
Udara segar pagi hari di Lembang berhasil membuat mata gadis cantik terbuka. Ia mengusap lembut kedua bahu lengannya, mencoba mengusir dingin yang mengusik tidur lelapnya dengan sia-sia.
Tubuhnya masih meringkuk di balik selimbut hangat, namun kedua mata coklat kehitaman itu menatap awas pada kedua temannya yang terlihat sibuk merapikan diri. Melihat keduanya yang menggunakan setelan pendaki, lengkap dengan jaket parasut melekat di tubuh mereka membuat Laura terkesiap dan langsung terjingkat dari tidur malasnya.
"Oh Shit!!" umpat Laura segera berdiri dari kasur lantainya. " Kalian tidak membangunkanku." ucap Laura tergesa mengambil perlengkapan mandi di atas laci pakaian.
Rena dan Destri yang tengah mempersiapkan perbekalan pendakian menoleh pada Laura dengan jengah. Destri memutar bola matanya malas, sebelum kemudian berucap.
"Kau tidur seperti mayat, Laura. Kami membangunkanmu berkali-kali, tapi tidak berhasil." sindir Destri menatap Laura sejenak sebelum merapikan kembali ransel yang akan ia bawa.
"Kami yang ikut acara malam, tapi kenapa kau yang bangun kesiangan?" Rena menimpali sindiran Destri.
Laura yang menyadari kekurangannya langsung bungkam. Tidak bisa bangun pagi adalah kebiasaannya. Itulah mengapa di asrama ia meletakan dua jam weker dengan perbandingan waktu sepuluh menit dari waktu yang dipasang Laura, karena ia tahu satu jam weker saja tak cukup membuatnya terbangun.
"Maafkan aku, aku memang selalu kesulitan bangun pagi." Laura menyadari kekurangannya. Matanya nanar mencari pakaian yang hendak ia siapkan untuk mendaki.
"Yaaaa, kami tahu.. Tak ada wanita cantik yang benar-benar sempurna. Kekuranganmu menjadi nilai plus untuk kami." Rena menyeringai jahil melihat Laura yang hendak pergi ke kamar mandi. Laura tak menggubris ledekan Rena.
"Laura, kami akan menunggumu di gerbang, oke?!" Destri setengah berteriak pada Laura yang akan menghilang di balik pintu kamar mandi. Laura membalikkan badan sejenak, mengangguk cepat sebelum akhirnya menutup rapat kamar mandi tersebut.
🍁🍁🍁
Sabiel berjalan sedikit santai ketika ia diberi perintah untuk menjemput Laura di camp-nya. Semua mahasiswa telah siap untuk segera berangkat ke tempat pendakian, kecuali Laura. Entah apa yang membuat gadis itu terlambat, padahal waktu tambahan 15 menit seharusnya cukup bagi dirinya untuk mengejar keterlambatan bangun tidur, hal itu Sabiel dapatkan berdasarkan laporan kedua temannya.
Sabiel sedikit mempercepat langkahnya ketika matanya melihat camp gadis itu berada tak jauh dari tempat berdirinya. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Sabiel mendorong pintu itu hingga terbuka lebar.
"Aaarrrkkhhh" teriakan Laura cukup nyaring ditempat yang sudah sepi itu.
Sabiel segera membalikkan badan ketika matanya melihat Laura belum mengenakan pakaiannya dengan sempurna. Ketika Sabiel masuk, gadis itu sedang memakai celana panjang tanpa membuka handuk yang melilit di pinggangnya . Sementara bagian atas Laura sendiri hanya menggunakan sport bra dengan 2 tali yang saling terjalin membentuk pola X di punggung mulusnya. Sabiel langsung menyimpan penampilan Laura yang menggoda saat itu dalam benaknya. Bola mata hitamnya berbinar antara terkejut dan senang.
"Maafkan aku Laura, aku tidak tahu kalau kau..." Sabiel menelan ludahnya keluh.
"Apa tidak bisa mengetuk pintu dulu!?!" Laura menyela ucapan Sabiel kesal sembari memakai celana panjangnya kembali.
"Iya aku salah, aku pikir kau sudah siap." Sabiel merasa serba salah.
"Meskipun aku sudah siap, mengetuk pintu itu tetap keharusan Sabiel!" ucap Laura kesal, ia segera memakai kaus dan jaket parasut yang telah ia siapkan. "Sudah, kau boleh berbalik." suara Laura masih terdengar kesal.
Sabiel membalikkan badannya, ia melihat Laura yang sudah rapi berpakaian hendak memasukkan beberapa barang ke dalam tas ranselnya. Lelaki itu tersenyum lembut, ketika melihat mulut Laura masih mengerucut sebal padanya. Melihat punggung Laura yang membelakanginya, langsung membuatnya mengingat kembali tali-tali bra yang melilit di punggung putih bersih Laura. Sepagian ini, gairahnya malah naik hanya karna melihat punggung mulus gadis itu. Ditambah lagi ketika matanya menyusuri celana panjang Laura, benaknya langsung menampilkan kilasan paha bersih tanpa noda yang tadi tersingkap saat Laura hendak memakai celana panjangnya.
Sabiel menggelengkan kepalanya pelan. Naluri kelelakiannya benar-benar diuji melihat penampilan Laura saat tadi.
"Ayo berangkat." ucapan Laura membangunkan Sabiel dari khayalannya. Dia tak sadar, Laura sudah berdiri dekat dihadapannya dengan tas ransel yang ia gendong.
"O-Oke." Sabiel gugup.
Mereka berjalan bersama menuju gerbang, tempat dimana semua orang menunggu mereka dengan sabar. Ditengah perjalanan, Laura menyikut pinggang bawah Sabiel.
__ADS_1
"Jangan kau ceritakan apa yang kau lihat tadi." bisik Laura penuh tuntutan.
Sabiel tersenyum, tentu saja tidak akan ia ceritakan pemandangan indah nan menggoda itu pada siapapun. Sabiel tidak akan rela jika ada lelaki lain yang ikut membayangkan Laura seperti apa yang tadi ia bayangkan akibat dari keteledorannya.
"Tidak akan pernah." ucapnya bagai ultimatum untuk dirinya sendiri.
🍁🍁🍁
Kurang dari satu jam, mini bus yang membawa rombongan Laura sampai di gerbang depan posko pendakian Gunung Burangrang. Setelah mini bus itu berhenti, semua mahasiswa berhamburan keluar dengan tak sabar ingin segera dapat menikmati kesegaran alami yang tersaji di hadapan mata mereka.
Laura bersama kedua temannya terlihat bersemangat untuk segera menaklukan puncak gunung yang ada dihadapannya itu. Mereka berdiri berjajar dengan tas ransel di punggung mereka.
Setelah selesai dengan urusan pendaftaran di bagian posko utama, rombongan itu mulai mendaki. Menyusuri jalanan setapak yang menanjak dan berliuk, melewati pepohonan dengan gemerisik daun yang saling beradu akibat sapuan angin gunung.
Laura berada di barisan belakang. Dia berjalan dengan santai tak peduli jika teman-temannya sudah berada jauh di depan. Laura terlalu khitmad menikmati keindahan alam itu, penciumannya merasa segar disuguhi oksigen yang berlimpah dari pepohon pinus rimbun yang berdiri kokoh disisi kanan dan kiri jalan.
"Kau tidak lelah?" suara Sabiel yang muncul di belakangnya membuat Laura menoleh pada dosen itu. Dilihatnya beberapa dosen lain di belakang Sabiel yang tampak kepayahan menaklukan medan pendakian yang kian menantang.
"Tidak terlalu lelah pak." jawab Laura sopan. Sabiel tak marah ketika Laura memanggilnya dengan panggilan itu, karena memang kondisi Sabiel yang sedang bersama rekan kerjanya, memang mengharuskan Laura untuk bersikap formal padanya.
Sabiel berjalan dengan langkah lebar berusaha melewati Laura.
"Aku duluan." ucapnya sembari mengepalkan sesuatu di tangan Laura. Laura melihat apa yang Sabiel genggamkan di tangannya. Dia tersenyum lembut, ketika melihat dua coklat bar terbungkus rapi disana.
Sambil melanjutkan terus perjalanannya, Laura melihat punggung Sabiel kian menjauh, lelaki itu berhasil melewati beberapa orang dalam sekejap mata. Langkahnya begitu tegas ketika menapaki jalanan berbatu. Laura tersenyum takjub memandang Sabiel dari kejauhan. Gadis itu berpikir jika Sabiel begitu terampil dalam menjelajah alam, dia seperti mengenal baik trek pendakian itu.
"Semua harap berhati-hati" teriak dosen yang berada dibaris paling depan ketika memandu rombongan melewati jalan setapak berjurang di kedua sisinya.
Sabiel memperlambat langkahnya ketika Laura berada beberapa meter di belakangnya. Ia ingin menjaga Laura ketika gadis itu melintasi jalan setapak di depannya.
"Laura," ucap Sabiel merentangkan tangan menyuruh Laura menyambut uluran tangannya. Gadis itu tak banyak bicara, tangannya segera menggapai tangan Sabiel yang menanti. "Ikuti langkahku." Sabiel membimbing langkah Laura tanpa melepaskan pegangan diantara mereka. Sabiel menggenggam jemari Laura erat.
Ketika berhasil melewati jalan setapak tadi, pegangan itu terlepas. Sabiel tersenyum ketika menyarankan Laura untuk beristirahat.
Saat itu mereka berada di punggung puncak yang kedua, belum tiba di puncak utama. Namun panorama hijau pegunungan yang indah dan megah sudah dapat mereka lihat, beberapa mahasiswa terlihat memandang takjub hamparan pohon rimbun yang tampak seperti permadani hijau.
"Bagi kalian yang sudah lelah, pendakian cukup sampai di sini. Setelah puas istrirahat kita kembali turun." suara berat bercampur senggalan terdengar dari mulut salah satu dosen pendamping.
"Berapa lama lagi sampai puncak, pak?" Laura belum puas melihat kemegahan semesta.
"Sekitar setengah jam." sahut dosen yang sedang sibuk mengatur nafasnya itu.
"Apa boleh jika saya melanjutkan pendakian?" tanya Laura ragu.
"Boleh. Dosen Sabiel akan mendampingimu." Dosen tersebut melihat pada Sabiel yang berdiri tak jauh dari sisinya.
"Kau tidak lelah?" tanya Sabiel pada Laura yang sedang melihat hamparan pohon hijau.
__ADS_1
"Lelah. Namun saya rasa masih sanggup untuk mendaki." ucapnya percaya diri.
"Oke. Bagi yang ingin lanjut, ikuti saya." ucap Sabiel pada para mahasiswa yang terlihat lebih banyak memilih kembali. Hanya beberapa orang saja termasuk Laura, yang mulai mengikuti Sabiel.
"Kita bertemu di posko utama." Sabiel menepuk bahu rekannya sebelum ia melanjutkan pendakian diikuti Laura dan beberapa mahasiswa lain.
Sabiel membimbing langkah rombongan itu dengan baik. Ini bukan kali pertama Sabiel menjelajah Gunung Burangrang. Dulu, semasa ia masih menjadi mahasiswa, ia sempat bergabung lama dengan team merpati putih, nama perkumpulan para pecinta alam di kota Bandung. Banyak gunung yang berhasil Sabiel jelajahi berkat keikutsertaannya di team tersebut. Hingga beberapa gunung, ia hafal treknya. Termasuk Gunung Burangrang. Tanpa ragu, Sabiel menunjukan jalan mana yang harus dilalui untuk menghindari medan yang lebih berbahaya.
Setelah menempuh pendakian yang cukup berat, akhirnya Sabiel, Laura dan beberapa orang yang ikut itu berhasil sampai di puncak utama Burangrang. Rasa lelah, berkeringat, haus, dan puas nampak jelas dari raut wajah mereka. Beberapa orang segera mengeluarkan ponselnya, mereka tak sabar ingin segera mengabadikan 'penaklukan' mereka pada gunung yang berdiri kokoh bagai pasak bumi itu.
Laura berdiri di bawah satu pohon besar yang menjulang tinggi. Tangannya bersilang di dada, merasa bangga telah berhasil menaklukan Burangrang. Lebih jauh dari itu, Laura merasa bangga karena berhasil menaklukan rasa putus asa dan keinginan untuk menyerah, yang tadi sempat singgah dalam dirinya ketika rasa lelah dan letih menyergapnya.
Dia bangga atas pencapaiannya sendiri.
"Hanya Tuhan yang mampu melukis semesta seindah dan semegah ini, bukan?" ucapan Sabiel membuat Laura tersenyum mengakuinya.
Sabiel berdiri disamping Laura, pandangan mereka terbius oleh hamparan awan yang menaungi pepohonan dibawah sana. Langit biru terasa dekat ketika Laura menengadahkan kepalanya. Mata Laura terpejam meresapi belaian angin yang mulai berubah dingin. Sabiel terdiam menatap lekat wajah Laura yang cantik dan bersinar karena bulir keringat yang membasahi pelipisnya.
Andai Laura tahu, bahwa keinginan dalam hatinya saat itu adalah ******* lembut bibir mungil merekah yang kini sedang tersenyum menikmati hembusan angin dengan cara yang paling cantik dalam pandangan Sabiel.
Lelaki itu memalingkan wajahnya ketika Laura mulai kembali membuka mata. Menengok padanya sambil berucap dengan penuh rasa syukur.
"Tuhan pasti bangga, bisa memperlihatkan lukisan yang indah ini pada manusia." ucapnya sembari tersenyum hangat menatap Sabiel yang terpana pada sinar di kedua matanya.
Dengan semilir angin yang bertiup lembut menerpa wajahnya, Laura merangkai baris kata indah dalam hatinya.
Aku melihat kelangit, kudapati kuasaMu.
Aku melihat kebumi, kudapati kasihMu.
Tuhan.
Kau buat aku terpana,
MengagumiMu dalam keterbatasan seorang hamba.
"Sabiel, terima kasih coklatnya." ucap Laura tulus. Jantung Sabiel berdetak cepat ketika melihat raut wajah Laura memandangnya dengan begitu tulus. Lelaki dewasa itu terpesona oleh cara 'peri kecilnya' ketika ia berucap.
"Sangat cantik." gumam Sabiel dalam hati.
Desiran angin dingin puncak pegunungan tak mampu mengusiknya dari kekhusyuan memandangi peri kecilnya dari arah samping. Matanya menyusuri garis tulang pipi Laura yang indah, serasi dengan hidung mancung dan bibir mungilnya. Sungguh, pandangan Sabiel terbius oleh cara Laura memamerkan keindahannya.
Keindahan Laura menimbulkan kembali jiwa posesif Sabiel, dalam terik cahaya matahari yang kian membara, tatapan Sabiel merayapi gadis itu. Sorot matanya menajam ketika sebuah tekad hadir dalam hatinya.
"Sudah saatnya kau menjadi milikku, Ilalang." sorot mata Sabiel berkilat penuh siasat.
🍁🍁🍁
__ADS_1