Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 71


__ADS_3

Sesampainya di vila, Sabiel langsung menghubungi Tomi, "Tom, wanita itu kini berada di apartemenku. Kau usir dia dan jangan biarkan dia masuk kesana sampai aku dan Laura datang" perintah beruntun Sabiel terdengar penuh emosi.


Diseberang sana Tomi mengangguk meski Tuannya tak mungkin melihat, "Baik Tuan" jawabnya tegas.


Laura yang sejak tadi memperhatikan di belakang, menggapai lengan suaminya. "Apa mesti begitu?" tanya Laura cemas. Dia hanya tidak ingin Sabiel lepas kendali menghadapi Intan.


Sabiel tampak berpikir, "Wanita itu tidak akan mengerti jika aku tidak bertindak tegas" ucap Sabiel lugas.


Laura tampak gundah, sidang perceraian suaminya yang tinggal beberapa hari lagi membuat ia berpikir keras akan apa lagi yang akan dilakukan Intan untuk mempertahankan posisinya. Sabiel yang berkacak pinggang di hadapan Laura melihat kegundahan itu. Lelaki itu merundukkan sedikit kepalanya, mensejajarkan bola mata mereka berdua.


"Semuanya akan baik-baik saja, sayang" Sabiel berusaha menghilangkan kegundahan istrinya.


Laura memeluk leher Sabiel, dia menghembuskan nafas sesaknya dibalik punggung suaminya. "Aku hanya khawatir. Intan begitu agresif mempertahankanmu, sementara kau begitu keras pula ingin lepas darinya. Aku takut, ketika dua kubu yang bertolak belakang bertemu, akan terjadi sesuatu hal yang mengerikan" keluh Laura.


Laura sangat mengerti perangai Intan yang sangat berambisi, dan ia juga tahu bahwa Intan dapat melakukan banyak cara hanya demi mencapai ambisinya tersebut.


Sabiel membalas pelukan Laura sambil mengelus garis punggung istrinya itu, "Tidak ada yang perlu kau takutkan, sayang. Apapun yang coba Intan lakukan nantinya, tidak akan berjalan sesuai keinginannya. Maka dari itu aku meminta Tomi untuk mengusirnya dari apartemen kita" ujar Sabiel.


Lelaki itu melepaskan pelukannya, tangannya merangkup pipi Laura dan mencium singkat bibir mungil yang terlipat itu. "Lebih baik sekarang kita makan. Kau belum memberi asupan untuk anakku" Sabiel mengelus lembut perut Laura.


Laura tersenyum, hatinya mulai meyakini perkataan Sabiel bahwa semuanya akan baik-baik saja. Masalah Intan akan bisa terlewati tanpa drama berarti.


"Baiklah, aku juga sudah mulai lapar" sahut Laura menerima ajakan makan suaminya.


🍁🍁🍁


Esok harinya.


Langit keemasan menyambut Sabiel dan Laura di apartemen mereka. Terik mentari tampak melembut menyisakan hangat yang menyenangkan pada permukaan kulit manusia. Suara derap langkah kaki Sabiel bersahutan dengan langkah kaki Laura yang berada di sampingnya. Mereka memasuki apartemen dengan tubuh disergap rasa lelah dan letih. Mbok Suti dan Mbok Yayu tampak sigap membawa barang-barang majikannya kedalam apartemen. Sementara Sabiel dan Laura merebahkan diri terlebih dulu di sofa ruang keluarga.


"Kau lelah sayang?" tanya Sabiel melirik Laura disampingnya.


Laura menghembuskan nafasnya, "Sedikit, hamil ternyata membuatku lebih mudah merasa lelah" keluhnya.


Sebelah tangan Sabiel menarik bahu Laura, untuk bersandar di dadanya. "Maafkan aku" ucapnya penuh sesal.


Jemari Laura mengelus dada Sabiel, "Apa yang kau katakan? Untuk apa kau minta maaf?"


"Aku membuatmu lelah" ujar Sabiel lirih.


"Tidak perlu meminta maaf, lelahku......"


Brak!


Gebrakan pintu memotong ucapan Laura. Mata keduanya langsung menoleh pada sumber suara, dan tercengang melihat Intan yang berjalan tegas dengan tangan terkepal menghampiri mereka.


"Apa yang kau lakukan disini?!" tanya Sabiel sinis. Lelaki itu langsung berdiri, menatap tajam Intan yang tampak murka. Tangannya menghalau Laura untuk berada di belakang tubuhnya.


"Brengsek kau! Aku ingin menemuimu, kau malah menyuruh bawahan sialanmu itu untuk mengusirku" cerocos Intan pada Sabiel.


"Kita akan bercerai, kau bisa menemuiku di pengadilan" ucap Sabiel sekenanya.


Intan tak bisa lagi menyembunyikan emosinya, "Setelah apa yang coba aku lakukan untuk memperbaiki diri, kau tetap ingin bercerai dariku?!" nada suara Intan meninggi. Matanya melirik pada Laura yang berada di belakang Sabiel.

__ADS_1


Sabiel menatap penuh cemooh pada Intan, "Aku tidak peduli apa yang sedang kau usahakan. Keputusanku bulat untuk bercerai darimu" ujarnya tegas


Intan merangsek mendekati Sabiel, tangannya mencoba menggapai tubuh Laura. "Pasti karena kau, jalang!" bentaknya pada Laura.


Sabiel menghalangi tangan kasar Intan untuk menggapai Laura. Sorot matanya berubah menjadi sangat menakutkan. Namun Intan tak menghiraukan kilatan mata Sabiel. Hatinya terbakar oleh amarah.


"Jangan berani menyentuhkan tanganmu pada istriku" Sabiel mencengkram lengan Intan dengan kuat kemudian menghempaskannya dengan kasar.


"Cih, istrimu? Bagaimana denganku? Aku masih istri sahmu SABIEL!!" ucap Intan menggeram. "Tujuh tahun kita berumahtangga, tujuh tahun kita hidup bersama. Dan kini karena kehadiran wanita jalangmu, kau ingin berpisah denganku?!" Intan mendelik murka.


Sabiel tersenyum tipis, dalam hatinya lelaki itu menertawakan sikap Intan yang masih merasa tersakiti tanpa tahu bahwa kini bukti perselingkuhannya sudah terbongkar.


"Sudahlah Intan, jangan bersikap seolah kau adalah korban dari masalah ini" ujar Sabiel santai. "Pergilah dengan baik-baik" sambungnya.


Intan menggelengkan kepalanya kasar. Pergi? Bagaimana ia bisa pergi sedangkan dadanya masih dipenuhi emosi yang harus ia keluarkan pada kedua orang dihadapannya ini. "Enak sekali kau, apa memang seperti itu watak seorang lelaki? Jika memiliki mainan baru, ia akan melupakan mainan lamanya" ucap Intan sinis.


Sabiel tak bisa menahan keinginannya untuk tertawa. Dia menatap hina wanita dihadapannya yang kini berlagak seperti orang tak berdosa. "Oh Tuhan, apa yang sudah aku lakukan? Bagaimana bisa aku bertahun-tahun rela hidup dengan wanita seperti sampah ini?" gumamnya dalam hati.


Intan memicingkan mata penuh curiga menatap Sabiel yang tengah tertawa lebar. Wanita itu melirik lagi pada jemari Laura yang mencengkram kuat lengan Sabiel hanya untuk menyuruh lelaki itu untuk menghentikan tawanya.


Kepala Intan berdentum menahan sakit yang sejak kemarin ia rasakan. Matanya memandang jengah pada calon mantan suaminya sendiri.


Sabiel mencoba menghentikan tawanya, "Apa urat malumu sudah putus Intan?" tanyanya sembari menyeka air di sudut matanya. "Sudahlah, pergi. Aku tidak ingin membuatmu menanggung malu" Sabiel mengibaskan tangannya, menyuruh Intan keluar dari apartemen itu.


Intan semakin tak mengerti dengan apa yang Sabiel lakukan. Wanita itu berkacak pinggang dengan sorot mata menantang. "Jika aku tidak ingin pergi, apa yang akan kau lakukan?!" tantang Intan. "Aku masih istrimu, aku berhak tinggal di kediaman suamiku" ujarnya tak tahu malu.


"Kau masih menganggap dirimu istriku?! Istriku hanya Laura, tidak ada yang lain" ucap Sabiel memprovokasi Intan.


Intan geram, ia menghampiri Sabiel dan memukul dada lelaki itu. "Brengsek kau! Bajingan! Kau yang berselingkuh dan aku yang menjadi korban. Brengsek kau Sabiel!" Intan memukuli tubuh Sabiel.


"Akh!" pekik Laura yang langsung merasakan sakit di kepalanya.


"Dasar kau jalang! Kau merebut suamiku dan membuatku harus berpisah darinya" Intan terus menjambak rambut Laura dengan kuat, dia tak peduli rintihan kesakitan yang keluar dari mulut Laura.


Sabiel yang melihat kekasaran Intan langsung berusaha melepaskan tangan Intan dari rambut Laura. Lelaki itu menarik jemari Intan dengan hati-hati agar tidak lebih menyakiti kepala Laura.


"Lepaskan aku! Brengsek kalian!" umpat Intan menggoyangkan kuat-kuat tubuhnya agar Sabiel berhenti mencoba melepaskan tangannya yang sedang menjambak Laura.


Sabiel geram melihat Intan yang keras kepala, lelaki itu tanpa pikir panjang melayangkan tangannya pada pipi Intan dengan kekuatan penuh.


Plaaaakkk!


Intan langsung tersungkur di lantai dengan mata bergetar menahan rasa perih dan sakit yang menyengat di sebelah pipinya. Laura terengah setelah rambutnya lepas dari jambakan Intan. Sabiel langsung memeluk erat Laura, lelaki itu mengusap lembut semua tubuh Laura dari rambut, punggung dan lengannya. Sabiel meringis dilanda rasa sesal karena ia lengah dalam melindungi istri mudanya.


Sementara di lantai sana, Intan masih syok karena mendapat tamparan dari Sabiel untuk pertama kalinya. Dadanya terasa sakit dan tubuhnya gemetaran didera rasa takut dan marah yang muncul bersamaan.


Matanya melirik Sabiel yang berjalan menghampirinya, sementara Laura berdiri sedikit lebih jauh dari posisi mereka. Intan telah memancing sisi gelap Sabiel, ia menghancurkan batas kesabaran yang sejak tadi sedang dijaganya baik-baik agar tidak meledak. Kini Sabiel memilih untuk membuat Intan takut, lelaki itu dengan tatapan dingin menginjak jemari Intan yang berada di lantai dengan sepatunya.


"Aaakkhh" jeritan kesakitan membahana di ruang apartemen itu.


Laura yang melihat apa yang Sabiel lakukan langsung bergegas menghampiri suaminya. Tangannya menarik lengan Sabiel. "Sabiel! Lepaskan kakimu, kau menyakitinya" ucap Laura cemas.


"Akkkhh!" jeritan Intan kembali terdengar karena Sabiel menekan lebih kuat sepatunya di punggung jemari Intan.

__ADS_1


Lelaki itu sudah gelap mata menatap begis pada Intan yang merintih. Dia ingin Intan merasakan sakit yang tadi dirasakan Laura.


"Tangan ini harus merasakan akibat dari perbuatannya" geram Sabiel yang menulikan telinganya dari permohonan Laura.


"Kau pikir siapa dirimu!? Berani sekali menyebut Laura jalang" ucap Sabiel sinis. "Yang jalang bukan Laura, tapi kau! Kau jalang tak tahu malu, Intan" geram Sabiel melihat Intan yang mulai menangis di lantai.


"Sayang sudah, Intan kesakitan. Lepaskan dia. Singkirkan kakimu" Laura mencoba menenangkan Sabiel kembali meskipun terasa sia-sia.


"Kau benar-benar berubah Sabiel! Setelah menikahinya, kau berubah semakin kejam. Kau lupa janjimu dulu, kau buang aku setelah aku mencoba berdamai denganmu" Intan memelas sambil menahan sakit.


Sabiel melepaskan kakinya dari jemari Intan, Intan langsung mendekap jemari itu di dadanya. Sabiel berjongkok dihadapan Intan. Ia menatap tajam bola mata Intan yang tengah bersimbah air mata.


"Apa kau benar-benar bodoh Intan? Kau menyalahkanku dan Laura, sementara kau melupakan kesalahan terbesarmu" ucap Sabiel penuh teka-teki.


Raut wajah Intan tampak bingung, "Apa maksudmu? Kau yang bersalah padaku Sabiel!" seru Intan tak terima.


"Baiklah. Sepertinya aku harus menyadarkanmu" Sabiel berjalan menjauhi Intan. "Aku akan menunjukkan sesuatu padamu" ucapnya seraya menyambungkan sebuah flashdisk pada tv.


"Kau lihat baik-baik" ucapnya dingin.


"Sayang...." Laura melangkah pelan menghampiri Sabiel. Sabiel membaca sorot mata Laura yang seolah mengatakan 'jangan'.


"Dia harus tahu mengapa aku harus menceraikannya, sayang" ujar Sabiel pada Laura yang semakin mendekatinya.


Laura hanya diam, tak mampu berbuat apapun untuk menghentikan Sabiel. Sementara Intan semakin penasaran apa yang ingin Sabiel perlihatkan padanya.


Bola mata Intan seakan keluar dari rongganya, ketika tayangan tv perlahan semakin memperlihatkan sesuatu yang ia hafal betul. Tiba-tiba jantungnya berdetak semakin cepat, telapak tangannya berkeringat dan pandangan matanya nanar menatap Sabiel yang menyeringai dan beralih pada tayangan vulgar dirinya bersama Dato'.


"Kau pikir aku tidak curiga dengan nama lelaki yang kau sebut saat kau mabuk dulu?!" Sabiel memicingkan mata penuh kemenangan.


"Kau...kau tahu? Sejak kapan?" tanya Intan terbata. "Matikan itu! Matikan!!!" Intan mencoba berdiri dengan sisa kekuatannya.


Melihat Intan bergemetaran sedang berdiri dengan raut wajah malu membuat Sabiel mematikan tayangan erotis itu dengan remote tv yang sedang ia genggam.


"Kau menuduhku berselingkuh? Sementara kau asik bersetubuh dengan lelaki lain" ucap Sabiel mempermalukan Intan. "Kau mengatakan Laura jalang, padahal kau sendiri jalang itu" sambungnya merasa puas melihat wajah Intan yang pucat.


"Kau masih menentangku Intan? Seharusnya kau pergi ketika aku suruh pergi. Kau memaksaku untuk mengeluarkan ini" Sabiel merangkul Laura yang berada disisinya, "Sayang, lebih baik kau beristirahat di kamar. Kau tidak perlu melihat hal memalukan seperti ini" bisiknya pada Laura.


Laura menoleh sekilas pada suaminya, dia mengangguk menyetujui ucapan Sabiel. Langkahnya perlahan menjauh, dengan sorot mata Intan yang terus mengintai.


"Baiklah. Aku tidak akan menentangmu lagi Sabiel. Aku menerima perceraian yang kau layangkan untukku" ucap Intan pada akhirnya. "Lagipula aku sudah tidak membutuhkanmu....tapi aku tidak akan rela sebelum aku memberi pelajaran pada sirimu itu!!" ucap Intan sembari berlari mengejar Laura yang tengah menaiki anak tangga.


Sabiel yang sempat terkejut, langsung berlari menyusul Intan. Lelaki itu belum sampai di bagian tangga, sementara Intan lebih dulu berdiri dihadapan Laura sembari menyeringai mengerikan. Wanita gila itu berdiri di satu anak tangga diatas anak tangga yang dijejaki Laura.


Belum sempat Laura mengatasi keterkejutannya, Intan mendorong bahunya, "Kehadiranmu merusak segalanya. Kau pantas mati!" ucapnya murka.


Langkah kaki Sabiel terlambat. Tubuh Laura terhuyung ke belakang, dan jatuh menggelinding di beberapa anak tangga hingga mencapai dasar.


"Lauraaaa!!" teriak Sabiel menggema diruangan itu.


Kedua pembantunya terpogoh-pogoh berlari dari kamarnya masing-masing dan terkejut melihat kondisi majikannya dilantai. Intan menatap puas ketika melihat Laura terkapar. Matanya membulat seketika, melihat dari bagian selangk*ngan Laura, mengalir darah segar berwarna merah pekat.


"Dia hamil?!" gumamnya dalam hati dengan suara bergetar.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2