Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 94


__ADS_3

Dua part menjelang tamat! Yeay! 📚🏃‍♀


...----------------...


Laura termenung memandang dirinya di cermin meja rias pengantin. Saat ini ia tengah mempersiapkan dirinya untuk acara pernikahan yang tinggal beberapa jam lagi akan dimulai. Senyuman manis menghiasi wajahnya, ketika seorang penata rias selesai memberikan sentuhan akhir pada wajah cantik Laura. Pekerjaannya kali ini terasa ringan, karena wajah Laura yang memang sudah cantik tidak mengharuskannya memulas dengan makeup yang tebal.


Laura melihat refleksi keseluruhan dirinya beberapa kali. Rasa takjud bercampur haru merebak dalam hatinya. Ia merasa tak percaya, hari ini akan tiba. Hari dimana ia akan menyandang status sebagai Nyonya Sabiel secara resmi, yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam benaknya. Rasanya baru kemarin Laura duduk di kursi mahasiswa, mendengarkan kuliah pagi dari dosen favorit itu. Ia tidak menyangka, kesan pertama dalam pertemuannya dengan Sabiel sebagai dosen, membawa langkahnya pada takdir baru sebagai seorang istri dari dosen tersebut.


Nasib manusia terkadang tidak terduga.


Laura merasa saat ini adalah saat dimana ia berada pada titik kebahagiaan tertinggi dalam hidupnya. Apalagi dengan kehadiran jabang bayi yang sebentar lagi akan lahir dan meramaikan kediaman mereka.


"Lauraaaa! Akh ya ampuuun" seruan Destri dan Rena tiba-tiba terdengar dari arah pintu ruangan.


Laura menoleh dan langsung terkejut melihat dua sahabatnya berdiri sambil menenteng bingkisan besar di tangannya. Destri berjalan berlenggok sambil mengibaskan rambutnya yang sengaja digerai, gaun warna pastel yang senada dengan gaun Rena bergoyang mengiringi langkahnya.


"Laura, astaga aku tak percaya" Rena menggelengkan kepala melihat Laura yang tersenyum malu.


"Oh My God! Oh My God! Kau membuat kami jantungan, Laura" dengus Destri menatap seolah tak percaya bahwa yang berdiri mengenakan baju pengantin adalah sahabatnya.


"Darimana kalian tahu?" tanya Laura. Ia merasa tak mengundang siapapun dari teman-teman sekelasnya.


"Wah wah wah, ternyata benar Des. Dia tidak berniat mengundang kita" ucap Rena sinis.


"Kau jahat, Laura! Kau merahasiakan ini semua dari kami" timpal Destri memberengutkan bibir meronanya.


"Maafkan aku, aku hanya bingung untuk mengatakan yang sebenarnya pada kalian" ujar Laura menyesal.


"Cih! Kau benar-benar pintar menyembunyikan pernikahanmu. Bahkan kami tidak tahu jika kau sedang mengandung, Laura. Astaga! kepalaku.." Rena memegangi kepalanya, seperti orang yang kesakitan.


Laura tersenyum kaku. "Sabiel memintaku merahasiakannya dulu, sebelum meresmikan hubungan kami" ucapnya beralasan.


"Oh My Lord! Rena kau dengar? Laura memanggil dosen tampan kita dengan namanya" ujar Destri pada Rena yang membuat Laura kembali tersipu malu.


"Aku sudah katakan dia menyukaimu sejak dulu"


Suara Gisel membuat Laura kembali terkejut. Matanya berbinar menatap sahabat asramanya berjalan dengan gaun off shoulder yang indah. "Feelingku benar, bukan?" ucap Gisel begitu sampai di tempat Laura, Rena dan Destri.


Gisel menatap sekilas pada Destri dan Rena yang ternyata sudah berkenalan saat Sabiel mengumpulkan mereka untuk memberitahu acara pernikahannya dengan Laura. Ketiga gadis itu sempat berbincang panjang tentang Laura yang tak mereka sangka telah menikah siri dengan dosennya sendiri.

__ADS_1


"Kalian..." Laura tak bisa lagi mengatakan apapun. Hatinya begitu bahagia melihat sahabat-sahabat terdekatnya hadir di acara istimewanya itu. "Sabiel memberitahu kalian?" tebaknya.


"Ya ampuuun! tentu saja Laura" Rena memutar bola matanya malas.


"Dia mengumpulkan kami bertiga di kantin kampus, dan tiba-tiba mengatakan akan menikahimu" timpal Destri mengingat hari mengejutkan itu.


"Ckckck.. Aku salut pada caramu untuk menyimpan rapat masalah ini" Gisel menyeringai menggoda Laura.


Laura menatap ketiganya dengan raut wajah yang sudah tidak bisa di deskripsikan lagi. Ia mengingat bagaimana dirinya bersusah payah membuat banyak alasan untuk menghindari teman-temannya ketika mereka mulai curiga akan kehadiran Laura yang jarang sekali masuk kuliah. Dia juga ingat, beberapa kali terpaksa harus membatalkan acara bersama mereka ketika masalah Intan mulai terasa menjengkelkan.


Semua kejadian lalu berputar dalam benaknya. Membuat dirinya tak berkutik ketika ketiga sahabatnya itu terus saja membicarakan dirinya di masa yang lalu.


"Sayang, apa kau... Ah! kalian datang?!"


Ucapan Sabiel membuat wanita-wanita itu menoleh padanya. Destri menyikut lengan Rena yang berdiri di sebelahnya. "Dosen kita" bisiknya yang langsung mendapat hadiah cubitan dari Rena.


Laura tersenyum cantik melihat suaminya berdiri di ambang pintu. Lelaki itu sudah siap dengan setelan jas lapis berwarna serba putih dengan sematan bunga rose di saku dadanya. Rambutnya tertata rapi lengkap dengan jambang yang semakin membuatnya terlihat seksi dan tampan sekaligus.


Lelaki itu memilih masuk dan menyapa para sahabat istrinya. "Kalian terlihat berbeda dengan penampilan seperti itu" puji dosen tampan itu membuat ketiga mahasiswi di hadapannya menahan nafas karena merasa senang.


"Aku mengundang mereka sayang. Aku ingin sahabat-sahabatmu ikut menyaksikan acara sakral kita" ucap Sabiel sembari merangkul pinggang Laura. "Kau cantik sekali" Sabiel mencium bibir Laura dihadapan ketiga gadis lainnya yang kini menganga melihat aksi vulgar sepasang pengantin itu tiba-tiba.


"Sabiel!" Laura mendengus antara kesal dan senang. Ekor matanya melirik pada Destri, Rena dan Gisel yang memperhatikan mereka dengan tatapan merona.


"Sudah sana, kau tidak seharusnya berada di ruangan wanita" Laura mendorong pinggang Sabiel.


"Baiklah..." Sabiel melepaskan rangkulannya. "Aku hanya ingin mengingatkan acaranya sebentar lagi dimulai" ucap Sabiel sembari berjalan meninggalkan Laura bersama sahabatnya.


Tatapan Laura mengikuti Sabiel yang berjalan keluar ruangan. Sampai pintu itu tertutup, barulah ia sadar bahwa tatapan ketiga sahabatnya tengah mengarah pada dirinya. Laura tersipu malu mendapat tatapan yang penuh ejekan dan godaan itu. Seringaian jahil yang serentak menghias wajah ketiganya, membuat Laura salah tingkah.


"Berhenti menatapku seperti itu!" gersahnya malu.


"Dia mencintaimu, Laura" ucap Gisel.


"Wah, kau mencuri hati dosen kesayangan sejuta ummat" timpal Destri.


"Aku tidak bisa membayangkan bagaimana malam-malam erotismu dengan dosen itu" ucap Rena terkikik sendiri.


Laura menunduk sambil tersenyum, ia mengusap perutnya yang buncit. Sabiel memang seperti itu, lelaki itu entah mengapa selalu memperlihatkan perasaannya pada Laura dengan begitu jelas, tak peduli dihadapan siapapun.

__ADS_1


"Berhenti menggodaku. Kalian tidak tahu segugup apa aku saat ini" ucap Laura melayangkan tatapan sebalnya.


Ucapan Laura sukses membuat ketiga sahabatnya itu semakin senang menggoda dirinya. Mereka mendominasi perbincangan santai itu. Sementara Laura hanya diam dan sesekali menggelengkan kepala ketika Destri secara frontal menanyai aktivitas seksualnya bersama Sabiel.


"Akan lebih menyenangkan jika melakukannya dengan lelaki berpengalaman seperti suamimu" ucap Destri terang-terangan.


"Jam terbangnya yang tinggi pasti membuatmu sedikit kewalahan di awal, tapi aku yakin justru itu yang akhirnya membuatmu berhasil hamil dua kali" kekeh Rena mengundang kekehan Destri dan Gisel.


Mereka berempat memanfaatkan detik-detik menjelang acara dengan pembicaraan santai dan penuh tawa. Bahkan rasa gugup yang tadi sempat mendera Laura, berhasil menghilang karenanya. Ia merasa santai dan relaks dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya. Sebelum akhirnya waktu berbincang habis, oleh ketukan di pintu dan panggilan dari ayah Laura yang menanyakan kesiapan dirinya untuk keluar dari ruangan.


"Ya ayah. Aku sudah siap!" seru Laura sembari mengambil buket bunga yang berada di meja riasnya.


🍁🍁🍁


Pintu aula venue terbuka perlahan. Mata Laura disuguhkan pemandangan indah ruangan yang disulap menjadi sebuah taman bunga. Sepanjang mata memandang, seluruh ruangan seperti diselimuti oleh bunga dan tamanan dimana-mana, seolah Laura sedang berada di sebuah taman bunga raksasa.


Sabiel sudah tidak bisa lagi mengalihkan pandangannya pada hal lain selain Laura yang berjalan bagai bidadari dengan gaun indahnya. Sabiel merasa telapak tangannya berkeringat dengan degup jantung yang terasa semakin gila. Mata legamnya terpaku pada Laura. Wanita itu tersenyum cantik sambil menatap pada dirinya yang terlihat tak sabar ingin segera Laura sampai padanya.


Laura tampak bersinar, lebih bersinar dari sebelum-sebelumnya. Gaun pengantin berwarna putih lengkap dengan crown indah di kepalanya membuat tampilan Laura bak seorang putri dari kerajaan dongeng. Sabiel kehilangan kata-kata menggambar kecantikan Laura yang memukau. Oh Ya Tuhan, Laura sungguh membuat dada Sabiel tak berhenti bergemuruh. Kilatan kenangan masa lampau berkelebat dalam benak Sabiel. Mengingat begitu sulitnya ia menaklukkan hati Laura hingga ia benar-benar harus memaksa Laura untuk menjadi miliknya disaat wanita itu tidak ingin dijadikan miliknya.


Perjalanan cinta yang panjang dan dramatis itu kini berakhir dengan sangat membahagiakan. Hanya beberapa menit lagi Laura akan resmi menjadi istri sahnya. Hal itu memancing air mata yang sudah Sabiel tahan akhirnya merembes membasahi pipinya. Lelaki itu menangis haru. Perjuangannya yang begitu melelahkan, memberikan hasil yang sangat luar biasa. Di detik itu ia sadar bahwa tidak ada perjuangan yang akan berakhir sia-sia. Keteguhan hati dan tekadnya menjadikan Laura miliknya seorang, pada akhirnya selesai dengan ucapan Laura yang berikrar untuk menjadi istri setia dan mau menemani dirinya dalam keadaan susah ataupun senang.


Sabiel mencium Laura penuh haru ketika ikrar keduanya telah disahkan oleh seorang penghulu. Lelaki itu menghapus air mata di subut matanya, sebelum ia kemudian memeluk erat Laura. Membisikkan kata cinta yang tidak akan pernah bosan untuk Laura dengarkan.


Rasanya tidak ada kata yang bisa mewakili kebahagiaan yang tengah dirasakan oleh keduanya. Laura tersenyum lembut menatap suaminya. Hatinya menghangat ketika Sabiel memulai acara konferensi pers singkat dengan diawali berita gembira kehamilan Laura.


Laura mengalihkan pandangannya. Menatap bangku-bangku undangan yang terisi penuh di hadapannya. Di barisan depan ia melihat keluarganya tersenyum menatap dirinya yang terlihat begitu bahagia. Di barisan lain ia melihat Gisel, Destri, Rena bahkan para dosen universitasnya duduk menyaksikan dengan khitmad setiap ucapan yang keluar dari mulut suaminya. Di ujung barisan, Laura melihat pak Sandjaya dengan istrinya. Tatapan mereka bertemu dan mereka saling melempar senyuman satu sama lain. Laura ingat, Sabiel bercerita bahwa beliau adalah teman dekat dari orangtuanya. Kini ketua Dekanat itu sudah seperti ayah kedua bagi suaminya.


Mata coklat Laura berbinar antusias ketika ia terus menyisir bangku para undangan, dan menemukan Bimasakti duduk di sisi paling belakang barisan itu, lelaki itu tengah memandangnya sambil tersenyum lembut. Laura terharu. Matanya berkaca-kaca melihat Bimasakti yang dengan tampilan gagahnya, bisa kembali melihat. Lelaki itu tampak lebih segar dan tampan dari terakhir kali Laura lihat di pulau pribadi suaminya. Jas hitam yang menutupi kemeja hitam dibagian dalamnya membuat Bimasakti terlihat begitu jantan. Dari tubuhnya menguar aura misterius yang ternyata berhasil membius beberapa mata para tamu wanita yang berada di sekitarnya.


Laura tersenyum malu ketika lelaki itu menggelengkan kepala sambil memberi isyarat padanya untuk tidak menangis. Ditengah suasana haru yang menyeruak antara dirinya dan lelaki masa lalunya, Sabiel meremas lembut jemari Laura. Mengembalikan fokus Laura pada sesi konferensi pers yang telah usai.


"Ada apa sayang?" bisik Sabiel yang melihat Laura menyeka sudut matanya.


Laura berusaha menetralkan kembali suasana hatinya, "Bimasakti.. Dia sudah bisa melihat, sayang" ucapnya membuat Sabiel mengedarkan pandangannya sekilas.


Kedua lelaki itu saling menatap. Dari sorot mata keduanya tersimpan rasa saling menghargai dan menghormati yang kental. Sabiel tersenyum hangat, dan Bimasakti membalas sapaan jarak jauh tersebut dengan sebuah anggukan kecil namun bermakna.


Kini Sabiel ingin membuat adegan romantis dengan Laura, yang akan menjadi akhir dari semua rangkaian acara yang mendebarkan itu. Sabiel merangkum pipi Laura setelah ia mengajak Laura untuk berdiri dihadapan para tamu undangan. Lelaki itu mencium mesra istrinya dalam waktu yang cukup lama. Ciuman itu disambut tepukan tangan para hadirin yang ikut berdiri dan tersenyum lebar menyaksikan kebahagiaan pasangan suami istri itu. Bimasakti tersenyum hangat menatap Laura yang malu-malu menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Sabiel. Hatinya tidak lagi merasa sakit. ia justru ikut merasakan kebahagiaan yang kini telah direguk kedua manusia itu.

__ADS_1


"Kau harus membahagiakan Laura, Sabiel. Itu adalah harga yang setimpal dari perbuatanmu dulu" Bimasakti membatin sembari bertepuk tangan melihat kemesraan Laura dan suaminya.


🍁🍁🍁


__ADS_2