Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 12


__ADS_3

Laura berlari sekencang mungkin meninggalkan ruang kelas. Dadanya berdentum semakin kencang, kegelisahan membalut paras cantiknya saat itu ketika ia mengingat kembali pesan yang dikirim oleh pamannya yang mengabarkan bahwa ayahnya terbaring sakit di salah satu rumah sakit swasta Ibukota.


Air mata Laura mengalir tanpa bisa dicegah, kondisi ayahnya memang semakin buruk sepeninggalan ibunya. Ayah Laura divonis mengidap penyakit jantung. Sejak awal penyakit itu menyerang ayah Laura, Laura meminta ayahnya untuk tinggal bersama adiknya di rumah peninggalan neneknya. Hal itu Laura sarankan berdasarkan masukan dari pamannya sendiri. Laura yang anak tunggal, tidak mungkin meninggalkan ayahnya yang sedang sakit seorang diri.


Jarak Bandung dan Jakarta yang cukup jauh tak membuat Laura absen untuk selalu memantau kesehatan ayahnya. Disela-sela kesibukkannya berkuliah, Laura selalu menghubungi ayahnya atau paman bibinya untuk mengetahui bagaimana kondisi ayahnya saat ini.


Ayah Laura sendiri sejak ia divonis mengidap jantung, tidak pernah sekalipun terlihat sakit atau lemah. Ayah Laura selalu memberi kesan pada putrinya bahwa ia dalam kondisi baik-baik saja. Maka dari itu, ketika Laura mendapat pesan dari pamannya, tubuh Laura terasa lemas. Tatapannya yang semula fokus pada mata perkuliahan hilang sudah. Laura jadi gelisah, beberapa kali ia membetulkan posisi duduknya tanpa menghiraukan pandangan heran dari Rena yang duduk disampingnya. Bahkan saat Rena menyadari kegelisahan Laura, dan bertanya padanya. Laura tampak diam, tenggorokannya seperti tersekat hingga tak ada kata apapun yang keluar dari mulutnya.


Laura terus berlari menuju gerbang kampus, tujuannya adalah stasiun kereta api. Dia harus pulang saat ini juga.


"Laura!"


Sebuah suara menghentikan langkah cepat Laura. Dia menghapus airmatanya sebelum ia melihat pada sumber suara. Sabiel berdiri di depan mobilnya yang terparkir tak jauh dari gerbang kampus.


"Apa yang terjadi denganmu?" Sabiel berjalan menghampiri Laura yang terdiam kaku. Ia tampak khawatir melihat bekas air mata dan sembab di wajah Laura yang terlihat memerah.


"Ada apa denganmu, Laura?" Sabiel mengulang pertanyaannya kembali saat tak juga ada penjelasan dari bibir Laura.


Laura tak bisa lagi bertahan melawan sesak di dadanya. Dadanya naik turun dengan cepat seiring air mata yang kembali jatuh di kedua pipinya.


Sabiel tercengang melihat derai air mata gadis itu. Matanya melihat sekeliling tempat mereka berdiri. Rasanya ingin sekali membawa Laura masuk dalam dekapannya. Gadis ini terlihat begitu rapuh, tak seperti Laura yang biasanya.


Sabiel bersusah payah menahan keinginannya untuk memeluk erat gadis yang tengah terisak di hadapannya ini. Dia menderita melihat raut wajah Laura yang tampak bersedih.


"Ayah.." ucapnya terbata, matanya melihat begitu ramai mahasiswa yang hilir mudik. "Saya harus kembali ke Jakarta, Pak. Ayah saya masuk rumah sakit." ucap Laura dalam setarikan nafas. Meskipun kondisinya begitu mendesak, dia harus tetap menjaga sikap pada dosen dihadapannya, mengingat begitu ramainya tempat mereka berdiri.


"Saya harus segera pergi ke stasiun."sambungnya kemudian.


"Oke. Saya akan antar kamu kesana." Sabiel segera mengajak Laura masuk ke dalam mobilnya dengan sangat sopan, di tengah tatapan penasaran orang-orang yang melihat mereka, dia harus bersikap layaknya seorang dosen yang ingin membantu mahasiswanya.


Laura tampak ragu, pandangannya melihat kondisi sekitar yang sedang ramai oleh mahasiswa yang berlalu lalang.


"Tidak usah khawatir Laura. Mereka yang tahu kondisimu pasti akan mengerti." Sabiel menyadari keengganan Laura. "Jangan pikirkan apapun, pikirkan saja ayahmu." ucap Sabiel meyakinkan.


Laura berusaha menghilangkan kecemasannya akan pandangan heran orang-orang yang melihat ke arah mereka berdua. Ingatannya kembali pada sang ayah yang terbaring menanti kedatangannya. Dengan langkah tergesah, Laura masuk kedalam mobil Sabiel. Tanpa ada pembicaraan berarti, Sabiel langsung menjalankan mobilnya. Mengantar Laura untuk segera sampai di stasiun Bandung.

__ADS_1


🍁🍁🍁


Laura langsung mencari taksi begitu ia telah berada di gerbang stasiun gambir. Dia mengangkat tangannya pada seorang supir taksi yang sejak tadi berdiri memerhatikannya.


Drrrttt... Drttt...


Dering ponsel Laura berbunyi nyaring pertepatan dengan taksi yang kini berada di hadapannya.


"Halo" ucap Laura seraya membuka pintu taksi.


"Rumah Sakit Jantung Jakarta Pak, Matraman." ucap Laura pada supir taksi yang menengok kearahnya di kursi penumpang.


"Halo?" Laura kembali berbicara pada seseorang disebrang sana.


"Kau sudah sampai?" suara Sabiel terdengar cemas.


"Sudah, sekarang aku sedang di dalam taksi." Laura melihat jalanan Jakarta yang padat melalui jendela di sampingnya.


"Baguslah, aku begitu cemas membiarkanmu pergi sendiri." ucap Sabiel tulus.


"Baiklah. Laura, jika kau butuh sesuatu, kau selalu bisa menghubungiku. Setelah mengajar aku akan menghubungimu kembali." ucap Sabiel


"Terima kasih banyak Sabiel." sahut Laura sebelum menutup kembali ponselnya dan gelisah melihat kemacetan ibukota di depannya.


🍁🍁🍁


Jarak stasiun Gambir ke rumah sakit sebenarnya tak lebih dari 30 menit. Namun karna macet yang tiba-tiba terjadi, perjalanan menuju rumah sakit jadi molor hingga hampir satu jam. Raut wajah Laura berkerut sejak tadi, beberapa kali umpatan keluar dari mulutnya ketika matanya masih saja melihat kendaraan yang berhenti berjalan dan membentuk ular panjang di sepanjang jalanan Ibukota.


Ketika kakinya berhasil menginjak lobi utama rumah sakit, Laura bergegas melangkahkan kakinya untuk mendatangi tempat dimana ayahnya terbaring. Ruangan demi ruangan rumah sakit besar itu dilalui Laura. Matanya bergerak cepat menyapu papan nama pasien yang tertera di depan pintu ruang inap.


Laura sedikit berlari ketika di depan suatu ruangan tampak dari kejauhan pamannya berbincang dengan seorang suster.


Dada Laura berdetak cepat ketika ia mendapat isyarat mata dari pamannya agar ia segera menemui ayahnya. Dengan langkah yang penuh kehati-hatian, Laura memasuki ruangan itu.


Cekrek. Suara pintu dibuka.

__ADS_1


Hati Laura tiba-tiba merasa remuk ketika ia melihat kondisi ayahnya terbaring lemah di atas ranjang pasien. Disamping tempat tidur ayahnya Laura melihat bibi juga keponakannya yang berusia tanggung, berdiri begitu Laura muncul dibalik pintu.


Gadis itu menutup mulutnya kuat, mencegah isakan keras keluar dari sana. Dia tidak ingin mengganggu tidur ayahnya. Langkah kaki Laura tersendat-sendat menghampiri ayahnya, dadanya seperti mendapat pukulan yang begitu keras hingga terasa hancur berkeping ketika matanya melihat begitu banyak alat-alat penopang kehidupan yang terpasang di tubuh ringkih ayahnya.


"Bagaimana kondisi ayah, bi?" tanyanya pada Dina, istri dari pamannya. Dina memandang sendu pada sosok kakaknya yang berbaring lemah di pembaringan.


"Kondisinya jauh lebih baik, Laura." ujarnya pelan. "Duduklah." pintanya pada Laura yang masih berdiri kaku di ujung ranjang ayahnya.


Laura duduk di kursi samping Dina, dia mengelus lembut jemari ayahnya. Sekuat tenaga, Laura menahan air matanya agar tidak tumpah disana.


"Kemarin selepas makan malam, ayahmu jatuh di kamar mandi. Kami semua terkejut ketika melihatnya langsung tak sadarkan diri." Dina menjelaskan kejadian sebelum ayah Laura berakhir di rumah sakit.


"Kau baru sampai, lebih baik kau istirahat lebih dulu Laura." Dina memberi saran.


"Tidak bi, aku akan disini menemani ayah. Bibi, paman dan Fajar pulang lah lebih dulu, kalian lebih membutuhkan istirahat." ucap Laura lembut menatap mata sayu bibi dan keponakannya bergantian.


Tak berapa lama, pintu ruangan terbuka. Ali masuk membawa beberapa makanan untuk Laura. Ia meletakkan makanan itu di meja dekat dengan jendela ruangan.


"Makanlah dulu Laura, kau pasti lapar setelah perjalanan jauh." ucapnya bijak sembari menghampiri Laura.


"Terima kasih paman, nanti aku akan makan. Kalian istirahat saja dulu di rumah." ujar Laura.


Setelah bertatapan dengan istrinya, Ali kemudian menyetujui untuk kembali pulang.


"Baiklah, besok kami akan datang lagi kemari." Ali menatap lembut keponakannya itu. "Kau harus kuat Laura." sambungnya seraya memeluk erat Laura sebelum akhirnya membiarkan istri dan anaknya memeluk Laura kemudian.


Hanya hening yang tersisa di ruangan itu. Mata Laura tak lepas dari memandangi raut wajah ayahnya. Hari sudah beranjak malam, langit Ibukota semakin menggelap. Pendar lampu jalanan terlihat bagai kunang-kunang di padang ilalang.


Hari itu, Laura menghabiskan malam dengan menggenggam erat jemari ayahnya yang masih terpejam. Dalam hatinya, Laura masih merasa takut. Ia takut ayahnya akan pergi meninggalkannya selama-lamanya.


"Ayah, bertahanlah." ucapnya lirih.


🍁🍁🍁


Silahkan tinggalkan Like, Koment, dan Votenya para pembaca baik hati 😍😍

__ADS_1


__ADS_2