Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 13


__ADS_3

Setelah selesai dengan sesi perkuliahannya, Sabiel kembali ke ruangannya. Sesuai apa yang ia sampaikan pada Laura, ia akan menghubungi kembali gadis itu setelah selesai mengajar.


Saat di dalam kelas, Sabiel terlihat tidak bersemangat untuk memberi perkuliahan. Benaknya terus saja membayangkan wajah Laura yang sedang menangis tersedu. Ia ingin segera menghubungi gadis itu lagi. Dia butuh mendengarkan suaranya.


Tepat pada saat Sabiel bersiap untuk menghubungi Laura, ponselnya berdering lebih dulu. Matanya memandang malas ketika nama Intan tertera di layar.


Intan menghubunginya, setelah beberapa hari hilang tak ada kabar. Akhirnya istri yang berada jauh darinya itu kembali menghubunginya. Sabiel terpaksa menunda keinginannya untuk segera menghubungi Laura.


"Ya." ucap Sabiel datar pada Intan diseberang sana.


"Sayang, kau sedang apa saat ini?" Intan berbasa basi.


"Aku masih di kampus. Ada apa?" Sabiel ingin segera mengakhiri panggilan Intan.


"Sayang, begini..." Intan menarik nafas terlebih dulu sebelum ia melanjutkan perkataannya. "Rencanaku untuk kembali ke Indonesia sepertinya harus aku batalkan." Intan terdiam sejenak menunggu respon Sabiel.


"Lalu?" Sabiel benar-benar tidak peduli apa yang ingin disampaikan istrinya. Dia malah membuka laptopnya dan mencari file dokumentasi saat ia dan Laura berada di Lembang. Ia ingin memandangi Laura dari foto-foto itu.


"Saat ini aku sedang sibuk dengan beberapa event yang akan diadakan perusahaan." ucap Intan. "Apa tidak bisa kau yang datang kemari?" sambungnya kemudian.


"Aku tidak bisa kesana, Intan. Kau pikir aku tidak banyak pekerjaan?" ucap Sabiel malas. Bibirnya tersenyum ketika ia melihat wajah menggemaskan Laura yang berhasil ia abadikan dalam foto.


"Aku juga tidak bisa kembali ke Indonesia, Sayang." ucap Intan menahan kekesalannya.


"Ya sudah, lebih baik kita tidak bertemu saja. Kau sibuk, aku pun sibuk." putus Sabiel kemudian.


"Apa tidak apa-apa bagimu?" ucap Intan ragu. Di dalam hatinya ia justru tersenyum senang mendengar apa yang Sabiel ucapkan. Dia bisa lebih fokus pada pekerjaannya, tanpa dibayang-bayangi rasa bersalah pada suaminya karna tak bisa kembali ke Indonesia.


"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa." ucapnya santai namun penuh sindiran.


Sayangnya, Intan tak menganggap ucapannya itu sebagai sindiran. Dengan bodohnya Ia malah berpikir bahwa Sabiel pada saat ini sudah mulai terbiasa dengan hubungan jarak jauh.


"Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungimu lagi nanti." Intan tersenyum lega sebelum menutup panggilannya.


Sabiel menatap layar ponselnya ketika panggilan Intan sudah mati. Hati Sabiel benar-benar sudah mati untuk Intan. Dia tidak peduli atau akan marah lagi jika Intan tidak juga kembali dalam jangka waktu yang lama. Dia tidak peduli. Dalam benaknya, dia sudah memantapkan diri untuk segera berpisah dengan Intan dan mengejar kebahagiaannya dengan Laura. Saat ini Sabiel hanya perlu alasan kuat yang bisa mematahkan pembelaan Intan yang selalu memaksa Sabiel untuk mengingat janjinya pada mendiang orangtua Intan.


Malam itu Sabiel terpaksa tidak jadi menghubungi Laura, setelah sambungan telephon dari Intan terputus, Sanjaya masuk ke dalam ruangannya. Ayah angkat Sabiel itu datang untuk mengajak Sabiel pulang bersamanya untuk memenuhi undangan makan malam bersama keluarga besar Sanjaya.


🍁🍁🍁


Sementara di belahan kota lain, Laura tampak tertidur pulas di kursi yang bersisian dengan ranjang ayahnya. Kepalanya tertunduk pada sisi ranjang dengan kedua tangan yang menjadi penopang kepalanya.

__ADS_1


Makanan di atas meja yang dibawa tadi oleh pamannya, masih utuh tak tersentuh. Kondisi ayahnya saat itu berhasil menghilangkan nafsu makannya.


"Laura...." bibir ayah Laura terlihat menyebut nama anaknya dengan sangat lemah. Ia mencoba menggerakkan jemarinya yang terasa kaku.


"Laura..." ucapnya kembali. Kali ini nada suaranya sudah lebih kuat dari sebelumnya.


Suara panggilan kedua dari ayahnya ini berhasil masuk dalam alam bawah sadar Laura. Dalam sekejap, mata gadis itu langsung terbuka, sorot matanya berkilat penuh kewaspadaan.


"Laura..."


Mata gadis itu membulat sempurna, secepat kilat ia menegakkan tubuhnya yang sejak tadi tertunduk di sisi ranjang. Matanya kembali berair begitu melihat ayahnya terbangun dari tidur panjangnya. Kelegaan langsung membanjiri hatinya.


"Ayah." ucapnya lirih pada sosok ayahnya yang kini menatapnya lemah. "Ayah sudah bangun?!" sambungnya lagi.


Lelaki tua bernama Rama itu menyunggingkan sedikit senyumnya pada Laura. Sebelah tangannya mencoba menggapai wajah cantik Laura yang setengah membungkuk di hadapan wajahnya. Laura menyambut tangan lemah itu dengan hati-hati, karna terdapat selang infus disana. Ia membawa tangan ayahnya untuk di letakkan pada sebelah pipinya yang lembab karna air mata.


"Jangan menangis sayang." ucap Rama lirih. "Ayah tidak suka melihatmu menangis." sambungnya.


"Jika.... Jika tak suka melihat anakmu ini menangis, seharusnya ayah bisa menjaga kesehatan ayah hingga aku tidak mesti melihat ayah terbaring disini." ucap Laura mendengus kesal menatap wajah ayahnya yang tersenyum lembut padanya.


"Kapan kau datang?" tanyanya pelan, jemarinya mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi anaknya.


"Tadi sore." saut Laura. Dadanya terasa lega melihat kedua bola mata ayahnya yang menatapnya lembut. Gurat-gurat masa tuanya begitu jelas terlihat dari sudut matanya ketika ia tersenyum mengenyahkan gundah yang beberapa saat lalu menggelayuti hati anaknya.


Sebelum menjawab pertanyaan ayahnya, Laura menempatkan diri untuk duduk di sisi ranjang sebelah kaki ayahnya. Tangannya bergerak untuk memijit lembut kaki ayahnya tersebut.


"Semua berjalan lancar ayah. Sejauh ini tidak ada kendala berarti disana." Laura menatap teduh bola mata ayahnya. "Ayah tidak perlu memikirkan masalah kuliahku, yang harus ayah pikirkan saat ini adalah kesehatan ayah sendiri." sambungnya.


Rama hanya tersenyum tanpa berkata, dia tahu anak semata wayangnya ini begitu mengkhawatirkan dirinya. Sejak istrinya meninggal, hanya Laura lah satu-satunya pelipur lara ketika ia merasa lelah menjalani hidup. Kini, setelah Laura berkuliah di kota yang cukup jauh dari pandangannya. Hatinya begitu sepi, kosong tak terisi. Namun ia juga tidak bisa bersikap tega pada Laura untuk tetap melanjutkan pendidikannya disana. Laura berhasil masuk di salah satu universitas terbaik di Indonesia dengan berjuang memperoleh beasiswa, tentu itu hal yang membanggakan. Dia tidak mungkin menyuruh Laura untuk melupakan impiannya, hanya karna ia merasa kesepian tanpa ada Laura di sisinya.


🍁🍁🍁


"Aku masih di Jakarta, tidak tahu kapan akan kembali. Aku ingin menemani ayahku terlebih dulu, gisel." ucap Laura pada Gisel di seberang sana.


Laura memindahkan ponsel yang tadi di sebelah kanan telinganya, pada telinga kirinya. Tangan kanannya bergerak membuka jendela ruangan.


Pagi menjelang di Ibukota, sinar mentari sudah mulai memberikan sengatannya pada makhluk di muka bumi. Cuaca hari ini begitu cerah, hingga Laura tak kuasa untuk tidak membuka jendela ruangan ayahnya dan membiarkan sang surya menerobos masuk di sela-sela jendela berteralis besi itu.


Laura melihat pada ayahnya yang masih tertidur nyenyak. Semalam setelah pembicaraan singkat dengan ayahnya itu, Laura akhirnya bisa tersenyum lega menyambut pagi. Ayahnya mulai membaik. Ketakutan dan rasa gelisah lenyap sudah berganti pijar harapan yang menyala di relung hatinya.


"Baiklah, aku mengerti. Semoga ayahmu lekas sembuh Laura. Kamar ini terasa kosong tanpamu." ucap Gisel dengan intonasi suara yang terdengar manja.

__ADS_1


Laura terkekeh mendengar nada suara manja Gisel yang khas. Teman satunya itu meskipun mereka seusia. Namun sifat Gisel yang manja, membuat Laura memperlakukannya seperti adik sendiri. Dan sepertinya Gisel pun memperlakukan Laura seperti kakaknya sendiri juga. Semakin lama sikap mereka begitu alami berperan layaknya kakak beradik, tidak ada sikap canggung diantara keduanya. Laura yang lahir tanpa saudara, tentu menyambut baik semua sikap Gisel yang menurutnya sangat menyenangkan.


"Nanti aku akan kembali kesana, kau tenang saja." Laura tersenyum senang. "Gisel sudah dulu ya, paman bibiku datang." Laura segera menutup ponselnya begitu paman dan bibinya masuk dari balik pintu ruangan.


🍁🍁🍁


Laura berjalan santai menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang mulai ramai pagi itu. Rumah sakit besar ini lebih terlihat hidup dengan banyaknya manusia yang datang dan pergi entah kemana. Matanya melihat kumpulan perawat yang terlihat sedang menyiapkan perlengkapan untuk melakukan visit morning bersama satu orang dokter paruh baya.


Laura terus berjalan, tujuannya adalah loket pengambilan obat. Loket tersebut lekatnya bersebelahan dengan meja resepsionis. Untuk berjalan kearah sana, Laura harus melewati beberapa ruangan yang sepertinya menjadi tempat para dokter melakukan pemeriksaan umum. Laura melihat para calon pasien duduk rapi di kursi panjang depan salah satu ruangan yang tertutup.


"Sekali lagi, bukan tugas kami untuk memutuskan. Kami harus lapor terlebih dulu pada pihak yang lebih berwenang mengenai asuransi pekerja ini."


Terdengar ucapan seorang perawat muda di meja resepsionis yang sedang berbicara dengan seorang lelaki di hadapannya, Laura yang berada di depan loket pengambilan obat melihat ke arah resepsionis itu.


Seorang lelaki kira-kira berusia 30 an sedang memegang selembaran yang hendak ia sodorkan pada perawat di depannya. Raut wajahnya terlihat gusar. Laura tidak bisa melihat secara detail wajah lelaki itu, karna posisinya yang berada disamping. Dari penampilannya, lelaki berkulit sawo matang itu memakai setelan jeans dipadu dengan kaos berlengan pendek berwarna hitam. Lelaki itu menyugar rambut hitam bergaya curtains-nya ketika sang perawat mengembalikan selembaran yang tadi lelaki itu sodorkan.


"Teman saya butuh penanganan segera, dia tak memiliki keluarga disini selain saya. Tolong jangan menghambat pengobatannya dengan dalih asuransi belum bisa dipakai." lelaki itu terlihat emosi.


Beberapa pengunjung di rumah sakit melihat dengan pandangan penuh rasa ingin tahu akan apa yang sedang terjadi di meja resepsionis.


"Saya tidak bermaksud menghambat. Tapi memang asuransi teman anda belum bisa dipakai. Anda bisa berbicara dengan pihak yang berwenang jika anda mau." perawat itu tak kalah emosi menghadapi lelaki keras kepala di hadapannya.


"Kau sambungkan aku dengan pihak yang berwenang menangani asuransi pekerja. Bilang padanya, Bimasakti dari Ormas Buruh ingin berbicara." ucapnya lugas.


Laura tampak tercengang mendengar nama yang ia kenali disebut oleh lelaki itu. Matanya tampak nanar mencoba mengendalikan perasaan takjub bercampur rasa terkejut yang membuat dadanya berdetak cepat secara tiba-tiba.


Dengan langkah yang ragu, dia mencoba menghampiri lelaki yang berkacak pinggang di hadapan perawat yang sedang melakukan panggilan telephon di balik meja itu. Dengan sekuat tenaga, Laura mencoba meyakinkan dirinya untuk memastikan kebenaran sosok yang berada didekatnya saat ini.


"Bima.. Bimasakti, kaukah itu?!" panggilan bernada ragu Laura membuat lelaki itu menolehkan kepalanya menatap diri Laura yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


Bimasakti memiringkan kepalanya heran. Matanya menatap Laura yang tampak menutup mulutnya dengan telapak tangan. Matanya berbinar oleh rasa tak percaya.


"Aku.. Ilalang." ucap Laura kemudian.


Mata Bimasakti membulat sempurna, mendengar satu nama yang ia ingat jelas dalam benaknya. Jantungnya berpacu semakin cepat ketika melihat Laura mulai melangkah kembali menghampirinya dengan perlahan.


Ilalang? Itu adalah blog dari akun bernama Laura yang hampir setiap saat ia lihat. Disana ia sering berbalas prosa dengan si pemilik akun tanpa tahu rupa yang sebenarnya dari blogger tersebut.


Ternyata memang benar, Tuhanlah yang mengatur segala pertemuan manusia dengan manusia lainnya. Dan tanpa disangka, Bimasakti kini dipertemukan dengan wanita keras kepala yang selalu menolak permintaannya untuk bertemu di dunia nyata.


Laura? Kaukah itu?

__ADS_1


🍁🍁🍁


Jangan lupa jejaknya ya.. 😘😘😘


__ADS_2