
Suasana damai dan tentram selalu mengelilingi Laura sejak kepulangannya dari rumah sakit. Rasa bahagia yang menjejak dalam hatinya membuat moodnya semakin bertambah baik belakangan ini. Hal itu terjadi berkat sikap keluarga Laura yang kini mulai terlihat begitu menerima kehadiran suaminya sebagai orang baru dalam keluarganya.
Perasaan bahagia memancing Laura untuk kembali menikmati kesibukkannya membuat sebuah cerita. Temannya yang seorang editor terus saja memintanya mengirimkan naskah. Wanita yang pernah satu sekolah dengan Laura itu, begitu keras kepala ingin menjadikan Laura sebagai novelis baru. Ia yakin dengan kemampuan merangkai kata yang Laura asah sejak mereka duduk di bangku sekolah dulu.
Disela kekhusyuan nya merangkai kata menjadi barisan kalimat berparagraf. Laura tergoda untuk membuka kembali blog-nya. Ia ingin menyempatkan diri untuk melihat berselancar di rumah dunia mayanya. Begitu laman blog terbuka, matanya langsung menangkap notifikasi pesan di bagian indox. Ia membukanya segera.
Kelopak matanya tak berkedip ketika satu nama akun yang begitu lama ia kenal tertera disana. BIMASAKTI. Sesuatu tiba-tiba menghinggapi rongga kepalanya. Kenangan akan lelaki itu berkelebatan mengusik hatinya.
Tak terlihat pergerakan dari bibir mungil Laura ketika melihat isi pesan itu. Namun hati dan benaknya sibuk merapalkan kata demi kata yang membentuk paragraf panjang disana.
Bimakasti menunggunya?
Itu yang kemudian Laura simpulkan. Lelaki itu curiga akan pernikahannya. Oh Tuhan, Laura tidak tahu apa yang harus ia balas dan sampaikan pada mantan kekasihnya. Karena nyatanya semua yang pernah menyesakkan dadanya di masa lalu, telah berubah menjadi melegakan di masa kini.
Laura terdiam menatap layar laptop. Dia termangu dengan pikiran menerawang apa yang harus ia katakan untuk membalas pesan itu. Isi kepalanya saling berebut memberi perintah agar ia mengungkapkan yang sebenarnya terjadi, sementara yang lain bersikeras untuk tak lagi mengungkit hal yang lalu. Dan membiarkan pesan itu begitu saja.
Drrttt... Drrrtt.... Drrrtt...
Kepala Laura masih sibuk memutuskan, sementara tangannya meraih ponsel yang bergetar.
From. Sabiel
Sayang, coba kau lihat di kamar ayahmu. Apakah dompetnya ada? Dia melupakannya tadi saat berangkat. Dan Astaga! dia bersikeras untuk kembali ke apartemen.
Senyuman lebar terbit dalam bingkai wajah Laura. Saat ini para lelakinya sedang pergi untuk memancing, sementara bibi Dina sedang berada dalam kamarnya.
To. Sabiel
Baiklah, akan aku lihat.
Laura mematikan laptopnya, keinginan untuk membalas pesan Bimasakti lenyap sudah ketika membaca pesan suaminya yang terasa menggelitik.
🍁🍁🍁
JAKARTA PUSAT
"...Buruh, tani, mahasiwa, rakyat miskin kota. Bersatu padu rebut demokrasi. Genggap gempita dalam satu suara. Demi tugas suci yang mulia... Hari-hari esok adalah milik kita.
Terciptanya masyarakat sejahtera. Terbentuknya tatanan masyarakat. Indonesia baru tanpa orba..."
Ratusan ribu orang berdiri menantang terik matahari kala itu. Jalan Gatot Subroto menjadi lautan manusia sejak hari menjelang siang. Panji-panji beraneka warna berkibar meneguhkan tekad memberangus ketidakadilan yang kian hari kian terasa kronis.
Pemuda berhodie hitam dengan syal segitiga di lehernya berdiri sambil mengepalkan tangan, berorasi lantang diatas mobil bak terbuka. Sebelah tangan yang lain menggenggam toa meneriaki tikus berdasi yang mendadak menjadi tuli.
"Imperialisme. Hancurkan! Feodalisme, Musnahkan! Kapital Birokrat. Musuh Rakyat!"
Gendang telinga para aparat keamanan yang berjaga ketat membentuk benteng pertahanan di depan pagar gedung parlemen berdegung mendengar teriakan, umpatan bahkan lagu wajib para demonstran di jalanan.
Peluh keringat membasahi seragam coklat mereka, mengawal aksi turun ke jalan yang diprakarasi oleh elemen buruh Jakarta.
__ADS_1
"Kembalikan kawan kami!!"
Bimasakti berteriak lantang dengan toa di tangannya. Sontak teriakkannya disambut sorak sorai para peserta aksi. Mereka saling berteriak meminta keadilan atas sikap buruk yang kerap dilakukan pihak perusahaan pada tenaga pekerja.
"Bim, apa memungkinkan jika kita melakukan long march kembali?" Laras setengah berteriak di belakang telinga pemuda itu.
Bimasakti yang sedang berdiri tegak menolehkan kepalanya. "Tidak perlu, massa aksi semakin bertambah kita fokus orasi disini. Tadi pihak kepolisian sudah memberi aba-aba untuk tidak melanjutkan long march"
Laras mengernyitkan dahinya, "Sejak kapan kau menuruti kata 'anj*ng-anj*ng' itu?" ucapnya sarkas.
"Aku bukan menuruti mereka. Aku hanya ingin mencegah masa aksi terpecah. Long march membuat fokus kita terbagi Laras. Kita harus siap dengan penyusup yang tiba-tiba merusak barisan dan membuat kacau aksi kita" jelas Bimasakti.
Kali ini Laras sepakat. Tempo hari di aksi mereka yang lain, seorang kawan menghilang karena ada penyusup yang masuk dalam barisan peserta aksi. "Baiklah, kau istirahatlah. Aku yang akan berorasi" Laras merebut toa yang Bimasakti genggam.
Pemuda itu turun dari bak mobil. Matanya berpencar menelisik setiap peserta aksi yang sebagian besar ia kenali. "Rapatkan barisan! Hati-hati penyusup!" teriaknya membuat para peserta aksi saling merapat dan menautkan pergelangan tangan.
"Disini negeri kami, tempat padi terhampar. Samudranya kaya raya. Negeri kami subur Tuan. Di negeri permai ini. Berjuta rakyat bersimbah rugah. Anak buruh tak sekolah. Pemuda desa tak kerja..."
Lagu mars aksi massa kembali digaungkan dengan suara lantang, menjadi pengiring nada-nada keras yang keluar dari mulut Laras sebagai sang orator.
Bimasakti yang bertanggungjawab sebagai tim lapangan aksi, berkeliling mengitari barisan massa. Matanya tajam mencurigai setiap orang yang datang dari segala penjuru, mendekati kumpulan besar peserta aksi. Pemuda itu tidak ingin kecolongan, dia tidak akan membiarkan penyusup datang dan mengacaukan aksi damai hari ini.
Ditengah kesibukkannya, Bimasakti yang berada di barisan belakang tak menyadari seorang lelaki berpakaian khas mahasiswa lengkap dengan tas dan sepatu kets mendekatinya perlahan. Tiba-tiba pemuda asing itu merapatkan tubuhnya pada pinggang belakang Bimasakti.
"Diam dan ikut bersamaku. Atau peluru ini akan menembus tubuhmu dan orang-orang sialan-mu itu" bisiknya tajam dengan pistol Colt 1911 menempel di pinggang bawah Bimasakti.
Pemuda itu langsung diam tak berkutik. Namun tak ada rasa takut dari raut wajahnya. Untuk seseorang yang tiba-tiba ditodongkan pistol, Bimasakti amat sangat terlihat tenang. Dia sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan buruk hal semacam ini akan terjadi pada dirinya.
"Ikuti aku" perintahnya melangkah bersama dengan pemuda pemberani itu.
Mata Bimasakti memincing curiga pada sebuah mobil van putih dengan kaca tak tembus pandang terparkir di belakang barikade kepolisian yang tengah memblokir beberapa ruas jalan.
Langkah kakinya diarahkan kesana. "Kau aparat?" tanyanya tanpa menengokkan kepala.
Pemuda asing itu menekankan pistolnya pada kulit Bimasakti. "Kau akan tahu sebentar lagi" ucapnya misterius.
Seorang lelaki kekar bertopi hitam dengan masker menutupi area hidung dan mulutnya berjalan tegap, menghampiri pemuda yang membawa Bimasakti semakin mendekati lokasi van. Mata Bimasakti waspada melihat senjata laras panjang menggantung di punggungnya.
"Dia?!" tanya lelaki laras panjang itu pada pemuda yang membawa Bimasakti.
Pemuda itu mengangguk sigap. Seketika lelaki berlaras panjang mendekati Bimasakti dengan senjata yang ia ambil dari balik punggungnya. Tanpa aba-aba, lelaki kekar itu menghantamkan popor laras panjang pada wajah Bimasakti.
Buk!
Satu hantaman keras berhasil membuat Bimasakti limbung dan tersungkur. Kedua lelaki itu dengan cekatan langsung menarik lengan atas Bimasakti, mengapitnya di tengah dan melemparkannya ke dalam van yang ternyata sudah ada tiga orang lelaki lainnya, duduk menunggu didalam sana.
Belum sempat Bimasakti berontak, tangan seseorang membekapnya dengan sebuah kain bius.
"Gara-gara kau, kami dapat masalah. Bodoh!" bentak salah satu dari mereka menoyor kepala Bimasakti yang mulai lunglai.
__ADS_1
"Ayo! Bos sudah menunggu" ucap pemuda yang menyamar menjadi mahasiswa tadi pada lelaki berlaras panjang yang kini berada di balik kemudi.
Van putih itu perlahan beranjak dari tempatnya. Meninggalkan kerumunan massa tanpa seorang pun yang menyadari. Dari kejauhan, suara Laras terdengar lantang berorasi penuh semangat. Mata wanita aktivis buruh itu, tertuju pada bangunan beratap setengah lingkaran berwarna hijau. Tinjunya terkepal sempurna, menantang para legislatif dengan cara yang masiv.
🍁🍁🍁
Bimasakti merasa tubuhnya melayang ke udara. Sebuah ruangan suram penuh dengan barang-barang bekas menyambut penglihatannya yang buram. Bola matanya semakin menajam ketika ia baru saja menyadari bahwa tubuhnya menggantung dengan kedua pergelangan tangan terikat pada sebuah tiang besi.
Ada sebuah pintu yang tertutup di sisi sebelah kanannya. Sementara dua buah kursi lengkap dengan meja kecil ada di hadapannya. Tak ada siapapun di ruangan itu. Hanya ada dirinya dan suara kepak sayap burung walet yang ia lihat dari celah jendela. Kumpulan burung itu berlalu lalang keluar masuk sebuah bangunan, dengan cat tembok mengelupas yang berada diluar ruangan penyekapan. Mereka terbang bebas seolah mengolok ketidakberdayaan pemuda aktivis tersebut.
Ingatannya kembali pada pemuda misterius yang beberapa saat lalu membawanya dari kerumunan massa. Tak ada petunjuk akan siapa gerangan yang melakukan tindakan pengecut seperti ini, namun mengingat ucapan salah seorang diantara mereka di van pada saat itu, Bimasakti menduga orang-orang itu pasti antek perusahaan yang kini tengah ia dan kawan-kawannya perkarakan di meja hijau.
Cih! Dijaman demokrasi ini ternyata cara-cara primitif untuk menekan ruang gerak aktivis masih saja berlangsung. Seolah hasil reformasi orde baru, tak memberi efek berarti dalam kebebasan warga sipil untuk menuntut haknya.
Bimasakti meringis ketika ia mulai merasakan sakit di pelipisnya. Bekas hantaman popor senjata disana, terasa ngilu dan perih bersamaan. Pandangan Bimasakti mulai menerawang, matanya menyipitkan ketika melihat senja yang mempesona melalui celah jendela. Hari semakin petang, aksi turun ke jalan pasti sudah berakhir berjam-jam yang lalu.
"Mereka pasti mencariku" Bimasakti membatin mengingat kawan seormasnya.
Ditengah tatapannya yang terbius pesona senja, pintu ruangan terbuka perlahan, diiringi gelak tawa dari dia orang lelaki bertubuh tegap yang masuk sambil membawa senjata.
"Ternyata kau sudah sadar" ucap salah satu dari mereka sembari melangkah mendekati dua kursi di hadapan Bimasakti.
Bimasakti mengawasi dua orang lelaki itu. Lelaki berkaus biru menatapnya setengah mengejek. "Sekeras apapun kau berteriak di gedung sana. Suaramu tidak akan pernah terdengar. Kenapa kau masih saja bertingkah sok pahlawan?" ucapnya sinis.
"Sudahlah Gun, biarkan dia menggantung dengan khayalannya. Lebih baik bersantai sejenak. Sebelum menghabisi nyawa si sok pahlawan itu" timpal lelaki berambut ikal.
Bimasakti seolah tak mengenal takut, tatapannya mengarah bergantian pada dua lelaki yang kini tengah menenggak anggur. "Berapa mereka membayar kalian?" tanyanya.
Lelaki berambut ikal meletakkan botol anggurnya di meja. Ia berdiri dan menghampiri tubuh Bimasakti. "Untuk mayatmu, mereka memberikan kami rumah mewah di daerah Kemang"
Bimasakti memutar bola matanya malas, seringai mencibir tersungging apik di sudut bibirnya, "Oh ayolah.. Mayatku bisa lebih mahal daripada rumah mewah itu" ucapnya memprovokasi.
"Oh ya?" lelaki berkaus biru terpancing untuk ikut andil dalam percakapan itu. "Pantasnya kami minta berapa untuk nyawamu yang tak berharga itu?" tanyanya dengan maksud menghina.
Bimasakti dengan nyali yang tinggi tampak berpikir, matanya menatap tali yang mengikat pergelangan tangannya sendiri. "Sebuah pulau akan membuatku mati dengan bangga" ujarnya.
"Hahahahaha"
Kedua lelaki itu tertawa kencang mendengar perkataan penuh keberanian yang keluar dari bibir aktivis tersebut. "Kau membuatku gemas ingin segera menghabisimu" ucap lelaki berambut ikal sebelum ia meninju wajah Bimasakti yang terlihat angkuh.
Bimasakti merapatkan gerahamnya, mencegah erangan atau jerit kesakitan keluar hanya untuk memuaskan rasa kedua lelaki yang kini sibuk memukuli tubuhnya. Lelaki berbaju biru menjambak rambut panjang Bimasakti, di saat seperti itu ia masih sempat merutuki kebodohannya yang tidak mengindahkan saran Laras untuk memangkas rambutnya.
Tak ada rasa nyaman dari semua penyiksaan yang ia terima. Dalam kondisi tergantung, ia benar-benar merasa seperti samsak seorang petinju amatir. Tubuhnya kebas menerima pukulan bertubi dari dua orang itu. Ingin sekali ia memeluk perut sendiri untuk meredakan rasa sesak akibat tendangan dari lelaki berambut ikal di hadapannya. Mereka menyiksa Bimasakti dengan siksaan yang sulit terlukiskan sakitnya. Ditengah dera dan siksa, benaknya sibuk membayangkan Laura. Senyuman manis wanita itu membuat kesakitan tubuh Bimasakti mereda secara ajaib.
Pikiran Bimasakti mengawang, pukulan kedua lelaki itu mulai berhenti. Namun benaknya masih sibuk memberi mimpi utopis tentang Laura. Bimasakti sadar, bahwa di saat tubuhnya sekarat sekalipun, ia begitu merindukan wanita itu.
"Laura" gumamnya lirih sebelum kegelapan memeluknya seketika.
Sayup terdengar suara salah seorang dari penyiksa itu, "Ayo keluar, tinggalkan dia"
__ADS_1
Tak berapa lama pintu tertutup. Meninggalkan tubuh pemuda yang bersimbah dengan luka dan lebam.
🍁🍁🍁