
Di sepanjang perjalanan hati Laura berdebar tak karuan. Sebentar lagi ia akan kembali bertemu dengan teman-temannya di kampus. Mata Laura memandangi jalan kota Bandung yang sudah terlihat padat, beberapa kendaraan tampak saling susul menyusul dengan kendaraan didepannya. Beberapa hari tinggal di pegunungan ternyata membuatnya merindukan kembali kebisingan ini. Jalanan yang dipadati manusia, umpatan-umpatan yang keluar dari hati mereka yang sedang dilanda kekesalan, dan senyuman ramah dari tatapan-tatapan sekilas orang-orang yang berlalu lalang, membuat pagi hari kota Bandung tampak dinamis. Laura tersenyum riang, ia menempelkan sisi dahinya di jendela mobil yang tertutup.
Perasaan tak sabar menyergap diri Laura ketika ia membayangkan saat datang nanti, Rena akan terkejut atau mungkin histeris melihat keberadaan dirinya di dalam kelas. Laura berjanji pada dirinya sendiri untuk menghabiskan waktu seharian ini dengan teman-temannya. Ah, Gisel. Apa kabarnya anak manja itu?
"Nyonya, mohon maaf saya akan mengingatkan, di dalam kelas nyonya telah saya masukkan dua orang anak buah saya untuk mengawasi nyonya dari jarak dekat. Jadi saya ingatkan, tolong jaga diri dan sikap anda. Jangan berbuat sesuatu yang membuat Tuan marah." Tomi berulang kali mengingatkan. Lelaki itu tahu bagaimana Tuannya sering dibuat susah dengan sikap pembangkang yang masih nyonyanya itu lakukan.
Ucapan Tomi membuat senyuman memudar dari bibir Laura. Dia menengokkan kepalanya, memicingkan mata pada Tomi yang fokus menyetir.
"Apa kau bisa berhenti mengingatkan hal itu?!" katanya dengan nada ketus. "Saat ini aku sedang merayakan kebebasanku yang hanya beberapa hari saja. Jadi biarkan aku menikmati hari-hariku, selama dia tak ada. Jangan kau rusak dengan perintah gila Tuanmu. Oke?!" Laura menatap jengah pada Tomi yang bermimik wajah datar.
"Saya hanya mengingatkan..... "
"Berhenti aku bilang!" sergah Laura menghentikan ucapan Tomi. Lelaki itu langsung membungkam mulutnya ketika mendapat tatapan sinis dari majikannya.
"Dasar kau penculik sial-an! Tidak akan aku biarkan kau merusak kebebasanku." Laura bergumam dalam hati.
Laura merasakan perasaannya begitu ringan dari pagi hari yang cerah itu. Dadanya terasa lapang memandang rimbun pepohonan pucuk merah yang bisa kembali ia nikmati. Bangunan-bangunan simetris yang tinggi dengan kapasitas besar berjejer di sisi kiri kanan mobilnya. Laura baru saja memasuki gerbang kampus yang dirindukan itu, kakinya tak sabar ingin menjejak di permukaan aspal yang kering, jalanan yang biasa ia lalui bersama teman-temannya.
Tomi berdiri di pintu mobil ketika ia telah berhasil memarkirkan mobilnya di salah satu tempat yang bisa dikatakan 'tersembunyi'. Lelaki itu memutar langkahnya untuk menghampiri pintu dibagian seberang dan membukanya untuk Laura.
"Kau tidak perlu melakukan itu. Aku bukan seseorang yang ingin kau layani seperti majikan-majikanmu." ucap Laura ketika Tomi berhasil lebih dulu membukakan pintu untuknya. Terbiasa hidup mandiri, membuatnya canggung menerima pelayanan dari orang-orang Sabiel.
"Saya hanya menjalankan tugas, Nyonya." Tomi membungkuk dengan sopan.
"Ah terserah lah, aku malas berbicara denganmu." ucap Laura sembari melangkah meninggalkan mobil. Tomi mengikuti di belakangnya.
"Tomi."
"Saya nyonya."
"Jaga jarakmu. Aku tidak mau teman-temanku menuduhmu sedang menguntit." ucap Laura tanpa menengok pada Tomi.
Seketika Tomi berhenti berjalan, ia membiarkan majikannya berjalan lebih dulu hingga beberapa meter di depannya, setelah dirasa cukup. Ia melanjutkan kembali langkahnya. Tangannya merogoh saku dadanya untuk mengambil ponsel.
"Dampingi nyonya. Jaga jarak aman, jangan sampai nyonya merasa terganggu dengan kehadiran kalian." ucapnya tegas pada para bawahannya yang ia perintah untuk mengawasi Laura di sekitaran kampus.
🍁🍁🍁
"Lauraaaa!
Pekikan histeris mengejutkan Laura ketika ia sedang berjalan menaiki tangga menuju kelasnya. Ia membalikkan badan, mencari sumber suara itu.
"Rena!" Laura memanggil teman dekatnya yang berada beberapa meter di belakangnya. Bola mata keduanya bersinar senang.
"Lauraaa! Aaaahhh aku rindu." Rena memeluk Laura erat, mereka saling mengusap lembut punggungnya masing-masing.
"Oh astaga! Aku juga merindukanmu." sahut Laura.
"Laura!!!" pekikian tak kalah histerisnya kembali membahana di gedung itu. Kedua wanita yang sedang berpelukkan menoleh bersama, dan mereka tersenyum lebar ketika sosok genit Destri berlari terburu-buru menghampiri mereka.
Gadis genit itu menubrukkan dirinya pada Laura dan Rena. Seketika ketiga mahasiswi itu saling berpelukan erat sembari melompat-lompat kegirangan hingga kelelahan dan memutuskan untuk berhenti.
"Kau lama sekali Laura." keluh Rena yang masih di dera rindu.
"Memang kau kemana selama ini?" Destri menimpali.
__ADS_1
Ketiga mahasiswi itu berjalan bersama menaiki tangga untuk sampai di kelasnya. Sementara itu Tomi yang menyaksikan dari kejauhan tersenyum lembut melihat rona wajah gembira yang melekat di paras cantik majikan mudanya.
"Urusan keluarga." Laura tampak fasih memberikan alasan palsu. Kedua temannya hanya mengangguk tanpa sedikit pun menaruh curiga.
"Urusan keluarga apa sampai kau sulit sekali dihubungi?" dengus Rena mengingat betapa sulitnya ia menghubungi Laura.
Laura terkekeh ringan. "Ponsel ku rusak, beberapa hari dia harus 'dirawat'."
"Sudahlah, yang penting primadona kita akhirnya kembali lagi. Mata para lelaki dikelas pasti tak sabar ingin melihat Laura." Destri tersenyum genit sambil merangkul hangat pundak Laura dan Rena yang berjalan di sisinya.
Laura melangkah dengan semangat, hatinya seolah mendapat kekuatan baru dari teman-temannya. Dia bahkan tidak memperdulikan dua orang asing yang baru pertama kali ia lihat di dalam kelasnya. Kedua lelaki itu duduk di sisi kiri dan kanan bagian belakang kursi para siswa. Keduanya tampak mencoba berbaur dengan teman Laura yang lain, namun tatapannya menjadi tajam ketika Laura melintasinya. Laura sadar akan kehadiran orang-orang itu, ia tersenyum sembari melirik sekilas pada kedua orang yang menganggukkan kepalanya pelan.
"Sabiel memang tidak waras!!" umpat Laura dalam hati.
🍁🍁🍁
Kelas usai bertepatan dengan gerimis yang turun menghujani bumi yang semula gersang. Awan tampak kelabu sore itu. Angin membawa kabar bahwa hujan akan terus turun hingga petang menjelang.
Nyatanya, cuaca cerah di awal hari tak juga menjadi jaminan akan cerah pula di penghujung hari. Laura mendesah menatap rintik hujan dari balik jendela kelas. Tadinya sehabis perkuliahan hari ini, ia akan pergi berjalan kaki ke asrama gumilar. Ia ingin menemui Gisel disana.
"Kau sudah akan pulang?" Destri menatap Laura yang sedang berkemas sambil sesekali melihat ke arah jendela.
"Tidak tahu, tadinya aku ingin ke asrama. Aku ingin berpamitan dengan Gisel, teman sekamarku disana." Laura mendesah kecewa.
"Berpamitan? Memang kau mau kemana lagi Laura?" Rena menengok ke arah Laura penasaran.
"Pamit untuk keluar dari asrama, sekarang aku tinggal di apartemen keluargaku." ucapnya datar.
"Apartemen? Waaaahhh, sepertinya kita harus mengunjungimu nanti." Destri mengedipkan mata pada Rena yang tersenyum lebar.
"Menginap?!" Laura membelalakan matanya. "Oh tidak tidak! Kalian tidak bisa menginap atau berkunjung ke apartemenku" suara gugup Laura terdengar di telinga kedua temannya yang memandang curiga pada Laura.
"Laura, apa ada yang kau sembunyikan?" selidik Rena, Kedua pasang mata itu memicingkan mata bagai seorang detektif.
"Bukan begitu, tidak ada yang aku sembunyikan." sangkal Laura menatap bergantian pada kedua temannya. "Aku hanya tidak ingin kalian tak nyaman saja, karena keberadaan keluargaku disana." Laura beralasan.
"Apa salahnya dengan keluargamu? kami bisa berbaur dengan mereka." tukas Destri.
"Ishh..sudahlah, kalian tidak akan mengerti. Lebih baik sekarang kita keluar, karena hujan sudah mulai reda." Laura mengarahkan pandangan kedua temannya untuk melihat jendela kelas sembari berdiri. Rena dan Destri ikut berdiri dan mulai melangkah bersama Laura.
"Aku akan pergi menemui temanku di asrama, sampai berjumpa besok." pamit Laura ketika telah sampai di depan pintu kelas. Ia memeluk kedua temannya dengan hangat, kemudian berjalan meninggalkan Rena dan Destri yang masih berdiri di ambang pintu.
"Kau merasa aneh tidak dengan anak itu?" tanya Rena memandang Laura yang semakin menjauh.
"Ya, Kau benar." Destri mengangguk pelan. "Lama tidak berjumpa, sepertinya ia semakin cantik."
"Bodoh! Bukan itu maksudku!" Rena menyikut lengan Destri.
"Aduuuhh!" Destri mengaduh bukan karena sikutan Rena, tapi pada senggolan seseorang yang tiba-tiba keluar dari dalam kelas.
Kedua gadis itu menatap antara heran dan terkesima pada dua lelaki tampan dengan topi hitam menutupi kepala keduanya.
"Oh My Loorrrdd! siapa mereka? kenapa aku baru melihatnya sekarang?" gumam Rena dan Destri dalam hati. Mendadak kedua gadis itu jadi salah tingkah.
"Saya mohon maaf tak sengaja menyenggol anda, nona" ucap si penyenggol menyesal.
__ADS_1
"Ah, ya tidak apa-apa." Destri dilanda kegugupan mendapat perhatian dari lelaki itu.
"Kalau begitu, permisi kami harus cepat pergi." ucapnya terburu-buru pada Destri dan Rena yang masih terbius memandangi ketampanan kedua lelaki itu.
Kedua lelaki bertopi hitam itu langsung berjalan dengan langkah lebar, pandangan keduanya berpencar mencari sosok majikan muda yang tadi lebih dulu keluar kelas.
"Bos, sepertinya nyonya akan pergi ke asrama kampus." seorang lelaki melapor pada Tomi ketika akhirnya menemukan Laura sedang berjalan ke arah kompleks asrama kampusnya.
"Pantau dari jauh." ucap Tomi lugas.
🍁🍁🍁
"Apa yang membuatmu tersenyum, sayang?" tanya Intan.
Siang hari itu setelah menjemput Intan di Bandara, Sabiel makan siang bersama istri sah-nya di sebuah rumah makan di Kota Bandung.
"Tidak. Aku hanya teringat sesuatu." ucap Sabiel santai sembari menyantap kembali hidangannya.
"Aneh." ujar Intan sambil lalu.
Nyatanya, yang membuat Sabiel tersenyum saat itu adalah laporan Tomi yang ia dapat saat menunggu kedatangan Intan di Bandara tadi pagi. Tomi menceritakan bahwa ia mendapat banyak pukulan dari Laura saat hendak mengantarnya ke kampus. Lelaki itu juga mengatakan perihal Laura yang terus memandangnya sinis di perjalanan menuju kampus, sambil mengumpat dengan tak karuan.
Sabiel tersenyum membayangkan wajah menggemaskan Laura sedang merengut dengan bibir mungil terkatup rapat.
"Sebentar lagi akan ada acara fashion show di perusahaanku, sayang." ucapan Intan menyadarkan Sabiel.
"Oh ya? kapan itu?" tanya Sabiel dengan malas.
"Kami masih mendiskusikan kapan tepatnya." ucap Intan sembari mengunyah hidangannya. "Oh aku tak percaya, mereka menjadikanku sebagai desainer utama di fashion show itu sayang." Intan menatap suaminya penuh antusias.
"Sejak kehadiranku disana, mereka begitu tertarik pada setiap design yang aku buat." sambungnya.
Intan terus saja bercerita tentang semua hal pencapaiannya di Singapura. Benaknya begitu tak sadar untuk menceritakan satu per satu hal menakjubkan yang ia peroleh disana.
Sabiel hanya tersenyum dan mengiyakan semua ucapan Intan. Lelaki itu menutupi rasa tak peduli dengan semua cerita karir gemilang yang diperoleh Intan dinegeri sebrang sana dalam raut wajah innocent yang ia tampilkan. Benaknya justru lebih tertarik membayangkan raut wajah cantik istri mudanya. Sabiel sadar ini barulah beberapa saat sejak ia terakhir kali bertemu Laura, namun entah mengapa hatinya seperti sedang dipenuhi oleh rasa rindu yang menggebu pada wanita itu. Ingin rasanya ia menyudahi acara makan siang membosankan itu dengan segera, dan berlari untuk merengkuh tubuh mungil istri mudanya dalam pelukan.
Hingga acara makan itu berakhir, Intan terus saja bercerita. Dia tak menyadari bahwa semua hal yang ia ceritakan, sama sekali tak menarik bagi suaminya.
"Apa kita akan langsung pulang?" nada suara manja Intan mengganggu pendengaran Sabiel yang hendak membuka pintu mobil.
"Ya. Kita akan pulang." sahut Sabiel menatap Intan yang masih berdiri di pintu Mobil.
"Kau tidak ingin mengajakku berjalan-jalan dulu sayang" Intan mulai bergelayut di lengan Sabiel. Sabiel menahan diri sekuat tenaga untuk tidak menepis gelayutan itu.
"Aku lelah. Dan ingin beristrirahat." jawab Sabiel singkat sebelum meminta Intan masuk dalam mobil.
Dengan setengah hati, Intan memasuki mobil itu setelah ia bergumam tak jelas sembari membanting pintu mobil tepat di hadapan Sabiel.
Sabiel menaikkan sebelah alisnya. Sekali lagi, dia sudah sangat sangat sangat terbiasa menghadapi sikap Intan yang seenaknya.
Sambil memijit pelipis kepalanya, Sabiel berjalan sedikit cepat untuk sampai di pintu kemudi. Tak berapa lama, mobil itu berjalan menyusuri kota Bandung yang lenggang.
"Wellcome to the hell, Sabiel!" gumam Sabiel dalam hati memandang jalanan panjang menuju neraka di kehidupan nyata dengan Intan yang berwajah masam di sisinya.
🍁🍁🍁
__ADS_1