
Sabiel menggerutu kesal ketika Tomi memberi kabar bahwa Intan sudah terbang ke Singapura. Lelaki itu kini berada di lorong rumah sakit dekat dengan gudang tabung oksigen, tak berapa jauh dari lorong tempat ruangan Laura berada.
"Kau yakin dia telah kembali kesana?" tanya Sabiel menyelidik.
"Yakin Tuan, Jonny orang kepercayaannya menyampaikan hal tersebut. Dia diminta oleh Nyonya Intan untuk memesankan tiket pesawat untuk penerbangan hari ini"
"Sialan! Aku harus menyusulnya kesana" Sabiel memukul dinding dengan lengannya.
Bagaimanapun caranya Intan harus dia temukan, wanita itu harus membayar mahal atas kematian jabang bayi Laura. Menyiksanya saja tidak akan cukup untuk melunasi hutang nyawa yang ia perbuat.
"Kerahkan anak buahmu yang masih di Singapura, suruh mereka menangkap Intan dan membawanya langsung kepadaku" ucap Sabiel dingin.
"Tuan..."
"Apa?!" tanya Sabiel menatap tajam Tomi.
"Apa yang akan Tuan lakukan pada Nyonya?" tanya Tomi.
"Tentu saja menghabisinya. Akan aku buat dia kesakitan menjelang ajal" ucap Sabiel sinis.
Tomi menghela nafasnya. Dia sudah menduga apa yang akan Tuannya lakukan. Perbuatan Nyonya Intan memang sudah melampaui batas, wanita itu harus mendapatkan ganjaran yang setimpal. Tapi Tomi tidak ingin Tuannya yang langsung mengotori tangannya dengan menghukum nyonya Intan. Kebaikan orangtua Sabiel semasa hidupnya, membuat Tomi enggan melihat anak dari pasangan Rigel dan Sartika itu ternoda dengan perbuatan buruk.
Dengan wajah tertunduk, Tomi berucap. "Saya tidak setuju jika Tuan mengotori tangan Tuan" sanggahnya hati-hati.
Sabiel melirik tajam pada kepercayaannya itu, "Jangan coba-coba menghalangiku Tom"
"Saya tidak menghalangi keinginan Tuan. Saya hanya tidak setuju jika Tuan turun tangan langsung mengeksekusinya" Tomi mencoba menjelaskan. "Nyonya Laura pasti tidak akan setuju juga" tambahnya.
Sabiel jadi teringat kembali obrolannya dengan Laura beberapa saat yang lalu. Laura sampai memohon kepadanya untuk tidak sampai menumpahkan darah dengan kedua tangannya. Wanita itu bahkan merasa sudah cukup hanya jika melihat Intan mendekam di balik jeruji besi. Tidak! Sabiel tidak akan menjebloskan Intan ke penjara. Wanita itu harus mati, dia harus memohon ampun pada anaknya di alam sana. Sabiel tidak akan pernah puas jika hanya melihat Intan menangis atau bahkan terpuruk di penjara.
"Lalu apa rencanamu? Kau tidak akan melarangku jika kau tidak memiliki rencana lain, bukan?!" tanya Sabiel.
Tomi menegakkan kepalanya, tatapannya tertuju pada bola mata legam itu. "Suruhan saya di Singapura beberapa waktu yang lalu mengatakan, bahwa ada seseorang yang sedang membuntuti Nyonya Intan dan lelaki yang dipanggil Dato' itu Tuan. Mereka belum menemukan fakta apapun terkait seseorang itu, namun saya memiliki firasat bahwa orang itu pasti suruhan istri dari selingkuhan Nyonya Intan"
Sabiel terdiam mendengarkan dengan seksama, "Lalu apa rencanamu?" tanyanya kemudian.
"Saya berencana untuk mengirim bukti video dan foto perselingkuhan mereka kepada istrinya. Setelah itu Tuan pasti tahu sendiri akan berakhir seperti apa mereka" Tomi menjelaskan rencananya untuk menghancurkan kedua makhluk menjijikan itu.
"Aku tidak akan puas jika belum melihat mayat sundal itu, Tom" gusar Sabiel.
Bola mata Tomi berkilat penuh keyakinan, "Ada yang belum Tuan ketahui mengenai lelaki itu, Tuan"
Sabiel langsung menolehkan pandangannya, "Apa itu?"
"Lelaki itu adalah suami dari Dato' Sri. Beliau memiliki garis keturunan ningrat dari kerajaan Malaysia. Tuan tentu tahu Sultan Kelantan Malaysia, istri lelaki selingkuhan Nyonya Intan adalah adiknya"
Sabiel membulatkan matanya. Selingkuhan Intan adalah kerabat dari bangsawan Malaysia. Bagaimana bisa? Bagaimana bisa orang dengan power dan latar belakang kerajaan bisa terlibat skandal asusial? Sultan Kelantan tergolong bangsawan yang sangat berhati-hati dalam pergaulannya, demi menjaga citra keluarga ningrat yang melekat sejak nenek moyang mereka dahulu. Sabiel yakin, jika masalah ini sampai terendus oleh media. Intan pasti langsung berurusan dengan pihak kerajaan. Karena Sultan Kelantan terdengar keras dan berwibawa, maka ia tidak akan membiarkan siapapun mencoreng nama besar kerajaannya.
"Keluarga kerajaan memiliki hubungan baik dengan salah satu veteran angkatan laut, dan menjodohkan Dato' Sri dengan anak dari veteran tersebut" Tomi menyampaikan apa yang selama ini ia simpan. "Saya yakin, keluarga kerajaan pasti akan bersikap keras pada mereka berdua Tuan. Maka dari itu jangan mengotori tangan Tuan sendiri. Karena akhir dari kehidupan Nyonya Intan sudah dapat dipastikan akan mengenaskan"
"Jika ternyata mereka masih membiarkan wanita itu hidup, bagaimana? Aku benar-benar tidak sudi dia menghirup udara bebas sementara anakku terbujur kaku di dalam tanah" ujar Sabiel yang masih belum menerima kematian bayinya.
"Maka saya sendiri yang akan menghabisi Nyonya Intan, dan membawa mayatnya kehadapan Tuan" sahut Tomi dengan mantap.
__ADS_1
Sabiel tampak kembali berpikir. Sebenarnya ia ingin membuat perhitungan sendiri pada wanita itu. Namun apa yang Laura dan Tomi sampaikan, membuat hatinya dilanda kebimbangan.
Apakah ia harus melumuri kedua tangannya hanya untuk memuaskan rasa dendamnya? Ataukah ia akan memanfaatkan keluarga kerajaan untuk menghabisinya?
"Pikirkan kondisi Nyonya Laura,Tuan. Nyonya baru saja mengalami hal yang menyakitkan, lalu bagaimana nanti jika ia tahu suaminya telah membunuh seorang wanita? Akan sesakit apa hati Nyonya"
Ucapan Tomi menggugah rasa bersalah dalam hati Sabiel. Laura tidak boleh merasakan sakit untuk yang kedua kalinya. Sudah cukup duka yang ia rasa saat ini, Sabiel tidak ingin istrinya semakin berduka dengan aksi balas dendamnya.
Pandangannya lurus menatap Tomi yang sigap, "Lakukan yang terbaik. Perintahkan anak buahmu untuk mengintai bagaimana tindakan dari pihak kerajaan. Jika hasilnya tidak memuaskan, segera kau tuntaskan" putus Sabiel.
Tomi tersenyum tipis, hatinya lega dengan keputusan akhir yang diambil majikannya. "Baik Tuan" jawabnya lantang.
🍁🍁🍁
S I N G A P U R A
Waktu menunjukkan hampir tengah malam ketika Intan menapaki kakinya di apartemen Singapura. Wanita itu menyusuri lorong-lorong apartemen mewah dengan tergesah, raut wajah panik terlihat jelas dari paras cantiknya. Sepanjang perjalanannya kembali ke Singapura, Intan tak mendapatkan ketenangan. Jiwanya resah, perasaan takut menghinggapinya setiap kali benaknya memutar ancaman keras yang keluar dari mulut Sabiel.
Sorot mata Sabiel yang mengerikan, membuatnya yakin bahwa tidak ada keraguan dalam nada bicaranya. Sabiel seolah bersungguh-sungguh memvonis Intan dengan hukuman yang Intan sendiri tak sanggup bayangkan.
Di dalam apartemennya yang suram, Intan mondar-mandir sembari mencoba menghubungi selingkuhannya. Kuku di jemari sebelah tangannya ia gigiti seiring panggilannya yang tak juga mendapat jawaban.
"Oh Astaga! Dato' aku mohon angkat ponselmu" ucap Intan berharap.
Dia mematikan dengan kasar panggilannya dan mencoba menghubungi kembali. Sejak tadi sudah tiga belas panggilan ia lakukan, namun belum juga membuat Dato' mau menjawabnya.
"Halo" sapa suara Dato' dingin
Intan terkesiap ketika panggilan itu akhirnya mendapat jawaban. "Dato'?" ujar Intan.
Intan menggigit bibir bawahnya, "Maafkan aku Dato', tapi aku sedang membutuhkanmu saat ini" keluh Intan mengiba.
Disebrang sana, lelaki itu menatap jam dinding emas istananya. "Ini sudah lewat tengah malam. Aku tidak bisa menemuimu" ucap Dato'.
"Dato' aku membutuhkanmu!" nada suara Intan menggeram kesal.
Dato' memijit pelipisnya, dia tidak mungkin keluar dari kediamannya disaat begini. Terlalu beresiko. Dia khawatir istrinya terbangun dan curiga atas menghilangnya ia dari dalam kamar.
"Berhenti menggerutu! Aku akan menemuimu besok. Dan ingat, jangan menghubungiku sebelum aku menghubungimu!" kata Dato sebelum ia mematikan panggilan itu.
Intan menatap layar ponsel yang telah mati. Rahangnya mengetat menahan amarah atas sikap Dato' yang semakin membuatnya kalang kabut. Wanita itu memutuskan berjalan menuju rak wine yang berada di ruang tamu. Dia mengambil minuman itu dan menuangkannya dengan terburu-buru.
Benaknya tak juga berhenti mengingat raut wajah Sabiel. Lelaki yang masih berstatus suaminya itu, membuatnya tak akan bisa mendapatkan tidur nyenyak malam ini, meskipun kini ia berada jauh dari jangkauannya.
Pagi menjelang menyisakan rasa pusing yang menyakitkan bagi Intan. Wanita itu terbangun dari tidur singkatnya ketika suara lelaki yang menjadi selingkuhannya terdengar berulang kali.
Matanya yang sayu menangkap sosok Dato' yang tengah berdiri setengah merunduk tepat dihadapannya. Posisi dirinya yang meringkuk di sofa, membuat lelaki itu membungkukkan badannya.
"Kau sudah sadar?" suara berat paruh baya itu mengisi gendang telinganya.
Lelaki itu melihat botol wine yang telah kosong di meja, matanya memicing menatap wajah kusut simpanannya. "Kau meminum habis wine ini? Jam berapa kau tidur? Apa kau ingat?"
Intan mencoba menegakkan tubuhnya, rasa pegal langsung terasa di sekujur tubuhnya. Sementara Dato' bergerak untuk duduk bertumpang kaki di samping Intan.
__ADS_1
"Tubuhku sakit sekali" keluh Intan sembari menyandarkan punggungnya di sofa dan menengadahkan kepalanya.
"Kau terlihat kacau, sayang. Apa yang membuatmu seperti ini?" tanya Dato' yang memperhatikan Intan sedang memijit pangkal hidungnya.
Intan mulai teringat kembali masalah peliknya dengan Sabiel, wanita itu memejamkan matanya. "Aku membuat kesalahan di Indonesia" ujarnya pasrah.
"Kesalahan?" Dato' mengerutkan keningnya. "Bukankah kau kesana untuk menyetujui perceraian itu? Lantas dimana kesalahan yang kau perbuat?" tanyanya penasaran.
Intan menghembuskan nafasnya yang terasa berat, ia menegakkan kepalanya dan menatap wajah paruh baya itu. "Ceritanya panjang. Aku hilang kendali ketika bertemu dengan suamiku dan istri sirinya. Lalu..." Intan tampak ragu untuk melanjutkan.
"Ceritakan padaku. Bukankah itu yang ingin kau lakukan semalam?" ucap Dato' sembari mengelus mesra rambut Intan.
Intan terdiam beberapa saat. Tak berselang lama Intan mengawali cerita itu dengan menyandarkan kepalanya di dada Dato'. Ia menceritakan semua kejadian di apartemen suaminya pada Dato'. Wanita itu juga menceritakan perihal rekaman cctv erotis mereka pada lelaki paruh baya itu, dan hal itu berhasil membuat Dato' merasa terusik. Lelaki itu mendengarkan dengan gigi yang bergemelutuk. Dadanya berdebar kencang ketika Intan menyampaikan kabar buruk itu.
Sampai cerita Intan berakhir, Dato terus mengernyitkan dahinya. Intan benar-benar gila. Wanita itu telah bertingkah ceroboh dengan menantang suaminya hingga berakibat fatal bagi istri siri suaminya sendiri. Belum lagi masalah cctv itu, bagaimana bisa cctv itu masuk ke dalam apartemen ini? Apakah keamanan apartemen mewah ini sudah menurun? Diam-diam Dato' Faisal merasa sesuatu yang buruk akan segera terjadi.
Lelaki itu menyingkirkan Intan dari dadanya, ia berdiri dan berjalan mengelilingi sudut demi sudut apartemen. Matanya berpencar mencari letak cctv laknat itu berada.
"Kau sedang apa?" Intan yang mengawasi bertanya heran.
"Apa kau bodoh? Kau tidak sadar kalau tempat ini di susupi cctv? Lekas bantu aku mencarinya!" tiba-tiba suara berat itu terdengar gusar.
Ekor matanya melihat Intan berdiri dan mulai mencari cctv di sekeliling tempat itu, "Tempat ini sudah tidak aman untuk kita Intan. Kau harus pindah. Suamimu sudah tahu hubungan kita, bukan hal yang tidak mungkin dia akan menyampaikan cctv itu kepada istriku" ujar Dato' yang kini merasa berada di situasi bahaya akibat ulah simpanannya.
Intan menyeringai tipis sambil terus mengedarkan pandangannya, "Kau tenang saja, rekaman itu dan bukti lainnya telah aku musnahkan" ucapnya dengan percaya diri.
Dato' menghentikan langkahnya. Lelaki itu berjalan mendekati Intan, "Benarkah?" tanyanya tak percaya. Sorot matanya berkilat penuh harap.
Intan mengangguk. "Aku melenyapkan semua bukti yang suamiku simpan sebelum aku pergi dari sana" serunya berbangga hati.
Seringaian akhirnya muncul perlahan di subut bibir paruh baya itu, hatinya sedikit merasa lega dengan kabar baik dari mulut Intan. "Bagus. Dengan begitu dia tidak akan bisa berbuat apa-apa terkait hubungan gelap kita. Sekarang yang harus kau lakukan segera berkemas. Kau tetap harus pindah dari sini" ucap Dato' Faisal.
"Lalu bagaimana dengan pekerjaanku?" tanya Intan.
"Kau sudah memilikiku sebagai ganti dari pekerjaanmu, apa itu tidak cukup? Saat ini yang harus kau lakukan menghilang dari peredaran. Karena aku yakin, suamimu mungkin akan menyuruh seseorang untuk menemukanmu. Jika itu terjadi, bukan hanya kau yang akan celaka. Tapi aku juga akan terkena imbasnya" Dato' menjelaskan.
Intan tampak mengangguk menyetujui apa yang lelaki itu ucapkan. Mengingat ancaman Sabiel, membuat Intan yakin bahwa pasti Sabiel akan memburunya. Satu-satunya pilihan adalah ia harus bersembunyi untuk sementara waktu.
Setelah menyepakati hal itu, Intan bergegas berlari ke dalam kamarnya. Sementara Dato' mengikuti dari belakang. Dengan tak sabar Intan membuka lemari dan memasukan semua pakaian dan barang pentingnya ke dalam dua koper besar yang telah ia buka.
"Aku akan bersembunyi dimana Dato'?" tanya Intan menengok sekilas pada Dato' yang memperhatikan langit-langit kamar.
Lelaki itu menyeringai ketika matanya menangkap benda asing dibalik lampu kamar. Dia segera keluar kamar dan kembali masuk dengan membawa kursi. Lelaki paruh baya itu, berdiri diatas kursi dan mengambil benda asing yang menarik perhatiannya.
"Dato'?" tanya Intan menanti jawaban Dato'
Lelaki itu tersenyum lebar menatap simpanannya yang memandangnya penuh tanda tanya. "Kepulauan Mantanani...kau akan tinggal disana, sayang" jawab Dato' yang kemudian menginjak kasar benda kecil yang tadi ia temukan.
🍁🍁🍁
Hai hai hai, selamat hari Jumat 👐
Semoga kalian disana sehat semua ya 🤗
__ADS_1
Terima kasih banyak sudah menanti dengan sabar cerita ini. Selalu dukung Author ya, biar semangat nyari imajinasinya hihihi 😍😘
I love you all guys!! 😍😍😍