditengah kegelapan yang kini akan menjadi teman selamanya.
"Lauraaa.. Aku merindukanmu, sayang" suara lirih pemuda itu tersekat mengumandangkan rindu yang tak juga bersambut.
__ADS_1
🍁🍁🍁