
Hening dan sunyi. Kedua kondisi itu yang kini sedang dirasakan Laura di bilik kamarnya. Wanita itu terdiam memandangi langit-langit kamar yang berpendar karena cahaya bohlam di dekatnya.
Air matanya sudah lama mengering. Begitu banyak hal yang telah ia tangisi seorang diri malam itu. Peristiwa demi peristiwa berlalu bagai angin lalu, sebagian memberinya rasa syukur dengan tulus, sebagian lainnya memberinya luka yang mengendap dalam palung hati terdalam. Luka-luka itu bermetamorfosis menjadi kebencian dan amarah yang lambat laun menggerogoti hatinya hingga berlubang.
Laura tak sanggup lagi membayangkan masa depannya, setelah kini ia menyandang gelar istri siri. Hidupnya terasa berhenti berputar. Sabiel. Lelaki itu yang membuatnya berhenti. Kaku, berdiam diri pada satu titik dimana ia tak bisa lagi melakukan apapun sesuai dengan kehendaknya. Lelaki itu telah memasung hidup Laura, dengan segala pemaksaan yang ia lakukan atas nama cinta.
Ditengah kesepian yang mencekam, Laura teringat akan blog pribadinya. Rumah kedua itu lama tak Laura sambangi. Seketika Laura bangkit dari tidurnya, matanya langsung mencari box buku yang ia bawa dari asrama.
Tak berapa lama, selimbut hangat itu tersibak lebar. Laura berjalan menghampiri box buku yang tergeletak di bawah meja rias.
Laura langsung membukanya, dan melihat laptop miliknya berada disana.
Drrrttt... Drrttt..
Dering ponsel mengalihkannya dari laptop yang mulai ia nyalakan di atas tempat tidur. Laura melintangkan tubuhnya ke arah nakas, tangannya diulur hingga merenggang mencoba menggapai ponsel yang ia letakkan disana.
"Sabiel?" gumamnya malas.
Alih-alih mengangkat panggilan, Laura malah melempar sembarang ponsel itu di sampingnya. Matanya kembali menatap layar laptop. Dan mulai mencoba untuk berselancar di laman blognya.
Tak berselang lama ponselnya berdering kembali. Tring! Tanda pesan masuk.
Laura mengambil kembali ponselnya, dengan mata tertuju pada layar laptop.
From: Sabiel.
Aku tahu kau belum tidur, sayang. Berani kau tak angkat panggilanku, huh?! Tunggu aku kesana, dan akan aku buat kau benar-benar tidak bisa mengangkat panggilan siapapun!
Oh ya, aku lupa memberitahumu. Apartemen itu penuh dengan cctv. Aku bisa tahu apa yang sedang kau lakukan dari ponselku :)
Deg!!
Laura membaca berulang pesan itu. Matanya membulat sempurna ketika benaknya mulai memahami isi pesan itu.
Sabiel marah?! Dia tahu aku tidak sedang tidur?! Oh no. Laura mencium tanda bahaya.
Matanya berpencar dengan tergesa, menelisik sudut-sudut kamar dan sudut langit-langitnya dengan teliti. Tak puas dengan pencariannya, Laura bangkit dari tempat tidur. Langkahnya terburu-buru menghampiri sudut-sudut ruangan yang mungkin saja terdapat cctv disana.
"Cctv. Dimana kau cctv? Dimana kalian semua, sial-an!!" Laura kesal karena tak kunjung menemukan dimana cctv itu bersembunyi.
Diseberang sana, Sabiel terkekeh geli melihat kepanikan Laura mondar mandir di dalam kamar melalui cctv yang tersambung langsung pada ponselnya. Wanita itu pasti sedang berusaha keras menemukan cctv yang ia pasang. Raut wajah kesal menggemaskan itu, membuat Sabiel menyunggingkan senyumannya.
Puas memperhatikan Laura, lelaki itu kembali menghubungi istri mudanya.
Drrrttt... Drrrttt...
Dering ponsel kali ini membuat Laura segera berlari menghampiri benda itu, Ia tak ingin membuat Sabiel bertambah marah dan nekat mendatanginya.
"Halo." suara Laura sedikit bergetar.
"Ada apa dengan suaramu, sayang?" Sabiel pura-pura tak tahu.
__ADS_1
"Kau mengawasiku? dimana cctv itu?!" pertanyaan memburu keluar dari mulut Laura yang jengkel. Diseberang sana, Sabiel malah menyeringai jahil.
"Kenapa? Kau mencarinya?" Sabiel tak bisa menahan diri untuk tidak mengeluarkan kekehan.
"Berhenti menertawaiku." tukas Laura sebal. "Apa kau tidak puas membuat hidupku seperti seorang tahanan, huh? Sampai kau memasang cctv pula di apartemen ini." sindir Laura. Sambil menjawab panggilan Sabiel, matanya masih saja menerawang pada sudut-sudut kamarnya. Berharap ada kamera cctv yang berhasil ia temukan.
"Kau tidak akan menemukannya sayang. Aku memasang di sudut yang sangat sangat tersembunyi. Bahkan malaikat pun tidak akan menyadarinya." ucap Sabiel pongah.
"Kau benar-benar menyebalkan Sabiel!" Laura mengepalkan tangannya sekuat mungkin.
"Tidak terlalu menyebalkan untuk menjadi suamimu sayang." ucap Sabiel santai. "Bagaimana hari pertamamu kuliah lagi?" tanyanya kemudian.
"Biasa saja." ujar Laura sembari mulai naik ke atas tempat tidur, dan mulai melihat kembali laman blog-nya. "Oh ya, terima kasih atas dua orang sipir yang kau susupkan di kelasku." sindir Laura sambil mendelik.
"Hahahaha..Tak perlu sungkan sayang, aku melakukan itu untuk menjagamu." tawa renyah dari mulut Sabiel memecah kesunyian malam di tempatnya.
"Nyonya!"
Ditengah perbincangannya dengan Laura, terdengar suara pembantu Sabiel yang nyaring penuh nada kekhawatiran. Posisinya yang sedang berada di ruang keluarga, membuat suara pembantunya terdengar jelas.
"Oh shit!" umpat Sabiel ketika ia menengok pada arah pintu masuk dan menemukan Intan yang berdiri sempoyongan, sambil di topang salah satu temannya.
"Ada apa dengan istrimu?" tanya Laura yang mendengar suara pekikan itu.
"Sayang, sudah dulu oke?! Nanti aku akan menghubungimu lagi. Jangan tidur terlalu malam. Aku mencintaimu." bisik Sabiel sembari langsung berjalan menghampiri pintu masuk, setelah mematikan ponsel.
"Ishh! terserah padamu, Bastard!!" umpat Laura kesal sambil menatap layar ponsel yang mati. "Kau menjadikanku tahananmu. Sementara kau lupa bahwa dirimu pun sedang menjadi tahanan ISTRI SAH-MU!! Dasar buaya!" ucap Laura kasar.
🍁🍁🍁
Seulas senyuman tipis hadir menghiasi paras cantiknya. Pandangannya melembut ketika ia membaca kenangannya bersama Bimasakti. Sajak-sajak yang dulu ia torehkan untuk lelaki itu membekas dalam hatinya. Menciptakan sebuah perasaan yang ia kenal baik itu sebagai cinta.
Tiba-tiba bayangan Sabiel mengenyahkan senyuman itu. Kehadirannya yang tiba-tiba, membuat Laura harus menelan pil pahit dari luka yang terjadi karena perpisahan.
Pandangan Laura nanar menatap sajak sembarang yang aktivis itu tujukan padanya.
Hati Laura berdenyut penuh sembilu. Namun tak ada air mata yang kini membasahi wajahnya. Air matanya telah habis, mengalir pada satu arus deras bernama keikhlasan.
Ya. Laura harus rela mesti tak rela. Ia harus menerima meski hati sulit menerima. Jika waktunya nanti telah tiba, dia bertemu dengan lelaki itu kembali. Ia harus rela melepaskannya. Membiarkannya pergi untuk menemukan cintanya yang lain.
Ditengah sunyinya malam, Laura menyadari satu hal yang ia yakini saat ini. Bahwa cinta erat kaitannya dengan kerelaan. Karena cinta seseorang rela melakukan apapun untuk kekasihnya. Bahkan jika itu adalah hal gila seperti apa yang Sabiel lakukan kepadanya.
Dan kini cintanya pada Bimasakti diuji oleh garis takdir yang berlainan arah. Hanya ada satu pilihan dalam hal ini, Laura harus melepaskan Bimasakti.
Lelaki itu pasti akan terluka. Pasti. Namun disini bukan hanya cinta Laura yang diuji. Melainkan cinta lelaki itu pada dirinya pun sedang diuji. Cinta hadir dari dua sisi yang sama-sama rela. Maka dari itu, jika cinta lelaki itu benar tulus padanya. Laura yakin, ia akan lebih mudah mengerti daripada membenci. Ia akan mengerti bahwa Laura merasakan lukanya lebih parah daripada yang ia rasakan. Baik Laura ataupun Bimasakti harus mencoba rela pada garis takdir yang mempermainkan mereka.
Mata Laura tiba-tiba menatap tajam pada kotak pesan yang menunjukan tanda ada pesan masuk. Laura terlalu fokus pada tulisan-tulisannya, ia baru menyadari pesan itu.
From: Bimasakti
Hai sayang, lama tak bertukar kabar ya?
__ADS_1
Sejak terakhir kali kau menghubungiku, hatiku tak pernah merasa tenang.
Aku bertanya-tanya, apa yang ingin kau sampaikan padaku? Namun sayang, otakku terlalu bebal untuk menemukan jawabannya.
Pekerjaan disini sudah mulai rampung, aku berharap akhir pekan ini aku bisa segera menemuimu.
Tak sadar rasanya ingin melihat kembali gadis cantik milikku :)
Jantung Laura berdekat cepat seiring matanya menyapu kalimat demi kalimat dalam pesan itu. Benaknya tak mampu menerjemahkan apa yang kini melanda hatinya. Dia merasa tenggelam di dasar sumur lara yang dalam. Kata-kata Bimasakti meluluh lantahkan tekadnya untuk berusaha ikhlas dan berdamai dengan takdir. Jiwanya merontak ingin melawan kehendak Tuhan yang menurutnya tak adil. Laura tersekat, nafasnya memburu seiring berhasilnya air mata kembali jatuh setelah lama mengering.
Kepalanya terasa berat. Memikirkan bahwa pesan itu telah ada sejak dua hari yang lalu. Itu artinya tinggal beberapa hari saja, sampai lelaki itu datang menemuinya. Laura dilanda kebimbangan. Dia seperti sedang berdiri di dua cabang jalan yang harus ia lalui, tanpa adanya petunjuk jalan yang berarti.
Seketika ide gila ditengah pikirannya yang semrawut hadir. Laura berdiri dari duduknya, wanita itu berjalan mondar mandir di dekat tempat tidur dengan mulut yang terus menggigiti ujung kuku tangannya. Raut wajah serius terpatri disana, ketika satu keinginan kuat berbayang nyata dalam benaknya.
Kabur?!?
🍁🍁🍁
Sabiel duduk di ujung tempat tidur king size saat itu. Matanya menatap tajam pada sosok tubuh wanita yang tampak kacau sedang terbaring disana. Wanita itu masih berada dalam pengaruh alkohol. Tidurnya sedikit tak tenang dan dari bibirnya terdengar gumaman tak jelas.
Sabiel menatap dengan jengah. Dia tahu sejak ia tertidur siang itu hingga sore menjelang. Intan pergi keluar rumah setelah keinginan bercintanya, Sabiel tolak mentah-mentah. Namun Sabiel tak menyangka, istrinya itu bisa kembali dalam kondisi mabuk parah. Beberapa kali ia harus membopong Intan ke kamar mandi, karena rasa mual yang mendadak hinggap di tenggorokannya dan menyebabkan wanita itu muntah dengan hebat.
"Sabiel, aku membencimu!" rancau Intan dengan mata berkabut. "Kau menolakku tadi sore." sambungnya
"Nanti saja Intan, kau bisa memarahiku nanti setelah kau sadar. Sekarang tidurlah."
"Oh, dasar kau brengsek! Kau membuat istrimu menahan malu." Intan menendang Sabiel dengan lemah, hampir seperti senggolan ringan.
Sabiel menahan nafasnya, dia membuka outter yang Intan kenakan dengan sabar.
"Kenapa kau menolakku?" tanya Intan dengan kesadaran yang coba ia pertahankan.
"Besok Intan. Kita bisa bicara besok oke?!" Sabiel menatap tegas bola mata sayu itu. "Aku akan meninggalkanmu disini dan kau tidurlah yang nyenyak." Sabiel segera berdiri dengan menggenggam Outter Intan yang tadi ia lepaskan.
Dalam hitungan sekejap, tangan Intan menahan Sabiel untuk meninggalkannya. Ia berusaha menegakkan tubuhnya yang sempoyongan dengan berpegang pada lengan suaminya.
"Kau tega menolakku tadi" gerutu Intan sembari menyandarkan kepalanya pada perut Sabiel yang sixpack.
Sabiel memegangi kedua sisi bahu Intan, dengan gerakan halus ia baringkan kembali tubuh Intan. "Seharusnya kau sadar bahwa aku sudah tak ingin lagi bersamamu" ucapnya lirih menatap bola mata Intan yang semakin akan tertutup.
"Aku akan...mengadukanmu pada Dato' nanti" gumaman samar keluar sebelum Intan akhirnya pasrah terbang ke alam mimpi.
Sabiel yang masih berdiri disampingnya, terpaku mendengar gumaman Intan yang penuh tanda tanya. Benaknya mencoba merapalkan kembali apa yang Intan ucapkan. Bagai anak panah yang terbang melesat, menancap dengan tepat di rongga kepala Sabiel. Ucapan Intan membuat bola mata hitam itu berkilat oleh rasa curiga yang kental.
Untuk pertama kalinya, Sabiel merasa mendapatkan angin segar di tengah gersangnya kondisi rumah tangganya bersama Intan. Lelaki itu terus memandangi wajah istrinya yang terlelap, dengan sorot mata yang tak terbaca. Seringai mengerikan muncul di sudut bibirnya. Membuat siapapun yang melihatnya, pasti bergidik ngeri.
"Dato?! Siapa dia?!"
Tanda tanya besar akan nama lelaki lain yang muncul ditengah kondisi Intan yang setengah sadar, menerbitkan harapan baru pada dirinya. Dia akan mencari tahu itu.
🍁🍁🍁
__ADS_1