Sangkar Cinta Dosen Muda

Sangkar Cinta Dosen Muda
Bab 74


__ADS_3

Kedua pasangan selingkuh itu berdiri kaku begitu mereka keluar membuka pintu apartemen. Pandangan mata keduanya terbelalak ngeri melihat beberapa orang berbadan kekar sedang mengarahkan pistol Glock Meyer 22 tepat di wajah keduanya.


"Masuk!" perintah seorang yang berdiri paling depan seperti pimpinan pasukan, pada Dato' Faisal dan Intan yang mulai ketakutan.


Kedua orang itu mundur perlahan dari depan pintu untuk masuk kembali ke dalam apartemen. Tangan keduanya secara otomatis terangkat ketika orang-orang kekar itu berjalan maju dengan pistol yang tetap mereka arahkan pada pasangan selingkuh itu.


Beberapa orang dibelakang pimpinan tersebut langsung berpencar di dua arah berbeda. Seketika mereka membentuk lingkaran dan mengelilingi Dato' Faisal beserta simpanannya. Pimpinan itu menurunkan senjatanya, diikuti oleh dua orang bawahannya, sementara yang lain masih membidik kedua orang yang tengah menjadi target mereka hari itu.


"Si-siapa kalian? Berani sekali mengangkat senjata dihadapanku? Kalian tidak tahu siapa aku?!" ucap Dato' terburu-buru.


Sementara wajah Intan sudah pucat seperti tak ada darah yang mengalir di dalam tubuhnya. Kedua tangannya yang terangkat gemetaran karena merasa takut oleh aksi tangkap tangan pagi itu.


"Saya utusan dari bagian keamanan kerajaan. Sultan memerintahkan langsung untuk membekuk Dato' Faisal" ungkap lelaki itu. Matanya memberi isyarat pada dua anak buah disisi kiri dan kanan untuk memborgol pasangan itu.


Dato' Faisal tak bisa lagi menyembunyikan keterkejutannya mendengar nama Sultan disebut. Jantungnya berdebar dengan cepat, keringat dingin mulai muncul keluar dari pori-pori tubuhnya. Pihak kerajaan menangkapnya? Disaat ia sedang bersama wanita lain?! Kesialan macam apa ini?!


"Atas dasar apa Sultan memerintahkanmu menangkapku?" tanya Dato' tak terima.


"Akh!" pekik Intan merasa sakit ketika kedua tangannya di borgol paksa.


Pimpinan itu tersenyum sopan, matanya melirik sekilas pada wanita di sebelah Dato' Faisal. "Dato' bisa tanyakan itu pada Sultan langsung" jawabnya penuh teka-teki.


Nafas Dato' memburu ketika melihat raut wajah pimpinan di depannya seolah mengatakan bahwa pertanyaannya adalah pertanyaan yang bodoh. Dalam lubuk hatinya dia tahu mengapa Sultan memberi perintah itu. Terlebih lagi lirikan mencemooh yang sekilas Dato' tangkap dari cara pimpinan pasukan melirik Intan.


"Sial! Sejak kapan hubungan gelap ini terendus istana?!" Dato' membatin.


Pandangan matanya mengikuti pimpinan yang kini tengah berjalan menyisir ruangan apartemen itu, dari gestur tubuhnya serta mimik wajah menyebalkannya, Dato' yakin lelaki itu sedang mengejeknya dalam hati. Dia seperti berkata "Kau dan wanitamu sudah tertangkap"


Dato' Faisal gusar, tubuhnya merontak ketika beberapa orang suruhan itu menggiringnya seperti hewan ternak.


"Lepaskan aku! Kalian tidak bisa berbuat seperti ini. Aku anggota keluarga kerajaan" ronta Dato' Faisal ketika ia dibawa keluar dari apartemennya.


"Dato', tolong aku. Bagaimana ini?" rengek Intan merangsekkan tubuhnya pada tubuh Dato'. Sorot matanya bergetar takut melirik orang-orang kekar yang berdiri tegap dibelakangnya.


"Diam kau! Ini semua karenamu bodoh!" ucap Dato' geram.


Di loby utama apartemen, dua mobil Jeep Wrangler berwarna hitam dengan nomor polisi malaysia menanti kedatangan tahanan itu. "Dato', akan dibawa kemana kita?" tanya Intan yang semakin gelisah ketika orang-orang itu memaksa mereka untuk naik di dua mobil terpisah.


Dato' Faisal yang sudah tidak berkutik mengacuhkan pertanyaan Intan. Dalam benaknya, ia bersiasat untuk menjadikan Intan sebagai kambing hitam. Ia akan memohon mengampunan pada Sultan atau bahkan istrinya untuk membebaskannya. Dia tidak peduli lagi dengan nasib yang akan menimpa selingkuhannya itu.


🍁🍁🍁


Dato' tersandung-sandung di jalan setapak sebuah hutan buatan di daerah Johor, Malaysia. Setelah beberapa jam diam didalam mobil, lelaki itu baru sadar akan kemana ia dan Intan dibawa.

__ADS_1


Intan mengedarkan pandangannya mengikuti Dato' yang berjalan lebih dulu di depannya. Pandangannya bergetar oleh rasa ngeri akan aura gelap yang menakutkan dari tempat mereka berjalan. Pohon-pohon berdiri tinggi menjulang di sisi kiri dan kanan jalanan. Semuanya tampak mencekam, seperti suasana di sebuah hutan belantara tempat persembunyian hewan-hewan buas. Perutnya merasa mulas tiba-tiba, membayangkan akan bagaimana nasibnya di tempat itu.


Jalan setapak itu berakhir ketika pandangan mereka menemukan tembok besar dengan pintu kayu yang juga cukup besar berdiri dihadapan mereka. Tembok itu lebih mirip seperti benteng. Dato' diam memperhatikan dengan gelisah pimpinan yang berjalan ke arah pintu dan memukul lonceng berbentuk kepala harimau yang menempel di pintu kayu itu. Seketika kotak kecil berteralis besi di atas lonceng tersebut terbuka, sepasang mata penjaga gerbang terlihat disana.


"Utusan Sultan" ucap pimpinan memberi isyarat pada penjaga untuk membuka pintu.


Tak berapa lama gerbang kayu terbuka ke atas. Mata Intan dan Dato' langsung terbelalak ngeri melihat berbagai alat penyiksaan seperti tiang gantung, lubang tanah untuk merajam, bahkan guillotine si alat pancung yang biasa Intan lihat di film bajak laut berdiri kokoh mengelilingi sebuah lapangan sebesar lapangan futsal. Di depan lapangan itu terdapat podium yang cukup panjang dengan beberapa benda tajam seperti pedang, cambuk berduri dan tombak di sisi kirinya. Sementara di tengah podium, sebuah kursi emas berukiran harimau berukuran besar berdiri tegak.


Langkah kaki keduanya gemetaran ketika para pasukan yang berdiri dibelakang mendorong mereka untuk masuk ke dalam gerbang. "Aku ingin bicara dengan istriku" ucap Dato' dengan suara bergetar, pada seorang petugas yang mengabaikannya.


"Dato'..." Intan kehabisan kata untuk mengatakan ketakutannya. Dia merasa malaikat maut sedang menunggunya di dalam gerbang sana.


Wajah Intan pucat pasi, air matanya mengalir dengan deras disela-sela sudut matanya yang indah. Langkahnya terseok digiring untuk semakin mendekati lapangan eksekusi mengerikan itu. Pasukan itu membawa mereka ke tengah lapangan. Didudukan di sebuah kursi kayu dengan tangan masih terborgol.


Panas matahari memanggang mereka siang hari itu, bulir keringat keluar membasahi tubuh keduanya. Tubuh Intan bergerak dengan gelisah, paras cantiknya luntur bersapu ketakutannya sendiri.


"Dato' bagaimana nasib kita?" rintihnya pada lelaki yang duduk disebelahnya.


Sorot mata lembut Dato' sudah hilang sejak awal penangkapan mereka. Lelaki itu menatap murka pada wanita yang membuatnya mengalami hari naas itu.


"Ini karenamu, Intan!" geramnya mendelik mata Intan.


Intan mengerutkan dahinya, "Kau menyalahkanku?" tanyanya tak percaya.


"Kau menggodaku dan membuatku terjerumus dalam hubungan ini" ucapnya setengah berbisik.


"Itu karena kau menggodaku, Jalang!"


"Jalang?! Kau memanggilku jalang?!" Intan tidak terima.


"Kau memang jalang" Dato' Faisal mencemooh. "Itulah mengapa kau diceraikan oleh suamimu" timpalnya penuh nada menghina.


Dada Intan naik turun dengan cepat, disaat seperti ini, lelaki yang selama ini menjadikannya simpanan bertingkah seolah ia adalah korban. Lelaki bajingan itu menumpahkan semua kesalahan pada Intan. Dia lupa, bahwa hubungan gelap tercipta karena adanya niat dari kedua belah pihak. Mereka sama-sama mengkhianati pasangan masing-masing, lantas mengapa hanya Intan yang disalahkan?! Sial! Disaat terjepit seperti ini, watak aslinya baru ia perlihatkan.


"Jika aku jalang, lantas kau apa? Lelaki bajingan brengsek, yang meminta pelayanan seks pada istri orang lain" cerocos Intan. "Kau lupa perkataanmu dulu? Kau bilang istrimu tak bisa melayanimu" ungkap Intan emosi.


"Diam kau!" mata Dato berpencar khawatir ada yang mendengar ucapan Intan.


Intan menyeringai tipis, "Kau takut? Kau takut ada yang mendengar ucapanku?"


Mata Dato' mendelik tak suka, "Berhenti bicara!" geramnya.


Seringai Intan semakin lebar ketika ia melihat rasa takut berkelebatan dalam sorot mata paruh baya itu. Dengan bola mata menantang, Intan mendongahkan kepalanya.

__ADS_1


"HEI KALIAN! KALIAN HARUS DENGAR INI..." suara teriakan Intan mengundang mata semua pasukan yang berjaga menatap padanya.


Sementara Dato' Faisal terkesiap ketika melihat tingkah Intan yang seperti orang gila. "Diam Intan! Tutup mulutmu!" bisiknya penuh tuntutan.


Intan semakin meninggikan volume suaranya, "KATAKAN PADA ISTRI LELAKI DISEBELAHKU. BAHWA DIA PERNAH BERKATA AKAN MENIKAHIKU SETELAH ISTRINYA YANG CACAT MATI!" seringai puas mengakhiri ucapannya. Ekor matanya melirik wajah pias lelaki itu.


"Apakah benar begitu?"


Tiba-tiba suara lembut dengan sedikit lengkingan terdengar dari arah belakang podium. Kedua orang itu memperhatikan seorang wanita anggun dengan busana serba putih duduk di kursi roda. Rambut sanggulnya tertutup sebuah selendang yang masing-masing ujungnya disampirkan pada pundak. Seorang pelayan wanita berseragam bongker berdiri dibelakang roda itu, memegangi gagang pendorong dengan patuh.


"Sayang!" seru Dato' Faisal pada istrinya.


Bola mata Intan terperangah. Ini adalah kali pertama ia bertemu langsung dengan istri dari selingkuhannya. Wanita itu tampak cantik mesti tak lagi muda. Pembawaannya yang tenang memberi kesan berwibawa padanya.


"Sayang, lihat aku! Mereka membuatku seperti ini" adu Dato' tak tahu malu.


Wanita dengan panggilan resmi Dato' Sri itu meminta pelayannya untuk membawa ia mendekati kedua pasang peselingkuh itu. Sorot matanya yang hangat sama sekali tak memberi jejak emosi atau dendam setelah mendengar ucapan Intan. Wanita itu justru tersenyum ramah pada keduanya, seolah kedua orang di kursi pesakitan itu adalah tamunya. Namun Intan justru merasa senyum ramah itu hanyalah topeng yang menutupi bara api yang sebenarnya. Intan bergidik ngeri, ketika kursi roda itu berjalan semakin dekat dengan posisinya.


"Sayang. Lepaskan aku. Aku tidak bersalah" Dato' Faisal memohon.


Dato' Sri mengacuhkan ucapan suaminya, matanya menatap lembut pada wanita yang sekian lama telah menjadi target pengintaiannya selama ini. "Jadi kau Intan?" tanyanya.


Intan diam. Namun kepalanya mengangguk perlahan penuh rasa takut dan sungkan. Dato' Sri tersenyum semakin lebar, wanita bangsawan itu menyembunyikan kemurkaannya dalam relung hati terdalam. Melihat wajah pucat Intan, membuat benaknya mengingat kembali video asusial dan beberapa lembar foto kemesraan mereka berdua yang ia dapat di dini hari tadi. Setelah panggilan malam Intan pada Dato', Dato' Sri yang biasa bangun pukul tiga dini hari mendapat informasi darurat dari anak buah yang ia perintahkan untuk mengintai Intan dan suaminya.


Tanpa sepengetahuan Dato' Faisal, ia meminta anak buahnya untuk datang ke taman anggrek pribadinya yang berada di ujung barat istana. Disana ia menerima file dalam bentuk chip. "Seorang detektif dari Indonesia meminta saya untuk membawakan file ini secepatnya pada Dato' Sri"


Dato' Sri mengingat ucapan anak buahnya itu, sebelum kemudian ia memerintahkannya untuk kembali pulang. Dato' Sri sendiri tidak kaget ketika ia melihat isi dari benda kecil itu. Karena beberapa bulan ini ia memang sudah mencurigai perselingkuhan suaminya. Kecurigaan itu muncul ketika ia mendengar suaminya sering meminta desiner baru dari Indonesia untuk datang kedalam ruangannya di perusahaan, hal itu ia dapatkan dari asisten kepercayaannya yang ia tempatkan menjadi asisten suaminya di perusahaan.


Kecurigaan demi kecurigaan mulai bermunculan satu per satu. Dato' Sri mulai memperhatikan gelagat berbeda dari suaminya, dan kebiasaan baru pulang lewat tengah malam yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Akhirnya, karena ia ingin memastikan dugaan sementaranya itu. Dato' Sri memutuskan untuk memerintahkan seseorang menyelidiki semua hal tentang suaminya. Hingga ia sampai pada simpulan akhir, akan kebenaran hubungan gelap itu.


"Sayang!" seru Dato' Faisal yang merasa diacuhkan.


Dato' Sri akhirnya menoleh pada suaminya. Sorot matanya kelam sekelam kenyataan pengkhiatan suaminya. Tiba-tiba bola mata Dato' bergetar ketakutan, melihat wajah ramah tadi hilang ketika mereka bersitatap.


"Tidak ada yang bisa aku lakukan untukmu. Ini perintah langsung dari Sultan. Dia tahu apa saja yang kau lakukan di Singapura" ucapnya tegas.


Dato' Sri meminta pelayannya untuk kembali menjauh dari dua orang tersebut. Ketika rodanya melewati Intan, Dato' Sri meminta pelayan berhenti. Wanita melayu itu, menatap masih dengan tatapan lembut pada bola mata simpanan suaminya. Senyumnya terlihat ramah namun mengerikan bagi Intan. Intan hanya diam dengan wajah penuh rasa takut, memperhatikan apa yang akan diucapkan oleh bangsawan negeri jiran itu.


"Aku harap kau kuat menanggung semua akibat perbuatanmu. Dan terima kasih, telah membuatku membuka mata pada perangai asli suamiku" ucapnya sembari tersenyum.


Ketika kursi roda itu kembali berjalan, lelaki berusia setengah abad yang tampak gagah berpakaian adat melayu keluar dari mobil mewah yang baru saja memasuki gerbang utama, berseberangan dengan gerbang yang tadi dimasuki pasukan pembawa tahanan.


"Lakukan sesuai hukum syariah, tapi jangan sampai mereka mati. Aku ingin akhir dari hidup mereka, aku yang menuntaskannya" ucap Dato' Sri pada kakak lelakinya yang tak lain adalah Sultan Kelantan.

__ADS_1


Lelaki yang tengah merunduk menatap adik kesayangannya, tersenyum misterius. "Serahkan padaku" jawabnya sebelum mengecup pipi adiknya.


🍁🍁🍁


__ADS_2