Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 49


__ADS_3

Bimasakti berjalan terseok dengan tubuh setengah menggigil karna hujan. Pandangan nanar menatap panjangnya jalanan sepi yang ia jejaki. Luka di hatinya lebih terasa ngilu daripada luka disekujur tubuhnya.


Benaknya tak bisa berhenti memutar kembali ucapan Laura yang mengatakan bahwa ia telah menikah. Satu pernyataan konyol yang membuat Bimasakti dilanda beribu pertanyaan.


Bagaimana bisa? Sejak kapan Laura bersama lelaki itu? Hubungannya bahkan belum genap dua bulan, namun mengapa tiba-tiba Laura menikah?


Bimasakti terus saja bertanya dalam hati. Begitu banyak hal yang membingungkan bagi dirinya. Dia merasa Laura yang tadi bukanlah Laura yang ia kenal. Laura yang ia kenal, tidak akan mungkin mengkhianatinya.


"Itukah sebabnya mengapa Laura menjadi sulit dihubungi?" gumamnya dalam hati.


Lelaki itu menatap kota indah dihadapannya yang perlahan berubah menjadi memuakkan. Bangunan-bangunan belanda dengan angkuhnya berdiri kokoh mengkerdilkan hati seorang lelaki kesepian. Pepohonan rimbun dengan daunnya yang bergemerisik tertiup angin, terasa seolah berbisik menghina kebodohan lelaki dibawahnya yang basah kuyup. Mendadak udara terasa pengap meskipun Bimasakti berada di tempat terbuka.


Matanya menatap kendaraan yang berpacu melintasinya dengan tak peduli. Tak ada satupun yang mengetahui derita duka lara hati lelaki itu. Bimasakti merasa terasing di kota itu. Lelaki itu benar-benar patah hati.


Tubuhnya yang sudah basah kuyup, membuatnya harus memaksakan diri mencari sebuah penginapan. Dia tidak bisa kembali, dengan luka yang masih menganga. Dia harus mengistirahatkan diri dan hatinya dari segala hal pilu yang terjadi tanpa bisa ia hindari hari ini.


🍁🍁🍁


"Mbok, Nyonya Laura apa sudah pulang?" tanya Sabiel terburu-buru.


Mata hitam legamnya menatap jalanan basah kota Bandung dengam gelisah. Lelaki itu terus memacu mobilnya tanpa arah dan tujuan, berharap di satu jalan ia dapat menemukan istri mudanya.


"Belum Tuan" sahut Mbok Yayu di seberang sana.


"Jika sudah pulang, hubungi saya ya Mbok" pintanya.


"Baik Tuan"


Sabiel menutup panggilan itu dengan kesal. Ia memukulkan telapak tangannya pada stir kemudi berulang kali.


"Laura, beraninya kau pergi dariku" ucapnya sembari terus melihat jalanan yang ia lalui dengan teliti.


Tak berapa lama, ia memutuskan untuk menghubungi Tomi.


"Halo" sapaan sopan terdengar dari seberang sana.


"Tom, Laura menghilang. Kau bantu aku mencarinya" ucap Sabiel lugas.


"Menghilang?" sahut Tomi terkejut.


"Ceritanya panjang, aku minta kau kerahkan anak buahmu. Beri mereka foto Laura, dan suruh mereka mencarinya dimanapun" rentetan perintah keluar dengan lancar dari mulut Sabiel. Lelaki itu sudah kalang kabut.


"Bagaimana dengan Intan. Apa kau sudah menghalanginya?" tanyanya kemudian.


"Tuan tenang saja. Nyonya Intan sudah saya alihkan untuk segera pulang dan menunggu Tuan" ucapnya sopan


"Bagus. Sekarang kau bantu aku menemukan Laura, lekas hubungi aku jika kau sudah menemukannya" pintanya sebelum mematikan ponselnya sepihak.


Hari itu Laura sukses membuat luka-luka di tubuh Sabiel memburuk. Usahanya melarikan diri berhasil menciptakan pikiran Sabiel menjadi kalang kabut. Langit kota Bandung sudah sempurna kelam saat itu, namun mata hitam legam Sabiel masih tetap awas menatap wanita-wanita asing berpayung yang melintas di bahu jalanan, dia berharap Laura ada di barisan wanita itu. Menyembunyikan tubuh mungilnya di balik payung besar yang ia dapatkan dari mana pun.


Perjalanan pencarian itu telah menghabiskan banyak kesabaran yang ada di hati Sabiel. Beberapa kali umpatan kasar tak dapat lagi ia tahan, menandakan bahwa dirinya sudah terlalu lelah bermain kucing-kucingan dengan istri mudanya.


Lelaki itu menutupi kelelahannya dengan mengambil sebungkus rokok yang berada di tempat penyimpanan dasboard mobilnya. Rokok itu hanya akan ia keluarkan jika ia dalam kondisi merasa tertekan seperti malam hari itu.

__ADS_1


Dengan sebelah tangan menyetir, ia menyalakan pematik berwarna perak. Asap rokok langsung ia keluarkan begitu jendela mobil ia buka setengah bagian.


Drrttt... Drrrrtt.. Drrrtt..


Ditengah suasana hati yang sedang tak menentu, ponselnya kembali berdering.


Sabiel menatap nama Intan tertera disana. Lelaki itu menekan tombol pelantang di ponselnya. Dan meletakkan ponsel itu di atas dasboard tepat dihadapannya.


"Halo" ucapnya dingin setelah menghembuskan asap rokok.


"Sabiel, kau dimana?!" tanya Intan yang tak berhasil menutupi kemarahannya.


Dalam penyelidikan yang membingungkan. Intan merasa geram saat tiba-tiba melihat kejadian tadi pagi. Hatinya gusar ketika melihat Sabiel memeluk erat wanita asing dihadapannya. Jarak persembunyian Intan yang cukup jauh, tak bisa membuatnya mendengar jelas pembicaraan disana. Namun matanya yang waspada, menatap penuh curiga pada keseluruhan sikap yang suaminya perlihatkan. Sabiel merangkul wanita itu. Ia mendekapnya seolah wanita itu adalah miliknya. Saat Intan melihat Sabiel membawa pergi wanita itu, Ia ingin mengikuti Sabiel, namun usahanya langsung digagalkan oleh Tomi. Lelaki itu menghadang laju kendaraan Intan. Dan dengan alasan tak masuk akal, kepercayaan sialan suaminya itu membuat Intan terpaksa memutar balik kemudinya dan langsung kembali ke rumah.


"Aku dijalan" jawab Sabiel dingin, ia menghisap kembali rokoknya.


"Katakan padaku, siapa wanita itu?!" Intan berusaha menormalkan getar suaranya yang berselimbut amarah.


"Wanita mana?" ucap Sabiel pura-pura tak tahu.


"Wanita itu. Wanita yang kau peluk dihadapan lelaki lain tadi pagi" Intan semakin tak sabar.


Sabiel menyeringai mendengar ucapan Intan. "Kau melihatnya? Kau mengikutiku Intan?!" ucapnya menelanjangi kebodohan Intan.


"Cih. Jangan pura-pura tidak tahu sayang. Kau tahu kalau aku mengikutimu bukan?!" Intan berdecih meledek kepura-puraan Sabiel yang kentara. "Itu sebabnya kau menyuruh Tomi menghentikanku dan membuatku kembali dengan perasaan kesal" suara Intan terdengar menggeram.


Sabiel sudah tak berniat menutupi segalanya lagi dari Intan. Lelaki itu dengan bangganya malah menyulut emosi Intan hingga membuat ubun-ubun wanita itu seperti tersengat aliran panas listrik.


"Dia istriku" Sabiel menghisap dalam rokoknya dan membuang kasar asap yang ia keluarkan dari sudut bibirnya. Lelaki itu tak melihat wajah merah padam Intan diseberang sana. Matanya malah tetap fokus mencari Laura disudut-sudut Kota Bandung yang sedang dilanda hujan.


"Aku tidak sedang bercanda Intan" ucapnya perlahan. "Dia memang istriku, istri siriku" Entah mengapa Sabiel jadi tertarik untuk melihat raut wajah Intan yang pasti saat ini sedang pucat pasi.


"Kau ingin melihatku mati?" tanya Intan sinis.


"Kau ingin bunuh diri?" Sabiel memutar balik pertanyaannya. "Silahkan" Lelaki itu akhirnya mengikuti saran Tomi untuk tidak terpengaruh pada ancaman bunuh diri Intan.


Intan diseberang sana terkejut, ketika mendengar suara dingin Sabiel yang malah mempersilahkan dirinya untuk mati. Dia menelan ludahnya kasar, merasa terpojok karena ancamannya kini tak munjur lagi.


"Hebat sekali wanita itu, sekarang bahkan kau mempersilahkan kematianku" ucap Intan ketus. "Dimana kau sekarang?" tanyanya tak sabaran.


"Tidak perlu kau tahu. Aku akan kembali saat aku ingin. Jadi jangan berani menggangguku saat ini" ujar Sabiel tegas seraya langsung matikan ponselnya. Lelaki itu tak menghiraukan panggilan Intan pada dirinya.


Diseberang sana, tubuh Intan gemetar menahan emosi yang menggerogoti hatinya. Tangannya mengepal ponsel yang dimatikan sepihak oleh suaminya sendiri. Nafasnya terengah-engah menahan sesak yang sejak pagi tadi menggelayuti dadanya.


Sabiel memiliki istri siri? Hah?! Sejak kapan ia menikah tanpa sepengetahuanku? Berani sekali wanita itu berada ditengah bahtera rumah tanggaku dengannya? Siapa dia?


Benak Intan terus terpacu untuk mengumpulkan rentetan pertanyaan terkait pernyataan Sabiel. Diam-diam ia merasa terancam dengan keberadaan wanita misterius itu. Tadi pagi saat kejadian itu, Intan tak bisa melihat dengan jelas sosok wanita yang Sabiel sembunyikan dalam dekapannya.


"Sialan! Aku harus mencari tahu siapa dia?!" gumam Intan sembari memicingkan mata menatap hujan yang masih deras dari balik jendela kamar.


🍁🍁🍁


Laura menutup wajahnya dan menangis hebat dalam taksi yang ia tumpangi sejak tadi. Hatinya menjadi begitu ringkih dan rapuh kala itu. Supir taksi yang kebingungan beberapa kali melihatnya dari kaca spion. Lelaki tua itu terenyuh melihat begitu dalam kesedihan yang sedang dikeluarkan wanita muda dibelakangnya.

__ADS_1


"Hidup itu memang sulit kita tebak" ucap pak tua itu melirik Laura yang masih menutupi wajahnya. "Menangis saja sepuasnya, tapi setelah itu tunjukkan senyum terbaikmu"


Laura membuka telapak tangan dari wajahnya, dia menatap pak tua itu lewat kaca spion.


"Maafkan saya pak, jadi mengganggu bapak" ucapnya canggung.


"Oh tidak apa-apa, tenang saja" sahutnya sembari tersenyum. "Anda mengingatkan saya pada anak perempuan saya dirumah"


Laura tampak berusaha menyimak meski tengah sesegukan. Air matanya ia hapus berkali-kali.


"Usia berapa anak bapak?" tanya Laura dengan suara parau.


"Sebaya dengan anda Nona" ucapnya membayangkan gadis bungsunya dirumah. "Dia anak yang sedikit cengeng di keluarga kami. Masalah sepele bisa membuatnya menangis hebat"


"Oh ya?" tanya Laura sembari mengambil tisu yang berada di sela antara kursi kemudi dan kursi penumpang.


Pak tua itu mengangguk sembari tersenyum hangat. "Ya, cengeng dan penakut"


Pak tua itu terdiam sesaat, "Saya sering katakan padanya untuk belajar tidak menyelesaikan masalah dengan menangisinya. Tuhan memberi kita hidup yang sempurna justru karena Dia menciptakan pula masalah dalam diri kita." ucapnya bijak.


Laura sudah berhasil menghentikan air mata yang tadi tak sanggup lagi ia tahan. Wanita itu lebih tenang dari saat pertama kali naik kedalam taksi.


"Kita ini hanya manusia, makhluk, ciptaan. Yang harus kita lakukan hanyalah menerima" sambungnya sambil terus memperhatikan jalanan yang diguyur hujan. "Amourpati" ucapnya lugas.


"Amourpati?" Laura membeo ucapan Pak tua dihadapannya.


"Ya. Bahasa filsuf yang saya dapatkan dari seorang anak muda ketika menjadi penumpang saya diwaktu yang lalu" ungkapnya mengenang kejadian penuh


penuh pelajaran itu.


"Apa yang dikatakan?" tanya Laura mulai tertarik.


Wanita itu sebenarnya tahu istilah Amourpati yang tercetus dari Friedrich Nietzsche, filsuf asal jerman itu. Namun cara penuturan dari supir tua itu, membuatnya tertarik untuk mendengar ulasan tentang Amourpati kembali. Saat itu Ia merasa Tuhan sedang mengajarkannya sesuatu lewat mulut bapak tua dihadapannya.


"Pemuda itu mengatakan bahwa Tuhan menciptakan hidup yang begitu kompleks bagi makhlukNya di alam semesta ini. Semua hal yang kita sukai atau tidak, semua hal yang menyenangkan atau justru menyedihkan, akan senantiasa hadir disepanjang nafas hidup yang Tuhan anugerahkan. Tugas kita hanyalah menerima semua itu. Menerima takdir hidup yang sudah digariskan. Termasuk ketika takdir mengarahkanmu pada sesuatu yang paling amat kau benci atau membuatmu sakit"


Laura mendengarkan dengan seksama penuturan pak tua itu.


"Nona mungkin tahu, beberapa orang dengan percaya dirinya mengatakan bahwa dirinya mencintai Tuhan. Mengelu-elukan kekuasaanNya dengan menunjukan bagaimana ia berbuat, bagaimana ia bersyukur, bagaimana ibadah hariannya yang semuanya itu hanya karena keinginan mendapat predikat seorang hamba yang taat" ucap pak tua sembari melirik Laura dibelakangnya lewat kaca spion.


Benak Laura langsung mengerti arah pembicaraan pak tua itu, ia mengangguk setuju.


"Mereka semua munafik. Cih, saya heran mengapa banyak manusia yang begitu percaya diri mengatakan mencintai TuhanNya, tapi ketika Tuhan menimpakan sedikit saja masalah dalam hidupnya. Mereka langsung mengumpat. Menganggap Tuhan tak adil lalu pergi meninggalkan Tuhannya" ungkap pak tua. "Seharusnya, jika kita benar mencintai Tuhan. Kita harus menerima semua hal yang Tuhan berikan, bukan? Termasuk dengan adanya masalah. Masalah itu salah satu nikmat. Nikmat Tuhan yang membuat kita lebih introspeksi diri, lebih merasa diri bukan siapa-siapa di muka bumi ini"


Penuturan supir tua itu, membuat Laura termenung menghayati perjalanan hidupnya yang berliku. Dia sadar, segala sesuatu yang terjadi dalam hidupnya adalah takdir yang harus ia lalui. Kehadiran Sabiel, kehadiran Bimasakti, mereka termasuk jalan takdir yang Tuhan bentangkan untuk ia jejaki.


"Tuhan tidak akan pernah memberikan sesuatu tanpa sebab. Apapun yang menimpamu hari ini, esok atau dimasa yang akan datang. Semua akan membawamu pada satu perjalanan panjang menuju kehadiratNya. Terima perjalanan itu. Nikmati. Syukuri. Menangis saja jika terasa berat, tapi setelah itu ingat untuk tersenyum dan jalani kembali" sambung pak tua dengan bijaksana.


Perkataannya membuat nelangsa di dalam hati Laura sedikit terobati. Matanya melihat suasana malam yang semakin larut. Begitu banyak orang diluar sana, namun betapa ajaibnya bahwa Tuhan masih memberinya petunjuk melalui supir tua yang kini terasa seperti guru bagi dirinya.


Menerima? Ya. Hanya itu yang harus Laura lakukan saat ini.


"Pak, antarkan saya ke apartement pasteur" ucap Laura tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan malam dingin Kota Bandung.

__ADS_1


Tanpa menoleh penumpang dibelakangnya, supir tua itu tersenyum hangat sambil menganggukkan kepala.


🍁🍁🍁


__ADS_2