
Bertepatan dengan hari kepulangan kembali Sabiel dan Laura menuju Bandung, Tomi datang ke pulau pribadi itu. Beberapa hari sudah ia tidak menampakkan diri sejak pembicaraannya dengan Nyonya Laura dulu. Kini lelaki itu tampak tersenyum lega ketika bertemu dengan kedua majikannya. Kelegaan itu bersumber pada berita baik yang ia bawa.
"Kau sudah datang?" tanya Sabiel melihat Tomi memasuki pondoknya. Sejak kemarin Tomi memberitahu Sabiel akan menyusulnya ke pulau.
"Sudah Tuan" sahutnya sambil mengangguk.
"Duduklah"
Tomi duduk di kursi depan Sabiel. Sabiel yang tengah menikmati kudapannya menyodorkan beberapa piring berisi kudapan lain pada Tomi. "Makanlah" ujarnya sambil menyuguhkan segelas air untuk orang kepercayaannya itu.
Tomi mengangguk sopan, tangannya mengambil satu makanan dan mulai memakannya.
"Bagaimana laporanmu? Apa semuanya sudah siap?" tanya Sabiel
Tomi meminum segelas air yang diberikan Sabiel padanya sebelum menjawab. "Sudah Tuan. Saya sudah mengurus semua keperluan pernikahan, termasuk acara konferensi pers yang nanti Tuan dan Nyonya harus lakukan di tengah acara"
Sabiel memang meminta Tomi untuk menyiapkan semua kebutuhan acara pernikahannya begitu ia keluar dari rumah sakit. Lelaki itu ingin segera membuat Laura resmi menjadi istrinya.
"Bagus..."
"Kau datang, Tom?" Laura berjalan membawa nampan berisi makanan dari arah dapur.
Sabiel yang melihat istrinya, langsung berdiri dan berjalan menghampiri Laura. Dia mengambil alih nampan yang dibawa Laura dengan satu tangan, dan berjalan sambil merangkul pinggang Laura dengan sebelah tangan yang lain.
"Iya Nyonya" Tomi berdiri dan mengangguk sopan.
Sabiel mencium puncak kepala Laura begitu wanita itu duduk di kursi sebelahnya, dengan nampan makanan yang sudah ia letakkan di hadapan istrinya. Pandangan Tomi terpaku pada nampan makanan Laura. Waffle ice cream vanila yang cukup besar, semangkuk kecil biskuit oatmeal, beberapa potong buah, dan es kelapa muda menarik perhatiannya.
"Jangan heran, dia sedang berbadan dua. Porsi makan bertambah dua kali lipat" ucap Sabiel yang menyadari arti dari tatapan Tomi.
Tomi tersenyum memaklumi, sementara Laura tersipu malu mendengar ucapan suaminya. "Bayi Tuanmu yang meminta makan terus, Tom" ujarnya meredakan malu.
Tomi mengulum senyumnya, "Tidak apa-apa Nyonya. Wanita yang sedang hamil memang begitu" timpal Tomi
"Makan sayang, jangan malu-malu" ucap Sabiel setengah mengejek.
Laura menepuk bahu suaminya, "Kau yang membuat aku malu!" dengus Laura disambut kekehan dari Sabiel. Ekor matanya melihat pula pada Tomi yang tengah tersenyum.
"Tuan, Nyonya... Ada berita baik yang ingin saya sampaikan hari ini" ujar Tomi membuat kedua majikan itu menoleh padanya.
"Apa itu?" tanya Laura hampir berbarengan dengan suaminya.
"Saya sudah mendapatkan donor mata untuk Bimasakti" bola mata Tomi bersinar cerah.
__ADS_1
Laura terperangah mendengar kabar itu. Matanya langsung melihat pada Sabiel yang terlihat sama dengannya. "Benarkah?" Laura balik menatap Tomi, ia masih tak percaya dengan kabar baik itu.
"Kau mendapatkan dari mana donor mata itu?" Sabiel menimpali pertanyaan istrinya.
Masih dengan wajah cerahnya, Tomi menatap bergantian dua majikan yang membelalakkan mata padanya. "Benar Nyonya. Seorang kawan lama membantu saya untuk mendapatkan donor mata di rumah sakit Jakarta" ungkap Tomi
"Syukurlah. Kau sudah memberitahu dokter Fey?!" tanya Sabiel. Sekilas Sabiel menoleh pada Laura dan meremas jemarinya lembut.
Laura menghembuskan nafas leganya ketika membalas remasan jemari suaminya. Kabar baik yang Tomi bawa melenyapkan segala duka yang menggelayuti hatinya dalam seketika. Hatinya menjadi sangat tenang membayangkan Bimasakti yang sebentar lagi dapat melihat kembali.
"Belum Tuan. Begitu tiba disini, saya langsung menuju kemari" ucap Tomi. "Setelah memberitahu Tuan dan Nyonya, baru saya akan memberitahu dokter Fey"
Sabiel mengangguk pelan. Ia menoleh kembali pada istrinya yang tengah berharu biru, senyumnya mengembang memandang wanita cantik itu. "Semuanya akan baik-baik saja, sayang. Mantanmu bisa melihat kembali"
Mendadak dahi Laura berkerut. Bibirnya cemberut mendengar Sabiel memanggil Bimasakti dengan panggilan 'mantanmu'.
"Kau menyebalkan!" Laura bersungut-sungut sambil memukul pundak Sabiel.
"Auw!" pekik Sabiel dramatis. "Dia kan memang mantanmu, sayang" ujar Sabiel sembari mengusap-ngusap pundaknya.
Laura mengeratkan giginya, merasa gemas akan sikap jahil Sabiel ditengah suasana mengharukan tadi. "Tidak perlu kau perjelas, Sabieeel" Laura mencubit pinggang suaminya.
Sabiel langsung meringis kesakitan. "Aawuu, ampun sayang..."
"Ehem!" Laura berdehem menetralkan kekesalannya. "Jadi kapan kemungkinan Bimasakti dapat melakukan operasi mata?" tanyanya pada Tomi yang mulai serius kembali. Diliriknya Sabiel sekilas, lelaki jahil itu tengah memakan kembali kudapannya.
"Hal itu harus di diskusikan langsung dengan dokter Fey, Nyonya" jawab Tomi.
"Serahkan saja pada dokter Fey, sayang. Biarkan dia mengatur waktunya sendiri, yang pasti lelaki masa lalumu..."
"Sabieeell!" bola mata Laura membulat memperingati Sabiel.
Sabiel terkesiap dengan kedua tangan terangkat keatas, "Maaf sayang, aku lupa" ujar Sabiel cengengesan. "Maksudku Bimasakti. Percayakan semuanya pada dokter Fey. Dia pasti bisa membuat Bimasakti melihat kembali"
"Baiklah. Aku harap semuanya berjalan lancar" timpal Laura. "Terima kasih padamu, Tom" Laura tersenyum tulus pada Tomi yang mengangguk.
🍁🍁🍁
Sore harinya di dermaga pulau, Sabiel dan Laura berdiri berhadapan dengan Bimasakti.
Setelah Tomi memberitahunya mengenai donor mata, pemuda aktivis Jakarta itu berkata ingin bertemu Sabiel dan Laura sebelum mereka kembali ke Bandung.
Tomi dan satu orang perawat menuntun langkah Bimasakti untuk berdiri diatas dermaga. Diujung dermaga berdiri pula dokter Fey, dua perawat lain, dan beberapa karyawan Sabiel di pulau pribadinya itu. Mereka tentu saja berkumpul untuk mengantar majikannya berangkat meninggalkan pulau.
__ADS_1
Bimasakti masih menggenggam erat tangan Sabiel dihadapannya. Sementara Laura berdiri di sebelah suaminya.
"Aku tidak tahu harus berkata apa untuk mengatakan rasa terima kasihku yang tidak akan pernah cukup kepadamu, Sabiel" ucap Bimasakti.
Sabiel tersenyum sambil menepuk punggung tangan Bimasakti dengan sangat bersahabat. "Tidak perlu sungkan. Aku melakukannya sebagai bentuk permohonan maafku padamu atas apa yang pernah terjadi antara kita dimasa yang lalu" jawab Sabiel.
Bimasakti tertegun beberapa saat setelah mendengar ucapan Sabiel. Benaknya memutar kembali memori perkelahian sengit antara dia dan Sabiel saat memperebutkan Laura diwaktu yang lalu. Seberkas senyuman melintasi bibirnya, ketika menyadari betapa naifnya mereka dulu. Setelah kemarin puas mendengar cerita Laura, Bimasakti sudah sangat yakin jika keputusannya untuk melepaskan Laura dan menerima pernikahan mereka adalah pilihan paling tepat yang harus ia ambil. Sabiel lelaki yang baik, dia sangat pantas memiliki Laura disisinya.
"Kau tidak perlu meminta maaf, kejadian dulu tidak sepantasnya kita kenang. Yang pasti, saat ini jaga Laura sebaik-baiknya" ujar Bimasakti. "Bukankah perkelahian kita dulu bersumber pada keinginan kita yang sama itu?!" sambungnya kemudian.
Laura yang menyaksikan percakapan dua lelaki itu tersenyum haru. Perasaan hangat merambati tubuhnya menyadari betapa luar biasanya kedua lelaki itu, terutama Bimasakti. Laura bersyukur lelaki itu bisa menerima pernikahannya dengan lapang dada. Dalam hatinya, Laura melambungkan sebuah harapan tulus agar Bimasakti dapat segera menemukan wanita yang ditakdirkan Tuhan untuknya.
"Tuan, sudah waktunya berangkat" seorang lelaki di belakang Sabiel mengingatkan majikannya.
"Baiklah, kau dengar sendiri bukan? Aku dan Laura harus segera berangkat pulang. Aku harap operasi matamu berjalan dengan lancar sesuai arahan dokter Fey. Dia dokter mata terbaik yang aku kenal, kau tidak perlu cemas saat operasi nanti" ungkap Sabiel. "Tomi akan mendampingimu disini" sambungnya.
Bimasakti mengangguk sambil tersenyum. Dia benar-benar tidak sabar ingin segera dapat melihat kembali. "Terima kasih undangannya, semoga mataku sudah dapat melihat saat acara pernikahan kalian nanti" Bimasakti mengingat ucapan Sabiel kemarin yang mengatakan akan menggelar pernikahan resmi dengan Laura.
"Aku akan pastikan dokter Fey selesai mengoperasimu sebelum acaraku digelar" ujar Sabiel.
"Jaga dirimu baik-baik Bimasakti" Laura pamit sambil mengambil tangan Bimasakti dari genggaman Sabiel.
Bimasakti menepuk punggung tangan Laura lembut, desir cinta itu masih ia rasakan dalam hatinya. Tapi ia coba menepis semua rasa itu dengan baik. Bimasakti menyadari bahwa Tuhan hanya menakdirkan Laura untuk singgah dihatinya, melengkapi perjalanan hidupnya. Pada akhirnya Laura hanyalah tamu disalah satu bilik hatinya terdalam. Namun sebagaimana tamu lainnya, ia akan pergi begitu waktu singgah telah habis. Kini Laura mengambil peran itu, ia pergi untuk menetap di bilik hati yang lain. Dan Bimasakti tidak memiliki hak apapun untuk mencegahnya.
"Jaga dirimu juga Laura. Jaga pula keponakanku itu" timpalnya tersenyum hangat.
Sabiel merangkul pundak Laura, "Ayo sayang, kita berangkat" ucapnya.
Tak berapa lama keduanya berbalik badan menghadap yacht yang sudah siap dengan perjalanan malam mereka. Bimasakti diam berdiri ditempat yang sama. Telinganya awas mendengarkan ketukan langkah Sabiel dan Laura ditemani desir angin pantai yang gemulai. Sementara benturan ombak memecah karang mengiringi kepergian wanita pujaannya. Ada getir sembilu yang masih setia memayungi hatinya, namun lebih dari itu keikhlasannya lah yang lebih berkuasa. Pemuda itu tersenyum lega. Melepaskan Laura membuatnya meyakini bahwa Tuhan akan membukakannya pintu takdir yang lain untuk bergegas datang menghampirinya. Dia tak sabar menanti saat itu tiba.
Samar-samar terdengar ketukan langkah kaki mendekat padanya. Dermaga kayu itu berdenyit seiring langkah kaki seseorang yang melintasinya. Bimasakti menajamkan pendengarannya, merasa penasaran dengan suara langkah kaki tersebut.
"Aku selalu menyimpannya hingga saat ini. Kini akan aku kembalikan ini pada pemiliknya. Aku harap kau tidak tersinggung" Laura mengepalkan sesuatu di telapak tangan Bimasakti.
Bimasakti diam beberapa saat. Jemarinya mencoba menebak apa yang Laura berikan padanya. Benda bulat kecil seperti biji yang terangkai melingar dengan sebuah ukiran huruf. Bimasakti tersenyum ketika menyadari benda apa itu. Gelang biji kelapa sawit. Gelang yang pernah ia berikan pada Laura di awal hubungan asmaranya dengan wanita itu. Laura masih menyimpannya dengan baik, hal itu cukup menghibur ditengah hatinya yang sedang patah.
"Berbahagialah Laura... kau harus bahagia" ucapnya seperti doa.
"Aku akan bahagia, Bimasakti. Kau pun harus bahagia" balas Laura.
"Pasti" ujar Bimasakti yakin.
Langkah kaki Laura kembali terdengar samar, aroma segar tubuhnya terbawa angin mengelilingi Bimasakti. Lelaki itu menghirupnya dengan serakah. Aroma inilah yang dulu selalu ia rindukan, kini ia ingin menjadi egois walau sekejap. Dihirupnya dalam-dalam semua aroma Laura yang memabukkan itu. Disimpannya sisa-sisa aroma itu dalam hatinya, agar mengendap menjadi kenangan terindah dalam hidupnya. Tak berselang lama Bimasakti tersenyum puas, ketika ia yakin bahwa jejak Laura akan selalu tertinggal dalam sanubarinya, menjadi satu kenangan manis yang akan ia kenang selamanya.
__ADS_1
🍁🍁🍁