
"Tolong ampuni aku" rintihan Intan beberapa kali terdengar menyayat. Ia merasa takut dengan apa yang tengah pasukan itu lakukan padanya.
Tubuhnya dibenamkan dalam lubang hingga batas bahu. Sementara beberapa meter di hadapannya terdapat dua orang dengan dua ember besar berisi batu-batu berukuran sedang, menatapnya dengan dingin.
Di sisi lapangan yang lain, Dato' Faisal berdiri dengan tangan diikat terentang pada dua tiang besi yang berada di sisi tubuhnya. Seorang lelaki pakaian serba putih dengan wajah ditutup kain hitam kecuali bagian mata yang dibiarkan terbuka, melangkah sambil menggenggam cambuk berduri.
Tidak ada lagi rasa takut yang lebih menakutkan dari apa yang terlihat dan sedang dialami kedua orang itu. Intan meringis meratapi kematiannya yang seolah begitu dekat. Sementara mulut Dato' terus memohon pengampunan dengan percuma.
"Sultan, maafkan aku. Ini semua karena wanita itu. Dia menggodaku" rancaunya ketika Sultan mendekat.
"Kenapa kau bisa mengotori nama baik keluargaku dengan sikapmu yang memalukan itu Faisal?" Sultan mencemooh kebodohan adik iparnya. "Kau menyakiti adikku, kini kau meminta pengampunan dariku? Omong kosong! Kau lupa Faisal, aku tak sebaik yang kau kira. Kau bertingkah pada keluargaku, itu artinya kau harus siap menanggung akibatnya" timpalnya dengan bahasa melayu yang kuat.
"Aku..aku khilaf Sultan. Wanita itu menggodaku, kau harus percaya itu. Apa kau tidak mengingat, dulu semasa kita bujang. Kita sering berkelakar bersama. Kau ingat itu? Aku mohon maafkan aku" Dato' Faisal memohon dengan tubuh penuh keringat dingin.
"Sejak adikku menangis menceritakan perbuatan kotormu, aku sudah menghapus kenangan itu dari kepalaku" sanggah Sultan tak peduli.
Matanya memberi kode pada algojo yang sudah berdiri di belakang Dato' Faisal. Algojo itu mengangguk sambil mengangkat cambuknya ke udara, dan langsung menghantamkannya di punggung mulus pengkhianat itu.
Ctasss! Ctaaasss!
Nyaring bunyi pecutan membahana di lapangan yang panas. Intan semakin ketakutan mendengar cambuk itu, ditambah jeritan kesakitan yang keluar dari mulut kekasih gelapnya.
"Sultan, maafkan aku..." mulut Intan keluh mengiba pada Sultan yang menatapnya dingin.
Sultan Kelatan itu berjalan mendekati Intan. Ia berjongkok dan menatap jijik pada wajah Intan yang berada tepat di kakinya. "Aku tidak mengenal siapa kau, tapi aku tahu pasti wanita macam apa yang telah berbuat zina dengan suami orang lain. Wanita sepertimu pasti berasal dari tanah jahanam. Dan sekarang kau akan kembali kesana" sambung Sultan Kelana murka.
Jika saja tubuhnya tidak sedang terbenam dalam tanah, maka semua orang yang berada di lapangan itu sudah pasti akan melihat guncangan hebat dari tubuh Intan. Perkataan Bangsawan itu menukik tajam menghujam jantungnya. Penghinaan itu terasa begitu menyakitkan untuk di dengar.
"Ini semua karena orang itu" ucapnya berderai air mata. Wajahnya menoleh pada tubuh berisi yang kini tengah merasakan sakit. "Dia yang mendekatiku" Intan berdalih.
Sultan Kelantan tersenyum tipis. "Kau dan dia sama-sama bersalah. Perbuatan kalian telah menyakiti adikku. Dan aku bukanlah sosok kakak yang akan diam saja melihat adikku terluka" ujarnya tak tergoyahkan.
"Tidak! Maafkan aku Sultan. Aku...aku akan kembali ke negaraku, aku tidak akan...tidak akan datang lagi kesini. Tolong maafkan aku Sultan. Tolong maafkan aku!" Intan semakin panik ketika melihat Sultan berjalan meninggalkannya dengan tidak peduli.
Mata Intan semakin ngeri ketika dua orang lelaki tegap dengan ember batu terlihat sudah siap untuk melemparinya dengan batu-batu itu. Jaraknya mungkin berkisar delapan atau sepuluh meter dari posisi kepala Intan.
"Lakukan! Dan berhenti ketika ia sudah terlihat sekarat" perintah Sultan pada dua orang bawahannya.
Tak berselang lama terdengarlah jeritan memilukan dari mulut Intan. Batu-batu itu melesat mengenai wajahnya, beberapa batu lepas sasaran namun batu-batu yang lain berhasil memberi lebam dan luka di wajah cantik kebanggaannya.
"Akh!! Akh!! Ampun!"
Sudah tidak terhitung berapa kali Intan berteriak kesakitan, kepalanya terasa berdentum menerima lemparan batu itu. Namun anehnya tidak juga terlihat tanda-tanda bahwa Intan sekarat, seolah Tuhan sengaja membiarkannya tetap hidup agar membuatnya lama mendapatkan hukuman.
__ADS_1
Di lapangan dengan terik matahari yang semakin membara, dua mulut sibuk berteriak memohon pengampunan. Dato' Faisal dengan tubuh yang terkulai menggantung, merasa kulit punggungnya terkelupas akibat cambuk duri yang terus dihantamkan tiada henti. Algojo itu tidak peduli dengan rintihan dan suara Dato' Faisal yang mengiba. Tangannya dengan tidak berperasaan mengangkat cambuk ke udara tinggi-tinggi dan melesatkannya pada punggung lelaki itu dengan cepat. Duri-duri yang memenuhi tali cambuk, langsung menusuk dan menyayat kulit punggung itu seketika.
Sorot mata Intan tertunduk semakin dalam, pandangan matanya terhalang oleh tetesan darah yang merambat turun dari pelipisnya. Dalam relung hatinya Intan menyesali keterlibatannya dengan direktur utama, yang kini sedang menjerit kesakitan karena cambukan. Intan menyesal mengenalnya. Lebih jauh dari itu, Ia menyesal telah datang ke Singapura dan meninggalkan kehidupannya yang amat sangat baik, ketika masih bersama suaminya.
Sabiel? Tiba-tiba Intan merasa rindu pada lelaki itu. Ia ingin memohon maaf atas semua apa yang sudah ia lakukan padanya.
Menjelang ajal adalah waktu yang terbaik untuk menyesali segala kesalahan. Itu yang kini dirasakan Intan. Ia tahu, kondisinya saat ini sudah tidak mungkin tertolong lagi. Kedua lelaki dihadapannya terus melempari batu kepadanya. Ditengah lemparan batu yang hanya tertuju wajahnya, sayup terdengar teriakan Dato' Faisal yang mengumpat kasar menyalahkan dirinya.
"Brengsek! Ini semua karenamu jalang murahan!"
Intan mendelik dengan sorot mata yang rabun, hatinya bertambah panas mendengar umpatan lelaki paruh baya itu. Tiba-tiba mulutnya ingin sekali berteriak lantang membalas umpatan selingkuhannya.
"BERHENTI MEMANGGILKU JALANG, BAJINGAN!! SEHARUSNYA KAU SADAR KETIKA KAU MEMINTA TIDUR DENGANKU. DASAR TUA BANGKA!!"
Dalam himpitan tanah, dada Intan bergerak naik turun dengan cepat. Sorot matanya tajam menatap tubuh tak berdaya pasangannya. Teriakannya membuat para algojo yang tengah memberi hukuman pada mereka terdiam sejenak, sementara Sultan Kelantan yang kini sedang berada di dalam mobil mewahnya tersenyum penuh hinaan memandang jijik pasangan selingkuh yang sibuk saling menyalahkan.
"Aakhh!" jeritan Intan mengeras ketika satu batu menghantam ubun kepalanya. Seketika padangannya kabur, dan tak berapa lama mata itu tertutup rapat.
Dua pemuda yang melempar batu saling berpandangan, salah satu dari mereka berjalan mendekati posisi Intan. Dua jari ia letakkan di leher Intan untuk memeriksa nadinya.
"Sultan, wanita ini pingsan!" serunya dari kejauhan.
Sultan mengangguk, "Bawa mereka berdua ke penjara istana"
🍁🍁🍁
"Saya tidak bermaksud untuk mengganggu apa yang akan Dato' Sri lakukan pada wanita itu. Saya hanya ingin bertemu dengannya untuk meminta ia menandatangi sesuatu terkait masalahnya di Indonesia" ucap seseorang dengan penuh sopan santun.
Dato' Sri tersenyum ramah, ia melirik pada berkas yang sedang di pegang oleh utusan dari seorang pengusaha Indonesia. "Tak perlu bersikap sungkan macam tu. Awak boleh tengok wanita penzina tu kapanpun awak mau. Tapi terlebih dulu saya ingin mengucap terima kasih pada awak. Berkat chip dari awak, saya tahu suami macam mana yang saya nikahi tu" ujar Dato' Sri penuh syukur.
Lelaki itu menggangguk perlahan, "Saya bersyukur file itu datang tepat waktu pada Dato' Sri" ucapnya mengingat informasi dari pihak pasukan kerajaan yang mengatakan bahwa kemungkinan Dato' Faisal akan membawa Intan bersembunyi.
Dato' Sri menghela nafas leganya, ia juga mengingat hal yang sama. "Ya. Pasukan Sultan tiba tepat waktu. Mereka langsung membawa dua penzina tu beserta beg pakaian mereka" ucapnya sembari melirik jam tangannya. "Saya rasa sudah terlalu lama kita berbincang. Maafkan saya telah membuat awak menunggu. Silahkan tengok wanita tu, selepas itu biarkan saya yang memberinya pelajaran terakhir. Awak tak perlu lagi datang dan melihatnya. Karena saya bertekad mengakhiri nyawanya" ungkap Dato' Sri terang-terangan.
Lelaki dengan berkas ditangannya berdiri dan menggangguk sopan pada bangsawan jiran dihadapannya. Seorang pengawal yang sejak tadi berdiri di belakang Dato' Sri mempersilahkan lelaki itu untuk mengikuti langkahnya menuju penjara bawah tanah.
Dalam hatinya ia bersyukur, bahwa ia tak perlu mengantarkan jasad wanita itu pada Tuannya. Karena ucapan Dato' Sri sudah mengisyaratkan bahwa Intan akan berakhir dengan kematian.
🍁🍁🍁
Kelopak mata itu terbuka perlahan ketika telinganya mendengar suara dentuman dari besi yang saling berbenturan. Wajahnya tertunduk lesu, ekor matanya melirik dua pasang kaki sedang berdiri di balik pintu jeruji.
Sambil meringis menahan sakit dari pergelangan tangan yang diikat kebelakang, Intan mencoba menegakkan kepalanya, mencari tahu siapa yang hendak masuk kedalam penjara tempatnya meringkuk dengan luka siksaan yang terasa menyakitkan.
__ADS_1
Matanya terbelalak sempura, ketika ia melihat seseorang yang amat ia kenal berdiri dihadapannya. "To-mi?! Tomi? Kau kah itu?!" ucapnya tak percaya.
Sekilas bibirnya tersenyum tipis, hatinya merasa lega melihat bawahan suaminya tengah duduk di kursi yang dibawa seorang pengawal untuknya. Dia berpikir bahwa keberadaan Tomi adalah untuk membebaskannya. Pasti Sabiel telah memaafkannya, lelaki itu tidak akan tega membiarkan istrinya mendapat siksaan sedemikian kejam dari orang lain. Ya! Sabiel pasti menyuruh Tomi untuk membawanya pergi dari negeri terkutuk ini.
Tanpa terasa, perasaan haru menyelimuti hatinya yang gersang. Sudut mata Intan berlinang air mata. Dalam hatinya, ia mengingatkan dirinya sendiri untuk memohon maaf pada Sabiel dan Laura. Ia berjanji akan menuruti apapun keinginan mereka.
Tomi yang sejak tadi diam, mengawasi raut wajah kebahagian dari paras Intan yang berantakan. Hukuman rajam yang pihak kerajaan berikan, berhasil membuat kecantikan wajah Nyonya itu menghilang seketika. Lebam dan noda darah, membekas di beberapa sisi. Kepalanya yang kini tengah diperban semakin memperparah tampilan nyonya angkuhnya.
"Tomi, mendekatlah.. Lepaskan ikatanku" pinta Intan yang masih duduk meringkuk di lantai.
Tomi menuruti keinginannya tanpa mencela, lelaki itu berjongkok dan melepaskan ikatan di pergelangan tangan Intan. Perasaan Intan semakin membuncah oleh rasa bahagia. Sabiel benar-benar mengirim Tomi untuk menjemputnya. "Sabiel menyuruhmu membawaku kembali bukan?" tanyanya percaya diri.
Tomi hanya diam. Sorot matanya mengawasi Nyonya Intan yang tengah berusaha berdiri dan langsung sibuk merapikan penampilannya dengan sia-sia. Tangannya menepuk-nepuk pakaiannya yang lusuh.
"Aku harus berganti pakaian dulu, dan aku ingin kau mengantarku pergi berobat. Wajahku terasa sakit, kepalaku juga terasa pusing. Mereka benar-benar menyiksaku, Tom. Nanti kau harus membalas perbuatan mereka untukku. Aku akan minta Sabiel untuk melaporkan penyiksaan ini" cerocos Intan membuat Tomi menyunggingkan bibirnya.
Ternyata hukuman tak membuat watak Nyonyanya berubah. Dia masih saja bertingkah angkuh. Dan lebih parah lagi, Tomi tak habis pikir, mengapa Nyonya Intan masih bisa begitu percaya diri berpikir bahwa ia datang untuk melepaskannya dari penjara istana. Apa batu-batu itu telah membuat otaknya sedikit bergeser? Bagimana bisa ia berpikir bahwa Tuan Sabiel telah memaafkannya dan ingin membebaskannya dari hukuman ini?
"Apa yang kau bawa?" tanya Intan melihat pada berkas yang Tomi taruh di kursi.
Lelaki itu berjalan mendekati kursi dan membuka berkas yang ia bawa. "Tuan ingin anda menandatangi ini semua, Nyonya" ucapnya menyodorkan beberapa berkas dihadapan Intan.
Intan melihat berkas itu, ia mengangguk cepat membaca surat persetujuan perceraian di tangannya. "Baiklah, aku akan tanda tangani, Sabiel telah membuatku bebas dari penjara ini. Setimpal rasanya jika aku mengikuti keinginannya" ucapnya percaya diri.
Tomi terus saja diam, lelaki itu membiarkan benak Nyonya-nya berkhayal tentang kebebasan, matanya melihat tangan nyonya Intan tergesa menandatangi berkas itu hingga habis, dengan pena yang tadi ia berikan."Apa hanya ini yang harus aku tanda tangani?" tanya Intan sembari menyerahkan pena dan berkas itu pada Tomi.
"Hanya ini nyonya. Dengan begini, perceraian akan tetap selesai tanpa kehadiran nyonya" ucapnya memasukkan kembali berkas itu.
"Apa maksudmu? Aku bisa hadir ke pengadilan itu. Lagipula aku harus bertemu untuk meminta maaf pada suamiku" sanggah Intan. Matanya memperhatikan Tomi yang tengah bersiap.
Ketika Tomi hendak melangkah keluar penjara, Intan mengikuti langkah kakinya. Begitu melintasi pintu penjara, dua orang penjaga langsung menahannya. Sementara Tomi berjalan menjauh dari posisi Intan.
"Apa-apaan ini?! Lepaskan aku! Tomi! Tomi, beritahu mereka bahwa kau datang untuk membebaskanku" seru Intan pada Tomi yang diam menatapnya dikerumuni penjaga.
"Saya tidak datang untuk membebaskan anda Nyonya. Bagaimana saya bisa membebaskan anda, sedangkan Tuan Sabiel sendiri menginginkan jasad anda"
Intan membulatkan matanya mendengar ucapan Tomi. "Tidak mungkin! Tidak mungkin Sabiel menginginkan kematianku!" Intan menggelengkan kepala sementara para penjaga menyeret tubuhnya untuk masuk kembali kedalam penjara.
Tomi membalikkan badan ketika Intan sudah dikunci di dalam sana, langkah kakinya diiringi suara teriakan dan umpatan yang keluar penuh emosi dari mulut Nyonya Intan.
"TOMI!! LIHAT SAJA KAU. AKU AKAN MEMBALAS SEMUA INI! AKU-AKU AKAN MEMBUNUHMU DAN SEMUA YANG MENYIKSAKU DISINI!!" teriak Intan dengan putus asa.
Tubuhnya langsung ambruk di depan pintu penjara, tangannya gemetaran memegangi jeruji besi itu. Tampaknya malaikat maut, masih ingin mempermainkan hidupnya.
__ADS_1
🍁🍁🍁