
Laura menggelengkan kepalanya ketika Sabiel mengeluarkan ide gila untuk mengajaknya menyusuri hutan pinus sehabis menikmati sarapan saat itu.
Laura merasa malas untuk keluar. Meskipun ia menyukai alam bebas seperti kawasan Pondok Kenanga ini, tapi suasana hatinya yang sendu menolaknya untuk menikmati keindahan alam pegunungan.
"Kau akan melihat air terjun kecil disana, Laura. Akan menyenangkan berdiam diri disana." Sabiel mencoba membujuk. Laura si pembangkang tetap keras kepala dengan menolak ajakan Sabiel.
"Aku tidak mau." ucapnya tegas.
Sabiel mendelik menatap Laura yang seolah tak peduli.
"Aku akan sita ponselmu lagi, jadi kau tidak akan tahu pesan siapa saja yang masuk." ancam Sabiel.
Bola mata Laura membulat sempurna, bagaimana bisa Sabiel memberinya ancaman untuk hal yang sepele. Lelaki ini benar-benar sudah gila.
"Kau mengancamku?" Laura mendelik.
"Ya. Aku akan selalu mengancammu jika kau selalu menolak apa yang aku inginkan." ujar Sabiel.
"Egois!" cemooh Laura.
"Terserah!" Sabiel tak menghiraukan cemoohan Laura.
"Baiklah, aku ikut!" putus Laura pada akhirnya. Baru saja ia berencana untuk menghubungi ayah dan Bimasakti nanti ketika Sabiel meninggalkannya sendiri, Sabiel malah mengancam akan menyita ponselnya lagi. "Akan ke arah mana kita?" tanyanya kemudian.
Seketika Sabiel tersenyum lebar. "Kita akan menyusuri hutan dari arah timur. Kurasa disana jalannya lebih tidak berbahaya daripada yang lain." ucapnya bersemangat.
Pagi itu, meja makan tidak lagi sepi. Istri muda impiannya hadir disana. Duduk dengan santai dihadapan menu sarapan sederhana, berhadap-hadapan dengan Sabiel. Laura tampak lahap memakan sarapannya. Dia menjilat sudut bibirnya ketika merasa ada remah makanan disana. Pandangan matanya masih sama pada setiap obrolan yang Sabiel keluarkan. Dingin, seolah tak peduli.
Namun Sabiel dengan segala pemakluman yang ia miliki, membiarkan itu semua. Lelaki itu sudah merasa puas dan bahagia hanya dengan kehadiran Laura di sisinya. Sabiel merasa Laura telah mewarnai hari-harinya yang suram.
"Sabiel, apakah aku boleh menghubungi ayahku terlebih dulu?" pertanyaan Laura merusak kekhusyuan Sabiel memandanginya.
"Boleh, sayang." ucapnya sembari tersenyum hangat.
Sabiel sebenarnya ingin menyuruh Laura menghubungi pula kekasihnya itu, untuk mengakhiri hubungan asmara mereka. Namun melihat suasaha hati Laura yang sudah tenang saat itu, Sabiel mengurungkan niatnya. Dia tidak ingin merusak pagi harinya dengan kemarahan dan tangisan Laura. Bagi dirinya, pagi yang suci dengan keharmonisan hubungannya dengan Laura, tak layak untuk dinodai dengan membawa nama Bimasakti untuk muncul kembali ditengah-tengah mereka.
🍁🍁🍁
Acara sarapan beberapa saat yang lalu sudah usai. Kini kedua manusia itu sedang memulai pendakiannya. Dengan menjadikan pengalamannya sebagai mantan anak pecinta alam, Sabiel membawa Laura menyusuri hutan-hutan pinus yang tinggi menjulang ke angkasa. Cuaca cerah menjadi nilai tambah pada trek pendakian yang mulus tanpa harus terjebak pada licinnya jalan setapak. Sabiel berjalan di depan Laura, dia melakukan yang terbaik selama satu jam lebih pendakian.
Dengan penuh semangat, lelaki itu membimbing langkah istrinya menyusuri hamparan semak yang telah mati akibat dibabat oleh pendaki-pendaki lain yang mungkin datang untuk membuka jalan baru menuju puncak.
Laura berjalan dengan gesit, ia mencoba menyeimbangi langkah kaki suaminya dengan terus memperhatikan pijakan yang mulai berbatu.
Mereka tidak akan mendaki sampai di puncak. Sesuai yang diinginkan Sabiel, mereka hanya akan berhenti ketika telah sampai di salah satu lembah yang memiliki air terjun kecil disana.
Pemandangan menakjubkan membuat Laura berhenti sejenak. Matanya menatap hamparan bunga Stevia yang sedang bermekaran disela-sela rerumputan yang panjang, sepintas bunga-bunga kecil itu mirip dengan Edelweis. Tanpa Laura sadari, hamparan bunga itu membuat senyumnya merekah. Dadanya terasa lapang, karena berhasil menghirup dengan serakah kesegaran dari hamparan bunga itu.
Sabiel yang berdiri tak jauh dari Laura, memandang istrinya dengan tatapan lembut. Lelaki itu diam tak berucap apapun, dia enggan mengganggu kekhidmatan istrinya dalam mengagumi alam.
Semilir angin berhembus menerjang dedaun pinus yang bergerak gemulai karenanya. Laura menyampirkan anak-anak rambut yang menghalangi pandangan matanya sembari tersenyum hangat. Teriknya matahari tak membuat sepasang suami istri itu jemu memandang kehebatan alam dalam memanjakan mata manusia.
"Ayo sayang." Sabiel mengulurkan tangannya pada Laura. Sejenak Laura tertegun, namun tak menunggu lama ia menyambut uluran tangan Sabiel.
Langkah Sabiel semakin bersemangat, lelaki itu tak melepaskan pertautan tangannya dengan Laura, apalagi Laura terlihat tak berniat untuk melepaskan tangannya.
"Kau sudah menghubungi ayahmu?" tanya Sabiel sambil terus menapaki jalan setapak.
"Ya." sahut Laura singkat.
__ADS_1
"Apa yang kalian bicarakan?" Sabiel menengok pada Laura.
"Apapun. Kecuali foto itu dan pernikahan kita." jawab Laura sambil memicingkan mata menatap Sabiel.
Sabiel terkekeh.
"Apa ayahmu menanyakanku?" tanya kemudian.
"Ya. Dia benar-benar penasaran dengan hal apa yang ingin kau sampaikan." ucap Laura sambil memperhatikan langkahnya.
"Lalu kau menjawab apa?"
"Apalagi selain jawaban aku tidak tahu" timpal Laura.
"Hati-hati" Sabiel mempererat genggamannya ketika mereka sudah mendekati kawasan air terjun.
"Waaahhh" mata Laura tak bisa lagi menyembunyikan kekagumannya pada air terjun yang berada dihadapannya.
Air terjun itu terlihat begitu segar. Airnya yang jernih turun dari bagian atas tebing, membentuk rangkaian tangga berbatu dengan lumut-lumut hijau sebagai pelapisnya. Air itu mengalir deras menyusuri lembah berbatu pipih besar, tempat dimana para pendaki biasa bersantai sembari menikmati kesegaran alami.
Sabiel membawa Laura ke salah satu batu besar itu. Berhadapan langsung dengan derasnya air terjun. Pandangan mata Laura sedikit memicing, akibat percikan air yang sampai pada tempatnya berdiri. Sabiel merentangkan tangannya, menikmati hembusan angin yang membawa serta percikan air terjun hingga membuat tubuhnya sedikit basah.
"Segar bukan?!" Mata hitamnya berbinar menatap Laura yang ternyata sudah duduk dengan kedua tangan menopang tubuhnya dari belakang.
Laura memejamkan mata menikmati kesegaran dan kesejukan air terjun itu, ia tak menghiraukan ucapan Sabiel. Nafasnya berhembus pelan meresapi pasokan oksigen yang berlimpah ruah disekitar. Sabiel tersenyum. Lelaki itu ikut duduk dekat dengan istrinya.
"Sayang.. Kau suka?" Sabiel kembali bertanya.
"Tidak ada manusia manapun yang bisa menolak keindahan ini, bukan?!" Laura menengokkan kepalanya menatap Sabiel yang sedang tersenyum hangat.
Demi Tuhan, Laura amat cantik kala itu. Sabiel terpaku pada mata coklat indah yang bersinar sempurna bagai bintang. Sabiel baru menyadari, betapa lentiknya bulu mata Laura, berpadu dengan bola mata bulat yang selalu berhasil membuat Sabiel ingin menatapnya lagi.
"Apa air itu dalam?" tanya Laura menunjuk pada kolam air yang menampung derasnya air terjun dari atas tebing.
"Hah? Apa?" Sabiel mencoba mengembalikan kewarasannya akibat memandangi wajah Laura. "Oh, itu. Aku rasa tidak terlalu dalam. Kau ingin berenang?" tanyanya memastikan.
Laura mengangguk sembari menyeringai senang.
"Memandangi keindahannya saja tidak akan cukup bagiku. Aku harus merasakan kesegarannya langsung dengan berenang." ujar Laura.
"Kau tidak bawa baju ganti, Laura." ucap Sabiel mengingatkan.
"Aku bawa sweater." Laura langsung berdiri.
Ia melangkah pada tepian batu besar yang tadi ia duduki. Tanpa aba-aba, gadis itu langsung terjun ke dalam air setelah ia melepaskan alas kakinya.
Sabiel berdiri, dia lepas alas kakinya dan langsung berlari ikut terjun ke dalam air bersama Laura. Sepasang suami istri itu menyelam bersama, kemudian muncul kepermukaan bergantian.
Wajah Laura tampak cerah menikmati kesegaran air pegunungan yang membasuh tubuhnya. Nafasnya naik turun dengan cepat ketika kepalanya muncul setelah ia puas menyelam. Sabiel berenang tak jauh dari Laura. Sepanjang perjalanan mendaki tadi, baru disaat seperti ini lah ia bisa melihat Laura tampak bersemangat. Gadis itu dengan lincah berenang kesana kemari seperti seekor ikan di lautan lepas.
"Sayang, jangan terlalu jauh!" Sabiel sedikit meninggikan suaranya agar dapat mengalahkan derasnya air terjun.
Dia menggeram kesal ketika melihat Laura yang tampak tak mendengar ucapannya. Lelaki itu kemudian berenang menghampiri istri pemberontaknya.
"Jangan terlalu jauh Laura. Kakimu bisa kram." Sabiel mencoba menggapai lengan Laura, namun Laura bergerak cepat dengan memiringkan tubuhnya menolak tangan Sabiel yang hendak memegangnya.
"Kenapa? Kau takut?" Laura menepukkan permukaan air dihadapannya hingga cipratan air mengenai wajah Sabiel.
"Kakimu bisa kram, kemarilah." ucap Sabiel mengulurkan tangan.
__ADS_1
Namun lagi-lagi si pemberontak ulung itu membuat wajah Sabiel terkena cipratan air yang dibuatnya. Sabiel mengusap wajahnya frustasi. Sementara Laura tertawa puas melihat rona kekesalan yang muncul di wajah lelaki itu.
"Astaga sayang.." Sabiel kehabisan kata-kata ketika Laura memilih berenang kembali menjauhi Sabiel.
"Akan ku buat kau berhenti sekarang juga, Laura." gumam Sabiel beberapa saat sebelum berenang menyusul Laura.
Di kolam air dengan ukuran yang tak begitu luas itu, tanpa kesepakatan sebelumnya kedua manusia itu berlomba saling mengejar. Laura mencoba mempercepat laju gerakan renangnya ketika melihat Sabiel sudah menyelam kedalam air. Lelaki itu bergerak cepat dengan tak sabar untuk segera meraih Laura. Laura yang merasa terancam karena kejaran Sabiel, menuruti instingnya untuk semakin mempercepat gerakannya.
Aksi kejar kejaran dalam air itu pun akhirnya berakhir ketika Laura sudah merasa kelelahan, dan berhenti bergerak. Gadis itu mengambang dalam posisinya.
Kedua tangannya mengusap bagian kepala dan wajah. Pandangannya berkeliling mencari keberadaan Sabiel yang tak kunjung nampak di permukaan. Belum sempat ia melihat sekitar dengan teliti, kedua tangan kokoh merenguk pinggangnya dari dalam air. Sontak Laura menjerit kaget. Matanya berubah kesal ketika kepala Sabiel mulai muncul kepermukaan. Menyeringai dengan sangat menyebalkan.
"Kena kau!" ucapnya tepat di wajah Laura.
"Lepas!" Laura berusaha menyingkirkan lengan Sabiel dari pinggangnya. Namun Sabiel tak bergeming.
Lelaki itu sibuk mengatur nafasnya yang berantakan karna mengejar istrinya.
"Sabiel, Lepas! Kau berat." sergah Laura.
Sabiel yang saat itu sudah dapat menormalkan kembali nafasnya, memandang lekat wajah cantik yang tampak pucat akibat dinginnya air pegunungan itu.
Tanpa menunggu lama, Sabiel mencondongkan wajahnya untuk mempertemukan bibirnya dan bibir Laura yang sama-sama terasa dingin.
Laura membelalakan matanya. Ia terkejut dengan ciuman vulgar yang Sabiel lakukan padanya. Lelaki itu dengan lihai merangkup kedua pipi Laura untuk memperdalam ciumannya. Bibirnya bergerak menyapu bibir Laura dengan liar, lidahnya menyusup disela bibir yang terbuka. Melilit dan berpadu sepenuh gairahnya pada Laura.
Laura hampir berhasil mendorong dada Sabiel, jika saja lelaki itu tidak bergerak cepat dengan membawa Laura untuk menyelam ke dalam air sambil terus berciuman.
Dinginnya air terjun tak berarti apapun bagi kedua tubuh yang membara menahan gejolak nafsu primitif di dalam sana. Sabiel menyusupkan tangannya kedalam pakaian Laura, hingga tersentuhlah pinggang ramping nan lembut oleh jemarinya. Laura bergidik dibawah sana, tak ada yang bisa ia lakukan selain mengalungkan lengannya di leher Sabiel. Keliaran Sabiel dalam mencumbunya membuat pikirannya mengawang, hingga tak mampu lagi untuk melawan.
Setelah cukup lama mencumbui Laura, dan melihat wajah Laura yang mulai tampak kehabisan nafas. Sabiel memutuskan untuk membawa kembali Laura kepermukaan. Laura langsung melepaskan diri dari Sabiel dan terengah-engah dengan hebatnya.
Sementara Sabiel, dengan bola mata hitam legamnya. Memandang Laura dengan tatapan puas. Dia menyapu bibirnya dengan ibu jari, ada rasa Laura yang masih tertinggal disana.
🍁🍁🍁
Sebelum malam benar-benar menjelang, Sabiel dan Laura tiba di Pondok Kenanga. Dengan pakaian lembab yang melekat ditubuh keduanya, mereka bergegas memasuki pekarangan kebun mini yang tertata rapi sebelum kemudian sampai di pintu utama pondok.
Ical yang pertama kali melihat kedatangan mereka, sorot matanya tampak khawatir. Pandangan Ical menyusuri keseluruhan tubuh majikannya yang terkesan 'berantakan' dan kuyuh. Tak berselang lama, pemuda itu berteriak memanggil Mbok Suti dan Mbok Yayu.
Dengan tergopoh-gopoh kedua Mbok itu menghampiri Ical, dan mata mereka sama terkejutnya dengan pemuda itu.
"Tuan? Nyonya?" ucap Mbok Suti dan Mbok Yayu bersamaan.
"Kami baik-baik saja, tadi Laura memaksa ingin berenang di air terjun." Sabiel mencoba mencairkan kekhawatiran para pekerjanya. Sementara Laura berdiri disisinya menahan tubuh yang mulai mengigil.
"Saya siapkan air hangat dulu Tuan. Nyonya." Mbok Yayu sigap mengambil langkah pertama yang harus ia lakukan untuk membuat majikannya kembali nyaman.
Sementara Sabiel dan Laura melangkah memasuki pondok. Mereka langsung berjalan ke lantai atas, tempat kamarnya berada. Ketika hendak membuka pintu, ponsel Sabiel berdering.
Drrrtt.. Drrrtt...
Sabiel merogoh ponsel itu dari dalam tas ransel kecil yang masih ia gendong. Matanya mendadak waspada ketika menatap layar ponsel. Sejenak ia ragu untuk menjawab. Lebih tepatnya malas.
Laura yang berdiri disebelahnya mengawasi raut wajah Sabiel yang tampak lain. Pandangannya langsung beralih pada layar ponsel yang masih berdering, menunggu untuk diangkat.
"Angkatlah. Dia istri sah-mu, bukan?!" ucap Laura menyunggingkan sudut bibirnya dingin pada Sabiel yang masih diam terpaku. Gadis itu langsung berjalan meninggalkan Sabiel yang masih berdiri di ambang pintu dengan tak peduli.
🍁🍁🍁
__ADS_1