
Setelah makan malam selesai, Sabiel langsung menuju ruang kerjanya. Dia duduk dikursi kerja dengan kedua tangan menopang dagu.
Perkataan Intan dalam panggilannya tadi mengganggu pikiran Sabiel. Intan mengatakan bahwa dua hari lagi ia akan kembali ke Indonesia. Itu artinya Sabiel harus kembali ke kota dan meninggalkan Laura sendiri disini selama beberapa hari.
Tidak! Tidak mungkin ia meninggalkan Laura. Laura harus ikut dengannya.
Lelaki itu mengambil ponselnya, ia harus meminta orang kepercayaannya untuk mulai menyiapkan segala kebutuhan bagi Laura. Sebelum Sabiel menghubungi orang tersebut, pintu diketuk pelan. Tak berselang lama pintu terbuka dan Laura berdiri disana.
"Ada apa dengan Intan?" Laura langsung bertanya. Sehabis panggilan Intan, Sabiel tampak termangu saat makan malam. Hal itu membuat Laura berpikir bahwa ada sesuatu yang mengusik Sabiel mengenai panggilan itu.
"Dia akan kembali ke Indonesia." ucap Sabiel menatap Laura yang menghampiri meja kerjanya. Wanita itu duduk di kursi depan meja kerja Sabiel.
"Kapan?"
"Dua hari lagi." raut wajah Sabiel tampak enggan mengatakan itu. Keberadaan Intan otomatis akan memangkas waktu kebersamaannya dengan Laura. Dan Sabiel membenci itu.
"Jadi kau akan pergi?" tanya Laura mulai menyelidik. Matanya berkilat oleh rasa antusias yang sulit untuk ditutupi.
"Melihat raut wajahmu, sepertinya kau senang sekali mendengar aku akan pergi." sindir Sabiel.
Laura langsung gugup, dia mencoba mengendalikan dirinya dengan memegang figura kecil di meja. Dalam figura itu terdapat foto Sabiel dan Intan.
"Istrimu cantik ya?!" puji Laura mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ya, kau memang cantik." sahut Sabiel menatap waspada pada istri mudanya itu.
"Maksudku istri sah-mu." Laura memberi penekanan pada ucapannya. "Aku heran, memiliki istri cantik seperti Intan, mengapa kau masih memaksaku juga menjadi istrimu?" tanya Laura
"Apa kau belum cukup puas dengan sosok Intan disisimu?" Laura bertanya kembali ketika melihat Sabiel tampak enggan untuk menjawab. "Aku dengar Intan bekerja di Singapura sebagai desainer. Kau memiliki istri yang hebat Sabiel, kenapa masih memaksa wanita lain menjadi istrimu?"
"Cih. Hebat? Kau lupa apa yang aku ceritakan padamu dulu? Saat diperjalanan pulang dari Camp Lembang." ujar Sabiel.
"Aku tidak lupa." Laura mengangkat bahunya. "Aku hanya ragu saja dengan apa yang kau katakan waktu itu. Bisa saja kan cerita itu kau buat memang sengaja untuk membuatku mewajarkan sikap egoismu padaku." Laura mulai menyudutkan Sabiel.
"Jangan-jangan itu semua hanya karanganmu saja. Untuk kemudian menjebakku." ucapnya provokatif.
"Terserah apapun yang kau katakan Laura. Kau tidak akan pernah mengerti penderitaan apa yang aku rasakan, sebelum kau sendiri yang merasakannya." Sabiel tidak ingin terprovokasi oleh ucapan Laura.
"Kata siapa aku tidak merasakan penderitaan? Tahukah kau, bahwa kini aku sedang mengalaminya." ujar Laura sembari mencondongkan sedikit tubuhnya pada Sabiel.
Sabiel mulai tampak naik pitam. Ucapan terakhir Laura membuatnya dikuasai oleh amarah. Sabiel menatap tajam bola mata coklat yang memandangnya dengan penuh cemooh, seolah ia adalah penjahat bodoh yang menyekap seorang sandera.
Kedua tangannya mengepal erat di atas meja. Dia tahu, Laura saat ini hanya sedang memprovokasinya. Gadis itu masih ingin melawan Sabiel dengan kata-katanya yang tajam. Tidak seharusnya Sabiel terpancing oleh ucapan yang keluar dari bibir pedas itu.
"Sebenarnya, apa yang kau ingin tahu hingga mendatangiku kesini, Laura?" Sabiel mulai jengkel mendengar ucapan Laura yang berbelit-belit.
"Aku hanya ingin tahu, apa yang Intan katakan padamu." ucap Laura santai, jemarinya terus saja menyentuh semua benda yang ada di meja kerja Sabiel.
"Jika itu yang ingin kau tahu, aku sudah mengatakannya bukan?! Intan hanya memberitahuku bahwa dia akan kembali."
"Itu artinya kau akan berada di rumahmu sana, bukan?!" Laura merujuk kediaman Sabiel di kota Bandung.
Sabiel mengangguk sembari menatap penuh antisipasi dengan apa yang sedang dipikirkan Laura.
"Apa aku akan tetap disini, selama kau di kota?" tanya Laura kemudian.
__ADS_1
"Tidak. Kau, Mbok Suti dan Mbok Yayu akan pindah ke salah satu apartemenku disana." ucap Sabiel.
"Dimana itu? Apa jauh dari kampus?" tanya Laura detail.
"Tidak begitu jauh. Aku baru saja ingin menyuruh seseorang untuk mengurus semua keperluanmu disana." ujar Sabiel. "Begitu kau pindah ke apartemen, akan aku urus masalah kuliahmu." ucap Sabiel santai. "Sekarang bukan itu yang harus kau pikirkan, sayang." Sabiel mencondongkan tubuhnya pada arah Laura dengan tatapan tajam.
"A-apa maksudmu?" Laura gugup mendapat tatapan tajam dari suaminya.
"Bimasakti. Kau harus segera mengakhiri hubunganmu dengannya." Sabiel menyeringai jahat sembari menegakkan kembali tubuhnya. "Aku tak suka jika dia terus menghubungimu."
"Menghubungiku? Kapan dia menghubungiku Sabiel?" Laura menjadi gusar dan tidak sabar.
Sabiel mendelik menatap wajah gusar Laura. Kini bola api ada ditangannya. Dia siap untuk melemparkannya pada Laura.
"Kemarin malam. Aku membiarkannya. Tadinya akan aku angkat, dan langsung mengatakan kau telah menikah." Sabiel menyeringai mengawasi raut wajah Laura yang mulai pucat. "Tapi aku rasa, kau yang lebih baik mengatakannya"
Laura menggelengkan kepala. Dia kembali kalut dengan masalah ini. Putus? Hubungannya bahkan belum genap sebulan, kini ia harus mengakhirinya. Bagaimana dengan perasaan lelaki itu nanti?
"Semua gara-gara kau, Sabiel!!" bentak Laura langsung berdiri dari duduknya. Matanya kembali menyala oleh rasa benci pada lelaki yang telah merenggut kebebasannya. "Kau merusak hubungan kami, dengan obsesi gilamu" ucap Laura kasar.
Sabiel menghela nafasnya. Dia tahu Laura akan kembali terbawa emosi jika nama Bimasakti disebut. Lelaki itu ikut berdiri dari kursinya. Dia berjalan memutari meja hendak menghampiri Laura. Sedangkan Laura, sorot matanya tajam mengekori pergerakkan Sabiel.
"Jangan mendekat!" seru Laura lantang ketika Sabiel berjalan semakin mendekatinya.
"Cepat atau lambat, kau memang harus mengakhiri hubunganmu dengan dia, sayang." ujar Sabiel dengan entengnya. "Apa kau tidak ingin mengakhiri hubunganmu dengannya?"
Laura diam membisu. Air mata di kelopak matanya sudah mulai menggenang. Alih-alih menjawab pertanyaan Sabiel, ia mengalihkan wajahnya dengan kasar. Seolah melihat Sabiel dihadapannya sudah berhasil membuatnya muak.
"Baiklah. Aku rasa kau tak tega untuk mengakhiri hubunganmu dengannya." Sabiel berjalan perlahan menjauh dari posisi Laura. "Biar aku yang akan memberitahunya tentang pernikahan kita." ucap Sabiel menyeringai angkuh.
"Aku akan bicara dengannya." putus Laura pada akhirnya. Ia berjalan menghampiri Sabiel yang berdiri di ambang pintu. "Aku yang akan mengakhiri hubunganku dengannya. Jadi jangan coba-coba kau ikut campur dalam masalah ini." suaranya bergetar namun tak menghilangkan ketegasan dalam ucapannya.
Laura menatap lekat Sabiel yang berdiri dihadapannya, memandang jijik dengan menyunggingkan sedikit sudut bibirnya, sebelum ia memutuskan untuk keluar dari ruangan itu, meninggalkan Sabiel yang menatap punggungnya dengan raut wajah arogan.
🍁🍁🍁
Laura kembali ke dalam kamar dengan hati yang dipenuhi kesedihan. Dia kembali teringat moment kebersamaannya dengan Bimasakti. Perasaan senang dan penasaran setelah berbalas prosa dulu, seolah mencabik-cabik relung jiwanya yang terdalam. Laura ingat betul kata-kata romantis yang Bimasakti ucapkan untuknya. Semua itu terasa berputar dalam kepalanya.
Laura berjalan menghampiri tempat tidur, dan langsung menyembunyikan dirinya dibalik selimbut. Palung hatinya terasa tersayat membayangkan raut wajah Bimasakti yang penuh dengan kekecewaan ketika ia mengatakan keinginannya untuk mengakhiri hubungan.
Ya Tuhan, bagaimana bisa kau memberikan Laura kebahagiaan hanya seujung kuku jari? Dosa apa yang telah ia perbuat, hingga Kau timpakan takdir yang begitu keji seperti ini.
Laura mencoba menguatkan hatinya. Menyakini bahwa semuanya akan kembali sedia kala. Suatu saat, jika memang mereka ditakdirkan untuk bersama. Maka mereka akan kembali bersama, apapun caranya.
"Aku harus menemukan foto-foto itu." gumam Laura teringat foto vulgar yang Sabiel jadikan sebagai senjatanya untuk mengancam dirinya.
🍁🍁🍁
Laura baru saja jatuh dalam buaian mimpi, ketika Sabiel membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar. Dia langsung melihat Laura yang meringkuk diatas tempat tidur dengan selimut yang menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Sabiel meletakkan jubah tidurnya disamping tempat tidur, lelaki itu membungkuk untuk menyibakkan selimut dan masuk kedalamnya.
Sabiel tak bisa menahan diri untuk memeluk istrinya yang tidur membelakanginya. Ia rengkuh pinggang Laura hingga rapat dengan dadanya, kepalanya langsung menyusup pada tengkuk Laura. Laura yang merasakan gerakan itu, melawan dengan menyikut dada Sabiel. Dengan sigap Laura langsung membalikkan badan menghadap lelaki egois yang sedang mencuri kesempatan untuk mencumbunya.
"Jangan sentuh aku!" ucapnya tegas.
__ADS_1
Sabiel tak menghiraukan ucapan Laura. Lelaki itu menarik tubuh Laura hingga membentur dadanya. Ia tak ingin berhenti. Tangannya langsung mengangkat gaun Laura dan merayap naik tanpa permisi.
"Sabiel! Jangan sentuh aku!" Laura memukul lengan Sabiel yang berada dibalik gaunnya.
"Kau istriku Laura, sudah sewajarnya bukan jika kau melayani kebutuhan sex-ku?!" ucap Sabiel dengan lancang.
Mata Laura membulat sempurna mendengar ucapan yang terkesan penghinaan itu. Dosen gila itu tanpa perasaan, mengatakan bahwa tubuh Laura harus selalu siap melayaninya di atas ranjang.
Plaaakk!
Tangan Laura bergetar setelah menampar pipi Sabiel. Gadis itu langsung mendudukan dirinya, menatap murka pada Sabiel yang menatapnya sambil mengusap bekas tamparan Laura.
"Aku tidak sudi menjadi pelayanmu diatas ranjang." suaranya bergetar menahan emosi yang sudah mencapai puncaknya.
Dia menyibakkan selimbut, bermaksud untuk segera turun dari atas tempat tidur. Namun naas, Sabiel menariknya kuat hingga ia terjerembab kembali di tempat tidur dengan posisi telentang. Sabiel langsung menahannya dengan membungkuk tepat di atas Laura. Sorot mata keduanya berkilat oleh amarah.
"Kau masih ingin melawanku?" tanya Sabiel.
"Kenapa? Kau ingin mengancamku?" tantang Laura.
"Cih. Kau boleh melawanku sampai kau puas, sayang." ucap Sabiel sembari membelai sisi wajah Laura. "Tapi kau harus ingat, sekeras apapun perlawananmu, pada akhirnya kau akan berakhir dipelukanku."
Setelah mengatakan hal itu, Sabiel langsung mencium bibir Laura dengan kasar. Laura meronta dengan menggelengkan kepalanya kuat. Sabiel menjadi geram. Ia lepaskan pertautan bibir itu, dan menegakkan tubuhnya diatas Laura dengan bertumpu pada kedua lututnya. Matanya menatap Laura dengan penuh nafsu, dia membiarkan kedua tangan Laura meronta memukuli dadanya bahkan memberi cakaran disana.
"Lepas! Minggir kau dasar bajingan!" umpat Laura kesal.
Sabiel menyunggingkan senyumnya, memandang remeh perlawanan Laura pada dirinya. Dengan sekali tarikan, lelaki itu mencabik gaun tidur Laura. Hingga terbukalah seluruh bagian dada Laura yang menggoda. Laura dengan lemah mencoba menutupi dadanya dari tatapan buas Sabiel dengan kedua tangannya, namun Sabiel dengan keahliannya, menggenggam kedua tangan Laura dan langsung mengikatnya dengan gaun malam yang sudah tercabik.
Mata Laura terbelalak ketika Sabiel memaku tangannya yang sudah terikat ke atas kepalanya.
"Permainan baru akan dimulai, sayang." bisiknya parau di telinga Laura yang mulai tampak menegang.
Sambil menggenggam kedua tangan Laura yang terikat, Sabiel merundukkan kepala mencium kembali bibir Laura. Lidahnya menyelinap dan mencari lidah Laura dengan tak sabar. Sabiel terus menciumi Laura seperti orang kelaparan. Lelaki itu menulikan telinganya pada teriakan dan umpatan Laura pada dirinya.
Tangannya merayap turun sampai ke dada, meremas kasar kedua bukit kembar yang menantang. Laura mengerang ketika lidah Sabiel menyapu p*ting dadanya. Lidah itu dengan kurang ajar menjilat dan mencecap p*tingnya yang mengeras. Sabiel benar-benar terbius, aroma segar Laura menggodanya untuk semakin liar.
Kulit halus Laura membuat Sabiel ingin terus membelainya, merasakan setiap jengkal keutuhan Laura dengan seluruh tubuhnya. Sabiel semakin bergerak kebawah, ia sampai di pinggang Laura dan memberikan kecupan dalam tepat di bawah pusar Laura. Noda merah langsung muncul disana.
"Sabiel, hentikan.. Ah.. Sabi..." rancauan Laura keluar bersamaan dengan nafasnya yang tersenggal. Laura tak tahan dengan kegilaan Sabiel mencumbunya.
Tubuhnya melenting ketika bibir Sabiel sampai di bagian pusat Laura.
"Kau milikku Laura. Sampai mati pun kau akan tetap menjadi milikku." Sabiel membuka celana dalam tipis Laura yang sudah tampak basah. Dia meletakkan jemarinya disana, membuat gerakan seirama sembari menyaksikan raut wajah Laura yang sudah merona. Terbakar dalam gairah erotis.
Nafsunya semakin memuncak ketika telinganya mendengar desahan lirih keluar dari bibir Laura tanpa disadari. Ternyata istri mungilnya sudah mulai kepayahan dengan aksi erotis yang ia berikan. Dengan perlahan, Sabiel kembali merangkak naik diatas Laura.
Ia ******* kembali bibir ranum yang merekah itu dengan mesra.
"Ah.. Laura, kau sungguh membuatku gila." ucap Sabiel disela desahannya ketika mencumbu bibir Laura.
Mata Laura terpejam rapat ketika Sabiel mulai mengarahkan kej*ntanannya pada pusat Laura.
"Sayang, lihat aku." racau Sabiel pada Laura yang terpejam tak berdaya. "Lihatlah, bagaimana aku akan membuahimu." ucap Sabiel dengan nafas memburu, sebelum ia menghentakkan pinggulnya dengan kuat pada pusat Laura.
🍁🍁🍁
__ADS_1