Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 41


__ADS_3

Di kediaman Sabiel.


Intan memusatkan perhatiannya kepada Sabiel yang tampak terlelap di tempat tidur. Sepulang dari menjemputnya, lelaki itu benar-benar menepati ucapannya. Ia langsung merebahkan diri dan tidur tanpa berganti pakaian terlebih dulu. Intan duduk bersandar pada headboard tempat tidur, menatap heran pada suaminya. Ini sudah beberapa jam berlalu sejak Sabiel terlelap. Seharusnya suaminya itu sudah bangun saat ini.


Intan tak tahan dengan Sabiel yang terus tidur dan mengabaikan keberadaannya. Terpisah oleh jarak dalam beberapa minggu, membuat dirinya tak sabar ingin bercumbu dengan lelaki itu. Benak Intan membayangkan seharusnya saat ini mereka berdua sudah berpeluh keringat menuntaskan kerinduan yang menggunung. Bagaimanapun, Intan merindukan sentuhan jemari suaminya di sekujur tubuh sintalnya. Tubuhnya menggigil menanti saat-saat dimana Sabiel memanjakannya dengan semua sentuhan erotis.


Sepertinya ketidaksabaran Intan sudah berada di puncak. Ia mulai menggerakkan tangannya perlahan. Merambat, membelai dada bidang Sabiel yang naik turun secara teratur.


Oooohh, Intan bisa gila dibuatnya. Bahkan hembusan nafas Sabiel sudah mampu membangkitkan hasrat Intan yang membara.


"Sayaaang" bisik Intan tepat di telinga Sabiel.


Sesekali lidahnya menyusuri garis telinga suaminya dengan sensual. Mengigit-gigit kecil cuping telinga itu mesra.


Sabiel menggelengkan kepala, merasa terganggu dengan aksi Intan. Namun lelaki itu tetap memejamkan matanya, tak peduli dengan jemari Intan yang menari menggoda disekitar dadanya.


"Aku rindu..." desah Intan sekali lagi. "Bangunlah, apa kau tidak rindu dengan tubuh istrimu ini?" suara Intan parau terbawa gairah yang perlahan bangkit.


Wanita itu menyusuri rahang Sabiel sembari memberi kecupan ringan disepanjang tulang pipinya. Ia sedikit menjadi kesal karena usahanya untuk membuat Sabiel terbangun tampak sia-sia.


Tak berselang lama seringai licik muncul disudut bibirnya, ketika matanya memindai keseluruhan tubuh atletis suaminya yang menggoda, matanya berkilat penuh nafsu begitu ia menatap lekat pada resleting celana panjang yang masih Sabiel kenakan.


Dengan gerakan seringan bulu, Intan menyusuri dada Sabiel hingga ke bagian pinggangnya, ia menggerakkan jemarinya membentuk pola-pola absurd di bawah pusar Sabiel yang liat, sebelum akhirnya tangan gemulai itu bergerak menggoda dan berhasil menyentuh kancing celana suaminya.


"Aku sedang tidak bergairah, Intan. Bisakah kau biarkan aku beristrirahat dengan tenang." suara berat nan serak Sabiel mengalihkan pandangan Intan dari resleting celana yang sudah setengah jalan ia buka, wanita itu menatap kesal pada suaminya yang terlihat risih dengan apa yang ia lakukan.


Intan menghentikan jemarinya. Nafsunya mendadak hilang menerima penolakan suaminya dengan gamblang.


"Kau akan menyesal menolakku!!" umpatnya kesal sembari turun dari atas tempat tidur.


Langkahnya lebar ketika ia berjalan menuju pintu kamar, membukanya dan membantingnya kembali dengan kasar.


Sementara Sabiel, lelaki itu bangkit dari tidurnya. Matanya melihat resleting celana jeans yang sudah terbuka untuk kemudian ia tutup kembali.


"Hampir saja" ucapnya sembari menghela nafas lega menatap pintu kamar yang tertutup rapat.


Intan duduk di ruang keluarga lantai satu, dengan tangan terlipat di dadanya. Matanya menatap tajam pada televisi yang mati. Raut wajahnya masih bergurat murka mengingat ucapan Sabiel yang menolak bercinta dengannya.


Sabiel menolaknya??! Hahahaha.. Ini gila!


Sepanjang hidupnya berumahtangga dengan lelaki itu, tidak pernah sekalipun Sabiel menolaknya untuk bercinta. Intan memicingkan matanya curiga. Tiba-tiba benaknya mengingat kembali keinginan Sabiel untuk bercerai dengannya.


"Apakah itu sebabnya?" gumam Intan berpikir keras.


"Mbok, ambilkan aku minuman." perintah Intan sedikit berteriak pada pembantunya tanpa melihat ke arah dapur yang ada beberapa meter saja dari tempatnya duduk. Kepalanya yang panas, harus segera ia dinginkan dengan segelas minuman.


"Mau minuman apa nyonya?"


Suara wanita asing membuat Intan menegakkan tubuhnya. Dengan cepat ia menengokkan kepalanya pada sumber suara.


"Siapa kau?!" tanya Intan menatap heran pada wanita berparas keibuan dengan daster hijau panjang melekat ditubuhnya.

__ADS_1


"Saya Inah nyonya" jawab wanita yang berusia kisaran empat puluh tahunan. "Saya pembantu baru disini."


"Pembantu baru? Kemana mbok Suti dan mbok Yayu?" tanya Intan.


"Saya kurang tahu Nyonya." ucap Mbok Inah. "Nyonya ingin minum apa?" tanya lagi.


"Bawakan aku jus jeruk." ujar Intan sembari memikirkan dimana dua pembantunya itu berada.


"Baik Nyonya, tunggu sebentar." Mbok Inah mengangguk sopan sembari berjalan kembali menuju dapur.


"Kemana mereka? Apa yang sudah terjadi disini? Mengapa Sabiel tidak menceritakannya kepadaku?" gumam Intan penuh rasa penasaran dan curiga.


"Ah sudahlah, biar nanti aku tanyakan padanya. Sekarang aku harus menyalurkan rasa kesalku ini lebih dulu." Intan memutuskan untuk tak ambil pusing perkara menghilangkan dua pembantu andalannya.


Intan mengambil ponsel yang tadi ia letakkan di samping tempat duduknya. Matanya langsung mencari nomor kontak beberapa teman 'happing fun' nya disana.


"Hai beib.." sapanya pada salah satu teman hangout-nya. "Bisa temani aku bersenang-senang hari ini? aku sedang bosan diam dirumah." ucapnya sembari menyeringai lebar.


🍁🍁🍁


From. 0822XXXXXXXX


Nyonya Laura, saya hanya mengingatkan.


Ini sudah malam. Sudah waktunya nyonya pulang. Tomi.


Pesan dari penculik brengsek masuk tanpa permisi pada ponsel Laura. Wanita itu bangkit dari posisi tidurnya, disusul oleh Gisel.


"Orang gila!" jawabnya cuek.


Laura masih berada di kamar asramanya hingga malam menjelang. Wanita itu masih begitu rindu pada temannya hingga sepanjang waktu yang ia habiskan masih saja terasa kurang.


"Aku tidak rela kau keluar dari sini, Laura" Gisel tampak sedih dengan apa yang Laura katakan saat tadi.


"Apa boleh buat, ayahku memintaku menempati apartemennya." Laura menatap nanar pada box berisi buku-buku kuliahnya dibawah meja belajar.


"Lain kali aku ingin menginap disana." ucap Gisel merajuk.


"Ya. Tapi tak bisa saat ini. Keluarga besarku masih betah tinggal bersamaku." ucap Laura menyesal, menutupi fakta sebenarnya.


"Meskipun kita akan sangat jarang untuk bertemu nanti, aku harap kau tidak melupakanku Laura." ujar Gisel berharap. "Kau teman pertamaku disini." Gisel bersandar di pundak Laura.


"Mana mungkin aku melupakanmu Gisel." Laura mencubit lembut pipi teman manjanya itu. "Lagipula kau bisa kapanpun menghubungiku." ujar Laura.


"Sudahlah, ini sudah malam. Aku harus segera pulang." Laura bangkit dari posisinya, Gisel ikut berdiri.


"Kau tidak ingin menginap? Aku belum mendengar cerita asmaramu bersama aktivis itu lagi." tanya Gisel melirik menggoda pada Laura.


Sejenak Laura terdiam. Hatinya kembali merasa sesak ketika Gisel mengingatkannya kembali pada sosok Bimasakti.


"Laura?" Gisel heran melihat Laura seperti orang melamun. Ia menepuk pelan bahu Laura.

__ADS_1


"Ah, ya." Laura tersadar dari lamunannya.


"Kau baik-baik saja?" tanya Gisel merasa khawatir.


"Aku baik-baik saja." ucap Laura lirih seraya mengangkat box buku-bukunya. "Nanti aku akan kemari lagi membawa barangku yang lain." Laura menatap sayu pada Gisel yang berdiri disampingnya.


"Oh ya, Antara aku dan aktivis itu...kini telah usai, Gisel." ungkap Laura sendu, sembari melangkah menghampiri pintu kamar. "Jadi tidak ada lagi yang perlu diceritakan tentangnya"


Gisel membelalakan matanya. Gadis itu terpaku pada berita yang disampaikan Laura.


Bagaimana bisa? Bukankah baru kemarin mereka menjalani hubungan? Astaga! Secepat itukah?!


Benak Gisel penuh dengan pertanyaan, hingga ia tak menyadari Laura sudah berjalan keluar kamar.


"Laura!" seru Gisel berlari mengejar Laura menuju tangga asrama.


"Nanti saja aku akan ceritakan" ucap Laura mendongahkan kepala menatap Gisel yang berdiri dipembatas tangga.


"Hei!! Kau berhutang cerita Lauraaa!" seru Gisel sedikit meninggikan suaranya pada Laura yang terus berjalan.


Laura hanya tersenyum pasrah menatap temannya itu. Ia tersenyum getir. Setiap langkahnya menuruni tangga, membuat perasaannya menjadi semakin terasa berat. Jantungnya berdetak cepat seiring rasa perih yang semakin menampakkan diri. Dengan sisa-sisa kekuatannya, ia mencoba sebisa mungkin untuk menahan air matanya yang sebentar lagi akan keluar.


Langkah kakinya gontai ketika menapaki jalan panjang yang biasa ia lalui setiap hari. Dengan pandangan mata berkabut, Laura melihat Tomi berdiri dengan sigap di depan pintu mobil. Lelaki itu menundukkan kepalanya sopan, ia tak sadar raut wajah Laura sedang tak bersahabat ketika menghampirinya.


"Nyo-nya?" tatapan penuh tanya lelaki itu tujukan pada nyonya mudanya yang berwajah sembab. Tiba-tiba bulu kuduknya meremang ketika matanya bertabrakan dengan mata Laura yang memandangnya sinis.


"Ini semua karnamu, brengsek!!" bentak Laura sembari mendorongkan box buku yang ia dekap pada dada Tomi.


Tomi terkesiap sambil mengambil box itu dengan perasaan was-was.


"Apa...."


"Berhenti bicara, atau kau ingin aku hajar!" bentak Laura kembali sebelum ia menghentakkan kaki menghampiri pintu penumpang dan masuk kedalamnya, meninggalkan Tomi yang belum mengerti apa yang sedang terjadi.


"Tunggu apa lagi, cepat masuk!" Laura kesal melihat Tomi yang masih berdiri di depan pintu melalui jendela mobil yang ia buka sedikit.


Tomi memiringkan sejenak kepalanya, memikirkan kemungkinan apa penyebab mood Nyonya mudanya itu berubah kembali menjadi ganas. Tak berselang lama, ia mulai membuka pintu dan masuk ke dalam mobil setelah menaruh box buku di kursi penumpang bagian depan.


Roda-roda mobil hitam itu berputar begitu Tomi menginjakkan pedalnya. Melintasi jalanan malam dengan daun-daun pucuk merah yang berserakan mengiringi kepergian Laura dari kampus biru itu.


🍁🍁🍁


Hai semuanyaaaa... 😘😘


Sudah selesai kah bacanya?


Semoga kalian suka dengan ceritanya ya 😍


Jika ada saran, jangan sungkan untuk katakan pada kolom komentar. 😉


Happy Monday Guys!!

__ADS_1


Tetep jaga kesehatan oke?! 😉👌


__ADS_2