
Keesokan harinya.
Laura tampak terburu-buru menuruni tangga lantai dua asrama. Pagi ini ia bangun kesiangan, karena ulah Gisel yang semalam merengek ingin menonton film di bioskop, sesaat setelah mereka selesai berbelanja buku. Alhasil mereka baru bisa kembali ke asrama hampir jam tengah malam. Untung saja penjaga asrama mau diajak bernegosiasi untuk mengijinkan mereka tetap masuk, dengan berjanji tidak akan pulang lewat jam malam lagi.
"Laura, tunggu!" teriak Gisel yang mengikuti Laura berlari menuruni tangga.
"Ah, sial. Ini karena kau Gisel." umpat Laura kesal sambil terus berjalan cepat menuju gedung kuliahnya.
"Kenapa menyalahkanku? Kau sendiri lupa memasang alarm." Gisel tidak terima disalahkan oleh Laura. Dia berusaha mengimbangi jalan cepat temannya itu.
"Ish, sudahlah. Aku sudah sangat terlambat. Berbicara denganmu akan semakin mengulur waktuku." Laura berlari meninggalkan Gisel di belakangnya.
"Lauraaaa!" Gisel berteriak merajuk, sambil berlari berusaha menyusul Laura.
Gedung perkuliahan Gisel dan Laura berdekatan. Gedung perkuliahan Gisel berada tepat disamping gedung perkuliahan Laura. Hal itu membuat Laura maupun Gisel dapat saling menyambangi gedung perkuliahan masing-masing jika ingin bertemu atau sekedar jalan bersama.
"Aku masuk oke?!" ucap Laura pada Gisel yang tampak sedang mengatur nafasnya yang tersenggal akibat berlarian. Gisel hanya menatap sambil mengangguk, mempersilahkan Laura untuk masuk lebih dulu. Sedangkan dia melanjutkan berjalan memasuki gedung kuliahnya.
Langkah kaki Laura begitu pelan setengah berjinjit ketika ia berada di depan kelasnya. Dia sedikit menegokkan kepala ke dalam kelas. Disana sudah berdiri dosen Sabiel yang memang pagi ini memiliki jadwal mengajar di kelas Laura.
Laura menahan nafasnya ketika matanya bersiroboh dengan mata Sabiel. Dia ragu untuk masuk. Namun anggukan Sabiel membuatnya tenang kembali. Laura tersenyum lebar ketika akhirnya ia bisa masuk ke dalam kelas.
Saat itu Sabiel yang sedang menjelaskan mata kuliahnya melirik pada Laura yang berjalan untuk duduk disamping Rena.
Rena menengok pada Laura yang telah siap dengan alat tulisnya. Dia mencondongkan diri mendekati telinga Laura yang dekat dengannya.
"Kenapa bisa terlambat?" ucap Rena setengah berbisik. Matanya sesekali melihat pada dosen Sabiel yang sedang serius menjelaskan materi.
"Ceritanya panjang. Nanti saja aku katakan." jawab Laura tanpa melihat pada Rena.
Laura kembali mendengarkan materi yang dosen Sabiel sedang paparkan. Matanya menatap bergantian pada Sabiel di depan sana dengan buku diktat yang ada di mejanya.
🍁🍁🍁
Kelas sudah sepi sore itu, hanya ada beberapa mahasiswa yang sedang bersiap untuk kembali pulang. Rena sudah lebih dulu meninggalkan kelas, hanya ada Laura yang masih berkutat dengan laptopnya. Buku-buku diktat dibiarkannya tergeletak di samping meja.
Setelah mengikat rambutnya menjadi cempol, mata Laura kembali menatap pada layar laptop di hadapannya. Sudah saatnya kembali menulis untuk blog-nya yang cukup lama terbengkalai.
Jemarinya lincah berselancar di atas permukaan keyboard. Menekan-nekan huruf demi huruf untuk menghasilkan semua kata sempurna yang mulai memenuhi satu halaman microsoft word.
"Antara kau dan aku adalah rahasia.
Bersembunyi dalam ruang terbatas logika.
Menikmati setitik hasrat dalam kebosanan semata.
Mendamba sisi eksotis di dalam jiwa.
Merajuk dalam tatap sendu mata.
Salah dan benar hanyalah pandangan mereka.
Hakikatnya akan berbeda jika mereka merasa...."
Suara yang mulai Laura hafal terdengar lirih di telinganya. Dia melongok sejenak untuk memastikan dugaannya akan sosok yang sedang berdiri setengah membungkuk di belakangnya itu.
Lelaki itu. Lagi-lagi dia yang selalu tiba-tiba datang dan membaca tulisannya.
__ADS_1
"Bapak..." ucap Laura sembari menutup Laptopnya.
"Wait!" tangan Sabiel mencegah Laura untuk menutup laptopnya. Dan ia melanjutkan kembali membaca tulisan yang baru saja Laura buat.
"Antara kau dan aku adalah petaka.
Ditengah kehidupan yang nyata.
Asaku dan asamu berbeda.
Kau datang dengan sengaja.
Membimbingku dalam kubang nista.
Antara kau dan aku berbeda.
Tercipta untuk saling menggoda.
Tak ada harapan apalagi asa.
Hanya ada buaian nikmat semata."
Setelah tulisan itu rampung ia baca, Sabiel menatap Laura yang sedang mendongahkan kepala menatapnya. Mereka tersenyum.
"Waw. Kata-kata yang sangat berani." pujinya.
Sabiel berjalan ke arah depan Laura, ia mengambil satu kursi untuk ia duduki di hadapan gadis itu. Tanpa suara, Sabiel menyodorkan satu buah kaleng minuman yang ia bawa untuk Laura, dan gadis itu mengambilnya.
"Terima kasih." ucapnya pelan. Sabiel hanya tersenyum mendengarnya. Perhatiannya kembali pada laptop yang masih terbuka itu.
"Terima kasih pak." Laura tersenyum senang mendengar pujian itu.
"Aku sudah katanya untuk tidak bersikap formal ketika kita hanya berdua." Sabiel mengingatkan Laura atas permintaannya malam itu.
Laura terlihat canggung mendengar nada protes keluar dari mulut dosen itu. Dia juga masih ragu untuk mengikuti permintaannya. Bagaimana pun juga, lelaki dihadapannya itu berstatus sebagai dosen, usianya pun terpaut jauh dengan dirinya. Rasanya tak pantas jika Laura memperlakukannya seperti seorang teman bermain.
"Ayolah.. Hanya pada saat kita seperti saat ini Laura, berdua." ucap Sabiel memaksa ketika melihat bola mata Laura yang tampak ragu.
Laura tampak berpikir panjang, dia menatap canggung pada Sabiel yang terlihat berharap.
"Baiklah. Jika itu yang bapak mau?" ucap Laura pada akhirnya. "Kau maksudku." Laura meralat ucapannya yang masih terasa formal.
"Begitu lebih baik." Sabiel tersenyum sebelum meneguk minuman kaleng yang ia pegang.
"Jadi, sekarang kau sedang menulis tentang apa?" tanya Sabiel tertarik dengan Laura yang terlihat asik dengan laptopnya. Sampai-sampai gadis itu tak mendengar langkah kaki Sabiel ketika berjalan mendekatinya.
"Tulisan sembarang tentang..." Laura ragu mengatakannya. Rasanya tabu menceritakan imajinasi yang selama ini memenuhi kepalanya kepada orang lain secara langsung.
Selama ini tulisan-tulisannya hanya bisa dilihat langsung oleh para pembaca dari laman blog pribadinya. Mereka tidak tahu sosok dibalik tulisan itu. Yang mereka ketahui hanyalah bahwa sang pemilik blog tersebut seorang wanita. Hal itu pun hanya karna foto profil akun disana adalah gambar siluet wanita yang sedang menantang senjakala.
"Tentang?" Sabiel mengangkat alisnya menatap penuh rasa penasaran pada Laura yang memilih diam sejak tadi.
"Cinta ter-larang." ucapnya sedikit terbata. Alisnya sedikit terangkat menatap wajah Sabiel yang terus menanti penjelasannya.
"Wah, sepertinya menarik." Sabiel menyilangkan lengannya di depan dada, dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Senyuman lebar tak lepas dari wajahnya ketika memperhatikan kekikukan Laura di hadapannya. "Ceritakan padaku tentang cinta terlarang yang akan kau tulis." Sabiel tampak lebih bersemangat menunggu Laura membuka mulutnya.
Langit Bandung kala itu tampak indah berhias warna jingga yang sedikit keemasan. Angin sore bertiup sepoy-sepoy membuat dedaunan pohon meliuk gemulai sebelum menyentuhkan dirinya pada bumi. Beberapa pasang muda-mudi terlihat hilir mudik bergandengan tangan menyambut malam yang sebentar lagi akan datang.
__ADS_1
Dua manusia berbeda usia, berbeda jenis kelamin itu hanyut dalam pembicaraan utopis mengenai cinta. Raut wajah Sabiel berpendar cerah ketika ia mendengarkan menuturan Laura yang secara keras kepala menyatakan bahwa cinta terlarang itu persepsi manusia yang keliru. Bagi dirinya, cinta itu berkah yang Tuhan hadirkan dalam hati setiap manusia. Tidak ada satupun alasan yang bisa membenarkan istilah cinta terlarang. Karna sejatinya cinta itu ada dan tiada sesuai kehendak Tuhan, bukan sesuai kehendak kita sebagai manusia.
Sebagian banyak manusia menganggap mencintai milik orang lain itu salah. Atau ketika ia mencintai lebih dari satu manusia itu salah. Padahal itu sama sekali tidak salah. Jika kehadiran cinta itu datangnya dari Tuhan. Lantas apa hak manusia untuk membuatnya menjadi terlarang?
"Aku pikir terlarang atau tidak, itu hanya bisa kita lihat dari cara orang itu menangani hatinya." ucap Laura menyimpulkan. "Jika dia bisa bersikap bijak menanggapi cinta lain di hatinya sebagai ujian ketahanan dari Tuhannya. Maka tidak akan ada cinta terlarang." sambungnya.
"Sebaliknya jika manusia ia tidak bisa bersikap bijak menangani hatinya, maka terjadilah apa yang kita sebut itu sebagai cinta terlarang." Sabiel menyimpulkan asumsi Laura.
"That's right!" ucap Laura setuju. "Namun sayangnya, kebanyak dari manusia tidak lulus dalam ujian ketahanan dari Tuhannya itu." lanjutnya sambil terkekeh geli mengingat kenyataan manusia yang memang diciptakan menjadi makhluk yang mudah tergoda.
"Kau benar." Sabiel ikut terkekeh menyadari kebenaran ucapan Laura.
Dalam waktu sekejap mata, dua manusia itu terlihat akrab satu sama lain. Baik Laura maupun Sabiel saling memberi pandangannya masing-masing. Tak ayal Sabiel bahkan sempat bercerita mengenai pengalamannya dalam sebuah hubungan percintaannya ketika usianya masih terbilang muda. Di beberapa kesempatan mereka tertawa bersama ketika kenakalan demi kenakalan remaja yang pernah Sabiel lakukan ikut hadir dalam obrolan menyenangkan mereka.
Pandangan Laura beralih pada jendela ruang kelas yang sudah mulai menggelap, ia menyeka sudut matanya yang berair karna tertawa.
"Kita berdua asik bercerita, tanpa sadar hari sudah beranjak malam" ucapnya sembari tersenyum ramah pada Sabiel yang menatapnya lembut.
"Ya. Kau benar. Kita terlalu hanyut saat bercerita. Sampai melupakan waktu." Sabiel ikut melihat pada kondisi langit diluar sana yang mulai gelap.
"Oh iya, bagimana dengan istrimu? sejak tadi kau membahas cinta masa remajamu, tapi hingga cerita itu berakhir aku tak mendengar nama istrimu kau sebut." tanya Laura polos.
Raut wajah Sabiel mendadak berubah. Ada perasaan getir yang terpancar dari bola mata hitamnya. Hatinya menjadi hambar ketika Laura menanyakan pertanyaan itu.
Cinta? Bagaimana Sabiel menjelaskan pada gadis dihadapannya itu bahwa cinta pada istrinya telah sejak lama hilang entah kemana. Sabiel sudah lupa kapan terakhir ia merasa mencintai istrinya dan kapan terakhir ia merasa dicintai oleh istrinya.
"Maaf, apa bapak dan nona sudah selesai?"
Pertanyaan seorang penjaga gedung kuliah menyelamatkan Sabiel dari pertanyaan Laura. Ia menatap dengan tegas dan berwibawa lelaki muda berseragam yang berdiri setengah membungkuk di ambang pintu kelasnya. Laura ikut menengokkan kepala menatap malu pada petugas itu.
"Kami sudah selesai." ucapnya singkat.
Perhatiannya kembali pada Laura yang tampak sibuk memasukkan laptop dan diktat kuliah dalam ranselnya.
"Aku rasa kita harus menyudahi 'kuliah tambahan' ini." ucapnya menyeringai jenaka pada Laura yang tersenyum malu.
"Apa aku akan mendapatkan nilai plus dengan 'kuliah tambahan' yang tidak direncanakan ini?" Laura balas menyeringai jahil pada dosen dihadapannya itu.
"Oh tentu, kau akan selalu mendapatkan nilai plus." Sabiel tak bisa menahan senyum lebarnya pada Laura.
"Nilai plus dalam hatiku, Laura." sambungnya kemudian dalam hati.
Sabiel berdiri terlebih dulu, dia meletakkan telapak tangannya di puncak kepala Laura, menggoyangnya sedikit untuk membuat cempol dirambut Laura terlihat berantakan.
"Sampai jumpa. Sangat menyenangkan berbicara seperti ini denganmu." ucapnya sebelum melangkahkan kaki menuju pintu kelas tanpa melihat Laura mengerucutkan bibirnya menahan kesal karna rambutnya menjadi berantakkan.
Langkah kaki Sabiel terhenti, dia membalikkan badan melihat Laura yang bersiap untuk berjalan mengikutinya.
"Laura?"
"Ya. Ada apa?"
"Hati-hati." ucapnya sembari tersenyum lembut sebelum kemudian berjalan kembali, meninggalkan Laura yang berada cukup jauh dibelakangnya.
🍁🍁🍁
Like, Vote, dan Koment, Ok?! 😍😍😍
__ADS_1