Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 90


__ADS_3

Ketika langit dalam peralihan antara terang dan gelap, serta senja megah hampir sepenuhnya berganti kelam. Yacht Sabiel sampai di pulau pribadinya. Lelaki itu menggandeng Laura untuk turun bersamanya. Seperti biasa, kedatangan Sabiel selalu disambut hangat oleh para penjaga pulau yang kini berdiri rapi di ujung jembatan penghubung.


Salah seorang pemuda berlari menghampiri Tuannya, sigap membawa koper Sabiel dan Laura. "Selamat datang, Tuan" ucapnya sopan.


Sabiel hanya mengangguk sambil mengeratkan selimbut wol pada pundak istrinya. Udara pantai yang dingin di malam hari, bukan hal yang baik untuk seorang ibu hamil.


Mata Laura langsung berpencar, menikmati suasana yang dulu pernah ia lihat ketika kunjungan pertamanya ke pulau itu. Pantai ini masih tetap ramai dengan para wisatawan. Laura melintasi para turis yang sibuk berpesta di tengah deru ombak yang semakin keras menerjang karang.


"Lebih baik kita istirahat dulu. Besok kau bisa melihatnya" ucap Sabiel menembus desir angin yang berbisik mengitari mereka.


Laura mengangguk, ia mengikuti keinginan suaminya meski hatinya merasa tak sabar ingin segera bertemu dengan lelaki masa lalunya itu.


Tidak ada percakapan berarti di sepanjang langkah mereka untuk sampai ke sebuah pondok. Laura mengingat perkataan suaminya yang mengatakan bahwa mereka akan menginap di salah satu pondok khusus turis-turis VVIP, bukan di pondok orangtua Sabiel yang dulu mereka tempati. Karena pondok orangtua Sabiel, telah Sabiel ubah menjadi miniatur rumah sakit untuk Bimasakti. Semua peralatan kesehatan, perawatan, serta satu orang dokter dan tiga orang suster, telah Sabiel tempatkan disana. Orang kaya memang selalu bisa melakukan apa yang mereka mau. Termasuk merubah pondok wisata menjadi rumah sakit darurat.


Akhirnya setelah melewati perjalanan yang penuh dengan iringan ukulele dan jimbe dari para turis yang tengah bersenang-senang. Langkah mereka memelan dan akhirnya berhenti di satu pondok atap rumbai namun tampak mewah. Laura melihat kolam di depan pondok lebih besar dari pondok sebelumnya, Sabiel bahkan membuat kolam itu bisa bercahaya dengan menambahkan lampu-lampu LED underwater di bagian dinding kolam. Sabiel membawa Laura ke bagian dalam pondok, dan Laura tercengang melihat furniture modern yang tertata apik di dalam sana. Sabiel ternyata memadukan unsur klasik dan modern dalam pembuatan pondok VVIP itu. Ini sangat sangat berbeda dengan pondok orangtuanya.


"Sayang, siapa yang biasanya menyewa pondok ini?" tanya Laura penasaran.


Sabiel tampak berpikir, "Para pejabat, aktris, dan delegasi dari negara lain pernah menginap disini" jawabnya santai.


Laura mengangguk, sudah pasti kaum jetset yang akan menggunakan tempat super mewah seperti ini. Laura berjalan menghampiri jendela kaca besar, ia menyingkap kain jendelanya dan melihat suasana malam yang romantis dengan sinar lampu-lampu kecil berwarna warni disegala tempat. Seorang penjaga pulau turun dari lantai dua setelah ia meletakkan koper Tuannya di kamar utama.


"Selamat atas kehamilannya, Nyonya" ucapnya sopan sambil merundukkan kepala.


Laura tersenyum sembari mengelus perutnya yang membuncit, "Terima kasih...Pak Johan" sahutnya melihat tag nama yang tersemat di dada kiri lelaki tersebut.


"Jo, bisa kau siapkan makan malam sekarang? Aku sudah lapar" pinta Sabiel yang menghampiri Johan dan istrinya yang berdiri dekat anak tangga.


Johan mengangguk dengan sigap. Setelah berpamitan, lelaki itu segera melangkah untuk menyiapkan makan malam majikannya.


"Kau lelah sayang?" tanya Sabiel memeluk Laura dari arah belakang. Keduanya melihat pemandangan luar dari balik jendela.


"Tidak. Kerjaku hanya makan dan tidur selama perjalanan, bagaimana bisa lelah?!" ucap Laura


Sabiel mengecup mesra pundak Laura. "Seorang nyonya memang seharusnya seperti itu" ujarnya.


Laura membalikkan badannya, kedua tangannya melingkar di pinggang Sabiel. "Terima kasih sayang. Kau selalu memberikan yang terbaik untukku" ucapnya penuh syukur.


Sabiel tersenyum sambil mendongahkan wajah Laura. "Simpan ucapan itu untuk pertarungan kita nanti di atas tempat tidur" Sabiel mengecup bibir mungil Laura kuat-kuat.


Laura mendorong dada Sabiel hingga ciuman itu terlepas. Bola matanya terbelalak menatap wajah Sabiel yang tengah menyeringai menggoda padanya. "Lagi?" tanyanya. Dan dijawab anggukan oleh Sabiel.


"Tapi dikapal kau sudah..."


"Itu hanya pembukaan sayang, belum pada pertarungan sesungguhnya" ucap Sabiel enteng. Tak berapa lama ia terkikik melihat wajah Laura seperti keberatan dengan ucapannya.


"Apa?! Pembukaan?! Kau gila!" seru Laura kalang kabut. "Kita bercinta berkali-kali di dalam kapal dan kau bilang itu permulaan?!" Laura menggeleng tak percaya.

__ADS_1


Sabiel terkekeh mendengar dengusan bernada kesal dari mulut istrinya. Matanya mengikuti langkah Laura yang berjalan menaiki tangga hendak masuk dalam kamar, sambil menggerutu mengatakan bahwa dirinya maniak.


"Aku maniak hanya padamu sayang!" seru Sabiel dari lantai bawah menjawab gerutuan Laura yang terdengar samar.


"Oh ya Tuhan, selamatkan aku dari tingkah suamiku yang mesum" ucap Laura dengan suara sengaja dikeraskan agar terdengar suaminya. Ia menatap langit seperti orang yang sedang berdoa.


Sabiel menderap menaiki tangga, kekehan geli mengiringi langkah tegasnya. Sementara Laura berjalan cepat memasuki kamar begitu melihat suaminya tergesa setengah berlari ingin menghampirinya.


"Sayang, jangan dikunci!" seru Sabiel panik ketika Laura terlihat menutup pintu kamar. "Aku akan benar-benar menerkammu jika kau menguncinya" sambungnya semakin panik ketika Laura menjulurkan lidah padanya.


Brak!


Pintu tertutup. Laura didalam kamar sambil tertawa penuh kemenangan. "Bersihkan otakmu dulu, baru aku akan buka!" serunya setengah menahan tawa.


Damn! Sabiel langsung lesu begitu ia sampai di lantai atas. Langkahnya memelan menghampiri pintu yang tertutup rapat. "Sayang, bukaaaa" rengeknya seperti anak kecil.


🍁🍁🍁


Sabiel dan Laura berdiam diri di bawah bayangan pohon kelapa besar tak berapa jauh dari pondok orang tua Sabiel. Dari kejauhan mereka melihat pemuda berkacamata hitam tengah duduk di kursi panjang berhadapan dengan kolam renang. Seorang wanita berpenampilan perawat duduk disebelahnya.


Sabiel menoleh pada istrinya. Wajah cantik itu mendadak sedih melihat pemuda yang dulu sempat mengisi hatinya. Sabiel mengusap sudut mata Laura yang berair.


"Jangan menangis, sayang" ucapnya prihatin.


Laura menyandarkan kepalanya pada dada Sabiel. "Aku benar-benar sedih melihat kondisinya. Aku harap mereka yang telah membuat Bimasakti seperti itu mendapat ganjaran yang setimpal" ujar Laura mengeram murka.


"Mereka akan mendapatkan ganjarannya sayang" Sabiel berusaha menenangkan.


Sabiel langsung mengangkat tangannya begitu perawat itu melihat kedatangan Tuannya. Setelah meminta perawat itu pergi dengan isyarat, Sabiel mempersilahkan Laura untuk duduk di sebelah Bimasakti, tanpa sepengetahuan pemuda itu. Langkahnya pelan nyaris tidak terdengar oleh telinga Bimasakti.


"Sus, aku tak sabar ingin segera mendapatkan donor mata itu" ucap Bimasakti yang tidak tahu perawatnya telah pergi. "Aku berencana untuk menemui kekasihku" sambungnya.


Pemuda itu tidak tahu bahwa disebelahnya Laura tengah menutup mulutnya dengan kedua tangan, berusaha menahan tangisannya. Sementara Sabiel berdiri dibelakangnya memegangi pundak Laura untuk menenangkan.


"Apa kabarnya dia sekarang?" gumam Bimasakti seorang diri. "Sus, apa kau suka puisi? Wanitaku ahli dalam merangkai kata. Dia selalu bisa membuat siapapun yang membaca tulisannya berdecak kagum padanya" sambungnya bangga.


Laura semakin kesulitan menahan diri untuk tidak menangis. Dadanya terasa sesak mendengar apa yang diucapkan pemuda di hadapannya. Sabiel memeluk Laura dari belakang, lelaki itu tak kuasa melihat tubuh istrinya yang terdiam sambil gemetaran melawan luapan emosi yang memaksa ingin ditumpahkan.


"Sabar sayang, tenang" bisik Sabiel begitu pelan di telinga Laura. Laura mengangguk tanpa menoleh pada suaminya.


Begitu banyak kata maaf yang Laura gumamkan dalam hati setiap kali pemuda masa lalunya bercerita tentang dirinya. Dalam hatinya, Laura merasa bersalah. Sejak perpisahannya dengan Bimasakti dulu, ternyata pemuda itu masih memendam perasaannya pada Laura, sementara Laura telah menyerahkan hatinya pada Sabiel.


"Tubuhku menari. Berputar-putar dan meliuk.


Seperti kelopak bunga yang gemulai terbawa angin. Kutahu tubuhmu merasakan hal yang sama... "


"Tubuhmu ingin menari dan meliuk. Membersamaiku. Dalam hangatnya sapaan.

__ADS_1


Dalam manisnya ciuman" Laura menyambung prosa yang dulu pernah ia buat. Wanita itu tak bisa menahan diri ketika Bimasakti merapalkan prosanya.


Bimasakti terkejut mendengar suara yang begitu familiar ditelinganya. Kepalanya dengan cepat menoleh pada sumber suara. Dadanya bergemuruh mendengar suara yang amat ia rindukan selama berbulan-bulan ini. Suara seorang wanita bagai seorang Dewi dalam mitologi Yunani kuno, yang begitu indah, begitu merdu, begitu mempesona. Hingga membuat gunung Olympus bergetar hanya dengan mendengar satu bisikannya.


"Laura?" suara Bimasakti tersekat oleh rasa tak percaya.


Sementara Laura memilih diam, dengan kedua tangan sibuk menghapus derai air mata yang bersimbah penuh luka.


"Laura? Kaukah itu?" Bimasakti merentangkan tangannya mencari posisi wanita misterius itu berada.


"Sus! Suster!!" seru Bimasakti yang merasa bingung oleh kehadiran suara Laura yang tiba-tiba. Pemuda itu takut jika itu hanyalah imajinasinya saja.


"Suster itu telah pergi, Bimasakti" ucap Laura sedikit tertahan. "Aku memintanya untuk meninggalkanmu bersamaku" sambungnya kemudian.


"Laura? Kaukah itu? Benarkan itu dirimu? Dimana kau Laura?" Bimasakti mencoba mencari Laura kembali.


"Laura!" suaranya bergetar ketika kedua tangannya dapat memegang lengan Laura.


"Ya. Ini aku. Aku disini, Bimasakti" Laura mulai terisak.


"Aku akan meninggalkanmu untuk berbicara dengannya, sayang" bisikan Sabiel terdengar penuh pengertian. "Aku menunggumu ditempat tadi kita berdiri" sambungnya sebelum mencium pelipis Laura, dan berjalan menjauh dari tempat itu.


"Laura.." Bimasakti terisak.


"Ya. Aku disini" Laura menggenggam jemari Bimasakti erat.


Keduanya saling menumpahkan kesedihan yang selama ini mengendap dalam dasar hati mereka masing-masing. Laura tak kuasa menahan tangisannya. Berulang kali ia menghapus air di pelupuk matanya, namun air mata itu tak kunjung mereda. Sementara Bimasakti tergugu oleh perasaan sedih bercampur haru yang merebak memenuhi rongga hatinya. Kehadiran Laura adalah sesuatu yang benar-benar ia tunggu selama ini. Tidak ada satu haripun yang Bimasakti lewatkan tanpa merindukan wanita cantik itu. Kehadiran Laura memutus kemarau panjang dalam jiwa Bimasakti. Dialah angin segar yang merubah hati Bimasakti yang gersang menjadi terasa sejuk.


"Bagaimana kabarmu hari ini?" tanya Laura setenang mungkin.


"Kau bisa melihat sendiri kondisiku, Laura" ucapnya menyembunyikan luka.


Laura tersenyum getir. Ia membuang nafas beratnya perlahan. "Aku turut bersedih dengan apa yang menimpamu, Bima.."


"Sssttt. Jangan bersedih Laura. Aku baik-baik saja" Bimasakti menenangkan Laura yang mulai menangis kembali.


"Aku merindukanmu" sambung Bimasakti mempererat genggaman tangannya. "Kau membaca pesanku?" tanyanya kemudian.


"Ya aku membacanya. Maaf aku tidak segera membalas pesanmu" ujar Laura penuh sesal.


"Tak mengapa. Kau bisa menjawabnya saat ini, bukan?!" Bimasakti mulai mencoba untuk tersenyum hangat. "Bagaimana kau bisa berada disini, Laura?" tanyanya kemudian.


Laura terdiam beberapa saat. Ia merasa kebingungan untuk mulai bercerita darimana. "Ceritanya panjang. Apa kau ingin mendengarnya?" Laura menatap wajah Bimasakti.


Bimasakti mengangguk cepat. "Ya. Mari saling bercerita Laura. Begitu banyak yang harus aku ceritakan juga padamu" sahutnya penuh semangat.


Dari kejauhan Sabiel memperhatikan dua manusia itu. Istrinya tampak berusaha kuat untuk berhenti menangis, sedangkan pemuda rivalnya dulu terlihat begitu senang dengan kehadiran Laura. Sabiel memperhatikan jemari keduanya yang saling berpegangan erat, sementara mulut mereka tak berhenti bercerita. Tiba-tiba gerahamnya mengeras melihat sikap istrinya.

__ADS_1


"Aku mengijinkanmu berbicara dengannya, tapi bukan untuk terus memegangi tangannya Lauraaaa" geram Sabiel merasa kesal sendiri.


🍁🍁🍁


__ADS_2