
Di sebuah apartemen mewah Singapura, sepasang manusia terlihat sedang kegerahan. Hembusan angin yang keluar dari AC ruangan tak mampu memadamkan kobaran gairah yang sedang memuncak seiring hentakan pinggul seorang lelaki paruh baya dengan wanita cantik dalam kungkungan bir*hinya.
Wajah-wajah mereka terlihat tegang merasakan desir aliran darah yang terpompa deras mengaliri tubuh mereka yang lengket.
"Luar biasa.." ucap lelaki paruh baya memukul kasar bokong sintal pasangannya.
"Dato' suka?" tanya wanita cantik disela desahannya. Dia menolehkan kepalanya kebelakang menatap lelaki yang sedang sibuk memberikan kenikmatan pada pusatnya.
"Aku sudah berkali-kali menyetubuhimu, dan masih sangat suka dengan caramu melayaniku." ucap Dato Faisal ditengah goyangan pinggulnya. "Kau luar biasa nikmat, Intan" pujinya pada wanita yang tersenyum menggoda menatapnya.
Wanita itu dengan lincah, membalikkan badan. Merubah posisinya menjadi telentang di ranjang dengan menyandarkan kakinya di bahu Dato' Faisal. Lelaki paruh baya itu segera merapatkan kembali kejantanannya pada pusat Intan, dia siap memberikan hentakan yang lebih kencang di pusat karyawan barunya itu. Bibirnya menyeringai penuh gairah ketika Intan membimbing tangannya untuk memberikan pijatan di kedua bukitnya yang besar, sementara pinggulnya sibuk memberi hentakan kuat pada pusat wanita itu.
"Ah.. Dato' hurry up, i'm- coming.." desah Intan terbata ketika merasa ada sesuatu yang ingin ia keluarkan segera.
"Wait." ucap Dato' Faisal sembari memasukkan jemarinya kedalam mulut Intan yang menganga, Intan menjilatnya buas. Meliliti jemari Dato' dengan lidahnya yang basah. Hingga benang saliva melumuri jemari Dato' didalam sana.
Hentakan Dato' semakin kencang seiring lamanya durasi persetubuhan mereka, ditambah gerakan Intan yang ikut menggoyangkan pinggulnya tak sabar ingin mendapatkan pelepasan yang sempurna. Mereka berpacu dalam gairah yang erotis, tangannya bergerak saling membelai dan meremas satu sama lain. Hingga hentakan yang paling kuat akhirnya diberikan Dato' bersama dengan cairan benih yang membanjiri pusat Intan. Lumer, membasahi rambut-rambut halus di sekitaran pusat Intan yang memerah.
Mereka mendesah hebat, tubuh keduanya bergetar menerima kenikmatan surgawi yang hadir dari persetubuhan tadi.
Dato' Faisal terkulai lemas di samping Intan yang menatap nanar langit-langit apartemen mewah itu. Keletihan langsung melingkupi tubuh keduanya setelah percintaan panjang tadi.
"Kau membuatku ketagihan, Intan." ucap Dato' Faisal menatap Intan di sampingnya. Wanita itu menoleh, dia tersenyum puas mendapat pujian atas keahliannya bermain di atas ranjang.
"Dato' pun hebat. Bisa membuatku terbang melayang dengan kenikmatan yang Dato' berikan." Intan balas memuji keperkasaan orang nomor satu di perusahaannya itu.
Intan bergerak merapatkan diri pada dada Dato' yang berkeringat. Dia menyandarkan kepalanya di dada itu. Tangannya membelai kej*ntanan Dato' yang terkulai lemah setelah bekerja keras memberi kenikmatan pada pusatnya. Dato' Faisal terpejam sembari tersenyum puas dengan belaian Intan dibawah sana, tubuhnya relaks merasakan sentuhan lembut Intan yang terasa seperti sedang memanjakan kejant*nannya.
"Kau tinggal lah di apartemen ini." ucap Dato' Faisal pada Intan yang masih memberikan belaian manja pada kej*ntanannya.
"Apartemen ini Dato'?" tanya Intan memastikan.
"Ya. Tinggallah disini. Aku berikan apartemen ini padamu." Dato' Faisal mengelus lembut punggung Intan yang lembab. Dia tidak tahu, bahwa Intan sedang tersenyum kegirangan dengan apartemen mewah yang ia berikan.
Wanita itu mengangkat kepalanya dari dada Dato' Faisal, menatap lelaki beruban itu dengan tatapan menggoda.
"Apa alasan Dato' meminta ku tinggal di apartemen ini?" tanyanya penuh siasat.
Dato' Faisal menyeringai mendengar pertanyaan retoris yang keluar dari mulut wanita pemuas nafsunya itu. Dia meremas payud*ra di hadapannya dengan gerakan vulgar. Memainkan put*ng coklat kehitaman yang mengeras, sebelum menjawab pertanyaan Intan.
"Agar aku bisa dengan mudah menyetubuhimu lagi dan lagi." ucapnya menatap penuh hasrat pada Intan yang menggigit bibir bawahnya karna merasa nikmat dengan permainan jemari Dato' pada put*ngnya. Intan menyeringai dengan pandangan mata mulai berkabut.
"Jika itu keinginan Dato', maka aku akan terima pemberian ini dengan tangan terbuka." nafas Intan mulai terengah. "Aaahh, Dato'..." Intan frustasi merasakan nafsunya bangkit kembali.
"Hmm.." Dato' Faisal menyeringai memperhatikan raut wajah Intan yang merona dikuasai gairah. Tangannya semakin lincah bergeriliya meremas dan membelai tubuh Intan yang meliuk-liuk menggoda diatasnya.
"Apa aku boleh meminta Dato' menyetubuhiku lagi saat ini?!" Intan menatap penuh harap. "Rasanya dibawah sana sudah tak sabar ingin merasakan kembali keperkasaan Dato' Faisal" nafas Intan mulai tersenggal karena jemari Dato' terus memberikan sentuhan vulgarnya di sekujur tubuh Intan.
Dato' Faisal tertawa terbahak-bahak mendengar permintaan Intan. Dia merasa harga dirinya sebagai lelaki melambung tinggi karna Intan menginginkan keperk*saannya di atas ranjang.
"Dengan senang hati." ucap Dato' Faisal sebelum ******* kasar bibir Intan yang menggoda.
🍁🍁🍁
Perabumulih.
__ADS_1
Kota di Sumatera Selatan yang kini identik sebagai kota minyak itu cerah sejak pagi hari, udara gersang mengiringi bocah-bocah kecil yang asik memperhatikan mesin penimba minyak dari kejauhan. Hiburan sederhana bagi jiwa kecil yang menjadi saksi betapa kayanya tanah Sumatera.
Dulu, pulau ini dipenuhi oleh lahan penyadapan karet. Masyarakat sekitar bekerja menyambung hidup sebagai menyadap getah karet. Namun seiring berjalannya waktu, perkebunan karet tergilas secara paksa oleh keadaan. Harga karet turun drastis hingga pembayaran yang para petani itu dapatkan tak bisa menutupi kebutuhan perut anggota keluarganya dirumah. Hal itu diperparah dengan menghilangnya lahan sedikit demi sedikit yang kemudian diganti oleh benih kelapa sawit. Hingga akhirnya, Perabumulih berubah menjadi kota penghasil minyak.
Di dalam sebuah gedung pertemuan, orang-orang berseragam aneka warna duduk di kursi yang berjajar memanjang. Di hadapan mereka, terdapat panggung kecil tempat beberapa pimpinan acara duduk memimpin pertemuan rutin antar ormas buruh se-Indonesia.
Bimasakti duduk di kursi bagian belakang, bersama Laras dan anggota ormas buruh Jakarta lainnya yang ikut datang pada perhelatan itu.
Raut wajah serius Bimasakti tergambar jelas dari kerutan dahi yang ia buat tanpa sengaja. Bagaimanapun, kondisi buruh sedang berada di titik krusialnya. Peraturan taktis yang pemerintah buat nyatanya tak membuat kondisi buruh membaik. Pelanggaran jam kerja masih marak terjadi, gaji buruh masih rendah di beberapa wilayah, belum lagi masalah PHK yang terus menghantui para buruh. Hal itu membuat kondisi buruh semakin terjepit setiap hari.
Di dengarnya pimpinan rapat berteriak lantang menyatakan kebulatan sikap untuk disetujui secara mutlak oleh semua ormas buruh yang hadir disana, bahwa pada tanggal yang nanti akan disepakat, semua ormas buruh Indonesia, harus melakukan aksi turun ke jalan besar-besaran untuk mengkritiki kembali kebijakan pemerintah.
Riuk ruangan seketika oleh suara yang saling menyetujui tanpa komando. Terlihat beberapa orang berdiri mengepalkan tangannya menantang langit penuh tekad.
"Turun ke jalan!" teriak salah seorang yang berdiri, diikuti beberapa orang kemudian.
Drrttt...drttt..
Getar ponsel Bimasakti terasa di saku dadanya, membuat fokusnya teralihkan pada benda kecil berbentuk persegi panjang yang ia keluarkan dari saku dada.
Senyuman terbit disela bibirnya ketika matanya melihat nama 'Ilalang Liar' tertera disana. Itu adalah nama yang khusus ia sematkan sebagai identitas dari nomor ponsel Laura. Dengan tak sabar ia buka pesan itu.
To. Bimasakti.
Bagaimana Prabumulih?
Isi pesan itu membuat Bimasakti segera ingin membalasnya.
To. Ilalang Liar.
Langit cerah mengejek hatiku yang kelabu.
Pesan terkirim.
Bimasakti tersenyum sembari memasukkan kembali ponsel itu kedalam sakunya. Matanya menatap kearah depan, melihat pimpinan rapat yang masih berpidato berusaha menyamakan persepsi antar ormas buruh yang hadir disitu.
Drrttt.. Drrrtt..
Bimasakti kali ini tersenyum merasakan getar ponselnya. Dia yakin, itu adalah balasan dari Laura.
To. Bimasakti.
Apa yang kau lakukan hingga hatimu menjadi kelabu?
Bimasakti segera membalas pesan itu singkat.
To. Ilalang Liar.
Memikirkanmu.
Tak berselang lama balas Laura datang.
To. Bimasakti.
Gombal.
__ADS_1
Bimasakti menyeringai jahil ketika jemarinya lincah membuat balasan untuk pesan gadis yang sedang ia rindukan.
To. Ilalang Liar.
Kata-kata dari seorang pecinta hanya akan terdengar gombal bagi siapapun, sekalipun itu adalah kesungguhan.
Pesan terkirim. Bimasakti memutar-mutar ponselnya menanti dengan tak sabar balasan Laura. Sesekali ia melihat kembali ke arah depan, dia baru menyadari bahwa rapat akan segera di tutup oleh sang moderator.
Ponselnya bergetar dalam genggaman tangan yang kokohnya. Dia segera membuka pesan itu.
To. Bimasakti.
Jika itu kesungguhan, buatlah aku percaya dengan sebuah pertemuan. Mari bertemu, merapatkan hati yang bertalu didera rindu.
"Yes!" Bimasakti setengah bersorak sembari mengepalkan tangannya dengan semangat, ketika ia membaca pesan Laura. Hatinya terasa berdebar tak menentu.
Laura menyambutnya! Laura menyambutnya!
Gadis cantik itu mengajak Bimasakti untuk bertemu. Oh Tuhan, hati kelabu itu sirnalah sudah. Ia kembali berwarna hanya karna pesan singkat yang gadis itu kirim padanya.
Oh hati, sedikit tahu dirilah kau! Laura terlalu istimewa untuk kau yang begitu sederhana.
Bimasakti tak bisa lagi menahan keinginannya untuk menghubungi Laura. Dia ingin mendengar suara lembut itu.
"Kau sedang menghubungi siapa?" pertanyaan Laras menghentikan niat Bimasakti untuk menghubungi Laura.
"Wanitaku." jawabnya pongah.
"Kau memiliki kekasih?" Laras membelalakan matanya tak percaya.
"Segera." ucap Bimasakti yakin.
"Wanita macam apa yang mau menjadi kekasih dari lelaki pecicilan sepertimu?" ledekan Laras berhasil membuat Bimasakti menatapnya sebal.
"Kau akan salut padaku jika bertemu dengannya." ucap Bimasakti tak tahu malu.
"Bukan salut padamu, tapi pada dirinya. Karna mau-mau saja menerima lelaki semacam dirimu." Laras terkekeh
dengan ucapannya sendiri.
"Ishh!!" Bimasakti menggeram menatap tajam Laras yang tak berhenti menertawai dirinya.
"Oke, sudah cukup." Laras menyeka sudut matanya. "Silahkan kau teruskan panggilanmu... Tapi setelah rapat benar-benar selesai." Laras merebut ponsel Bimasakti dan memasukkannya pada saku dadanya. Bimasakti membulatkan matanya, gemas dengan tingkah jahil wanita yang selama ini ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu.
"Aku akan ceritakan keburukanmu pada suamimu, nanti." ancam Bimasakti mendelik pada Laras yang tak peduli.
"Suamiku lebih tahu keburukanku daripada dirimu, bodoh!" sergah Laras balas mendelik.
"Aku akan ceritakan kau sering melihat konten porno di laptopmu." ancam Bimasakti lagi.
"Aku akan katakan bahwa aku sedang belajar teknik baru. Dia pasti suka." Laras terkekeh melihat kekesalan Bimasakti.
"Dasar kau jelemaan hitler!" dengus Bimasakti kesal melihat Laras yang tak mau kalah.
"Laura sayang, tunggu aku. Ponselku disita nenek lampir." Bimasakti bergumam dalam hati menatap murka pada Laras yang masih saja terkekeh.
__ADS_1
🍁🍁🍁