Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 27


__ADS_3

Laura mengusap air mata di wajahnya dengan kasar, sesaat sebelum ia membuka pintu kamar asramanya. Dia tidak ingin Gisel tahu hal apa yang baru saja menimpanya.


Setelah mencoba menetralkan kembali suaranya yang tadi terasa berat, Laura membuka kamar itu perlahan.


"Gisel?" ia langsung memanggil teman sekamarnya itu sembari melangkahkan kaki untuk bergerak memasuki kamar.


Matanya melihat ranjang single Gisel yang masih tampak rapi tanpa kerutan, diujung ranjang bagian bawah terdapat selimbut berbahan katun yang masih terlipat dengan sempurna. Pertanda Gisel belum pulang.


Seketika, tubuh Laura ambruk. Ketiadaan Gisel menjadi angin segar bagi dirinya yang saat itu masih ingin menuntaskan rasa sesak di dadanya. Air matanya mulai kembali menganak di kedua pipinya. Laura terpukul. Tubuhnya bergetar hebat mengingat apa yang sudah Sabiel lakukan padanya.



Dia meraba kancing celana yang tadi hampir saja Sabiel buka. Gadis itu tidak menyangka, lelaki yang selama ini ia anggap sebagai kakaknya bisa berbuat hal yang nekat pada dirinya. Laura merutuki kebodohannya tak mendengarkan saran Gisel tempo hari, seharusnya matanya tidak buta melihat gelagat Sabiel yang terus mendekatinya.


Air mata Laura terus mengalir, ia tak kuasa menahan emosinya saat itu. Dia benar-benar merasa menjadi korban upaya pemerkosaan oleh dosennya sendiri. Gadis itu mengusap kasar bibirnya, berusaha menghilangkan jejak ciuman paksa yang Sabiel lakukan padanya. Sambil terus mengusap bibirnya, ia berdiri dan berjalan menuju tempat minum berada. Aroma mint segar mulut Sabiel masih terasa kuat di rongga mulutnya, dia ingin menghilangkan itu dengan berkumur.


Lama Laura menghabiskan waktu dengan berkumur, tiga kali tegukan ternyata tak membawa hasil yang memuaskan. Aroma Sabiel masih ia rasa. Begitu kuat. Begitu pekat. Hingga ia seperti merasakan bibir Sabiel masih melekat erat pada bibirnya.


"Brengsek!" umpat Laura ketika mengingat kejadian dalam mobil itu.


🍁🍁🍁


Kepala yang terasa berdentum menghinggapi dirinya, ketika bola mata gadis cantik yang tampak sembab perlahan terbuka. Dia membalikkan tubuh segera, menghadap ranjang teman sekamarnya yang terlihat sudah berpenghuni disana. Gisel tampak lelap dengan selimbut menutupi sebagian besar tubuhnya dengan rapat.


Laura bangun dari tidurnya dengan susah payah, dia memegangi kepalanya yang sedikit pusing. Semalam entah bagaimana, dia lupa kapan tepatnya ia berakhir meringkuk di atas ranjang, dengan pakaian kemarin yang masih ia kenakan.


Hari ternyata masih terlalu pagi untuk memulai aktivitas, itu Laura yakini setelah melihat jam weker yang ternyata masih menunjukkan pukul empat dini hari. Dia menyibak sedikit jendela kamar, dan tentu saja gelapnya langit yang hanya ia dapati.


Dengan wajah sendu, gadis itu berjalan setengah malas untuk kembali meringkuk di ranjangnya, namun sepersekian detik ia bangun kembali. Langkah kakinya perlahan menghampiri Gisel di ranjangnya, tanpa pikir panjang Laura langsung mengambil posisi untuk tidur berhimpitan memeluk punggung gadis bongsor yang terasa hangat di tubuhnya. Gisel terlalu lelap untuk menyadari kehadiran Laura yang semakin mempersempit porsi ranjangnya, dia tak tahu di balik punggung lebarnya itu Laura kembali meneteskan air mata pilu mengingat perbuatan Sabiel kepadanya. Hatinya sungguh kecewa diperlakukan seperti itu oleh orang yang dekat dengannya.


Laura semakin menenggelamkan kepalanya pada kehangatan punggung temannya itu. Mencoba menahan isak yang ingin kembali menyeruak hadir menodai heningnya dini hari. Hingga perlahan mata itu terpejam dan kembali menggapai ilusi dalam bunga mimpi.


🍁🍁🍁


Drrrttt.... Drrrttt....


Dering ponsel berhasil mengganggu kedua gadis yang berpelukan dalam tidurnya. Mata gadis bertubuh bongsor mengernyit merasa terganggu oleh dering ponsel itu. Sementara gadis yang bertubuh mungil memilih tak menghiraukan bunyi ponsel miliknya sendiri.


"Laura. Ponselmu." Gisel mendorong pelan tubuh Laura dengan lengannya. Laura tak bergeming, dia memilih menarik selimbut hingga menutupi kepalanya.


"Laura, ponselmu berbunyi." Gisel menarik selimbut itu gemas. Dia heran, sejak kapan Laura tidur bersamanya.


"Biarkan saja, aku malas." suara serak Laura mewakili kondisinya saat itu.


"Biarkan saja kepalamu! Bunyinya menggangggu, kau matikan sana." sergah Gisel mendorong kembali tubuh Laura yang lunglai.


"Ish.." dengus Laura sembari bangun dari tidurnya, dan berjalan menuju meja belajarnya. Tempat dimana ponsel itu ia taruh semalam.


Matanya bersinar cerah ketika nama Bimasakti tertera di layar ponsel, dia duduk di tepi ranjangnya dan berdehem beberapa kali sebelum kemudian menjawab panggilan itu.


"Halo." suara seraknya tak mampu untuk ia tutupi.


"Kau baru bangun tidur, Laura?" tebak Bimasakti.


"Tidak. Aku sudah bangun sejak dini hari." Laura menggigit lidahnya, berharap lelaki itu percaya.

__ADS_1


"Oh ya?! Tapi sepertinya suaramu berkata lain?!" ucap Bimasakti jahil.


"Ishh, sudahlah. Untuk apa kau mengomentari suaraku." dengus Laura sebal.


Gisel yang melihat temannya tampak senang dengan panggilan itu, memilih beranjak dari ranjangnya dan menghampiri Laura. Dia duduk disamping Laura dan mencoba mencuri dengar dengan mendekatkan telinganya pada ponsel di telinga Laura. Laura tampak tak merasa terganggu dengan ulah Gisel, dia tersenyum senang menatap teman sekamarnya yang menatap dirinya penuh penasaran.


"Nanti akan aku ceritakan." gerakan bibir Laura pada Gisel membuat gadis bongsor itu mengangguk senang.


"Apa yang kau lakukan disana?" Laura kembali bertanya pada Bimasakti.


"Kau ingin jawaban formal atau non formal?" ucap Bimasakti memberi pilihan.


"Formal dan non formal." ujar Laura


"Secara formal aku sedang mengunjungi markas buruh kelapa sawit." ungkap Bimasakti.


"Dan non formal." Nada suara Laura melambat.


"Secara non formal, aku sedang memikirkanmu." Bimasakti tersenyum malu mengakui itu.


"Terus saja gombal." suara ketus Laura tidak singkron dengan bibir yang tersenyum merekah.


"Aku tak sabar ingin bertemu denganmu." ujar Bimasakti. "Selesai dari sini, aku akan menemuimu Laura. Dimana kau tinggal?"


"Asrama Universitas Maradhinata, Pasteur." Laura tersenyum menyambut baik keinginan untuk bertemu dengan Bimasakti.


"Baiklah, siapkan dirimu. Aku bisa tiba-tiba datang menemuimu disana." janji Bimasakti.


"Aku menunggu."


"Ceritakan!" ucap Gisel penuh rasa penasaran.


🍁🍁🍁


Satu minggu berlalu begitu cepat.


"Kau sudah dengar berita dari dekanat?" ucap Rena sebelum ia duduk dikursi sebelah Laura. "Dosen Sabiel cuti bekerja. Dia tidak akan mengajar kita dalam waktu yang tidak ditentukan." sambungnya.


"Oooohhh no. Satu-satunya penyegar mata kita pergi hiks hiks hiks." nada suara lesu terdengar dramatis dari Destri yang duduk di sisi lain Laura.


Sejak kegiatan jelajah alam, gadis genit itu sekarang semakin dekat dengan Laura dan Rena. Dia jadi lebih sering duduk dan bercerita mengenai apapun dengan kedua gadis yang sebelumnya tidak terlalu akrab dengan dirinya itu.


"Pantas saja seminggu terakhir ini, dosen Sabiel tak terlihat di sekitaran kampus." ujar Rena.


Laura tampak menyimak apa yang temannya ucapkan. Sejak kejadian naas itu, memang Laura pun belum pernah lagi bertemu dengan Sabiel. Bahkan Sabiel tak pernah sekalipun menghubunginya, untuk sekedar meminta maaf.


"Apa dia merasa bersalah?" gumam Laura dalam hatinya, menduga-duga alasan dari Sabiel mengambil waktu cuti dari profesi mengajarnya.


"Kira-kira ada apa ya? Tidak biasanya dosen tampan itu mengambil cuti seperti ini." tanya Rena penasaran.


"Mungkin dosen Sabiel sedang berbulan madu bersama istrinya." sahut Destri sembari menyeringai. "Aku dengar dia belum memiliki keturunan. Bisa saja kan dia mengambil cuti untuk fokus membuahi istrinya." sambung Destri terkekeh dengan asumsinya sendiri.


"Kau tahu dari mana?" tanya Rena, gadis itu mencondongkan tubuhnya melintasi Laura yang terpaksa harus memundurkan punggungnya hingga menempel pada sandaran kursi.


Meskipun ekspresi wajah Laura menampilkan ketidak tertarikkannya pada isu pagi Destri dan Rena, namun telinganya siaga mendengarkan semua yang Destri ucapkan terkait Sabiel. Dia tidak ikut membongkar fakta kehidupan rumah tangga yang pernah Sabiel ceritakan padanya tempo hari, fakta mengapa lelaki itu belum memiliki keturunan, fakta bagaimana hubungannya dengan Intan sebagai seorang istri. Laura terlampau enggan untuk ikut andil dalam penyebaran isu terkait dosennya itu. Dia memilih diam, menyimak beberapa asumsi serampangan yang terus saja dilontarkan kedua temannya.

__ADS_1


"Ada yang mengatakan bahwa istrinya mandul, tapi ada pula yang mengatakan pak Sabiel memang tidak ingin memiliki anak." Destri tampak bersemangat menceritakan beberapa isu yang berkembang terkait dosen favorit mahasiswi itu. "Tapi entahlah, kita tidak tahu mana yang benar."


Obrolan mereka akhirnya terpaksa berhenti, karena dosen pengganti Sabiel telah memasuki kelas. Ditengah proses perkuliahan yang menjenuhkan, Laura memandang dosen bernama Viktor itu dengan setengah hati. Apa yang dosen Viktor sampaikan mengenai perkuliahan tidak bisa Laura tangkap dengan pendengarannya. Pikirannya mengawang tak fokus dalam perkuliahan. Benaknya sibuk memikirkan keberadaan Sabiel.


Bagaimanapun juga Sabiel bukan orang asing bagi Laura, bahkan kesalahan yang pernah Sabiel buat kepadanya sudah Laura maafkan, sebelum Sabiel sendiri memohon maaf pada Laura.


Kelas itu usai saat matahari bergerak semakin merunduk menyentuh bumi. Langit Bandung dengan pongah menyombongkan keindahannya melalui semburat jingga, kelabu, dan merah muda yang membentuk garis gradiasi warna yang membuat mata siapapun tak berhenti untuk mengaguminya.


Laura tampak melamun beberapa saat, dia membiarkan Rena dan Destri untuk pulang lebih dulu membiarkan dirinya sendiri di dalam kelas.


Puk.


Tepukan ringan menyadarkannya dari lamunan, dia menengokkan kepalanya melihat siapa yang sedang berada dibelakangnya kini.


Raut wajah terkejut tergambar jelas dari paras cantik gadis itu, ketika lelaki yang selama ini terus bertukar kabar dengannya berada dihadapannya. Laura berdiri dari duduknya, matanya menyisir penampilan Bimasakti yang tampak sedikit kurus dari terakhir kali mereka bertemu saat di Jakarta dulu.


"Bimasakti?"


Lelaki itu tersenyum tipis, sedikit canggung.


"Wajahmu seperti kau sedang melihat hantu saja, Ilalang." Bimasakti mencondongkan tubuhnya, menatap wajah Laura dari jarak dekat.


"Kau memang hantu, bukan?!" ucap Laura sembari menyeringai jahil. "Bagaimana kau tahu kelasku disini?" tanyanya kemudian.


"Tidak terlalu sulit untuk menemukan primadona kampus, pada siapapun aku bertanya pasti mereka langsung memberitahuku dengan tepat." sindiran bermuatan pujian keluar dari mulut lelaki itu.


Setelah acara di perabumulih selesai, Bimasakti langsung terbang ke Bandung, bersama ormas buruh asal Bandung yang ternyata ikut pula dalam acara perhelatan akbar ormas buruh tersebut. Bimasakti bahkan diberi tumpangan untuk menginap di markas ormas buruh Bandung, selama yang ia mau.


"Ish, kau ini." Laura tersipu malu. "Kapan kau datang dari perabumulih?" tanya Laura.


"Kemarin. Sesuai janjiku, aku akan menemuimu langsung setelah acara disana selesai." ujar Bimasakti, ujung matanya melihat buku-buku Laura yang tersusun rapi di meja. Dia ingat tadi sebelum ia mengejutkan Laura dengan kedatangannya, gadis itu sedang merapikan buku-bukunya untuk dimasukan dalam tas.


"Apa kau sudah selesai?" tanyanya pada Laura.


Laura mengangguk sambil melirik buku-bukunya di meja.


"Ya. Aku sudah selesai." jawabnya sembari bergerak memasukan buku itu kedalam tasnya. Laura menghadapkan tubuhnya kembali kearah Bimasakti yang menunggunya dengan sabar.


"Aku kelaparan. Bagaimana jika kita pergi makan terlebih dulu." Bimasakti memasang wajah memelas sembari setengah membungkuk memegangi perutnya.


"Cih! Kau tak perlu beralasan seperti itu hanya untuk mengajakku keluar." decih Laura memandang geli lelaki dihadapannya.


"Sial! Aku memang tidak jago berakting." Bimasakti menegakkan kembali tubuhnya.


Kedua manusia itu berjalan bersisian keluar dari ruang kelas Laura yang sepi, senja Bandung yang menawan mengiringi langkah kaki santai mereka. Tanpa mereka sadari sepasang mata mengintai mereka dari balik pilar depan kelas Laura. Sosok berseragam cleaning servis dengan kepala ditutupi topi itu melihat kedua manusia yang sedang tertawa renyah pergi menjauh meninggalkan kelas. Dia segera merogoh ponselnya, menghubungi seseorang yang telah menyuruhnya untuk membuntuti Laura.


"Laura pergi bersama lelaki, dosen Sabiel. Apa yang harus saya lakukan?" ucapnya sembari mencoba melihat kembali Laura yang semakin jauh.


"Ikuti dia! Foto apapun yang mereka lakukan. Lalu kirim padaku." ucap Sabiel penuh dengan geraman. "Kau akan mendapatkan bayaran sesuai dengan kerja keras yang kau lakukan untukku."


"Baik, pak. Saya akan lakukan." lelaki itu menyeringai misterius ketika mengakhiri panggilannya.


Langkahnya tergesa untuk segera melepas seragamnya dan menyusul Laura. Dia tidak akan menyia-nyiakan pekerjaan sampingan yang Sabiel berikan padanya seminggu terakhir ini. Memata-matai Laura, dan melaporkan semua yang gadis itu lakukan selama di kampus, adalah pekerjaan mudah dengan bayaran tinggi yang baru kali ini ia miliki. Dia tidak menyangka, gadis cantik itu, ternyata bisa menjadi tambang uang bagi dirinya.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2