Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 52


__ADS_3

Dua hari berlalu tanpa ada niat sedikitpun dari Sabiel untuk menemui Intan di rumahnya. Ponsel yang baru kemarin ia nyalakan kembali, sejak semalam sudah bergetar tanpa henti. Intan terus menghubunginya. Wanita itu pasti sudah sangat marah dengan sikap Sabiel yang menurutnya kelewat batas.


Sebuah penggabungan perasaan bahagia dan rasa syukur yang saat itu tengah dirasakan Sabiel, membuatnya tidak ingin diganggu dengan pertengkaran hebat yang pasti terjadi antara dirinya dan Intan jika ia menjawab panggilan itu. Sabiel tak siap dengan ledakan amarah yang akan saling dilemparkan dirinya dan Intan nanti jika mereka berbicara, lelaki itu tidak ingin kebahagian yang tengah dirasakannya saat itu ternodai.


Laura sendiri mengetahui betapa seringnya ponsel Sabiel berdering, wanita itu dengan bijak menyuruh Sabiel untuk mengangkat panggilan Intan. Bahkan Laura pernah menyarankan Sabiel untuk pulang ke rumahnya bersama Intan. Laura begitu paham akan posisinya, dan ia tidak ingin Sabiel mengabaikan kewajibannya sebagai seorang suami yang memiliki dua istri.


"Pulanglah" ucap Laura ketika ponsel itu kembali berdering dengan nama Intan dilayarnya.


Sabiel mengusap lembut punggung telanjang Laura yang menyandarkan kepala di dadanya. Lelaki itu mengecup mesra kening Laura yang sedang memejamkan mata karena kelelahan dengan percintaan yang baru saja mereka lakukan.


"Intan pasti sedang menunggumu" ucap Laura sembari memejamkan matanya meresapi belaian lembut Sabiel di punggungnya. Sebelah tangan yang memeluk pinggang suaminya ia pakai untuk mengusap dada Sabiel yang lembab.


"Aku malas. Aku ingin disini bersamamu" ucapnya santai.


"Nanti kau bisa kemari lagi. Temui dulu Intan. Katamu dia sudah tahu tentangku, sekarang istri sahmu itu pasti sedang menanti penjelasan darimu" ucap Laura bijak.


Sabiel menghela nafasnya yang berat. Menyadari apa yang Laura katakan membuatnya tertekan dengan sebuah kewajiban baru yang harus ia lakukan. MENJELASKAN.


Ya. Menjelaskan. Ia harus menjelaskan mengenai pernikahannya pada istri sah-nya. Terasa janggal memang, bagaimana bisa seorang suami menjelaskan pada istri tuanya bahwa ia telah menikah lagi dengan wanita lain? Cih, suami mana yang bisa menjelaskan dengan baik dan membuat istrinya mengerti dengan kehadiran wanita lain dalam hati suaminya.


Tapi bagi Sabiel, dirinya tak butuh pengertian dari Intan. Dia hanya akan menjelaskan perihal Laura, dan akan tutup mata dengan apapun yang akan Intan lakukan nantinya. Toh, memang Sabiel ingin berpisah dengan Intan. Jika dengan penjelasan itu Intan meminta bercerai dengannya, bukankah itu artinya ia justru beruntung?


"Sayang, kau ingat aku pernah mengatakan ingin lepas dari Intan" ucap Sabiel. Lelaki itu kini memiringkan tubuhnya, dan menempatkan kepala Laura tepat di bawah ketiaknya. "Aku berharap ketika aku menjelaskan tentang pernikahan kita, dia sadar bahwa aku ingin berpisah dengannya"


Laura tampak merenung mendengarkan Sabiel. Dia membiarkan Sabiel membelai mesra pipinya. "Sabiel, apa kau tidak pernah berpikir bahwa mungkin alasan mengapa Intan tak pernah mau berpisah denganmu, itu karena ia sangat mencintaimu" Laura menatap mata Sabiel yang tampak sayu.


"Mencintaiku? Kau lupa apa yang pernah aku ceritakan tentang rumah tanggaku dengannya? Mana ada wanita yang bersikap begitu tidak peduli pada lelaki yang ia cintai" Sabiel menyentuh bibir Laura yang sedikit bengkak karena ulahnya tadi. "Sayang, apa hari ini aku sudah mengatakan bahwa kau begitu cantik? Oh Astaga! bibirmu menggodaku" tiba-tiba Sabiel meracau ditengah obrolan serius mereka. Lelaki itu memberikan kecupan singkat dan mengelus kembali bibir mungil Laura.


Laura menepis elusan jemari Sabiel di bibirnya. "Hey! Jangan mengalihkan pembicaraan. Kita sedang membahas istri sah-mu" Laura mengingatkan dengan raut wajah kesal.


Sabiel terkekeh, dia memang tidak bisa jika tidak mengatakan kekagumannya akan paras cantik Laura. Dengan kedua pipi berwarna merah muda dan bertekstur kenyal membuat lelaki manapun akan merasa gemas ingin menciumnya. Sensasi halus kulitnya selalu membuat Sabiel tak tahan ingin selalu bisa menyentuhnya. Laura adalah keseluruhan dari sosok idaman para lelaki. Paras cantiknya yang berbanding lurus dengan kepintarannya, membuat Sabiel bangga bisa memilikinya.


"Aku bukan lelaki yang pintar mendua, sayang. Meskipun saat ini aku memiliki dua orang istri. Namun aku bisa pastikan hanya ada satu orang yang memenuhi hatiku. Menjadi ratu dalam singgasana jiwa dan ragaku" ucap Sabiel menatap penuh cinta pada Laura. "Dan ratu itu adalah kau, istri siriku. Pelipur laraku. Obat dari segala luka dan sakit yang wanita itu pernah torehkan dalam hatiku" Sabiel mengakhiri ucapannya dengan ciuman dalam pada bibir Laura.


"Intan tidak mencintaiku sayang, dia hanya mencintai apa yang bisa ia ambil dari diriku" ucap Sabiel pelan.


"Maksudmu?" tanya Laura tak mengerti.


"Tak usah kau pikirkan, suatu saat kau akan mengerti" ujar Sabiel sembari mencium kembali bibir Laura. Dia tidak tahan membiarkan bibir itu menganga terlalu lama.


"Sabiel, tunggu dulu..." Laura mencoba menahan tubuh suaminya yang hendak kembali berada diatasnya. Menghimpit dengan gerakan sensual yang membuat bulu kuduk Laura meremang.


"Sekali lagi oke?" Sabiel menyeringai menggoda Laura.


"Sabiel, masih ada yang ingin aku tanyakan" Laura menggenggam tangan Sabiel yang mulai meraba area bawahnya. "Hey! Sabiel.. Bagaimana dengan kuliahku? Kapan kau izinkan aku untuk masuk. Ini sudah dua hari aku membolos" ucap Laura berusaha tak terpengaruh dengan Sabiel yang mulai mencumbui tubuh mungilnya.

__ADS_1


"Nanti kita bahas...setelah aku menyelesaikan tugas mulia ini" seringaian jahil Sabiel membuat Laura merona kembali.


"Ah..Sabiel pelan-pelan!" gerutu Laura ketika Sabiel melakukan sesuatu dibawah sana.


Sabiel tak menghiraukan gerutuan istrinya, lelaki itu kembali jatuh dalam kabut sihir yang menjeratnya dengan kenikmatan surgawi. Tubuh Laura berkilau memancarkan cahaya yang membuat Sabiel ingin merengkuhnya, menyatu dalam desahan nafas yang bergairah dan membawanya melambung tinggi bersama desakan birahi yang menanti saat yang tepat untuk ia lepaskan.


Laura mengerang, berusaha membersamai Sabiel dalam sensani vulgar yang konstan. Kepalanya terasa pusing seiring kenikmatan yang berhasil Sabiel ciptakan pada tubuhnya. Sabiel merenguhnya dalam buaian seorang lelaki perkasa. Mata keduanya saling menatap, saling mengikat dalam padang savana dengan panorama eksotis percintaan mereka. Keringat dan nafas saling berkejaran berlomba siapa yang lebih kuat untuk bertahan dalam gelombang deras hasrat yang begitu dalam.


Hari masih terlalu terang untuk tenggelam dalam balutan gairah naluriah. Namun Sabiel tak peduli itu. Dia ingin mengajak Laura berkeringat bersamanya. Menikmati sisi primitif alamiah dari seorang manusia.


🍁🍁🍁


"Sayang, ayolah. Kau membuat cacing dalam perutku protes" seru Sabiel memanggil Laura dari bawah tangga.


Sehabis percintaan mereka tadi sore, malam harinya Sabiel ingin mengajak Laura keluar dari apartement. Lelaki itu ingin mengajaknya berkencan. Maklum, pernikahan yang awalnya ia paksakan membuat dirinya tak bisa memberikan kencan yang menyenangkan untuk Laura.


"Suaramu bisa mengagetkan orang dirumah ini, Sabiel" sindir Laura sembari menutup pintu kamar dan mulai melangkah menuruni tangga.


Ya Tuhaaan, lihatlah wanita itu!


Bola mata Sabiel tak berkedip melihat penampilan Laura malam itu. Gaun merah selutut tanpa lengan dengan hiasan bordiran bunga dandelion disepanjang kerah sabrina-nya membuat Sabiel menelan ludahnya kasar. Tulang selangka di bahu Laura terekspos dengan cara yang seksi dalam pandangan Sabiel.


Rambutnya dibiarkan menjuntai dengan jepitan kecil berbentuk mutiara di sisi poni-nya. Dan astaga! siapa yang menciptakan trend make up seperti itu? Riasan wajah flawless yang teraplikasi begitu manis nampak mengeluarkan aura keanggunan dalam balutan kesederhanaan. Sabiel menyukai itu, namun tidak menyukai jika sosok cantik bak seorang peri itu dilihat pula oleh lelaki lain.


Lelaki itu menarik nafasnya dalam. Menatap jeli pada istrinya yang tinggal beberapa langkah lagi berdiri di hadapannya.


Laura membelalakan matanya, wanita itu berhenti melangkah, menatap penuh tanya akan ucapan Sabiel yang tiba-tiba.


"Kau ingin terlihat cantik oleh siapa, huh? Memakai pakaian seperti itu hanya akan membuat kau menjadi santapan mata para hidung belang" ucap Sabiel menjawab tatapan istrinya.


"Ini gaun yang kau belikan sendiri, sayangku" Laura memberi penekanan pada kata terakhirnya. Wanita itu tentu tak setuju jika harus mengganti kembali pakaiannya. Yang benar saja!


"Maka dari itu sayangku, perlihatkan saja gaun itu jika sedang berdua denganku. Bukan pada saat kita akan ke tempat umum seperti malam ini. Karena suamimu ini akan sangat marah jika ada lelaki lain yang menatapmu" ucap Sabiel penuh penekanan pula.


Laura menghela nafasnya malas. Alih-alih menuruti keinginan suaminya, dia malah berkacak pinggang di hadapan Sabiel yang menaikan alisnya.


"Tidak mau!" Laura menggelengkan kepalanya tegas. "Aku malas jika harus ganti lagi"


"Ganti Laura. Pakai saja kaus biasa. Toh kau akan tetap terlihat cantik menggunakannya" ujar Sabiel.


Laura tetap keras kepala, dia menggelengkan kepalanya sembari mengatup rapat bibirnya. Dibawah sana, Sabiel menyeringai melihat ekspresi Laura yang menggemaskan. Lelaki itu berjalan menaiki tangga, menghampiri Laura yang tetap diam ditempat.


"Kau ingin aku mengganti pakaianmu?" seringaian jahil muncul seiring bola mata Sabiel yang berkedip genit.


Laura sontak menyilangkan kedua tangan menutupi dadanya. "Kau gila! sudah tidak ada waktu untuk berganti pakaian Sabiel! lagipula aku malas" ucapnya menatap cemas raut wajah jahil Sabiel.

__ADS_1


Tanpa membalas ucapan Laura, lelaki itu langsung menggendong Laura di pundaknya. "Selalu ada waktu sayang. Jika itu menyangkut dirimu" ucapnya sambil melangkah lebar menjejaki anak-anak tangga. Lelaki itu berjalan sambil tersenyum lebar mendengar gerutuan Laura yang terdengar menggelitik baginya.


🍁🍁🍁


Laura memberengut ketika Sabiel merangkul pinggangnya menuruni tangga. Lelaki itu berhasil memaksa Laura berganti pakaian dengan setelan kaus dan jeans panjang.


"Kau cantik, sayang" goda Sabiel menyeringai jahil pada Laura yang mendelik malas.


"Kau membuat kita terlambat untuk makan malam" ucap Laura kesal.


"Lebih baik terlambat daripada aku harus membiarkanmu dilirik lelaki lain" sahut Sabiel.


"Kau pikir aku secantik bidadari, hingga lelaki lain sudah pasti akan melirikku" dengus Laura yang merasa suaminya terlalu berlebihan.


Sabiel menoleh pada Laura, dia menghentikan langkahnya ketika sudah berada di dasar lantai satu apartemennya. Laura berdiri tepat disampingnya. Menatap Sabiel yang tampak ingin berbicara.


"Kau bukan bidadari sayang" Sabiel merangkul bahu Laura mesra. "Kau lebih dari itu. Kau seorang Dewi. Sang Dewi Aphrodite, Dewi yang selalu berhasil membuat para Dewa bertekuk lutut memuja pesonanya" Sabiel mengecup pipi Laura yang bersemu merah.


Laura memutar bola matanya malas "Hentikan gombalanmu itu" sikut tangannya menyenggol perut Sabiel yang liat.


Sabiel terkekeh, sembari mengajak Laura berjalan menuju mobil yang sudah terparkir di depan teras apartement.


Mobil berjalan perlahan, melintasi malam syahdu dengan pendar lampu jalanan. Laura duduk menatap malam yang pekat, sementara tangannya tergenggam erat dalam kehangatan sebelah tangan suaminya.


Ditengah perjalanan dengan pemandangan kota Bandung yang Indah, Sabiel tiba-tiba merasa tengah dibuntuti. Beberapa kali matanya menatap curiga pada mobil sedan hitam yang berada di belakangnya melalui kaca spion.


Lelaki tua dengan kepala tertutup topi semacam topi baret terlihat mengikuti laju kendaraan Sabiel. Ketika Sabiel mencoba mengecoh dengan membanting stir pada sisi jalan yang lain, lelaki itu dengan bodohnya membuat penguntitannya tampak jelas terlihat. Sabiel menyeringai penuh perhitungan. Lelaki itu tentu saja tahu, siapa orang dibalik penguntitan itu.


"Apa yang kau lihat?" tanya Laura yang memperhatikan suaminya sejak tadi. Wanita itu hendak menengokkan kepalanya.


"Jangan lihat sayang!" seru Sabiel sebelum Laura benar-benar melihat mobil penguntit dibelakangnya.


Laura menatap Sabiel penuh tanya "Memang kenapa? Apa yang kau lihat?"


Sabiel menyeringai membuat Laura semakin penasaran. "Intan menyuruh seseorang membuntuti kita" ucapnya tenang.


Laura membelalakan matanya,


"Sepertinya dinner kita untuk pertama kalinya, harus benar-benar terlambat sayang" ucap Sabiel menatap Laura penuh sesal dan siasat. "Kita harus memberi sambutan dulu pada tamu tak diundang itu" ucapnya sebelum aksi tancap gas dilakukan.


"Sabiel, apa yang kau lakukan?!!" pekik Laura ketika Sabiel memacu kendaraan menjadi sedikit lebih cepat dari sebelumnya.


Laura langsung mengeratkan sabuk pengamannya, dan menatap suaminya yang tampak bersemangat melirik mobil sedan belakang yang kelabakan menyeimbangi kecepatan berkendaranya.


"Kau bodoh, Intan" gumamnya dalam hati sembari menoleh pada Laura yang mulai tampak ngeri dengan gaya berkendara ala pembalap yang ia perlihatkan.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2