
Aroma nafas mint itu membelai lembut tengkuknya. Tubuh Laura kaku duduk di pangkuan Sabiel. Posisinya yang menghadap ke depan tak dapat melihat sepasang mata sendu yang menatap lekat garis punggung muda berbalut kaus tipis. Sabiel menyandarkan kepalanya di pundak Laura, dekat dengan leher yang tadi ia cekik, kedua tangan kokohnya memeluk posesif tubuh Laura yang kaku bagai pilar batu. Tak ada perlawanan lagi dari gadis itu.
Ancaman Sabiel benar-benar tak bisa dilawan olehnya. Benak Laura tak bisa membayangkan bagaimana jika keluarganya, terutama ayah tercinta mendapati foto-foto vulgar itu. Laura bergidik ngeri, membayangkan ayahnya akan jatuh sakit kembali atau bahkan meninggal karena syok melihat pose anak gadisnya yang tidur tanpa busana bersama seorang lelaki.
Hati Laura semakin berdenyut menahan sakit ketika sosok Bimasakti, kekasih barunya hadir di pelupuk matanya.
Apa yang harus ia lakukan pada lelaki yang ia cintai itu? Sabiel sudah pasti tidak akan membiarkan dirinya bertemu dengan kekasihnya.
Pikiran Laura kalut membayangkan semua yang akan terjadi dalam hidupnya. Dia sudah sepakat untuk menikah dengan Sabiel. Menjadi istri kedua dosennya sendiri tanpa sepengetahuan orang lain.
Laura ingat, tadi saat Sabiel menutup ponselnya. Lelaki itu menjelaskan bahwa ia akan menikahi Laura secara siri. Tak akan ada yang tahu status suami istri yang melekat diantara mereka. Dan Laura ingat, Sabiel akan membawanya ke rumah orangtuanya. Laura tak tahu dimana letak rumah itu, dia tak sanggup lagi untuk bertanya akan rencana panjang Sabiel terhadap dirinya.
Aaaarrrkkkhh!!! Laura sungguh ingin berteriak. Dia butuh meluapkan emosinya saat itu juga.
"Buang semua pikiranmu tentang melarikan diri dariku, sayang." suara berat Sabiel memecah keheningan mereka. "Cukup sekali aku membiarkan kau lari meninggalkanku waktu itu." Sabiel mengingat kembali kejadian saat pulang dari camp Lembang.
Laura diam tak menanggapi apapun yang keluar dari mulut Sabiel. Dia sudah berada diambang putus asanya. Lelaki itu telah menggenggam kelemahannya. Laura tertunduk dalam kebisuan, matanya melihat kedua tangan Sabiel yang semula memeluk pinggangnya kini bergerak naik, masuk ke dalam kaus tipis yang melekat di tubuhnya. Memberikan elusan selembut sutra pada perutnya, dan merambat naik memegangi kedua payudaranya. Meremas dengan lembut payudara kencang Laura.
Tubuh Laura terkesiap. Dadanya bergerak naik turun dengan cepat. Duduknya menjadi gelisah diatas pangkuan Sabiel. Sabiel menyeringai geli merasakan gerakan serampangan Laura di kedua pahanya.
"Aku akan redam gairahku padamu, untuk aku keluarkan saat kau resmi menjadi istriku, Laura." suara paraunya berhembus menggelitik pendengaran Laura. Meninggalkan sensasi dingin yang membuat gadis itu bergidik ngeri, membayangkan malam pertama yang harus ia lewati dengan lelaki yang tidak ia cintai.
🍁🍁🍁
Malam akhirnya datang juga, Laura masih meringkuk di balik selimbut setelah tadi digendong Sabiel untuk tidur di ranjang king size. Mata yang semula menyala itu pada akhirnya harus mengalah dan padam dipelukan Sabiel yang hangat. Kini setelah hampir dua jam mereka tertidur, Sabiel terbangun lebih dulu. Lelaki itu tersenyum mendapati sosok gadis cantik lelap disisinya. Matanya tertutup rapat dan wajah cantik bagai pualam itu terlihat damai.
Sabiel melepaskan diri dari mendekap Laura dengan perlahan. Lelaki itu beranjak dari tempat tidur setelah merapikan selimbut agar menutupi tubuh mungil gadisnya.
Dia berjalan menghampiri sofa, setelah membawa serta tas ransel kecil Laura yang tergeletak tak berdaya di lantai dengannya.
Dia memasukan tangannya dalam tas itu, mencari ponsel Laura.
15 panggilan tak terjawab
12 pesan masuk
Membuat mata Sabiel berkilat oleh rasa penasaran. Dia membukanya. Panggilan tak terjawab itu sebagian besar berasal dari satu kontak person. Bimasakti.
Cih. Sabiel berdecih dalam hati.
Matanya kini tak sabar ingin melihat belasan pesan yang masuk. Lagi lagi pesan masuk itu sebagian besar berasal dari orang yang sama tadi. Sepuluh pesan dari Bimasakti. Satu pesan dari Gisel. Satu pesan lagi dari ayahnya.
Sabiel tertarik untuk lebih dulu membuka pesan Bimasakti. Dia buka satu pesan itu.
Sebelum membacanya, Sabiel menegakkan tubuhnya, melihat kembali Laura yang tak bergeming di pembaringan sana. Matanya kembali membaca setiap pesan yang dikirim Bimasakti.
"Ternyata mereka sudah menjadi sepasang kekasih." gumamnya ketika ia membaca pesan bernada khawatir karena panggilannya tidak dijawab Laura.
Belum sempat Sabiel membaca semua pesan itu, di atas ranjang king size sana, gadis mungil kembali menunjukkan eksistensinya. Dia menggeliat merenggangkan otot yang terasa kaku ditengah tubuhnya yang sedang mempersiapkan diri untuk kembali terjaga.
__ADS_1
Sabiel segera berdiri dari duduknya,
"Kau sudah bangun?" tanyanya seraya menghampiri gadis itu. Laura tak menjawab, ponsel miliknya yang Sabiel genggam menarik perhatiannya.
Sabiel mengawasi arah pandang Laura, dia menyeringai ketika Laura melihat ponsel itu. Sabiel melemparkan ponsel Laura tepat di atas selimbut yang menutupi bagian pinggang Laura. Gadis itu terperanjat, matanya memicing penuh aura permusuhan pada lelaki yang mulai naik ke atas tempat tidur, duduk bersandar tepat disebelahnya. Ia melihat kotak pesan di ponselnya sudah terbuka. Dia yakin, Sabiel sudah membaca pesan-pesan itu.
"Kekasihmu menghubungimu berkali-kali." Sabiel menekankan kata kekasih untuk mengejek Laura. "Kau balaslah, kasihan dia." sambungnya dengan sikap menjengkelkan.
"Kau yang lebih kasihan." Laura tak tahan mendengar hinaan dari mulut Sabiel. "Kau memaksa kekasih orang lain untuk menjadi milikmu. Sampai bersikap rendah dengan memberi ancaman padaku." ucap Laura kasar.
Sabiel tersenyum tipis. Dia tidak tersinggung dengan ucapan Laura. Bahkan dia tidak peduli jika Laura memandangnya hanyalah lelaki rendahan yang dengan keegoisannya membuat seorang wanita terikat secara paksa dengan dirinya. Sabiel tak peduli. Yang ia pedulikan saat ini adalah fakta bahwa rencananya untuk menikahi Laura dan menjadikan gadis belianya itu sebagai istri keduanya sebentar lagi akan terwujud.
Masalah Laura membencinya atau memandang hina padanya tidak ia hiraukan. Silahkan saja jika Laura ingin memenuhi hatinya dengan kebencian pada Sabiel, selama ia berada disisi Sabiel, terikat dengan lelaki itu, Sabiel tidak masalah. Toh seiring berjalannya waktu, perasaan cinta atau sayang akan hadir dengan sendirinya karena terbiasa. Setidaknya itu yang Sabiel yakini.
"Terserah apapun yang kau katakan, sayang. Aku akan menerima kebencianmu dengan lapang dada." ucap Sabiel. "Kemarilah." Sabiel menarik kencang lengan Laura, hingga gadis itu terjingkat duduk bersandar di dada bidang Sabiel. Sabiel langsung menekan tubuh Laura, ketika ia merasa Laura hendak menjauh dari dirinya.
"Cukup ingat saja ayahmu, ketika kau ingin menjauh dariku." bisiknya tegas, mematahkan semua bentuk penolakan Laura.
"Balas pesan mereka. Katakan pada kekasihmu, bahwa kau baik-baik saja. Dan katakan pada temanmu bahwa seminggu kedepan kau tidak bisa datang ke kampus. Katakan apapun alasannya." Sabiel mengawasi ketikan jemari Laura di ponselnya. Dan mencium pelipis Laura ketika Laura terlihat menuruti perintahnya.
Laura meletakkan ponselnya dengan malas ketika pesan balasan untuk Bimasakti berhasil dia kirim.
Apa yang harus ia lakukan? Bagaimana caranya memberitahu Bimasakti akan apa yang menimpa dirinya kini.
"Ah aku tak sabar ingin segera menikahimu, sayang." Sabiel kembali memeluk erat Laura yang terpaku. Pikiran gadis itu kosong, tubuhnya seolah tak memiliki nyawa. Ciuman Sabiel bahkan tak lagi dirasa olehnya. Semuanya tampak buram dan terasa hampa.
Hubungan asmara yang baru kemarin ia rajut, sudah pasti tidak akan bertahan lama. Dosen egois ini akan menikahinya. Akan menjadikan dirinya istri kedua.
🍁🍁🍁
Laura mendapati Sabiel membawa dirinya ke sebuah pegunungan yang jauh. Keindahan alam bernuansa biru dan hijau, langsung menyejukkan matanya. Puncak gunung yang kokoh terasa dekat membayangi mereka dengan hutan pinus lebatnya.
Barisan pepohonan yang luas nan tinggi menjulang, dengan aneka jenis pohon besar yang tampak tumpang tindih dengan apik di sepanjang mata memandang, membuat Laura berdecak kagum dengan suasana pedesaan yang kental.
Entah ke bagian mana Sabiel akan membawa Laura, perkampungan sudah beberapa kali terlewati namun tak tampak juga keinginan Sabiel untuk menepi.
Ekor mata Sabiel mengawasi gadis yang duduk disebelahnya. Memandang syahdu hamparan pemandangan langka yang hanya akan mereka temui di pedalaman. Laura membuka jendela mobil, merasakan udara segar langsung memburu menerpa wajahnya. Sejuk. Sabiel tersenyum ketika melihat bahwa Laura menyukai suasana itu.
"Kau akan membawaku kemana, Sabiel?" Laura tak tahan ingin bertanya. Matanya melihat sungai kecil dibahu jalan, dengan air jernih mengalir yang tampak menyegarkan.
"Rumah orangtuaku." Sabiel menjawab lugas.
"Orang tuamu tinggal ditempat terpencil ini?!" tanya Laura heran.
"Ya. Mereka menyukai suasana pedalaman." sahut Sabiel singkat.
Laura kembali terdiam. Dia membayangkan dirinya berlari ditengah-tengah pedalaman yang mencekam. Binatang buas bisa saja muncul tiba-tiba dibalik pepohonan itu, atau pemburu hewan liar bisa saja menembaknya karena salah sasaran.
Oh Tuhan, Sabiel benar-benar gila, dia menutup semua akses yang memungkinkan Laura untuk kabur darinya.
__ADS_1
"Aku sudah ingatkan dirimu bukan?! Hilangkan keinginan untuk lari dariku. Karena itu tidak akan pernah bisa kau lakukan." Sabiel seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkan Laura. "Jika kau tetap ingin mencoba lari dariku, jangan salahkan aku jika ayahmu kembali sakit atau bahkan mati." ucapnya tak berperasaan.
"Aku tidak akan lari darimu." ucapnya pasrah tanpa menatap Sabiel.
"Bagus!" ucap Sabiel puas.
Laura berpikir pondok itu seperti sarang para peri. Sebagian besar bagiannya terbuat dari kayu jati pernis yang kokoh dengan batu-batu besar yang corak serta ukurannya beragam. Di bagian luar pondok terdapat tanaman rambat yang lebat dan banyak, hingga hampir menutupi sebagian besar bangunan pondok. Bunga-bunga kecil aneka warna mekar dengan sempurna disana, membuat mata Laura berdecak kagum akan keindahan pondok berlantai dua tersebut.
Bagian depan teras terdapat taman bunga kecil, dengan bunga-bunga cantik yang berwarna warni. Mata Laura melihat beberapa pohon anggrek bulan yang menempel pada batang pohon sedang bermekaran.
Sabiel menggandeng tangan Laura untuk masuk ke dalam pondok tersebut. Para pekerja berdiri rapi di depan pintu, menyambut kedatangan sang pemilik pondok dengan tatapan penuh tanya. Mata mereka mengarah pada kehadiran wanita muda cantik yang sedang berjalan bersisian dengan Tuannya.
"Mereka pekerja di pondok ini, jika butuh sesuatu katakan pada mereka." ucap Sabiel dihadapan para pekerjanya. Dengan sikap canggung yang kentara, Laura tersenyum menatap satu per satu orang disana.
Sabiel masuk kedalam pondok sembari merangkul bahu Laura hingga merapat pada dadanya.
Laura menerawang suasana dalam pondok yang terasa hangat. Di sebelah kanan terdapat meja kayu panjang dengan kursi di kedua sisi. Di belakang meja terdapat rak-rak pajangan dengan dua pot bunga kecil di setiap tepiannya.
Laura juga melihat ada perapian kecil di ruang bersantai, dengan dua sofa besar untuk dua orang dewasa, dan meja kayu kecil di tengahnya. Di atas perapian itu, terdapat pigura keluarga berukuran cukup besar dengan ukiran emas di sisinya.
Searah dengan dapur, terdapat tangga menuju lantai dua. Sabiel membawa Laura langsung ke atas sana setelah sesi perkenalan singkat dengan para pekerja tadi.
"Ini kamar kita." ucap Sabiel begitu membuka satu kamar besar yang terdapat dilantai dua.
"Kamar kita? Kita akan tidur bersama maksudmu?" tanya Laura terkejut.
"Ya. Besok kita akan menikah, jadi sudah sewajarnya kita tidur dalam satu kamar, bukan?" ujar Sabiel santai. Lelaki itu menarik lengan Laura untuk masuk ke dalam kamar.
"Besok? Kau akan menikahiku besok?!" kejutan kedua membuat Laura tak habis pikir. Ia tidak menduga bahwa Sabiel akan secepat itu melancarkan keinginannya.
"Kenapa? Kau ingin menolak lagi?" Sabiel mendelik melihat wajah pias Laura.
"Itu terlalu cepat Sabiel." Laura menggelengkan kepala tak setuju. "Memang...memang kau sudah menyiapkan semuanya? Maksudku persyaratanku dan segala macamnya?" Laura ingin mengulur waktu.
"Aku berniat menikahimu sejak lama Laura, dan aku sudah mengurus semuanya. Kau hanya tinggal diam dan mengikuti rencanaku." Sabiel berjalan meninggalkan Laura yang masih terpaku di ambang pintu. Lelaki itu duduk berselonjor di kursi panjang depan tv.
"Kemarilah." Sabiel mengulurkan tangannya pada Laura.
Laura masih didera rasa tak percaya akan apa yang baru Sabiel katakan. Jantungnya berdetak cepat seiring nafasnya yang kian memburu. Pikirannya kalut memikirkan Bimasakti. Apa yang akan terjadi dengan lelaki itu jika tahu Laura menikah dengan lelaki lain?
Sabiel gemas melihat Laura tak jua bergerak dari tempatnya, gadis itu malah terpaku dengan raut wajah penuh kegelisahan. Ketidak sabaran Sabiel membuat lelaki itu bangkit dan berjalan menghampiri Laura. Gadis itu tak menyadari kehadiran Sabiel dihadapannya. Dia terlalu kalut dalam pikirannya.
Melihat Laura yang terlihat melamun, Sabiel mengeratkan rahangnya menatap lekat garis wajah cantik calon istrinya. Dalam sekali hentakkan, lelaki itu membopong Laura di pundaknya.
"Aarrkhh." pekik Laura terkejut. Gadis itu baru menyadari keberadaan Sabiel didepannya.
"Kau membuatku ingin memperkosamu, Laura." suara parau Sabiel membuat gadis dalam panggulan itu terbelalak sempurna.
🍁🍁🍁
__ADS_1