Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 29


__ADS_3

Plaaakkk!


Suara tamparan keras terdengar nyaring di dalam sebuah mall mewah khusus para vvip menghabiskan uangnya. Semua mata disana terpaku pada sosok wanita berseragam yang tersungkur di kaki jenjang seorang wanita cantik. Bekas tamparan mulai memerah di pipi wanita itu.


"Matamu buta, huh?!" bentakan wanita angkuh yang berdiri menjulang memandang remeh pada pelayan yang tadi ia tampar.


"Maafkan saya nyonya. Saya tidak sengaja." ucap pelayan itu memohon, ia tak berani menatap lawan bicaranya. Karna ia tahu bahwa wanita yang menamparnya tadi adalah salah satu anggota vvip di mall tersebut.


"Kau lihat ini!" wanita itu memperlihatkan percikan air minum yang mengenai gaun mahalnya. "Kau tahu, untuk membersihkan noda sialan ini butuh biaya yang mahal. Gajimu saja tidak akan menutupi biayanya, bodoh!" nada suara keras kembali ia keluarkan kepada wanita yang masih bersimpuh di lantai.


"Nyonya Intan.." suara manager mall membuat kedua wanita itu menoleh pada sosok lelaki tampan dengan setelan pakaian eksekutif muda berjalan menghampiri mereka. Intan menyeringai licik melirik pada pelayan yang mulai tampak bergetar ketakutan dibawah sana.


"Ah, untung kau datang." ucap Intan lega. "Kau lihat ini. Bawahanmu yang kurang ajar itu membuat gaun mahalku ternoda." Intan mengadu kesal. Dia tak puas bila pelayan itu belum mendapat hukuman yang setimpal dengan kesalahannya.


Lelaki bernama Nathan itu melihat sekilas pada noda kecil di gaun Intan. Dia tersenyum hangat menatap wanita yang baru beberapa minggu ini terdaftar sebagai anggota vvip di mall tersebut, berkat Dato' Faisal.


"Saya mohon maaf atas kelancangannya, nyonya." lelaki itu membungkukan setengah badannya sopan pada Intan yang mendongahkan kepala dengan angkuh. "Kami akan mengganti kerugian anda dengan pakaian yang baru, saya sendiri yang akan mendampingi anda." ucapnya dengan sopan.


"Berdirilah, rapikan penampilanmu dan bereskan semuanya." ucapnya pada pelayan yang masih bergetar ketakutan di lantai, sebelum kemudian menggiring Intan untuk ikut bersama dengannya memilih pakaian mahal lain sebagai bentuk kompensasi atas keteledoran bawahannya.


Intan berjalan dengan sangat angkuh, dengan tas mahal hadiah Dato' Faisal di lengannya, ia melangkahkan kaki melewati barisan pakaian berbrand mewah.


Dia tidak menyangka, Dato' Faisal akan melimpahinya dengan semua kemewahan khas sosialita kelas atas yang selama ini ia idamkan. Ternyata menjadi simpanan lelaki kaya raya sangat menyenangkan bagi Intan. Dia hanya perlu membuka lebar selangk*ngannya, maka semua kemewahan kelas satu akan dia dapatkan.


Dalam hatinya, Intan menyeringai puas atas pencapaiannya. Di Indonesia dia dimanjakan dengan semua kekayaan Sabiel, suaminya. Sedangkan di Singapura dia mendapatkan semua kemewahan dari selingkuhannya.


Intan merasa dirinya berada diatas awan. Kini dia bisa memiliki segalanya. Dengan kekayaan dua lelaki yang berada di bawah kakinya.


Langkah kakinya berhenti sejenak, ketika ponsel dalam tasnya terdengar berdering. Wanita angkuh itu merogoh tasnya. Melihat nama selingkuhan kaya rayanya tertera di layar ponsel. Dia tersenyum senang sembari mengangkat panggilan itu.


"Halo sayang." sapanya dengan nada manja dibuat-buat. Nathan yang berjalan sedikit didepannya menengok sekejap kebelakang, mendapati nyonya muda itu sedang tersenyum riang menerima panggilannya.


Sambil terus melangkah mengikuti manager mall, Intan berbincang dengan Dato' Faisal.


"Kau masih belanja, Intan?" tanya Dato' di seberang sana.


"Iya Dato', aku masih di mall." sahutnya senang. "Aku tidak tahu harus berterima kasih seperti apa pada Dato', Dato' membuat aku merasakan pelayanan prima para pelayan disini berkat kartu vvip yang Dato' berikan padaku."


"Hahaha.." Dato' Faisal tertawa senang mendengar ucapan Intan. "Kau cukup ucapkan terima kasihmu di atas ranjang, sayang." ucapnya menggoda.


"Ah, Dato' bisa saja." suara Intan disertai desahan.


"Kapan kau akan selesai dari sana?" tanya lelaki buncit itu.


"Sebentar lagi mungkin." sahut Intan. "Kenapa Dato'?" tanyanya kemudian.


Langkah kakinya berhenti mengikuti Nathan yang berhenti tepat di barisan gaun berbahan satin yang tampak mewah. Intan menatap sekilas pada Nathan di sebelahnya, meminta waktu sebentar untuk menuntaskan panggilannya. Nathan mengangguk tanda mengerti.


"Lekas kau selesaikan belanjamu itu, lalu kembali ke apartemen. Aku akan kesana sebentar lagi." perintah Dato' Faisal. Intan tersenyum mengerti apa maksudnya.


"Baiklah, aku mengerti sayang."


"Jangan terlalu lama Intan. Yang dibawah sini sudah waktunya kau servis, aku tidak tahan." Dato' Faisal menggeram menahan nafsu yang tiba-tiba mencuat.


"Siap Dato'ku sayang." jawab Intan manja.


Intan mematikan kembali ponsel, dengan wajah sumringah dia menatap Nathan yang siap melayaninya.


"Bisa kau tunjukkan lingerie terseksi dan mewah yang ada disini?" pertanyaan Intan, membuat Nathan sedikit terkejut dibuatnya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Laura mengerutkan kening seperti sedang menahan sakit yang tiba-tiba terasa kuat di kepalanya. Gadis itu merasa seperti berada di awang-awang, kesadarannya yang belum pulih sempurna membuat pandangannya sedikit berkabut memandang langit kamar yang tampak asing bagi dirinya.


Dia melihat berkeliling dalam posisi tidur terlentangnya. Mencoba meraba akan dimana dirinya berada. Kesadaran yang semakin terasa pulih, membuat Laura berusaha untuk bangkit dari tidurnya. Matanya berkeliaran melihat kondisi kamar mewah yang sedang ia tempati.


Laura memicingkan mata, berusaha untuk menajamkan telinga mendengar suara seseorang yang tampak akrab di pendengarannya. Dia melihat pada satu pintu yang berada tak jauh dari ranjang king size tempat dia tertidur, merasa yakin bahwa suara itu berasal dari dalam sana.


Tak berapa lama gadis cantik itu terperanjat kaget, ketika lelaki tampan dengan kemeja hitam melekat pas di tubuhnya berjalan keluar dari pintu, lelaki itu menghampirinya.


Mata hitam legam lelaki itu tajam menatap Laura yang terkejut melihatnya berjalan pelan, bersama seorang lelaki bertopi yang kemudian Laura ingat, bahwa lelaki itulah yang membekapnya saat di stasiun.


"Saya undur diri, Tuan." lelaki bertopi itu membungkuk sopan pada lelaki berkemeja hitam.


Ceklek.


Pintu tertutup. Meninggalkan dua orang manusia yang saling berhadapan dalam jarak yang cukup dekat.


"Sa-biel?" Laura terbata memanggil lelaki yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


"Hai, Laura. Lama tak bertemu." Sabiel tersenyum hangat menatap lekat Laura yang masih didera rasa kaget.


Sabiel melangkah perlahan, menghampiri Laura yang masih duduk di ranjang. Mata gadis itu mengikuti tubuh Sabiel bergerak, pandangannya tajam mendelik penuh rasa waspada.


"Apa yang sudah kau lakukan padaku?" tanya Laura pada Sabiel yang duduk di tepi ranjang.


Lelaki itu tersenyum.


"Tidak bisakah kau berhenti menatapku dengan tatapan seperti itu?" Sabiel merasa terganggu dengan tatapan Laura yang memandangnya curiga.


"Jawab dulu pertanyaanku? Apa yang sudah terjadi? Mengapa aku berada disini?" suara Laura mulai meninggi.


"Kau tidak ingat?" ucap Sabiel.


Laura memilih segera bangkit dari ranjang itu. Ia menyibakkan selimbut tebal yang menutupi sebagian tubuhnya. Sabiel menarik lengan Laura ketika gadis itu hendak turun dari ranjang. Laura terduduk tepat disamping Sabiel.


"Mau kemana?" tanya Sabiel menggeram.


"Apa maksudmu? Tentu saja aku akan pergi dari sini." sahut Laura lugas. Dia berusaha melepaskan genggaman erat tangan Sabiel di lengannya. Sabiel malah semakin mengeratkan genggamannya, hingga Laura meringis menahan sakit.


"Kau tidak bisa pergi dari sini, Laura." geraman Sabiel terdengar mengerikan bagi Laura. Matanya menatap bola mata Sabiel yang berkilat oleh amarah.


"Kenapa? Kenapa aku tidak bisa pergi?" Laura memberanikan diri bertanya dengan sikap menantang pada Sabiel.


"Karena kau milikku." ucap Sabiel posesif.


Laura terkejut. Pandangannya memandang muak pada lelaki yang masih menggenggam lengannya itu.


"Kau gila! sejak kapan aku setuju menjadi milikmu, huh?!" sergah Laura, dia menghempaskan genggaman tangan Sabiel dengan percuma.


"Setan apa yang merasukimu, Sabiel. Mengapa sikapmu berubah menakutkan seperti ini." gumam Laura dalam hati.


"Sejak hari ini." ucap Sabiel tak terbantah.


Mata Sabiel mengawasi raut wajah Laura yang menyimpan kemarahan. Senyum sinis terpatri dalam bingkai parasnya yang cantik. Laura tampak memandang rendah Sabiel.


Sabiel tak tahan melihat raut wajah itu, dia tarik Laura hingga tertidur di ranjang dengan kaki menjuntai di tepian. Tubuhnya langsung merangsek bertumpu pada lutut mengangkangi tubuh Laura dibawahnya. Mata gadis itu terkejut sekaligus ngeri dengan aksi Sabiel yang spontan.


"Sabiel!!" tangannya memukul keras dada lelaki yang kini menatapnya buas.


"Aku bilang kau milikku, Laura." bisiknya parau.


"Aku bukan milikmu dan tidak akan pernah menjadi milikmu!!" bentak Laura membuat Sabiel semakin geram.

__ADS_1


Tangan sabiel mencengkram erat leher Laura. Membuat gadis itu tersedak karna lehernya tertekan. Tangan Laura berusaha melepaskan tangan Sabiel dari lehernya.


"Le-pas.. lepas Sa-biel!" sekuat tenaga Laura melepaskan cekikan itu.


Sabiel tak bergeming, tatapannya dingin menyaksikan wajah Laura yang memerah karna cekikannya.


"Aku akan paksa kau untuk menjadi milikku." Sabiel melepaskan cekikannya dan langsung mel*mat bibir Laura yang terbuka.


Sabiel mencumbunya sepenuh gairah. Rontaan Laura tak berarti apapun pada dirinya, lelaki itu hanyut dalam kesenangan seksual yang ia dapatkan dari tubuh mungil gadis dalam kungkungannya. Bagai seorang perompak bajak laut, yang lupa daratan karena sibuk menikmati barang hasil rampasannya.


Pada akhirnya insting perlawanan Laura bertindak tepat waktu. Gadis itu menendang selangk*ngan Sabiel kuat. Meskipun tak tepat sasaran, namun tendangannya berhasil membuat Sabiel terjengkang ke arah samping. Laura segera bangkit dari posisinya. Dia berlari menuju pintu hotel sambil sibuk mengeratkan kembali pakaiannya yang terbuka karena ulah Sabiel.


"Kau tidak akan bisa pergi, Laura!" suara Sabiel menghentikan langkah tergesa Laura.


Gadis itu menengok pada Sabiel, melihat beberapa lembar foto yang lelaki itu angkat dengan sebelah tangannya. Wajahnya bengis tersenyum penuh kemenangan.


"Pergilah jika kau ingin foto-foto ini sampai pada ayahmu." Sabiel melemparkan lembaran foto itu dekat dengan posisi Laura berdiri.


Kaki Laura terpaku tak mampu beranjak, pandangannya nanar melihat foto yang berserakan di lantai. Gadis itu melangkah dengan perasaan cemas, ia memungut beberapa lembar foto terdekatnya.


Tubuhnya bergetar menahan luapan amarah yang tetiba muncul seiring matanya melihat foto-foto itu. Foto dirinya dalam kondisi terlelap tanpa busana, bersama seorang lelaki yang memeluknya erat. Lelaki itu tak memperlihatkan wajahnya, namun Laura yakin bahwa ia pasti adalah Sabiel.


Matanya melihat foto yang lain, disana tergambar jelas perbuatan vulgar Sabiel yang sedang asik menenggelamkan diri di antara dadanya. Lagi-lagi tanpa mengekspos wajahnya. Sepertinya Sabiel memang berniat untuk membuat keluarga Laura berfikir bahwa Laura telah berbuat asusila dengan lelaki tanpa ikatan, tanpa mengetahui keterlibatan Sabiel dalam foto itu.


"Pengecut!!" teriak Laura menggema dalam ruangan. Matanya menatap jijik pada Sabiel yang tengah menyeringai memandang angkuh kekalahannya. Tangan Laura meremas foto-foto itu membabi buta, ia robek menjadi serpihan kecil.


"Aku masih menyimpan banyak foto seksi kita sayang." ucapan Sabiel meruntuhkan sudah pertahanan Laura. Kakinya lemas tak mampu menopang berat tubuhnya. Gadis itu ambruk, bersimpuh memandangi serpihan foto-foto yang berserakan di hadapan matanya.


Sabiel menatap Laura dengan puas. Foto yang ia ambil sendiri ketika Laura pingsan, akan menjadi alat paling ampuh untuk membuat Laura berhenti lari dari dirinya. Terlebih lagi ancaman terkait ayah Laura, sudah pasti menjadi ancaman yang tidak bisa Laura tepis.


"Selangkah saja kau keluar dari kamar ini, aku pastikan foto vulgar kita itu akan sampai pada keluargamu di Jakarta." Sabiel kembali mengancam.


"Apa-apa yang sudah kau lakukan, Sabiel?" Bagaimana bisa...bagaimana bisa kau berbuat seperti ini padaku?" suara Laura tercekat. Air matanya keluar tanpa bisa ia tahan lagi. Dia tidak menyangka, Sabiel bisa berbuat sampai sejauh ini.


"Kau yang memaksaku untuk melakukan ini padamu, Laura." Sabiel bangkit dari ranjang, ia berjalan menghampiri Laura yang bersimpuh di lantai. "Kau menolakku dan memaksaku untuk berbuat sejauh ini"


Laura memandang tak percaya pada ucapan Sabiel. Bagaimana bisa hanya karena menolaknya, Laura harus mendapat perlakuan seperti ini.


"Aku menolakmu karena aku tak memiliki perasaan apapun kepadamu Sabiel. Tidakkah kau mengerti? Apa otakmu terlalu bebal untuk mengerti isi hatiku?" bola mata Laura memandang jengah lelaki yang berjongkok dihadapannya itu. "Lagipula kau sudah memiliki istri. Bagaimana bisa kau memaksaku menjadi milikmu sementara kau sudah memiliki wanita yang sah di sisi mu?!"


"Jika kau tak memiliki perasaan padaku, maka akan aku buat perasaan itu hadir. Urusan Intan, itu akan menjadi urusanku. Bukan urusanmu." ucap Sabiel dengan egois.


"Cih." Laura berdecih. "Lalu, dengan semua foto ini. Apa yang kau inginkan dariku?"


"Menikahlah denganku." ucapan Sabiel bagai dentum meriam di malam yang sunyi. Tubuh Laura bergetar menahan sembilu yang merayapi sekujur tubuhnya.


Laura tak bisa lagi menahan amarahnya. Gadis itu mengepalkan tangan erat mencoba sekuat yang ia bisa untuk tetap tenang menghadapi lelaki yang benar-benar sudah tidak waras di hadapannya.


Sabiel memperhatikan perubahan raut wajah Laura. Dia menyeringai sambil berdiri dari posisinya. Lelaki itu dengan santai berjalan menuju sofa, dengan ponsel tergenggam erat ditangannya.


"Semua terserah padamu Laura. Terima atau tidak, semua ada konsekuensinya" ucap Sabiel sembari mendudukan diri di sofa.


Mata Laura memicing menatap tajam pada lelaki yang hendak meletakkan ponsel pada telinganya.


"Halo.. Ayah?" ucapnya melirik Laura yang membelalakan mata. "Bagaimana kabar ayah? Laura? Ah mungkin ponselnya sedang mati." ucapnya dengan nada suara dibuat ramah. Lelaki itu mengawasi Laura yang bangkit dan berjalan menghampirinya dengan ragu.


"Ayah, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan..." Sabiel menghentikan ucapannya ketika tangan Laura memegangi sebelah tangannya yang lain.


"Aku akan menikah denganmu." bisiknya lirih dengan berderai air mata, kontras dengan ekspresi senang dan puas yang muncul bersamaan di raut wajah Sabiel.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2