
Laura mengerjapkan matanya ketika merasa Sabiel sedang meniupi wajahnya. Wanita itu memicingkan mata menatap malas pada kejahilan suaminya di pagi hari.
"Bangun sayang. Lihat, mentari sudah bersinar sejak tadi" ucap Sabiel sembari berjalan menuju gorden dan menyibak gorben tersebut.
Laura menggeliat dan meraba perutnya yang masih datar, wanita itu memilih meringkuk kembali dengan menekuk lututnya hingga mendekati perut. "Aku masih ngantuk" sahutnya dengan wajah malas.
Sabiel tersenyum hangat, ia melangkah menghampiri Laura di ranjang dan duduk di tepi ranjang itu. Tangannya membelai lembut pipi mulus Laura. "Aku sudah buatkan sarapan untukmu" ucapnya dengan penuh cinta.
Laura menatap mata Sabiel setengah tak percaya, "Kau membuat sarapan? untukku?" tanyanya sembari bangun dari tidur malasnya.
Sabiel menaikkan alisnya, matanya mendelik menatap Laura, "Kau meragukanku, sayang?" tebaknya.
Laura menyeringai menggemaskan, "Mana sarapanku? Aku ingin mencoba masakanmu" tanya Laura tak sabar.
Sabiel mengecup kening Laura sebelum ia beranjak dari ranjang. Kakinya yang jenjang melangkah menghampiri meja sofa, ia mengambil nampan rotan dengan menu sarapan yang ia buat beberapa saat yang lalu. Kehadiran jabang bayi dalam rahim Laura, membuat Sabiel ingin memanjakannya.
Langkahnya berubah hati-hati ketika ia menaruh nampan rotan yang berbentuk seperti keranjang di depan Laura yang sudah bersilang kaki. Bulu mata lentiknya mengerjap melihat empat tangkup sandwich tuna, scramble egg, susu ibu hamil, lengkap dengan semangkuk kecil salad buah. Makanan itu berhasil membuat Laura tergugah untuk segera melahapnya. Pandangannya menatap Sabiel dengan menggoda, "Aku baru tahu kau bisa memasak" pujinya membuat hidung Sabiel kembang kempis karena bangga.
Tanpa menunggu lama, Laura menyantap masakan itu. Sementara Sabiel, bergerak untuk naik ke atas ranjang dan duduk bersilang di hadapan Laura. Senyumnya lebar memandang wajah istri cantiknya yang tengah mengunyah sandwich tuna dengan penuh ekspresi. Lelaki itu gemas melihatnya, ia mencondongkan tubuhnya melintasi nampan yang berada di tengah, untuk menggapai pipi Laura dan menciumnya mesra.
"Kau cantik" ucapnya sembari mengelus pipi yang sibuk mengunyah itu.
Tangan Sabiel beralih pada perut datar Laura, ia membelainya lembut. Perasaan hangat menjalari tubuhnya sejak kemarin saat berada di rumah sakit. Bayangan benihnya yang meringguk seperti larva dalam pupa, membuatnya tidak berhenti mengucapkan rasa syukur pada Tuhan, karena akhirnya diberikan kesempatan paling berharga untuk merasakan menjadi orangtua.
"Sabiel, hentikan" Laura menepis belaian lembut itu. "Kau membuatku geli sayang" ucapnya kemudian.
Sabiel tersenyum hangat, "Aku masih takjub dengan kehadirannya" ujar lelaki itu. Ia menggigit sandwich yang Laura sodorkan padanya. Mengunyahnya sambil menatap mesra wajah cantik istrinya.
"Dia masih terlalu kecil. Belum bisa kau rasakan" ucap Laura. Tangannya meraih gelas susu kemudian meminumnya.
Drrrrttt... Drrrttt... Drrrtttt...
Ponsel Laura yang diletakkan di nakas mengusik ritual pagi romantis mereka, Sabiel mengambilkannya untuk Laura. Dia melihat layar ponsel Laura, dan wajahnya berubah terkejut seketika.
"Siapa?" tanya Laura memperhatikan wajah Sabiel sembari meraih ponsel dari tangan suaminya.
Keterkejutan Sabiel menular padanya, begitu ia mengetahui siapa yang telah menghubunginya pagi itu. "Paman?" ucapnya terbata.
Mata Laura bersitatap dengan mata hitam legam Sabiel, tanpa berkata lelaki itu menganggukkan kepala pada istrinya agar menjawab panggilan itu. Dengan hati didera rasa cemas, Laura meletakkan ponsel itu ditelinga ketika suara yang telah ia kenal baik terdengar menahan amarah.
"Dimana kau Laura?!" nada suara paman Ali yang setengah menggeram, membuat jantung Laura berdebar semakin cepat.
🍁🍁🍁
Suara hujan turun menambah suasana mencekam di ruang keluarga itu. Matahari seolah tak berdaya bersinar mengalahkan awan pekat yang sempurna menutupinya. Siang menjelang sore hari yang kelabu, membuat Laura merasa sesak oleh himpitan rasa takut ketika matanya melihat suami tercinta sedang berlutut dihadapan paman Ali yang duduk di sofa.
Laura tak kuasa melihat lebam yang mulai tampak di wajah suaminya. Paman Ali datamg beberapa saat yang lalu setelah Laura mengatakan alamat apartemennya. Adik ayahnya itu turun dari taksi dengan wajah penuh murka.
__ADS_1
Tinjunya langsung menghantam wajah Sabiel ketika pintu apartemen dibuka sendiri oleh Sabiel. Teriakan Laura bahkan tak berhasil membuat paman Ali untuk berhenti menjadikan suaminya samsak. Sabiel dipukuli tanpa ada keinginan untuk membela diri. Lelaki itu sadar dan mewajarkan luapan emosi paman istrinya saat itu. Posisinya memang dia yang bersalah.
Lelaki paruh baya itu menatap tajam Sabiel yang berlutut dihadapannya, matanya melirik sekilas pada Laura yang berdiri di belakang Sabiel dengan jemari saling meremas.
"Apa yang sudah kau lakukan?!" tanya paman Ali dengan nafas tersenggal. Seumur hidupnya, baru kali ini ia memukuli seseorang hingga babak belur.
Sabiel diam, pandangannya tertunduk semakin dalam ketika mendengar pertanyaan itu. Paman Ali geram melihat dua manusia di hadapannya, terlebih Sabiel yang tak mengucapkan apapun sejak ia memukulinya dengan membabi buta.
"Jawab aku!" bentaknya sambil mengepalkan tangan.
"Maafkan aku paman" ucap Sabiel pada akhirnya. Suaranya tegas tanpa sedikit pun terdengar takut.
"Maaf?!" paman Ali memicingkan matanya.
"Paman.... "
"Diam kau!" paman Ali langsung memotong ucapan Laura. "Aku sedang berbicara padanya" telunjuk paman Ali diarahkan pada Sabiel.
Laura tersentak kaget, suara pamannya baru ia dengar semengerikan ini. "Jelaskan padaku, apa yang terjadi? Kalian menikah? Benar itu?" tanyanya penuh tuntutan.
Mendengar pertanyaan itu, Sabiel berpikir darimana paman Ali mengetahui masalah pernikahannya dengan Laura. Benaknya mencoba menebak darimana kabar itu sampai pada telinga paman istrinya. Namun ia tidak menemukan jawabannya.
"Sabiel!!" paman Ali geram melihat Sabiel yang masih bungkam.
Sabiel tak langsung menjawab, lelaki itu mendongah menatap penuh rasa sesal pada bola mata paman Ali yang berkilat emosi. "Kami memang sudah menikah paman"
Paman Ali menarik kerah baju Sabiel, mengangkatnya sekuat tenaga hingga tubuh Sabiel sedikit terangkat. "Apa kau sudah gila!?" tanyanya menatap tajam bola mata Sabiel.
Lelaki itu langsung menghempaskan Sabiel. Hingga Sabiel terduduk kembali dengan posisi bersimpuh. Paman Ali berjalan mengampiri Laura, matanya melihat kilat ketakutan dalam raut wajah cantik keponakannya itu.
"Apa yang sudah kau lakukan Laura? Apa kau tidak menganggap kami? Keluargamu sendiri?" nada suara kecewa terdengar jelas di telinga Laura, kedua tangan pamannya bergetar memegangi sisi kedua pundak Laura.
Laura tertunduk dengan linangan air mata. Ia sadar telah mengecewakan keluarganya dengan fakta pahit pernikahannya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain memohon maaf atas segala kekecewaan yang ia torehkan di hati pamannya.
Sabiel mendengar isakan tangis Laura yang pilu, ia menolehkan kepalanya kebelakang. Matanya melihat ekspresi wajah sendu Laura dengan derai air mata. Hati Sabiel berdenyut menahan nyeri. Ia berdiri dari posisinya, mengampiri Laura dan menarik Laura kesampingnya. Sabiel tak peduli dengan tatapan murka yang menguar kuat dari wajah paman Ali.
"Ini bukan salah Laura, paman" ucapnya tegas. Paman Ali menatap nanar jemari Laura yang mencengkram erat pergelangan Sabiel. Tubuh mungilnya bergetar hebat mengiringi deras air mata yang mengalir dari bola mata coklatnya.
Dengan langkah kaki gemetaran, paman Ali membalikkan badannya. Lelaki paruh baya itu berjalan tertatih mendekat pada sofa dan menjatuhkan diri disana. Apa yang terjadi dihadapannya, bukanlah sesuatu yang bisa ia terima begitu saja. Mereka berdua dengan lancang membohongi keluarganya sendiri sekian lama. Wajah gusarnya menengadah pada langit ruangan yang tinggi. Pikirannya terasa mengawang memikirkan segala yang terjadi pada keponakannya.
Bagaimana ia menjelaskan pada kakaknya nanti? Apa yang akan terjadi jika kakaknya yang sedang sakit parah mengetahui fakta ini?
"Sabiel, apa kau sadar dengan apa yang kau lakukan?" tanyanya tanpa melihat pada Sabiel yang kini tengah mendekap Laura.
Sabiel mengusap rambut Laura berulang, mencoba memberikan sedikit ketenangan pada belaiannya. "Aku sangat sadar paman. Aku yang salah, aku yang lebih dulu mencintai keponakan paman" ucap Sabiel menatap paman Ali yang kini menatapnya datar.
"Tapi kenapa kalian menikah diam-diam? Jika kau menginginkan Laura, kau bisa memintanya langsung pada kami sebagai keluarganya" ucap paman Ali yang belum mengetahui fakta sebenarnya dibalik pernikahan siri yang Sabiel lakukan.
__ADS_1
Laura menatap wajah suaminya, air matanya mulai surut dengan menyisakan segukan di dada. "Ada sesuatu yang belum paman ketahui mengenai semua ini" ucap Sabiel menatap paman Ali.
"Maka ceritakan semuanya, buat aku mengerti dengan kelakuan nekat kalian ini" tuntut paman Ali.
Tangan Laura berusaha menahan Sabiel untuk mendekati pamannya, wanita itu menggelengkan kepala memandang wajah suaminya agar tidak menceritakan fakta yang telah lama mereka kubur. Masa lalu tetap masa lalu, apa yang terjadi di masa itu tidak ingin Laura munculkan kembali kepermukaan. Laura sudah ikhlas, wanita itu menerima Sabiel menjadi suaminya. Dan ingin melupakan saat-saat paling buruk yang pernah terjadi di masa lalu mereka.
Tapi tidak dengan Sabiel. Kehadiran jabang bayi di rahim Laura membuatnya ingin menyelesaikan segala sesuatu yang membebani hatinya. Termasuk memohon maaf atas kelancangannya memaksa Laura untuk menikah dengannya. Sabiel tidak ingin memulai perjalanan kehidupannya bersama Laura dan anaknya dengan menyimpan sebuah kebohongan.
Sabiel berjalan setelah menepis lembut jemari Laura yang menahannya. Langkah kakinya tegas menapaki lantai marmer yang berkilat. Lelaki itu kembali bersimpuh, berlutut dihadapan paman Laura yang menatapnya penuh curiga.
"Paman...."
Panggilan Sabiel mengawali cerita kelam itu. Bibirnya lancar menceritakan bagaimana ia menarik paksa Laura untuk hidup bersama dengannya. Sorot matanya mengawasi raut wajah paman Laura yang terlihat kaget mendengarkan ucapannya. Kedua tangan lelaki itu masih terkepal erat, menahan diri untuk tidak menghantam wajah lelaki kurang ajar yang telah membuat keponakannya mengalami nasib naas.
Pandangan paman Ali beralih pada Laura ketika wanita itu berjalan cepat menghampirinya dan ikut berlutut mendampingi suaminya. Kedua tangannya terkatup di depan dada, bola matanya menatap memelas pada sang paman. Disela cerita Sabiel yang suram, Laura menimpali cerita itu dengan kenyataan manis bahwa kini hatinya menerima Sabiel dan mencintai lelaki itu.
Laura terus memohon agar pamannya dapat memaafkan Sabiel dan menerima mereka sebagai suami istri. Sabiel meremas pundak Laura lemah, "Sayang.." ucapnya lirih.
Hati Sabiel seperti diremas melihat raut wajah Laura yang sembab dengan air mata yang kembali menderas. Sabiel tak tega melihat Laura berlutut hanya untuk meminta maaf atas kesalahannya di masa lalu. Wanita yang dulu membencinya sedemikian rupa, kini menangis tersedu hanya karena ingin pamannya memaafkan lelaki yang telah menjeratnya dalam sangkar cinta yang menyesatkan.
"Paman, Sabiel memang bersalah, dia sudah mengakui itu. Sekarang semuanya telah berubah. Aku istrinya, aku menerima Sabiel menjadi suamiku, dan itu sepenuhnya karena aku mencintainya" ungkap Laura menatap sendu pamannya yang masih dirundung amarah.
"Kau membelanya, Laura? Dia telah membuatmu seperti ini dan kau masih membelanya?" paman Ali geram menatap Laura.
"Paman.."
"Diam kau!!" bentakan paman menggema memenuhi seluruh ruangan ketika Sabiel ingin membuka suaranya.
Di balik tembok ruang binatu, kedua pembantu Sabiel gemetar menyaksikan apa yang terjadi di ruang keluarga. Mata mereka terlihat cemas sekaligus merasa kasian melihat kedua majikannya bersimpuh di hadapan seorang lelaki yang tidak mereka kenal.
"Laura datang kesini bukan untuk menikah denganmu. Kami mengijinkannya tinggal di kota ini untuk memenuhi amanat ibunya. Tapi apa yang kau lakukan padanya? Kau memaksanya menjadi istri sirimu sementara kau sendiri belum bercerai dengan istrimu?" ucap paman Ali dengan nada keras. "Kau pikir kami ini siapa? Hingga kau tega membuat keponakanku menyandang status sebagai istri siri. Kau benar-benar menghina kami, Sabiel"
Paman Ali berdiri dari sofa, menghampiri Laura yang masih berlutut dan menarik pergelangan tangan wanita itu agar berdiri. "Kau lebih baik kembali ke Jakarta, Laura"
Laura dan Sabiel terperangah kaget dengan ucapan paman Ali. Sabiel langsung berdiri, dan bergegas mengikuti langkah paman Ali yang memaksa Laura pergi dengannya.
"Paman, aku mohon maafkan aku paman" ucapnya mengiba sembari menahan langkah kaki paman Laura.
"Sayang..." suara serak Laura terdengar menyakitkan bagi Sabiel.
Paman Ali tak menghiraukan permohonan Sabiel, Ia terus berjalan sembari menarik lengan Laura untuk keluar dari apartemen itu.
"Paman... Laura mohon paman. Maafkan kami, Laura mohon paman" Laura mencengkram erat lengan atas pamannya dengan sebelah tangannya yang bebas.
Paman Ali menghentikan langkahnya, kepalanya terasa berat mendengar suara rengekan mengiba dari pasangan itu. Sabiel ikut menghentikan langkahnya dan langsung memegangi tangan Laura. Kini Laura berada ditengah kedua lelaki itu. Kedua tangannya sedikit terentang karena dipegangi oleh paman Ali dan Sabiel.
Mata paman Ali langsung menyosot tajam pada Sabiel yang ingin menarik Laura darinya. Masalah ini harus selesai saat ini juga. Tanpa pertimbangan apapun lagi, paruh baya itu mengultimatum Sabiel, "Ceraikan Laura!"
__ADS_1
🍁🍁🍁